Kamis, 24 Desember 2015

Selembar Kertasku

Kau ingat?
Aku pernah memberikan selembar kertas putih padamu lengkap bersama tintanya.

Awalnya mungkin kau tampak ragu menerimanya. Takut tak bisa membuat kertas itu menjadi lebih berwarna dan indah. Namun aku tak bosan meyakinkanmu bahwa kamu bisa melakukannya untukku.

Akhirnya dengan sebuah ketulusan, kau terima dan ku percayakan kertas beserta tinta itu padamu.

Waktu mulai bergulir, tanganmu mengukir indah cerita disertai gambar dan warna yang begitu memukau. Begitu indah. Nyaris sempurna. Aku jadi terkesima.

Terus dan terus, tak henti kau berkarya, membuatnya menjadi begitu berharga sampai tak ternilai harganya.

Tetapi waktu tak selamanya membisu. Kertas itu mulai lusuh, karena terus menerus kau gunakan untuk merangkai sebuah kisah cinta tiada jemu. 

Aku merasa was was, takut kau mulai jenuh melukis sebuah cerita, hingga akhirnya nanti kau mengabaikannya, merusaknya, bahkan membuangnya.

Ketakutanku terbukti.

Kertas itu hampir rusak. Warna indah pun sudah tak nampak. Karya sudah tak jelas jalan ceritanya. Gerakan tanganmu mulai melemah. Wajahmu tampak lelah. Hatimu sudah tak karuan. Gambar itu berubah menjadi warna kelam. 

Aku kecewa, berusaha meyakinkanmu mampu membuatnya kembali indah. Tapi percuma.

Kau meremasnya, melemparnya, menginjaknya. Kau sudah jengah. Lalu kau ingin membuangnya?

Bagaimana ini? Aku tak tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Benar saja. Kau membuangnya jauh-jauh dari hidupmu. Tak ingin lagi mengusiknya. Kau langkahkan kakimu menjauh. Kau sudah menyerah dengan kertasku.

Kau mulai mencari kertas putih lain dan menyiapkan warna baru. Siap untuk memulai kisah baru. Tanpa kertas itu, kertas yang pernah aku berikan padamu.

Kertas putih yang kini ada di tanganmu, itu bukan punyaku. Tapi miliknya.

Asal kau tahu, hatiku diibaratkan kertas putih itu, yang dulu pernah ku beri untukmu..

Jumat, 18 Desember 2015

Pertemuan Singkat

Tuhan memang sengaja mempertemukan kita
Semua yang terjadi adalah salah satu dari ribuan rencananya
Meskipun terkadang masih saja terasa tak sempurna
Karena manusia diliputi rasa haus akan pesona

Tuhan memang pernah membiarkan kita bersama
Karena syaitan juga banyak ikut andil didalamnya
Tak henti menggoda untuk melanggar perintah-Nya

Tuhan memang sempat menempatkan kita pada jalan yang sama
Namun bukan berarti itu adalah takdir cinta dari-Nya
Karena selama perjalanan itu kita bisa saling mengenal siapa diri kita sebenarnya
Belum tentu merasa cocok keduanya

Tuhan selalu mempertemukan kita dengan seorang yang tak terduga
Baik yang memberikan bahagia maupun yang menyisakan luka

Tuhan selalu membuat pilihan untuk kita
Tetap tinggal namun terluka
Ataukah menghindar demi bahagia
Bertahan untuk selamanya
Ataukah hanya singgah untuk sesaat

Kamis, 10 Desember 2015

Kemunafikan telah merajarela di sekitar. Mereka telah berani bermain-main dengan perasaan. Tutur kata yang begitu manis, ditunjang dengan 'penampilannya' yang 'agamis' seolah mampu membuat siapapun terpukau.

Padahal mereka tak tahu saja, pengingkarannya tak sesuai dengan ucapan kebaikannya. Mereka dibodohi? Bisa jadi.

Persoalan hati tiada yang tahu, namun dalam titik ini, ia mampu menggoreskan kekecewaan yang begitu dalam. Sehingga aku memandangnya saja enggan. Ketidaksesuaian antara ucapan dan perbuatannya cukup membuatku berlari menjauh. Takut lebih parah terluka olehnya.

Aku masih ingat, dia yang bilang cinta itu tak perlu diumbar. Sejatinya seorang wanita sebaiknya menundukkan pandangan. Tapi apa yang dia lakukan sekarang? Akankah telah luntur ilmu yang dia sebarkan?

Hanya dia dan Tuhan yang tahu..

Goresan lukamu, cukup perih sayang. Sang muslimah yang menjadi idaman, tapi kini tak lagi kujadikan panutan. Terimakasih atas luka yang kau berikan.

Rabu, 02 Desember 2015

Ayah Terhebatku

Semoga saja suatu hari nanti
Aku kan menemui seseorang yang setidaknya mampu mengurangi rasa rinduku padamu jika kau tak lagi mampu berada disisiku

Lelaki yang mampu melindungiku seperti kau
Lelaki yang mampu menjagaku seperti kau
Lelaki yang mampu membimbingku seperti kau

Tapi,
Apa ada lelaki hebat seperti itu, Ayah?

Aku yakin,
Takkan ada lelaki manapun yang sanggup menggantikanmu
Sekalipun pada saatnya nanti ia berstatus sebagai imamku
Karena hanya kau satu, Ayah terhebatku

Tak jarang ku lihat kau duduk termenung dalam diam
Dilingkupi kegundahan yang tak kunjung padam
Terlalu banyak beban pikiran

Sebagai tulang punggung keluarga,
Kau bertanggung jawab atas segala kesejahteraan
Dengan peluh yang menetes di pelipismu
Kau kumpulkan sisa tenaga untuk menghidupi anak istrimu

Dengan perjuanganmu yang takkan terbalas sampai kapanpun
Masih saja anak-anakmu sempat menyakiti dan melukai hatimu

Apa aku selalu mengecewakanmu, Ayah?

Andai saja,
Masih tersisa lelaki di luar sana yang memiliki kesabaran sepertimu
Pilihkan ia menjadi imamku

Jumat, 27 November 2015

Sebuah Perjalanan Hati

Semilir angin menerpa wajahku
Suara gaduh dedaunan memecah keheningan dengan syahdu

Mendamaikan..

Langkah demi langkah kucoba tapaki jejak ini
Mencari sesuatu yang membahagiakan hati
Biarlah alam ini yang menjadi saksi

Ku tengok kanan dan kiri
Tiada siapapun di sisi
Tak ada yang menemani
Namun bahagia kan ku cari sendiri
Hingga kau rela bersanding nanti

Di pinggir dermaga ini aku berdiri
Menunggu kau yang sama-sama sedang melalui perjalanan panjang ini

Ku tunggu kau disini
Hingga waktu yang kan menepati janji
Sehidup semati


Minggu, 01 November 2015

Rindu Kamu, Hujan..

Entah sudah berapa ratus hari kau tak kunjung menghampiriku, hujan

Tahukah kau, aku semakin tandus tanpa setetespun air yang turun dari langit-Mu

Aku sangat merindukanmu, hujan 

Hanya kau yang mampu membuatku tampak hidup
Bukan seperti ini, kering kerontang

Aku sangat merindukanmu, hujan 

Hadirmu yang selalu ku tunggu
Tiada yang lain

Mengapa kau menghilang terlalu lama?
Tahukah kau, aku tersiksa menunggumu tanpa batas

Aku pikir, aku akan terbiasa tanpa kehadiranmu
Tapi ternyata ada lubang besar yang menganga dihidupku
Aku membutuhkanmu

Apa kau tak merindukanku?
Apa kau tak ingin menemuiku?
Apa kau tak sanggup sekedar menyapaku?

Aku,
Tanahmu yang semakin mengering tanpa penyegaran darimu

Aku ingin mereka menghirup aroma kita
Perpaduan antara tanah berdebu dan bulir hujan
Aroma yang begitu menggiurkan dan menentramkan

Aku ingin mereka merasakan sejuknya airmu, yang mampu sejukanku juga
Aku sudah terlalu lama disinari matahari yang tanpa ampun menyengatku

Tanpa kehadiranmu, aku menjadi seperti ini
Bahkan untuk menghidupkan diriku saja, terasa sulit
Bagaimana bisa aku menyuburkan tanaman itu yang bergantung padaku?

Setiap hari,
Tidak,
Setiap saat, aku setia menunggu kehadiranmu, bahkan hanya sekejap saja
Tak mengapa bagiku, asalkan kau singgah aku sudah bahagia

Tapi penantianku seolah tak berujung
Kau tak jua kunjung datang

Hujan..
Aku sangat membutuhkanmu
Kau tahu akan hal itu
Aku tak mampu bertahan lama tanpa kehadiranmu

Kau yang mampu menyegarkanku
Tanpamu, aku tampak layu

Dunia sudah merubahmu
Akibat ulah mereka kau jadi hadir tak menentu
Mengapa mereka sejahat itu?
Padahal, siapapun tahu kita saling bertaut

Aku, tanahmu yang sampai saat ini masih menunggumu
Selalu

Sudikah kau, 
Berbaik hati menemuiku walau sesaat?

