Sabtu, 30 Januari 2016

Siapkah Kau Tuk Jatuh Cinta Lagi?

"... Meski bibir ini tak berkata, bukan berarti ku tak merasa ada yang berbeda diantara kita. Dan tak mungkin ku melewatkanmu hanya karena diriku tak mampu untuk bicara bahwa aku inginkan kau ada dihidupku. Siapkah kau tuk jatuh cinta lagi?"

Dalam beberapa detik saja
Disaat kesunyian mendadak menyelimuti kita
Sayup sayup hanya terdengar irama sebait lagu tentang cinta

Tak sadar,
Kita mulai terlarut pada pembicaraan yang ternyata mampu membuat kita terdiam
Tenggelam dalam sebuah angan yang beriringan

Dari situ aku jadi terpikir sebentar
Tentang sebuah jalan menuju masa depan
Berangsur menemukan titik terang
Diikuti tanya yang beragam

Mungkin Tuhan sengaja mengirimmu tuk sekedar menghapus sedikit luka
Mungkin Tuhan sengaja hadirkanmu untuk buatku berdamai dengan masa kelam
Mungkin Tuhan sengaja memberikan perasaan ini tuk bahan pembelajaran
Mungkin Tuhan sengaja membawamu untukku agar terucap sebuah permohonan

Kita sama-sama tak perlu jawaban
Kita hanya sekedar menunggu pembuktian
Kita bersama atau mencari pelarian
Tentunya bahagia di penghujung penantian

Kamis, 28 Januari 2016

Jatuh Cinta

Aku jatuh cinta sejak pertemuan pertama itu

Aku jatuh cinta sejak memandang dibalik punggungmu

Aku jatuh cinta sejak melihat kau kayuh sepeda itu

Aku jatuh cinta sejak kau mainkan gitarmu

Aku jatuh cinta sejak kau geluti diksi puitismu

Aku jatuh cinta sejak menikmati sisa kenangan perjalananmu

Aku jatuh cinta sejak perhatian kecil yang sembunyi-sembunyi itu

Aku jatuh cinta sejak kau menunjukkan rasa gengsimu

Aku jatuh cinta sejak mengamati keangkuhanmu

Aku jatuh cinta sejak tatapan aneh orang-orang menghujammu

Aku jatuh cinta sejak memahami cara berpikirmu

Aku jatuh cinta
Semakin jatuh cinta dengan sang pemilik hati

Semenjak malam itu
Setelah kau mencoba menuntunku dalam kegelapan yang setahun terakhir melingkupiku

Kau mengingatkanku pada-Nya
Karena hanya kepada-Nya aku berharap

Rabu, 27 Januari 2016

Hanya Isyarat

".. Aku sampai di bagian bahwa aku telah jatuh cinta. Namun orang itu hanya dapat kugapai sebatas punggungnya saja. Seseorang yang hadir sekelebat bagai bintang jatuh yang lenyap keluar dari bingkai mata sebelum tangan ini sanggup mengejar. Seseorang yang hanya bisa kukirimi isyarat sehalus udara, langit, awan, atau hujan."


Ku coba semua, segala cara
Kau membelakangiku
Ku nikmati bayangmu
Itulah saja cara yang bisa
Untuk kumenghayatimu
Untuk mencintaimu


Sesaat dunia jadi tiada
Hanya diriku yang mengamatimu
Dan dirimu yang jauh di sana
Ku tak kan bisa lindungi hati
Jangan pernah kau tatapkan wajahmu
Bantulah aku semampumu

Rasakanlah..
Isyarat yang sanggup kau rasa tanpa perlu kau sentuh
Rasakanlah.. Harapan, impian, yang hidup hanya untuk sekejap
Rasakanlah.. Langit, hujan, detak, hangat nafasku


Rasakanlah..
Isyarat yang mampu kau tangkap tanpa perlu kuucap
Rasakanlah.. Air, udara, bulan, bintang, angin, malam, ruang, waktu, puisi


Itulah saja cara yang bisa
Untuk menghayatimu
Untuk mencintaimu

-Dee-

Cinta Dalam Ikhlas

Tak akan lupakanmu
Tapi kuharap bisa mengikhlaskan Cinta
Karena kuyakin rencanaNya lebih Indah
Jika berjodoh kita kan disatukanNya

Tak mau hapuskanmu
Tapi kurela melepasmu kepadaNya
Karena kuyakin pilihanNya yang terbaik
Jika tak bersatu, Allah kan pilihkan jodoh yang lebih baik

Aku mencintaimu
Tapi lebih mengharapkanNya
Aku merindukanmu dalam doa



Salah satu kutipan lirik lagu Cinta Dalam Ikhlas dalam Ost. Halaqah Cinta yang cukup menyentuh hati.