Aku, tanahmu yang selalu menantikan kepulanganmu
Aku, tanahmu yang senantiasa menjagamu disaat kau jatuh
Aku, tanahmu yang bersedia menahan sakit karenamu

Bahkan ribuan tetes air yang kau jatuhkan, sedikitpun aku tak bisa membencimu sekalipun itu mampu melukaiku bahkan menghancurkanku

Akulah tanahmu,
Tempatmu melabuhkan tetesan air yang terjatuh

Kamis, 29 Oktober 2015

Untuk Dikenang

Kehidupan itu selalu dipenuhi kenangan dan angan

Seperti yang terjadi pada hari ini,

Aku dipaksa untuk kembali menyusuri jalan yang sama sekali tak pernah lagi ku lalui, semenjak 4 tahun silam

Pantas saja, ketika hari ini menginjakkan kaki di tempat itu, aku merasa tak asing

Perlahan aku telusuri, mencoba mengingat kapan aku pernah menghampiri jalan ini

Ternyata, jalan ini adalah salah satu tempat yang pernah aku kunjungi bersamamu

Aku baru mengingatnya

Di ujung jalan sana,
Ada sebuah kedai bakwan malang sederhana yang pernah kita kunjungi tanpa sengaja

Sampai saat ini, kedai itu tak banyak berubah
Masih sama seperti 4 tahun silam

Kenangan itu juga masih terjaga
Buktinya, aku masih ingat setiap detail kejadiannya

Hanya saja angan yang sudah berubah

Aku hanya bisa mengulum senyum jika tiba-tiba mengingatnya
Merasakan keluguan sebuah angan, berupa janji yang tak tercipta
Namun selalu manis untuk dikenang

4 tahun silam,
Aku berada di tempat itu karenamu

Hari ini,
Tanpamu aku mengingat kisah itu

Minggu, 25 Oktober 2015

Pertemuan Berharga

Rindu yang sudah menumpuk ini, akhirnya dilabuhkan juga 

Hampir 4 tahun sudah, semenjak perpisahan hari itu

Aku sudah lupa tepatnya kapan
Yang pasti disaat ia memutuskan untuk melanjutkan studi jauh ke negeri orang
Aku sudah tak pernah lagi bertemu dengannya

Tangis dan haru menjadi satu pada hari perpisahan itu
Aku masih ingat wajah sendunya dan mata sembabnya saat ia berpamitan kepada kami

Semuanya serba tiba-tiba

Ia sengaja merahasiakan kepergiannya hanya takut membuat kami bersedih

Benar saja dugaannya 

Kami saling berpelukan untuk melepas tangis karena sebuah perpisahan

Mengapa kami harus dipisahkan terlalu cepat? 

Bagaimana tidak,
Tiga tahun bersamanya, menimba ilmu dengannya, mendengar lantunan indah yang terucap dari bibirnya, menerima nasihat shalihahnya, paras cantiknya, termotivasi darinya

Tapi pada hari itu kami harus kehilangannya, memang sementara
Hanya saja ruang dan jarak kami yang terlalu jauh rasanya
Ia akan pergi ke Turki

Setelah hari itu,
Kami hanya sesekali bertukar kabar melalui dunia maya
Hanya untuk mengurangi kerinduan
Walaupun tak banyak berkurang

Aku jadi teringat pertemuan pertama kami di Masjid Asy-Syifa

Hari itu adalah penentuan dan penetapan kakak mentor untuk siswa/i baru
Pandangan pertamaku saja, aku sudah dibuat jatuh hati olehnya
Siapapun yang memandangnya, pasti akan merasakan hal yang sama

Keanggunannya, tutur katanya, kecantikannya, suara merdunya saat melantunkan ayat suci Al-quran
Ah.. Aku sangat mengaguminya
Jelas dalam hati aku meng-amin-kan ia menjadi kakak mentor kami selama tiga tahun ke depan

Alhamdulillah harapku terkabul,
Ia terpilih menjadi mentor kami

Rasa bahagia dan segan meliputi kami
Saat harus berhadapan dengan seorang mentor yang menjadi idaman semua siswi di sekolah itu

Jangankan siswi, aku yakin semua ikhwan juga mengidolakannya

Ah betapa beruntungnya kami,
Didampingi oleh seorang mentor yang tepat dan luar biasa memiliki cantik paras dan hati
Jalan takdir mempertemukan kami untuk saling mengajarkan dan berbagi

Hampir 3 tahun berada di sekolah itu, telah banyak merubah cara berpikirku tentang Islam
Ilmuku semakin bertambah dan luas serta haus rasa ingin tahu yang begitu besar
Apalagi jika setiap hari sabtu saat mentoring dengannya
Dalam seminggu, aku sangat menantikan hari itu

Apapun kami bahas, apapun yang meragukan, aku pertanyakan 
Ia berperan sebagai guru sekaligus kakak yang setia merangkul kami

Dengan sabar ia menjelaskan
Tanpa lelah ia memotivasi
Hingga ia mampu sedikit demi sedikit membimbing kami untuk berhijrah

Saat kami melakukan kesalahan.. 

Ketika ia tahu aku memiliki seorang 'pacar'
Bukannya menegur, ia malah semakin antusias membimbingku untuk berhijrah
Dengan cara yang begitu halus tentunya
Hingga gamang aku dibuatnya

Ingin mengikuti jejaknya,
Tapi aku sulit untuk melepaskan seseorang yang saat itu berstatus sebagai kekasihku

Lagi-lagi ia hanya tersenyum, tanpa sedikitpun tampak amarah kekecewaan di wajahnya
Hanya saja sorot matanya mengatakan "Silahkan kau habiskan waktumu dengan seseorang yang belum tentu menjadi jodohmu"

Ia tak banyak ikut campur dalam pilihan hidupku
Namun ia mampu meluluhkan hati siapapun dengan caranya yang anggun untuk merubah sesuatu

Hijrah sikap, cinta, dan hati 

Tanpa ada paksaan apalagi dengan misi licik yang terkesan mengusik

Karena lebih ampuh tuk lembutkan hati bukan menjadi keraskan hati

Baginya harus dilakukan bertahap dan terintegerasi
Perlahan tapi pasti

Pujiannya selalu membuat hati siapapun terenyuh mendengarnya
Ia tak pernah sekalipun marah
Ia selalu menyembunyikan amarahnya dibalik senyumnya
Ia tak pernah menitikkan air mata ketika kecewa
Ia selalu menyembunyikan tangisannya dibalik kacamata tebalnya

Tanpa bosan ia menasihati dan mengoreksi kesalahan kami dengan tutur kata yang halus tapi menyentuh

Kami mampu membuat iri para siswi lainnya
Terbukti dengan begitu banyak yang ingin bergabung pada kelompok kami
Tapi semua hanya angan belaka
Mereka tidak ditakdirkan untuk bersama

Kemarin, 24 Oktober 2015 adalah hari pernikahannya


Di usia yang tergolong cukup muda, 22 tahun tepatnya
Ia mampu membuat siapapun mengelus dada karena iri

Keistiqomahan dan keteguhan prinsipnya untuk memperbaiki serta menjaga diri, mampu membimbingnya menjadi salah satu wanita shalihah yang beruntung di dunia dan membuat ratusan mata memandang mengaguminya

Dari jauh aku melihatnya berdiri di singgasana pelaminan bak bidadari surga
Tak sabar ingin berlari memeluknya
Melepas jutaan rindu yang sudah terpendam cukup lama

Aura kebahagiaan terpancar jelas di wajahnya
Betapa beruntungnya lelaki yang ada disampingnya

Tiga tahun tak mendengar kabar darinya, kemarin aku hadir pada acara pernikahannya sebagai salah satu undangan yang dinantikan kehadirannya

Haru bercampur bahagia
Jodoh tiada bisa yang menduga

Jumat, 23 Oktober 2015

Hanya Sekedar Mengingatkan

Entah sudah ke berapa kalinya dikecewakan oleh seorang yang bisa dibilang menjadi panutan bagi orang-orang di sekitarnya.

Dulu juga kami pernah beranggapan seperti itu, mengagungkan dan menghormati mereka, tapi sekarang rasanya sudah tak mudah.

Mengapa tidak..

Mereka yang memiliki penampilan lebih baik dan mengerti ilmu yang mungkin sedikit lebih banyak daripada orang awam disekitarnya, mengingkari itu.

Mengingatkan, menasehati, dan berlagak seperti orang yang paling benar. Tetapi pada akhirnya, mereka sama saja. Tak jauh berbeda dengan orang-orang seperti kami. Orang awam yang masih berproses menuju ke arah kebaikan.

Mereka melarang, tapi mereka juga melakukan untuk beberapa hal yang sebenarnya dianggap janggal. Katanya.

Menjauhi larangan-Nya dan melaksanakan perintah-Nya.

Justru dengan melihat mereka seperti seorang yang "munafik", itulah yang janggal bagi kami.

Katanya, katanya, katanya.

Nyatanya, nyatanya, nyatanya?

Tak bermaksud menghujat. Hanya saja tak tahu bagaimana cara mengoreksinya. Hanya ingin sekedar menyadarkan. 

Sesuaikanlah penampilan dan tutur katamu dengan sikapmu, terlebih dengan seorang yang 'katamu' tak halal bagimu. Agar tak merusak citra, nama baik, dan agamu, sobat. 

Tolong,

Tunjukkan pada kami, jika kau pantas menjadi panutan disekeliling kami. Tunjukkan pada kami, jika kami tak keliru mengidolakanmu. Tunjukkan pada kami, menjadi sepertimu adalah sesuatu yang mulia. 

Akibat ketidaksesuaian perkataan dan perbuatanmu, telah melunturkan kesan pertama yang kau ciptakan untuk kami. Kebaikan yang 'katanya' sudah melekat pada dirimu, perlahan terkikis akibat pengingkaran itu. Sehingga menciptakan anggapan negatif yang perlahan tertanam di benak kami.

Dirimu terkesan tak jauh berbeda dari kami, hanya saja berpenampilan sedikit berbeda. 

Hanya Soal Waktu

Bukan lagi soal wajah yang memikat
Bukan lagi soal tutur kata yang memuja
Bukan lagi soal sikap yang manis luar biasa

Sederhana,

Sekarang hanya masalah waktu
Waktu untuk penyembuhan luka
Tak tahu berlangsung sementara atau dalam jangka waktu lama

Pada awalnya, memang sudah menyembukan luka
Walau semua berjalan agak lambat
Tapi ternyata, bukan kesembuhan yang didapat
Luka malah semakin dibuat meradang

Datang tak terduga,
Pergi selalu tiba-tiba

Jika terlalu banyak pengingkaran
Mengapa harus muncul sebuah harapan?
Jika terlalu banyak kedustaan
Mengapa harus muncul sebuah kepercayaan?

Selasa, 20 Oktober 2015

Topeng

Semua dilapisi seribu topeng
Hanya untuk menyelamatkan diri

Semua dilapisi seribu topeng
Hanya untuk menipu diri

Semua dilapisi seribu topeng
Hanya untuk membuat keliru

Semua dilapisi seribu topeng
Hanya untuk terlihat syahdu

Sebuah misi yang berkedok kebaikan
Dengan embel-embel hanya meluruskan
Tapi perlahan justru menghancurkan

Tak pernah berpikir kan bagaimana dampak seorang yang menerima misi itu?
Ada yang beranggapan postif pun sebaliknya
Pernah di pedulikan?

Yang mereka tahu jika misinya berhasil
Mereka akan tertawa bangga bak seorang pahlawan kesiangan

Tak selamanya yang dilakukan selalu benar
Manusia tak pernah luput dari kesalahan

Hidup itu selalu disertai dengan dua pilihan
Memang tidak sulit
Tapi berarti

Zaman sekarang, dunia seolah dipenuhi orang-orang yang memiliki seribu topeng. Hina rasanya. Tapi itulah kenyataannya.

Tertawa bersama iya. Saling menjatuhkan paling semangat. Janji setia iya. Saling menghujat juga tak terelakkan. Pengkhianatan menyerang dari berbagai arah.

Semuanya palsu.
Sulit membedakan mana yang polos, mana yang punya seribu akal bulus.

Semuanya palsu.
Sulit membedakan mana senyum yang tulus, mana yang tersenyum kaku.

Memang, roda kehidupan selalu berputar. Tapi haruskah saling menjatuhkan? Cara licik, sifat munafik dan egoisme yang tinggi perlahan mulai menghancurkan dinding itu. Lambat laun semua akan berubah menjadi tebing yang semakin hari semakin meruncing.

Cukup tau saja, siapa kalian sebenarnya. Walau hanya bisa tersenyum menghadapinya, mengamati dalam diam, lalu tertawa dalam hati sepuasnya.

Miris sebenarnya, tapi disikapi saja sewajarnya. Karena sadar kita telah beranjak dewasa. Bukan lagi saatnya menghabiskan waktu untuk masalah kekanak-kanakan yang disikapi dengan cara meledak-ledak.

Aku turut prihatin padamu..

Sabtu, 17 Oktober 2015

Tentang Perasaan

Melewati fase dimana perasaan sedang diabaikan
Perasaan sendiri saja dikucilkan, tak dipedulikan
Bagaimana dengan perasaan orang lain?
Sudah pasti diacuhkan

Hampa?
Sudah pasti

Tapi kaki menjadi lebih ringan untuk melangkah
Hati terasa kosong tanpa beban
Tanpa harus memikirkan perasaan orang lain, tanpa harus memikirkan perasaan sendiri

Mati rasa?
Iya

Itulah masalah utamanya
Cinta sudah hambar rasanya
Dingin tak tersentuh
Tak ingin disentuh
Apalagi menyentuh

Alasannya,
Kecewa !

Perasaan yang menggebu sudah sirna
Malas berkutat dengan perasaan yang pasti berujung dengan kepatah hatian

Lebih baik tak lagi pakai hati
Tak perlu pakai perasaan

Semua sudah mati rasanya
Untuk saat ini dan mungkin beberapa waktu ke depan

Sementara saja,

Tak lama sebenarnya
Cuma waktu saja yang berjalan agak lambat
Jadi terasa lebih lama prosesnya

Semua karena hari itu
Semua takkan lagi sama
Semua telah berubah seketika

Merubah perasaan dan cara berpikirku

Tentang seseorang yang terlalu mudah mengucap kata cinta
Tentang seseorang yang terlalu mudah mengabaikan cinta

Sekarang,
Hanya soal menunggu seseorang yang mampu mencairkan dan kembali menghidupkan perasaan
Bukan yang hanya berani bermain-main dengan perasaan

Rabu, 07 Oktober 2015

Aroma Parfummu

Dalam mata terpejam, aku mengenal aroma ini
Bau parfum ini

Aku mencoba mengingat-ingat
Sepertinya sangat tak asing bagiku

Butuh waktu beberapa menit untuk mengingat siapa pemilik aroma ini

Ternyata,
Seperti parfum yang sering kau gunakan dulu

Sudah hampir 5 tahun aku tak pernah mencium aroma seperti ini
Tak satupun orang yang kutemui memiliki aroma yang khas seperti kamu

Selama ini cuma kamu

Aroma yang identik dengan kamu
Aroma yang tak seperti biasanya
Aroma kamu berbeda

Aku jadi ingat, dulu aku sengaja untuk meminjam jaketmu
Dengan alasan cuaca begitu dingin
Padahal aku hanya ingin mencium aroma yang menempel di jaketmu

Aroma itu sulit aku deskripsikan
Yang pasti aromanya selalu membuatku rindu
Karena tak ada selain kamu

Tapi hari ini, saat aku berada dalam salah satu gerbong commuter line
Aroma itu berterbangan menghampiri indera penciumanku

Akhirnya aku menemukan juga aroma ini
Selain kamu

Sedikit mengobati kerinduanku
Sedikit mengingat bagaimana aroma yang sangat aku rindukan

Tapi,
Siapa pemilik aroma ini
Selain kamu?

5-10-15

Senin, 05 Oktober 2015

Untaian kata dari seseorang.. (10)

Katanya,

Yang ku tahu, aku begitu menyayangimu
Meski aku memang bukan yang pertama untukmu,
Tapi izinkanlah aku menjadi yang terakhir dalam hatimu

Aku pun sudah melupakan luka yang pernah kau torehkan padaku
Karena yang aku tahu, kau selalu menemaniku dalam setiap langkah yang sepi dalam hidupku ini

Aku menyayangimu setulus hatiku
Walaupun tak seindah permata maupun emas
Aku tetap tulus

Aku berharap kau menjadi cinta terakhirku

Kau harus tahu, bahwa cinta yang telah ku berikan bukanlah permainan belaka
Tak sembarang orang bisa mendapatkannya
Karena aku selalu memilih seorang yang pantas ku cintai sampai nanti

Aku tak mau jika kau selalu terpuruk dengan bayangan masa lalumu
Karena aku telah hadir tuk temani dirimu

Hingga kau bosan.

Jika kau telah temukan pria yang mampu membahagiakanmu lebih dariku
Aku sudah siap dengan hal itu

Aku hanya ingin melihatmu bahagia, meski aku bukanlah orang yang membahagiakanmu saat itu

Untaian kata dari seseorang.. (9)

Katanya,

Disaat ku mulai merasa putus asa
Kau mampu membuatku bangkit kembali

Ya
Kau adalah cahaya cinta yang selama ini aku nantikan dan kurindukan

Semoga kau mengerti,
Bahwa di hatiku telah terukir abadi namamu

Seandainya saja,
Kau telah temukan orang lain yang jauh lebih baik dariku
Maka kejarlah orang itu dan jangan sekali-sekali melihat ke belakang

Aku hanya bisa berharap
Kau bahagia bersamanya
Namun izinkanlah aku tuk tetap menjadi sahabatmu

"Thanks because you always make my heart feeling in love with you. I love you" He said.

Untaian kata dari seseorang.. (8)

Katanya,

Besarnya rasa yang kumiliki
Membuatku sabar dan mengerti dirimu yang mungkin tak mudah untuk menjalin suatu hubungan

Aku akan menunggu sampai kau siap untuk menjalani suatu hubungan yang serius

Meski tahunan,
Akan kulewati demi masa itu
Aku akan tetap setia bersamamu sampai kapanpun itu

Aku tak ingin kehilanganmu

Kamu adalah anugerah terindah untukku
Kamu adalah cahaya penolongku yang datang disaat aku tersesat di suatu tempat yang teramat gelap demi mencari secercah cahaya cinta

Tanpa pernah ku duga,
Kau datang dengan sendirinya dan menghampiriku
Kau mengulurkan tanganmu dan menolongku untuk menjauhi tempat itu

Untaian kata dari seseorang.. (7)

Katanya,

Andai saja kau tahu
Seberapa besarnya cinta yang ku miliki untukmu

Andai saja kau cinta pertamaku yang merangkap menjadi cinta terakhirku
Maka izinkanlah aku untuk selalu ada dalam hidupmu

Meskipun aku tak lagi menjadi kekasih hatimu lagi suatu saat nanti,
Aku tak ingin hubungan kita benar-benar hancur

Aku ingin menjadi seorang sahabat untukmu
Sahabat sejati yang selama ini kau cari
Aku bisa menjadi tempat kau mencurahkan segala isi hatimu

Aku hanya ingin kita tak menjauh
Kamu akan tetap menjadi bagian dari hidupku

Untaian kata dari seseorang.. (6)

Katanya,

Ingin ku tahu,
Apa yang sebenarnya kau harapakan dariku
Namun keterbatasanku menghalangi hal itu

Aku tak sesempurna seperti yang kau impikan
Aku bukan seorang komponis berbakat yang bisa membuat lagu cinta untukmu

Aku hanya bisa bermimpi,
Bermimpi tentang kebahagiaan kita kelak
Tapi aku tak dapat berbuat banyak untuk menyenangkan hatimu

Aku mungkin bukanlah cinta sejati yang selama ini kau nantikan
Namun bagiku kau telah menjadi bagian dari hidupku
Rasanya aku tak sanggup jika kau harus pergi
Menghilang dari pandanganku saat ini

Aku sedih,
Jika kita harus bertengkar menghadapi masalah yang rumit
Tapi aku yakin semua itu pasti ada jalan keluarnya

Aku begitu mencintaimu
Menyayangimu apa adanya
Sungguh, aku berharap maaf darimu

Untaian kata dari seseorang.. (5)

Katanya,

Janji yang pernah terucap di bibirku
Akan kuwujudkan untuk kau yang telah memberikan kebahagiaan tersendiri di hidupku

Meskipun kita sama-sama tak tahu siapa jodoh kita di kemudian hari
Aku selalu berharap orang itu adalah kamu

Jikapun kita tak berjodoh, aku masih berharap kasih sayang yang kita jalani selama ini, kan menjadi kenangan terindah untuk kita

Aku pun menyadari,
Aku tak bisa sempurna seperti yang kau harapkan
Namun perasaanku jauh melebihi perasaanmu

Kamu tahu?
Hari ini kau mampu membuatku kasmaran

Sabtu, 03 Oktober 2015

Untaian kata dari seseorang.. (4)

Katanya,

Apa kamu tahu?
Kau membuatku jatuh cinta pada hari ini, malam ini, detik ini.
Aku akan selalu memberikanmu tempat di sisi hatiku.

Aku suka disaat kamu tertawa,
Aku suka disaat kamu terlihat senang dan bahagia.

Aku tak suka jika kamu bersedih.
Apalagi karena kesalahanku.

Aku terlahir tidaklah sempurna,
Namun dengan adanya dirimu di sisiku pada saat ini, seakan ketidaksempurnaan itu telah tertutup rapat-rapat

Kamu pun tahu,
Bahwa cinta yang ku berikan tidaklah sempurna seperti yang kau harapkan

Tetapi,
Percayalah bahwa aku begitu mencintaimu meski perbedaan diantara kita berdua sangat beragam.