Senin, 25 Januari 2016

3 Serangkai

Tiga serangkai. Begitulah kami menyebutnya dulu. Alasannya sederhana, kemanapun mereka selalu bertiga. Mereka kami juluki si X, si Y, dan si Z. 

Tiga orang lelaki ini selalu bersaing dalam hal apapun, tapi sportif. Itulah yang semakin mengakrabkan mereka. 

Dari dulu sampai sekarang, sedikitpun tak ada yang berubah, mereka masih saja berebut perhatian, saling menunjukkan kepedulian, dan berlomba untuk mencoba lebih dekat. Tentunya dengan cara mereka masing-masing yang unik dan berkarakter. 

Aku suka tertawa sendiri jika mengingatnya. Terlalu kekanak-kanakan sebenarnya, tapi mereka mampu membuat pipi menjadi merona. 

Begini salah satu contohnya dari pertemuan kemarin. 

Ketika kami membuat janji sebuah pertemuan, tapi aku tak tahu dimana lokasinya, mereka awalnya bungkam. Tak sabar aku menunggu respon dari mereka.

Akhirnya, sebut saja D, ia buka suara dan berjanji menungguku di tempat A untuk menjadi seorang penunjuk jalan. Setelah aku menyetujuinya, barulah 3 serangkai meresponnya tak mau kalah.

X: Ditunggu di tempat B, nanti kedalamnya diantar atau dijemput juga boleh.

Menurutku, tempat itu terlalu jauh. Tapi cukup membuatku senang akan responnya.

Y: Ditunggu di tempat C, jam 10. Nanti kita sama-sama ke tkp.

Menurutku, pilihan Y adalah lokasi terdekat dari rumah. Jadi kurang lebih aku menyetujuinya, walau sedikit terpaksa.

Z: Jemput aku dirumah, lalu aku kan tunjukkan jalan. Tempatnya tak jauh dari rumahku.

Satupun dari kami tak ada yang meresponnya.



Hal lainnya, setelah ada insiden rajukan untuk segera pulang, inilah respon yang mereka berikan padaku beberapa saat kemudian.

X: Ayo pulang sekarang, nanti semakin malam.

Y: Pulangnya ditemenin aja ya 

Lalu mereka berdua saling berpandangan, seolah terjadi pembicaraan dalam tatapan mereka yang tak pernah bisa kuartikan. Seperti biasa, X selalu memberikan celah untuk Y agar selangkah lebih maju darinya. Walaupun harapku tak seperti itu. Tak lama kemudian mereka memandang Z secara bergantian.

Z: Sorry, cemburu gak ada dalam kamus gue.




Itu hanya sebagian kecil tingkah laku mereka yang membuat mereka meninggalkan kesan. 

Kata-kata spontan yang meluncur dari mulut mereka serta gelagat tebar pesonanya, membuat mereka menjadi salah satu bagian penting kenangan terindah di bangku sekolah hingga sekarang, ketika kami sama-sama sudah mulai tumbuh menjadi pribadi yang lebih dewasa.

Kita dan Hujan

Hujan selalu menyertai kita
Disaat kita menyepakati sebuah pertemuan
Tak tahu pertanda berkah atau musibah

Seburuk apapun cuacanya
Seberapa banyak halangannya
Toh kita tetap bertemu juga
Hanya sekedar melepas rindu semata

Begitu banyak rintangan dan godaan yang membuat kita ingin menyerah saja
Lagi-lagi niat itu diurungkan
Tak rela menyiakan waktu yang terasa berharga

Minggu, 24 Januari 2016

Obrolan Singkat Semalam

Kau bilang,

"Pendekatan memang menjadi masa yang paling indah.
Mengapa?
Karena pada masa itu hal-hal baik akan muncul pada dua orang yang sedang dimabuk cinta

Ketika kau berhasil mendapatkannya, katakan saja 'pacaran', berarti kau satu langkah menjadi lebih dekat darinya. Setelah itu muncul sebuah kenikmatan yang membuat 'sepasang kekasih' menjadi lebih terbuka atas dasar keinginannya sendiri. Hal ini bisa saja disebabkan karena rasa nyaman yang mulai tercipta.