Tapi tenanglah,
Aku menganggap hal itu bagaikan perbedaan matahari dan bulan.
Yang satu berada di puncak siang
Yang satu berada di puncak malam

Untaian kata dari seseorang.. (3)

Katanya,

Aku ingin kau selalu ada disini
Tapi tak dapat ku paksa
Karena kau adalah malaikat bebasku

Jika suatu saat takdirku tak bersamamu
Aku akan tetap selalu membahagiakanmu dengan cara apapun itu

Meski raga ini terlalu banyak kekurangan yang mungkin tak dapat kau terima
Tapi hati ini selalu memiliki kelebihan untuk sebuah cinta dan kasih sayang

Kau membuatku mengerti cinta

Dibawah sinar rembulan yang hampir redup ini,
Kau memberikan cahaya dan kehangatan hatimu yang tak dapat ku balas

Aku hanya bisa membalasnya dengan kesetiaan dan kesabaranku
Karena hati dan ragaku telah kau miliki seutuhnya

Aku berharap,
Dibawah langit yang basah ini
Kau kan selalu ada untukku dalam suka maupun duka

Untaian kata dari seseorang.. (2)

Katanya,

Cinta sejati bukan datang dari pikiran, tapi dari hati.
Jika hati telah memilih, maka cinta telah datang kepadamu.
Walau penuh duka dan amarah, cinta sejati tetap kan abadi untuk selamanya.

Selama kamu masih menyayangi dan mencintaiku, aku kan memberikan lebih dari yang kau bayangkan.

Bayangan tentang masa lalu pun sirna karena hadirnya dirimu dalam hatiku.
Entah sampai kapan kau kan selalu berada disampingnku.

Satu hal yang ku tahu,
Kau akan selalu dihatiku, meski kita telah terpisahkan.
Kau pun harus mengerti, bahwa kau kan tetap menjadi kenangan yang terindah di hidupku.

Untaian kata dari seseorang.. (1)

Katanya,

Cinta itu tak harus bertemu setiap waktu
Cukup dengan rasa saling percaya dan rasa saling memiliki
Cinta itu harus bersabar jika menginginkan hasil yang terbaik
Cinta itu adalah bagaimana cara kita untuk selalu ada disaat orang yang kita cintai membutuhkannya
Cinta itu harus siap dengan segala risiko yang nantinya akan hadir dalam kisahnya

Cara Menghilangkan Stress

1. Jangan selalu tergantung pada orang lain.
2. Jangan berburuk sangka bahwa orang lain akan menghina atau membicarakan anda.
3. Jangan selalu mengingat kesalahan masa lalu. Perasaan bersalah dan penyesalan yang dalam dapat mempersulit karena menguras pikiran dan tenaga.
4. Jangan menyimpan kemarahan dan frustasi. Utarakan dan bicarakan dengan orang lain yang bertanggung jawab atas terjadinya hal itu.
5. Jangan menyimpan rasa dengki dan cemburu. Rasa dengki memakan energi.
6. Jangan membiasakan sikap terburu-buru. Tindakan tersebut menjurus pada Kesalahan-Penyesalan-Stress.

Mungkinkah?

Apa Tuhan menciptakan kita satu?
Sebab bersama kita rasakan bahagia
Berpisah adalah siksa

Apa kita diciptakan-Nya sepasang?
Sebab bersamamu ada indah harmoni
Sendiri, aku piano kehilangan bunyi

Kembali

Kembali ke kota ini, membuatku lemah
Semua kenangan yang satu persatu kucoba lupakan
Sontak menyerangku dari segala arah

Orang-orang yang tak ingin kutemui
Tempat yang tak ingin ku kunjungi
Kini ada dihadapanku

Tak kupungkiri
Ada satu sisi hati yang masih merindukan saat-saat itu
Meski pahit

Rabu, 23 September 2015

Diam

Banyak untaian kata yang hanya bergelantung pasrah di pita suara. Meminta untuk diucapkan, namun bibir tak mampu mengejanya. Ribuan kalimat tersusun rapi di dalam kepala, siap untuk diungkapkan. Lagi-lagi mulut hanya bisa terdiam. Gejolak di dalam dada penuh amarah perlu dilampiaskan. Tapi tubuh tak mampu berbuat apa-apa. 

Diam, diam, dan diam
Sampai kapan akan tetap terdiam?

Bersenandung lirih dalam diam
Menangis dalam diam
Memberontak dalam diam
Berceloteh dalam diam
Tertawa dalam diam
Marah  dalam diam
Sakit dalam diam

Lalu apa yang akan berubah jika hanya diam?

Hanya bisa berdoa dan berharap
Lagi-lagi dalam diam

Akhirnya, cukup air mata yang menggenang di pelupuk mata, siap untuk dijatuhkan

Baru dilmulai lagi?

Sepertinya permainan baru saja dimulai. Bukannya sudah usai. Dikira cukup sampai disitu saja, ternyata masih ada lanjutannya. Dikira semuanya membaik seperti sedia kala. Tapi ternyata semakin buruk saja. Perasaan seolah tak lagi ada harganya, berulang kali dipermainkan begitu saja. Janji manis yang pernah terucap sampai mulut berbusa, tapi ternyata tak berarti apa-apa.

Iya, memang belum waktunya. Jika memang belum waktunya, seharusnya tak perlu ada permulaan hingga tak perlu menyelesaikannya suatu ketika. Jika sudah dimulai, bukankah harus segera diselesaikan. Bila tak mau diselesaikan, cukup tau saja, siapa anda sebenarnya.

Topeng yang menjelma menjadi manusia idaman, perlahan mulai menampakkan wajah aslinya. Walau bisa berubah sewaktu-waktu begitu saja. 

Menjadi idaman atau di benci selamanya? Tergantung darimana kau menyikapinya.

Sayap-sayap Patah

Sebuah sayap tercipta dengan bentuk yang indah nan sempurna, satu persatu di patahkan tiap helainya. Jatuh berguguran, terlupa dan diabaikan begitu saja. Namun ia masih nampak indah, karena tiap helai yang hilang, tak seberapa harganya. Masih ada ribuan helai yang mampu membuatnya terlihat memukau. 

Lambat laun, sayap itu mulai menampakkan kosongnya bagian helai didalamnya yang sudah menghilang. Tapi ternyata perlahan-lahan tumbuh sehelai demi sehelai lagi untuk menutupi kekosongan yang tercipta. Sayap itu hampir rusak, tapi ada yang memperbaikinya. 

Ternyata, waktu tak selalu menguntungkan baginya, ada saatnya helaian itu kembali berguguran. Kini helaian baru belum menunjukkan keberadaannya. 

Semakin hari, sayap itu terlihat semakin lemah, kusam, dan tak lagi indah. Selalu saja ada tangan jahil yang merebut paksa helaian miliknya kemudian tak ada kesadaran untuk mengembalikannya.

Mampukah sayap itu bertahan lebih lama lagi? Sudah terlalu banyak ia merelakan patahan sayapnya terbuang begitu saja tanpa ada ultimatum apapun darinya untuk seseorang yang selalu mematahkan sayapnya.

"Hanya bisa berdoa, semoga suatu hari nanti sayap itu kan kembali menjadi sayap yang utuh tanpa ada lagi luka yang tersisa."

Takut

Terlalu takut sebenarnya
Sangat takut

Maju ke depan
Belum siap menghadapinya

Mundur ke belakang
Terjerembap pastinya

Didepan jalan lurus penuh liku
Dibelakang jurang yang dapat membunuh sewaktu-waktu

Diam di tempat?
Harus ada keputusan yang dibuat

Kiri kanan?
Hanya ada dinding yang tak mampu dicapai

Angin membisikan tuk segera lari
Tapi hujan memaksa tuk tetap tinggal

Kemudian mentari datang mencoba menghangatkan
Namun jika terlalu lama kau kan merasa kepanasan

Ingin terpejam saja,
Melanjutkan mimpi yang tertunda
Tapi ternyata mimpi itu selesai begitu saja

Jika malam terjaga,
Pikiran selalu melayang jauh kesana
Sampai saat ini pertanyaan itu belum terjawab semua
Hanya tersisa dugaan sementara
Memaksa untuk pergi
Kemudian memaksa untuk kembali
Terulang puluhan kali
Dengan beragam cerita sedih

Bodoh atau setia
Tak jauh bedanya
Dipermainkan tapi tetap bertahan

Seolah tegar
Padahal sudah hancur menjadi kepingan
Berharap tersadar di kemudian hari
Nyatanya terluka lagi

Yang dia tahu, semua baik-baik saja
Seperti biasanya
Tapi hati selalu mengingkarinya
Bahwa semua ini salah

Iya atau tidak sama sekali
Sama-sama bimbang

Entah apa yang mampu membuatnya bertahan
Cinta tak lagi seindah yang pernah dikenal sebelumnya

Kamis, 17 September 2015

Lagi dan lagi..

Padahal tak seberapa, tapi dianggap luar biasa. Hanya saja kamu tak menyadarinya, sakitnya tak seberapa dari apa yang pernah ia rasakan. Baru segitu saja, kamu sudah menggapnya masalah besar bukan? Luka serius yang terkesan tak ada obatnya. Andai saja kamu tau, seberapa parah luka yang pernah kau torehkan padanya, mungkin kau akan merasa malu jika terlambat menyadarinya. Saat ini yang bisa ia lakukan hanya diam. Menangis didalam senyumannya. Karena sekarang ia menyadari, lukanya sudah semakin parah. Karena kamu selalu menjatuhkannya ribuan kali, sekuat apapun ia berdiri. Seharusnya kau tak mengingkarinya.

Jadi, segitu saja kesabaranmu menghadapinya? Pernahkah kau berpikir seberapa besar kesabarannya untuk menerima berbagai macam ulahmu pada hatinya? Pernahkah kau hitung berapa kali kau membuatnya meneteskan air mata, menghapusnya, kemudian puluhan kali mengulanginya? Pernahkah sedikit saja kau pedulikan hatinya? 

Bisakah kau pertahankan senyumnya sedikit lebih lama, hingga ia pulih dari luka lamanya, dan bisa bangkit berdiri melanjutkan hidupnya, tanpa lagi ada luka yang tersisa?

Tak bisakah?
Kamu yang menyebabkan ia terluka, lalu sampai kapan kamu akan terus melukainya?

Lagi dan lagi

Tak bisa terbayangkan, jika kamu mengalami sakit yang pernah ia rasa. Baru segini saja, kau sudah bertingkah seenaknya.

Coba jika ada waktu, kamu renungkan. Siapa tahu masih ada sedikit maaf lagi yang tersisa di hatinya..

Semoga saja

Rabu, 16 September 2015

Kepalsuan

Sulit jika harus menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang di rasa sesungguhnya. Terkadang hanya seulas senyum yang mampu diberikan agar pertanyaan-pertanyaan itu bisa dihiraukan. Berkata seolah baik-baik saja, namun nyatanya begitu banyak problema.

Memang tak banyak yang tau, bahwa senyum ini palsu. Masih bisa tertawa bersama, binar mata seolah bahagia. Namun sebenarnya dalam hati mengingkarinya, karena sudah terlalu banyak luka.

Terlalu banyak yang mencampuri, seolah peduli, tapi nyatanya hanya keusilan mulut belaka yang berujung sok menggurui.

Pada akhirnya, mulut ini akan tetap membisu. Namun hati dan pikiran melayang jauh entah kemana. Terbuai akan segala keluh kesah yang tanpa ampun menguasai.

Kenyataan yang terjadi, hanya jari jemari yang berbicara melalui tulisan membahasakan kisah yang menari-nari dalam kepala agar sedikit beban bisa dihilangkan walau seujung kuku saja, serta air mata yang bergulir menetes dikala berada dalam peraduan-Nya.

Setidaknya, Dia bisa mengerti tanpa harus penjelasan panjang lebar.

Ya, hanya itulah yang bisa dilakukan untuk mempersiapkan senyum di esok hari. Agar mereka tau, semua baik-baik saja. Aku baik-baik saja. 

Hingga akhirnya mereka bilang, "Kau selalu terlihat ceria." Mereka pun yakin, aku bahagia. Padahal kenyataan tak begitu adanya.

Rindu

Hanya sebatas rindu
Tak lebih dari itu
Apa itu mengganggumu?

Apa kau kan segera hilang dan berlalu?
Apa aku yang memang sengaja membiarkanmu hilang dan berlalu?

Menjalani hari demi hari
Dengan tawa dan dipenuhi duka
Memang tak mudah

Lalu bagaimana cara membuatnya terkubur menjadi satu?
Bisakah menjadi musnah tak tersisa?
Atau mungkin akan tetap bersarang dalam kalbu
Hingga hanya waktu yang menyembuhkannya?

Membiasakan diri tak lagi saling bergantung
Tak semudah itu..

Tujuan

Rasanya enggan mengenal seseorang yang bersikap manis ke segala penjuru, tapi di segala penjuru itu tak satupun yang dipilihnya dijadikan tujuan. Baginya semua hanya permainan belaka, yang bisa ia tinggalkan di kala sudah bosan.

Rasanya lebih baik menunggu sedikit lebih lama, untuk menemukan seseorang yang sudah memiliki tujuan kemana akan dilangkahkan kakinya. Walau sikap manis ia tebar kemana-mana dan ditanamkan pada ribuan hati sekalipun. Bukankah lebih jelas siapa yang pada akhirnya akan menjadi pilihannya?

Kembali

Kehangatan itu, kembali menjalar pada semua unsur tubuhmu
Lahir dan batin

Di saat sesuatu yang kau miliki nyaris pergi dan menghilang, di saat itu pula sulit untuk kau kembali menggapainya, nyaris menyerah dan melepaskan..

Namun tanpa diduga, di saat itu pula mereka kembali, kembali memelukmu, memberikan kedamaian pada jiwamu

Perlahan-lahan, satu persatu, kau kembali memilikinya

Padahal kau sudah berputus asa mempertahankan ikatanmu,
Tapi ternyata mereka juga yang kembali menguatkannya

Hidup memang tak pernah bisa ditebak

Mereka kembali, kembali dalam pelukmu, selalu menghangatkanmu, memberi kebahagiaan untukmu
Seperti dulu

Kita

Awalnya, kita tak pernah saling kenal
Terpikir untuk dekat pun tidak
Setelah itu, hanya sebatas tahu saja
Tak ingin lebih pastinya

Tapi waktu berkata berbeda dari yang kita duga
Kita dipertemukan pada jalan yang sama
Sarat makna untuk terus beriringan

Sesaat, kita merasa nyaman
Sehingga berani berkomitmen untuk mencobanya
Kita bersama

Hari berlalu sangat cepat
Angin pun bertiup semakin kencang
Kita sudah setengah jalan

Tapi apa yang terjadi?
Kita sama sama goyah
Tak ingin lagi berada di jalur yang sama
Kita sudah berbeda

Entah siapa yang perlahan menghancurkannya
Aku, kau, atau dia?

Semua terasa asing bagi kita
Pada akhirnya kita putuskan menyerah

Saling menoreh luka
Sama-sama terjatuh pula
Kita hancur

Tapi hanya untuk beberapa saat saja

Kemudian kepingan itu sedikit demi sedikit kita coba singkirkan
Berharap semua yang pernah terjadi akan terlupa begitu saja

Tapi kita salah
Justru kepingan itu perlahan bersatu kembali untuk melanjutkan sebuah kisah
Dalam keadaan rusak parah penuh tambalan
Dipaksakan untuk terus kembali merajut cerita

Siapa yang sebenarnya egois dan terkesan memaksa?

Di satu sisi,
Kau seolah masih erat menggenggamku dan berkata jangan pergi
Di sisi lain,
Kau memaksaku angkat kaki

Dimanakah kita berada sekarang?
Aku masih tak mengerti

Sekilas Cerita Cinta Masa​ Remaja

Semua berawal dari ekstrakulikuler di sekolah kita, PMR tingkat SMP.

Sabtu pertama, ketika aku sudah memutuskan mendaftarkan diri mengikuti eskul itu, kita dipertemukan begitu saja. Saat itu kau satu tahun lebih tua dariku. Sedangkan aku hanyalah siswi baru yang sangat awam dengan suasana seperti ini. 

Aku mengamatimu dari kejauhan, sedikit terkagum karena sifat pendiammu. Tapi untuk tahu namamu saja aku tak tahu bagaimana.  Malu sudah pasti, tak mungkin bukan terang-terangan aku berkenalan denganmu? Memang aku siapa. Hanya gadis cilik yang baru masuk sekolah menengah pertama. Sabtu pertama, berakhir begitu saja.

Setiap minggu, aku tak sabar untuk berjumpa denganmu di setiap hari sabtu. Walaupun kau tergolong pemalu dan tidak eksis seperti kakak pembina lainnya, kau masih tetap mampu mencuri perhatianku. Dan pada hari itu, tanpa sengaja aku tahu namamu. Mendengar seorang guru meminta bantuanmu dan ia begitu saja memanggilmu. Dari situlah aku tahu siapa namamu.

Tahun terakhir masa jabatanmu, kita yang tergabung dalam satu organisasi pergi ke sebuah tempat di Perkebunan Teh untuk melakukan kegiatan LDK. Pada saat pengumuman pendamping kelompok, aku dikejutkan dengan kamu yang berdiri di depan barisan kelompokku. Mungkinkah kau menjadi pendamping kelompokku? Ah aku masih tak percaya pada awalnya. Tapi ternyata waktu berkata "iya". Kau yang bertanggung jawab atas kelompokku. Sungguh kebetulan yang luar biasa bukan?

Pagi sampai sore, dengan puluhan cerita yang tak ada habisnya aku catat dalam memoriku terajut sempurna dan begitu indah. Mulai dari sifat kaku dan pemalu kamu, lalu saat kamu menyuapi minuman dan makanan aneh ke dalam mulutku, senyuman darimu, hingga wajah khawatirmu jika ada anggota kelompokku yang terpisah. Kau terlihat begitu lucu, juga angkuh.

Tapi tetap saja, kau masih tidak mengenalku bukan? Jawabannya sudah pasti "iya".

Hingga akhirnya, setiap hari setelah itu, aku hanya bisa mencuri pandang jika lewat didepan kelasmu, sengaja lewat didepan kamu saat waktu istirahat di kantin sekolah, atau membantu guru untuk mengantarkan absensi ke kelasmu. Semuanya kulakukan hanya untuk melihatmu saja. Aku tau, aku tak bisa berharap lebih dari itu.

Waktu terus begulir dan kamu telah berada di sekolah menengah atas saat itu. Satu tahun sudah, kita hampir tak bertemu. Pertemuan hanya terjadi saat kau sepulang sekolah mampir ke sekolahku hanya untuk bertegur sapa pada guru dan petugas sekolah. Semua semakin terasa tak mungkin bagiku. Tapi hanya satu harapanku saat itu, aku hanya ingin kita kembali berada di sekolah yang sama suatu hari nanti.

Hari itu pun tiba, kita kembali di pertemukan pada sekolah yang sama. Saat itu kamu sudah kelas 2 SMA. Lagi-lagi aku hanyalah seorang murid baru yang segan dengan seorang senior.

Namun, entah bagaimana ceritanya, kita dipertemukan dalam sebuah akun media sosial dan saling bertegur sapa. Berkenalan dan saling bertukar cerita. Dari mulai seminggu hanya sekali sampai setiap hari kita komunikasi. Walaupun hanya lewat chatting media sosial. Tapi sudah cukup menyenangkan bagiku.

Lambat laun, perhatian itu mulai kau tunjukkan padaku, walaupun kita tak pernah berinteraksi langsung, tetap saja kehangatan selalu membalutku.

Aku ingat, saat ada bazar sekolah menjelang Ramadhan tiba yang merupakan tradisi sekolah kita, aku bertugas menjaga stand kelas dengan menjual aneka minuman dingin. Karena teriknya matahari, terlalu banyak pula stand kelas yang menjual minuman dingin dengan berbagai varian rasa dan masing-masing mampu menarik perhatian peminatnya. Karena ketatnya persaingan, hingga akhir acara, masih banyak sisa minuman di stand kelasku dan juga stand kelasmu. Apa? Kamu juga menjual minuman yang sama? Dan apa yang terjadi saat itu?

Kau dan teman-temanmu berjalan menuju stand kami sambil menjajakkan minuman dingin jualanmu. Sontak membuatku sulit bernapas dan siulan dari dua belah pihak semakin menjadi, kelasmu dan kelasku. Padahal aku saja tak yakin kalau kau mengenalku walau kita setiap hari chatting hingga larut.

Perlahan aku berjalan mundur, untuk menghindari interaksi langsung denganmu, walaupun aku sebenarnya mau, tapi aku terlalu diliputi rasa malu. Sekilas kulihat wajahmu tampak ragu dan juga malu, tapi langkah kakimu seolah meyakinkanmu dan semakin dekat jaraknya denganku. 

Hingga akhirnya kau menemuiku dan menawarkan langsung minuman itu. Mau tak mau, dengan wajah seolah tak malu, aku juga tak segan menawarkan minumanku untukmu. Perdebatan kecil sambil bercanda pun terjadi, sorakan sana sini makin memperkeruh suasana hati. Jantung ini rasanya sudah tak terkontrol lagi. Beginikah rasanya? Ah sudahlah, aku pikir kau juga tak tahu siapa aku. 

Akhirnya, setelah kesepakatan terjadi kita bertukar minuman itu dan sama-sama membayarnya. Aku membeli minuman yang kau tawarkan dan kau membeli minuman yang aku jajakan. Rasa bahagia pun terasa sangat kental diantara kita. Hm.. Mungkin untukku saja. Kamu tidak merasakan hal yang sama sepertinya. Kemudian, selesailah cerita siang hari itu.

Malam harinya, kau menghubungiku dan kau menceritakan kembali kejadian tadi siang bersamaku. Ternyata kamu mengenalku dan memang sengaja menawarkan minuman itu padaku, hanya untuk tahu reaksiku. Perasaan dihati makin tak terkira rasanya, campur aduk menjadi satu. Pantas saja, teman-temanmu begitu antusias menyoraki tingkah kita. Ternyata mereka sudah tahu mengenai kedekatan kita lewat sosial media.

Hingga pada akhirnya, kita berdua membuat janji bertemu untuk sebuah "tabel periodik kimia" yang aku pesan minta tolong dibelikan olehmu saat kau pergi ke toko buku sehari lalu dengan embel-embel kau meminta nomor teleponku lebih dulu. Katamu, biar lebih mudah menghubungiku.

Aku masih ingat, kita bertemu saat jam istirahat sekitar pukul 12.00 sebelum sholat zuhur di depan laboratorium kimia tepatnya di kursi melingkar. Inilah pertemuan pribadi untuk kita pertama kalinya.

Tanpa diduga, dari kejauhan terdengar sorak sorai dan siulan dari kelasmu yang berada tepat dibelakangmu dan juga dari kelasku yang tepat berada dibelakangku karena ternyata mereka sama-sama mengamati gerak gerik dan sikap salah tingkah sejak awal kita bertemu. Posisi kelas kita yang bersebrangan, semakin membuat antusias teman-teman semakin menggebu. Hingga mampu membuat wajah kita sama-sama merona malu saat itu.

Singkat cerita, semakin hari, semuanya terasa sangat menyenangkan bagiku. Aku sangat menikmati menjalin komunikasi denganmu yang semakin lama semakin kompleks intensitas dan topik pembicaraannya.

Hingga pada suatu malam, tepatnya malam minggu sekitar pukul 22.45 kau mengucapkan sebuah kata yang sangat aku tunggu. Kau bilang, kata tersebut adalah kata yang pertama kalinya kau ucapkan kepada seorang wanita selama seumur hidupmu dan wanita pertama itu adalah aku. 

Aku rasa aku mimpi saat itu. Tapi ternyata semua nyata tanpa rekayasa. Kau bersungguh-sungguh mengatakannya. Di penghujung malam hari itu, akupun memutuskan menjawab "iya" atas permintaanmu.

Semua berjalan indah dan terasa luar biasa bagiku. Setiap hari kau selalu menulis cerita baru dalam sebuah perjalanan cintaku dan cintamu. Walau masih diliputi rasa malu-malu, namun perasaan itu tak bisa kita seperti anggap angin lalu. Walaupun kita masih berseragam putih abu, namun gelora cinta itu jelas tampak di mata siapapun.

Hingga tak terasa sudah 2 tahun berlalu dan kita harus terpisah oleh jarak dan waktu yang kita pikir tak mampu menjalani semua itu. Kau harus melanjutkan studimu, sedangkan aku harus siap kapanpun jika perlu menetap di kota lain untuk melanjutkan studiku juga. Kita hanya harus menyiapkan diri berada di kota yang berbeda untuk tetap menjalin suatu hubungan. Tapi ternyata ego masing-masing memutuskan untuk berpisah.

Setelah pertengkaran dan air mata di pinggir danau sore itu, kita memutuskan tak bisa lagi bersama melalui jalan itu. Kita memutuskan menjalani kehidupan masing-masing dengan kisah baru. 

Beberapa tahun berlalu, kita hanya berkomunikasi jika perlu dan saling bertukar kabar jika rindu. Tiada lagi rasa memiliki itu, yang ada hanya rasa pilu. Diiringi janji yang semakin pudar termakan waktu, ternyata kita mampu dan masih menjaga pertemanan itu hingga kini atau nanti saat kita tak lagi mampu. Bisakah?

Saat ini, hampir satu tahun aku tak tahu sedikitpun kabar dari dirimu. Kau seolah hilang di telan waktu. Tak tau lagi harus kemana mencarimu.

Namun ada satu hal yang mampu menguatkanku hingga detik ini, "Sedikit saja mengulas kisah bersamamu, mampu membuatku jatuh cinta berkali-kali padamu dan setidaknya mampu sedikit mengurangi rasa rindu walau kau tak lagi ada disisiku."

Senin, 14 September 2015

Apabila

Kamu tau apa itu soda?
Kamu tau bagaimana rasanya soda?

Soda sebuah minuman yang sekilas tampak seperti air putih
Bening dan terlihat menyegarkan

Tapi setelah mampu memuaskan dahaga
Bagaimana rasanya?

Kamu tau sendiri jawabannya

Jika soda diibaratkan sebentuk perasaan
Perasaan yang diutarakan untuk seseorang
Seseorang yang pada awalnya terlihat biasa saja
Namun pada akhirnya perasaan itu berubah menjadi luar biasa

Bukankah sebuah perasaan bisa terasa begitu menyenangkan?
Walaupun hambar, tapi ada sensasi yang menggelitik pada akhirnya

Begitulah sebuah kisah cinta yang diawali rasa penasaran,
Bergulir dengan perasaan yang menakjubkan
Namun tak dapat di pungkiri, akan tiba rasa hambar
Dan akhirnya tersisa kenangan yang berwarna warni kelak

Jumat, 11 September 2015

September

Hai pemilik kenangan di bulan
September. Hari ini entah kenapa kembali terasa rasa rindu itu. Percakapan konyol, romantis sampai serius, kembali menari-nari dalam ingatanku.

Saat itu, 5 September 2009 dan aku tak tahu kapan jelasnya semua itu berakhir, sampai hari ini 11 September 2015, semua kenangan itu masih utuh. Tak tersentuh apalagi terusik. Tetap sama, indah dari dulu hingga sekarang.

Hanya dengan membaca sisa percakapan singkat yang tersisa di ponselku, mampu membuatku kembali diguyur kehangatan dan kerinduan yang teramat sangat.

Hai,
Aku tak tahu dimana keberadaanmu sekarang. Bahkan memiliki keberanian untuk menanyakan kabarmu saja tidak.

Hal yang bisa ku lakukan saat kembali merindukanmu hanyalah kembali mengulang yang entah untuk keberapa kali, membaca percakapan kita yang tersisa dan membuka kembali untaian tulisan indah yang pernah kau tuliskan untukku.

Mungkin sudah tak berarti lagi di matamu, tapi kamu salah satu seseorang yang selalu punya tempat teristimewa di hatiku.

Septemberku, aku sangat merindukanmu :)

Menjadi Pendengar

Tanpa ada pertanyaan
Apalagi jawaban

Diam,
Tapi sama-sama tahu

Mungkin dengan pandangan yang berbeda
Mungkin pula tersakiti salah satunya

Atau keduanya?

Meski telah terungkap, baru saja
Semua tak lagi mengejutkan
Iya, memang sepeti dicubit rasanya

Ah tapi tak apa
Bukannya dulu pernah sampai teriris hingga berdarah?

Tak perlu dijelaskan
Tak perlu mencari alasan

Aku tau semua
Tanpa dia duga

Ternyata,
Tak ada yang berubah
Maka untuk apa menerka?

Jawabannya jelas sudah
Bukan satu-satunya
Sama seperti masih bersama

Gadis Itu

Gadis berwajah lugu itu
Semua itu palsu
Diam diam pernah mencuri sesuatu darimu

Gadis bertutur kata nan manis itu
Semua itu palsu
Diam diam perkataannya pernah menusukmu

Sungguh, bagimu semuanya palsu

Gadis itu,
Pernah merebut sesuatu darimu
Gadis itu,
Sekali lagi mengoyak hatimu

Memaafkan tidaklah sulit,
Melupakan yang tak mudah

Mungkin hari ini kamu lupa bagaimana rasa itu,
Tapi suatu hari, jika ia nampak lagi didepanmu
Apa kamu bisa lupa bagaimana rasanya?

Semoga pabila saatnya nanti,
Dia akan merasakan perasaan yang sama
Seperti apa yang kamu rasa

Rasa sakit, yang tak kunjung sembuh

Rehat

Hilang dari peredaran,
Bukan berarti punah
Apalagi musnah

Hanya butuh ketenangan sesaat
Jauh dari hingar bingar
Menentramkan jiwa

Kesendirian tidak selalu identik dengan kesepian
Justru kesendirian sangat melatih kemandirian

Menghindari hiruk pikuk interaksi manusia
Tak selamanya terkesan buruk

Diam bukan berarti marah
Sendu bukan berati murung

Bersama tak selalu menguntungkan
Berpisah tak selalu memilukan

Perbedaan Keduanya

Dia pernah bilang,
"Andai saja kita bertemu lebih awal, pasti semua terasa semakin indah. Mengapa aku tidak mengenalmu sedari dulu?"

Kemudian, ia pergi dan waktu belum mengizinkan kita bersama. Tentu ada luka, namun meninggalkan bekas yang indah.

Lalu, hadirlah seseorang yang lain. Dan apa yang terjadi setelah ia juga pergi? Hanya umpatan dalam hati seorang wanita, karena tergurat jelas luka yang disayatkan olehnya.

Wanita itu hanya bisa bilang,
"Andai saja kita tak pernah bertemu sebelumnya, mungkin semuanya akan baik-baik saja. Tentu tak akan ada yang terluka."

Pilihan

Ada beberapa pilihan di sekitar
Tak tau harus berjalan ke arah yang mana
Tak tau harus memilih yang mana

Tak bisakah, Kau saja yang mendekatkannya untukku tanpa harus ku melangkah terlalu jauh?

Tak bisakah, Kau saja yang menunjukkan jalannya bila aku harus tetap melangkah?

Aku hanya takut salah,
Tentu tak tahu mana baik mana buruk

Aku hanya mulai terasa lelah,
Menentukan untuk berjalan ke arah mana

Akankah lelah kan berganti dengan semangat membara?

Semoga, suatu hari nanti

Batas

Masih tetap dalam persepsi masing-masing
Saling tenggelam menyelami pondasi pertahanan itu

Tapi kita masih tetap menyatu bukan?
Tak tau apa yang bisa menyatukan

Perbedaan persepi yang bertolak belakang
Bertahan pada argumen pribadi

Tapi kita bisa berdamai?

Padahal,
Tak tau siapa yang salah, siapa yang benar

Mengharu biru karena batas perbedaan sudah mampu dilalui
Namun dalam hati selalu bertanya,
Lalu kemana lagi kaki ini harus melangkah?

Membenarkan yang salah,
Menyalahkan yang benar

Itulah hebatnya manusia,
Sudah tau salah, tapi tetap bangga

Sebuah Ingatan

Ketika kamu kembali "teringat" pada suatu hal yang tidak menyenangkan, apapun itu tak ada yang bisa menghalangi munculnya sebuah ingatan. Bertubi-tubi, semua memberontak bagai ditarik paksa keluar dari tempat peraduannya. Dampaknya?
Hatimu lagi yang menjadi korban.

Mungkin sudah ratusan hari lalu kejadiannya. Lama tak tersentuh dan sengaja terabaikan. Tapi jika saatnya tiba, ketika ia tiba-tiba kembali "mengganggu", apa yang bisa kamu lakukan?

"Ingatan" itu tak mudah enyah dari kepalamu dan tak sungkan kembali mencabik hatimu. Tanpa permisi kembali mengacaukan bentenganmu.

Apa yang bisa kamu lakukan?

Menghapus? Tentu tidak bisa. Semuanya sudah terlanjur terjadi dan terpahat sempurna didalam hati. Membekas tanpa ampun dan sering meradang tanpa sebab.

Apa yang bisa kamu lakukan?

Menyesalinya? Percuma. Tak ada yang berubah. Semua telah berhasil merusak segalanya.

Lalu apa yang bisa kamu lakukan?

Sampai saat ini, sedikitpun ingatan itu tak pernah luput dari kepala. Setiap detail kejadian masih tergambar jelas tanpa ada bagian yang hilang.

Sebanyak apapun kau coba untuk mengembalikannya seperti semula. Bersih tanpa noda. Tetap saja, ingatan itu sudah terpatri sempurna didalam jiwa.

Selamat untukmu,
Untuk kalian?

Berhasil mengubah tawa menjadi duka. Berhasil membuat senjata dan menghancurkan seenaknya.

"Jangan pernah salahkan aku, bila semua tak akan pernah bisa kembali seperti sedia kala, sehebat apapun kau mencoba."

Sabtu, 05 September 2015

Kamu Yang Berbeda

Kamu yang ada didepanku
Kamu yang hadir memenuhi notifikasiku

Adalah kamu yang berbeda

Entah sudah berapa lama aku merasakan hal itu

Kamu yang ada didepanku
Selalu terasa asing bagiku
Dingin membeku
Bahkan aku ingin selalu bersikap acuh

Kamu yang memenuhi notifikasiku
Selalu mampu menghangatkanku
Dalam keadaan apapun itu
Jadi aku selalu menunggumu

Bagiku
Kamu itu semu

Sabtu, 29 Agustus 2015

Cemburu

Terdengar nada sinis dalam bicaranya
Terlihat senyum kecut di bibirnya
Tersirat wajah masam di mukanya

Ya,
Dia sudah paham dengan perasaan ini
Sudah ia rasakan mungkin untuk ratusan kali

Perasaan ini, dia namakan cemburu

Terkadang dibenarkan, terkadang menjadi petaka

Tapi apalah daya, hanya diam yang bisa ia lakukan sekarang.

Perasaan itu memang sudah takdirnya terbagi-bagi, takkan pernah utuh menjadi miliknya

Terkadang waktu luangmu tak lagi jadi yang utama untuknya

Jelas rasa kehilangan juga tak bisa terelakan

Melihat senyum bahagia di wajahmu
Kisah manis yang kau sebut
Rona merah dipipimu

Mana tega ia mengumbar duka yang di rasa?

Kau sudah menemukan duniamu
Kau sudah menemukan sandaranmu
Kau sudah menemukan separuh hatimu

Disaat sahabatnya sedang jatuh cinta
Sekali lagi ia harus merasakan terluka sekaligus bahagia

Hanya satu pintanya
Jangan pernah lupakan kisah yang pernah terajut
Bahagiamu yang terdahulu
Ingat, ia akan tetap selalu ada untukmu

Kini harus ia akui,

Kau menjadi semakin cantik, sahabat
Berjanjilah jangan hadirkan lagi wajah murung itu
Selamat untukmu :)

Dia kira, itu kamu..

Lagi,
Dia kira itu kamu
Tapi ternyata bukan kamu
Hanya mirip kamu

Berapa puluh orang,
Yang dia kira itu kamu

Apa sebabnya?

Mungkin karena rasa rindu yang menumpuk
Yang sampai saat ini belum berujung

Telah bertahun-tahun lalu
Tapi bayangmu masih membuntut

Apa wajahmu masih seperti dulu?
Apa wangi parfummu masih sesegar dulu?
Apa senyummu masih semanis dulu?
Apa perasaanmu masih seutuh dulu?

Dia ingin sekali saja berjumpa denganmu
Tapi waktu tak pernah mengizinkan bertemu

Pernah mereka berada dalam gedung yang sama
Namun takdir berkata lain
Mereka menjauh pada kedua sudut yang berbeda

Lagi-lagi
Mereka hanya bertemu dalam dunia maya yang semu



"Jika suatu hari kita bertemu
Akankah perasaan itu masih milikmu milikku?"

Rabu, 26 Agustus 2015

Dalam diam,

Kita sama-sama tau senyum itu ditujukan untuk siapa
Kita sama-sama tau tatap mata itu disembunyikan untuk siapa
Kita sama-sama tau perasaan itu disimpan untuk siapa
Kita sama-sama tau doa itu dipanjatkan untuk siapa
Kita sama-sama tau harap itu diberikan untuk siapa

Berawal dari pertemuan dan perpisahan yang tak pernah terduga

Belum terlambat sepertinya..


Rabu, 29 Juli 2015

Istilahnya, "saling menjaga"

Memang,
Bukan lagi menjaga dalam arti selalu bersama, selalu disisinya, selalu mendapat kabar darinya, selalu tahu dimana keberadaannya, selalu bertanya apa yang sedang dilakukannya. Bukan lagi saling menatap, saling mengikat, apalagi saling mengenggam.

Entah mengarah kemana dan maksudnya apa, kami sama-sama tidak tahu. Entah hanya sepihak yang merasakannya atau keduanya. Entah memiliki tujuan yang sama atau bersilangan.

Sekarang,
Istilahnya saling menjaga, namun bukan dalam arti kata yang sesungguhnya. Saling menjaga emosi, saling menjaga ucapan, saling menjaga perbuatan, saling menjaga perasaan, saling menjaga hati, saling menjaga komunikasi walau terjadi tidak secara langsung. Tanpa perlu menatap, tanpa perlu berharap, tanpa perlu ada hasrat. Tanpa lagi merasa saling memiliki, namun hati tetap saling terkait. Bisa menyatu dalam doa, lalu dipertemukan dalam sebuah rencana.

Tidak, kami yakin ini bukan kebetulan semata. Semuanya telah dibuat skenarionya. Memang seperti ini jalannya, maka kami tak akan mencoba untuk mengubahnya. Bukan tak mau berusaha, hanya saja ingin lebih taat dan menerima semua jalan terbaik dari-Nya.

Bila kami tak dipersatukan dalam cinta sepasang kekasih, toh kami dipersatukan dalam cinta seorang sahabat. Bila kami tak dibiarkan berjalan bersisian untuk meraih mimpi yang sama, toh kami masih bisa saling berbagi pengalaman. Percayalah, semua ini yang terbaik dari-Nya. Apa kau masih meragukannya?

Semuanya terasa lebih indah, ketika kau menyadari bahwa Dia selalu memberikan apa yang kau butuhkan, bukan yang kau inginkan. Sesungguhnya, sesuatu yang kau inginkan belum tentu baik bagi-Nya, namun apapun yang telah ia berikan sudah pasti yang terbaik bagimu walau kau merasa itu tak baik untukmu.

Semua yang telah Dia anugerahkan merupakan rahmat yang perlu kau syukuri setiap saat :)

Menipu Diri

Apa kau merasa?
Kalian sama-sama menipu diri

Memaksa saling menjauh, padahal kalian membutuhkan
Memaksa saling berpaling, padahal kalian curi pandang
Memaksa saling mengabaikan, padahal kalian peduli
Memaksa saling menguatkan, padahal kalian lemah
Memaksa saling tersenyum, padahal kalian menangis
Memaksa saling mengobati, padahal kalian terluka

Entah sampai sejauh mana sandiwara ini akan terus dimainkan?
Siapa yang akan menyerah lebih awal?

Sakit,
Tapi harusnya ini jadi yang terbaik.
Perih,
Tapi semua ini sudah benar.

Lalu, apalagi?

Haruskah kalian benar-benar dipisahkan?
Agar jarak mengajari kalian,
Apa itu arti kesetiaan
Apa itu arti kerinduan
Apa itu arti kebersamaan

Sehingga,
Apabila suatu hari kalian kembali dipertemukan dalam waktu yang tepat dengan perasaan yang sedikit pun tak berubah,
Perasaan yang muncul kembali murni,
Terwujud dalam sebuah jalinan yang suci

Kemudian,
Perlahan sirna luka di masa lalu yang pernah tak sengaja tergoreskan begitu saja. Dengan sendirinya mengering, kemudian kembali menjadi utuh seperti sedia kala

Maka, akan terbukti perasaan kalian yang sesungguhnya

Tetap sama? Atau sudah berbeda?

Coba Saja

Kalau katamu, menghapus bayang masa lalu itu mudah
Ajarkanku

Kalau katamu, menjadi teman baik merupakan kasih sayang yang paling tulus
Tunjukkan padaku

Kalau katamu, semua tak lagi sama
Yakinkan aku

Kalau katamu, dengan begini takkan ada yang tersakiti
Buktikan untukku

Walaupun semua tak lagi sama,
Tapi tidakkah kau merasa bahwa semuanya seolah kembali seperti semula?

Memang,
Hanya status yang membedakan semuanya
Tapi apa itu berpengaruh?
Apa itu penting?
Toh kita tetap sama-sama saling mengisi?

Mungkin mudah bagimu menjalani semua ini tanpa ada ikatan yang jelas
Tapi sebenarnya tidak bagiku

Lagi-lagi aku hanya mencoba menjaga perasaanmu
Terlebih apa yang sudah kau lakukan padaku
Aku mencoba tidak mempedulikannya
Dan tetap saja masih ada sedikit rasa untuk membahagiakanmu
Walau kau tak coba lakukan itu untukku

Saat ini,
Aku hanya seorang yang tak ingin membalas pengkhianatan yang telah kau lakukan

Kamis, 23 Juli 2015

Kau harus tahu

Masih tergambar jelas, betapa dulu dengan mudahnya kau mengabaikan, sedikit pun tak memepedulikannya, menoleh pun enggan, apalagi menyapa. Kau asyik dengan dunia barumu yang sebenarnya semu. Melupakan orang-orang disekelilingmu yang sebelum saat itu tiba, mereka selalu ada di sisimu. Masih ingatkah kau?

Membuat banyak orang bertanya-tanya, menyakiti hati beberapa dari mereka, bahkan kau sanggup melukai perasaanku. Tak peduli sehebat apa aku merindukanmu, kau malah berpaling. Merasa rindu yang tak terbalas, bukankah terasa memilukan? Bahkan di saat itu pula kau malah mendapati sebuah pengkhianatan. Masih sanggupkah kau bertahan?

Mungkin sebagian orang berkata tidak.
Namun bagaimana denganku?
Rasanya tak semudah itu,
Karena aku masih tak menyangka waktu yang telah dihabiskan selama bertahun-tahun kalah dengan waktu yang kau habiskan bersamanya selama 1 bulan. Miris bukan?

Tapi saat ini, mungkin disaat kau telah menyadari keegoanmu, mereka telah pergi. Mereka yang merasa telah kau khianati kini berganti memalingkan wajah darimu. Sama seperti yang kau lakukan pada mereka dulu. Mereka terlanjur kecewa. Sekarang kau datang seenaknya, disaat mereka telah mampu melalui masa sulit itu tanpamu, tanpa perhatian darimu. Lalu dengan begitu angkuhnya kau kembali begitu saja. Tentu mereka tak lagi bisa menerimamu seperti sedia kala. Kau terkesan datang hanya disaat kau membutuhkan mereka. Namun disaat mereka yng membutuhkanmu, kau kemana?

Kali ini bukan lagi soal perasaan, namun masalah hati yang sudah terlanjur terluka.

Tak peduli seberapa sering kata maaf itu terucap, tak peduli seberapa manis perhatian itu diberikan, tak peduli seberapa manis rayuan itu dilontarkan, tentu takkan merubah apapun. Tembok yang sudah ditancapi paku, ketika paku itu dicabut, akan tetap berlubang bukan?

Ya kurang lebih seperti itu keadaan yang sebenarnya..

Kamis, 02 Juli 2015

Baru disadari, bahwa lelah yang menyiksa ini tak berarti dibanding lelah mereka
Baru disadari, bahwa peluh yang menetes ini tak sederas peluh yang mereka teteskan
Baru disadari, rasa kecewa ini tak separah dari apa yang mereka rasakan
Baru disadari, bahwa rasa sakit ini tak sesakit dari apa yang telah mereka lalui
Baru disadari, bahwa prestasi ini tak sebanding dengan apa yang telah mereka ukir

Teruntuk mereka, kedua orang tua yang senantiasa berusaha mati-matian untuk kebahagiaan sang buah hati

Rabu, 01 Juli 2015

Jika Saja..

Jika hatimu hanya tertuju padaku, yakinkanlah
Jika kau berniat berjalan mengarah padaku, luruskanlah
Jika rindu itu untukku, simpanlah
Jika air mata itu jatuh karenaku, hapuslah

Beri aku pertanda,
Beri aku kepastian
Untuk selalu menunggumu
Hingga tiba waktunya,
Hingga semuanya mengizinkan

Mungkin tidak hari ini, besok, lusa, atau beberapa tahun ke depan
Namun jika memang kau ditakdirkan untukku
Dengan sepenuh hati akan ku nanti

Jika saja dibalik semua luka dan kesakitan ini tersimpan sejuta kebahagiaan yang abadi, tak apa ku tanggung sendiri
Ku pendam dalam hati
Hingga suatu hari terjawab nanti

Dari penantian yang ku jalani
Biarlah sama-sama kita memantaskan diri
Semoga Tuhan menghendaki

Jikapun tak bersanding denganmu
Ku yakin siapapun orangnya, itulah yang terbaik
Walaupun saat ini ku tak tahu untuk siapa hatimu itu
Untuk siapa rasa rindu itu
Untuk siapa senyum tersembunyi itu

Setidaknya, biarlah perasaan ini tetap abadi jika suatu saat nanti kita kan kembali
Jikalau tidak abadi
Kita kan bahagia bersama pendamping masing-masing suatu hari nanti

Semoga kau membaca tulisan ini,
Aku pun merindukanmu, sebenarnya
Dan sangat berharap perubahan besar dalam hidupmu :')


Selasa, 30 Juni 2015

Terlalu banyak rahasia yang tersimpan di antara kita
Terasa lelah untuk memendam semuanya
Namun tak kuasa apabila mengetahui kebenarannya

Mencoba saling tersenyum
Walau terselip perih di hati
Mencoba saling menatap
Walau tersimpan air mata yang kan membasahi

Terlalu sakit untuk di simpan
Terlalu sulit untuk di ucap

Mencoba membentengi diri
Namun tak kuasa menahan terpaan yang silih berganti

Ingin menggapai terasa sulit
Melepaskan begitu sakit

Terpaku pada suatu hal yang tak pasti
Hingga kini menyiksa diri
Pergilah menjauh

Jika kau kan kembali berlalu
Hampiri tujuanmu
Tinggalkan aku
Perlahan

Kau,
Jangan terus datang
Jika kan segera menghilang

Selasa, 23 Juni 2015

Maaf..

Tak peduli sekeras apa kau memaksa kembali masuk ke dalam hati. Tak peduli sehebat apa kau mencoba merayu. Tak peduli semanis apa perlakuanmu padaku. Aku akan tetap berdiri disini. Bertahan pada keputusan yang pada awalnya sulit untuk ku lalui. Bertahan pada keputusan yang menurutmu adalah jalan terbaik. Bahkan saat itu kau sendiri yang bilang bahwa semuanya tak lagi sama. Sejak saat itu, aku memberanikan diri untuk menjauh, sangat jauh. Agar mudah bagiku melalui hari lagi tanpamu, sama seperti saat belum pernah mengenalmu. Lalu, sekarang mengapa kau hadir kembali? Menyesal?

Maaf, tak semudah itu kau miliki kembali hatiku yang sudah terlanjur tak tersisa untukmu.

Senin, 22 Juni 2015

Sebaiknya,
Jangan pernah datang jika akan menghilang

Sebaiknya,
Jangan pernah berjumpa jika akan berpisah

Sebaiknya,
Jangan pernah ada sapa jika akan terabaikan

Sebaiknya,
Jangan pernah menyentuh jika akan menjatuhkan

Sebaiknya,
Jangan menggenggam jika akan melepaskan

Sebaiknya,
Jangan beri perhatian jika hanya dijadikan pelarian

Sebaiknya,
Jangan memberi harapan jika semuanya angan

Sebaiknya,
Jangan menggoda jika tak dijadikan satu-satunya

Sebaiknya,
Jangan pernah berjanji jika akan mengingkari

Sebaiknya,
Jangan pernah tersenyum jika tak bisa termiliki

Sebaiknya,
Jangan menoreh luka jika tak mampu mengobati

Silahkan pergi dan jangan pernah kembali
Semuanya sudah begitu menyakitkan
Sehingga enggan untuk kembali
Biarlah tetap menjadi kenangan


Pertama kalinya, merasakan perasaan yang tidak seharusnya menjadi begitu menyiksa. Dari awal, sudah banyak pertanda yang seolah tak mengizinkan. Namun terabaikan begitu saja karena gelora asmara yang menggebu sempurna. Biasanya tak sampai serumit dan sesakit ini. Kali ini mampu memberatkan desah nafas dan memenuhi kepala hingga terasa membingungkan. Terlalu takut untuk memulai atau terlalu takut meninggalkan? Sampai saat ini belum terjawab. Kenangan indah muncul sebagai penggairah untuk tetap bertahan namun seiring hadirnya kenangan itu, muncul ingatan kurang menyenangkan yang membuat ingin segera berlari menjauh. Berkali-kali terucap dalam hati, bahwa semua tak nyata, tak boleh terpedaya, namun tetap tergoda. Siapa yang bodoh sebenarnya? Aku yang bertahan atau kau yang meninggalkan? Setiap kali dibawa terbang melayang, pada akhirnya harus terjerembap pada jurang kenyataan yang menyakitkan. Berulang kali. Namun seolah tak berpengaruh pada perasaan yang masih tersisa, tak masuk di akal. Semua masih terasa samar, salah paham belaka atau memang ada sebuah rencana. Tak tahu harus bersikap bagaimana, beranjak atau diam di tempat?


Skenario Terindah

Bukankah pertanyaanmu terjawab lebih cepat dari dugaanmu? Harus kau sadari, bahwa rencana-Nya jauh lebih baik dari apa yang kau renca...