Bertahun-tahun berikutnya sebuah hubungan terjalin, pasti ada sebuah pertengkaran baik sederhana maupun dianggap luar biasa. Hal ini dikarenakan terlalu banyak harapan yang tak sejalan dengan kenyataan.

Percuma saja menjanjikan banyak hal jika tanpa ada ikatan jelas. Jika sudah seperti ini, siapa yang mau bertanggung jawab? Karena dari awalnya sudah salah, maka sampai kapanpun akan salah.

Jika kamu tak bisa menjanjikan apa-apa, jangan sekali-kali berlagak 'menjalin sebuah hubungan dengan seseorang' seolah ada ikatan jelas diantara kalian. Padahal kalian cuma sekedar 'berpacaran'.

Jika kamu memang serius padanya, datangi orang tuanya, bukan memberinya ribuan janji yang kau pikir bisa kau tepati semua. Karena sesungguhnya cinta itu akan datang dengan sendirinya setelah menikah, tak perlu menjalin hubungan (dalam bentuk apapun) sebelumnya.

Jika kau bersedia menerima kekurangannya, berarti kau telah menerima dia apa adanya. Maka tidak akan timbul permasalahan sepele yang membuang waktu percuma."


Kau bilang, taaruf adalah hal yang seharusnya dilakukan. Tapi jangan kira tanpa persiapan.


Kau bilang, orang tua zaman sekarang terlalu saklek dengan sebuah prinsip 'saya sudah bersusah payah membahagiakan anak perempuan saya, lalu Anda mau membuatnya sengsara?'



Maka dari itu dapat disimpulkan, seolah-olah orang tua zaman sekarang membebani seorang 'calon' untuk anak perempuannya dengan istilah 'mapan'.



Kau bilang, setidaknya seorang laki-laki harus sedikit berupaya lebih giat untuk menyandang status mapan terlebih dahulu sebelum memutuskan memilih calon pendamping hidupnya.


Jika secara lahir dan batin sudah siap, baik proses taaruf maupun tidak, siap dilakukan.

Memang, beberapa bulan terakhir sempat terpikir kembali untuk menjalin sebuah hubungan, bahkan lebih dari itu, terpikir untuk menikah, punya anak, punya rumah. Terkadang iri melihat sepasang kekasih, ingin rasanya ada juga yang menemani. Tapi segera diurungkan niat itu, dilampiaskan dengan menulis, berpetualang, dan menyibukkan diri dengan hal positif lainnya. Karena sekarang memang belum saatnya.

"Kurang lebih begitulah persiapan yang sedang kulakukan sekarang, pastinya tidak untuk sekarang, tapi untuk nanti di masa depan. Hari ini adalah kehidupan sekarang yang kita persiapkan untuk masa depan" Katamu.



Lagi-lagi aku hanya bisa mengelus dada, terpana pada sebuah percakapan barusan yang membuatku semakin mengaguminya sambil terus bergumam dalam hati 'bolehkah dia saja orangnya?'

(obrolan singkat didalam sebuah mobil antara laki-laki yang mencoba membuka pikiran seorang perempuan, dibawah temaram diiringi hingar bingar kendaraan sebelum mengucapkan salam 'sampai jumpa di waktu berikutnya')

Sisi lain, yang kurindukan

Terbangun dengan jutaan kenangan yang tersisa
Teringat beberapa jam lalu waktu berharga sudah berlalu begitu saja
Tercipta sebuah kenangan yang kan membekas indah

Terbangun dengan ribuan harap pada-Nya
Kembali merayu-Nya demi tuk kuatkan jiwa
Jalan terbaik yang bisa diambil adalah mengharap ridho-Nya

Terbangun dengan milyaran rasa yang membuncah
Terngiang satu persatu tiap kata yang keluar dari bibirnya
Menyejukkan hati bila diingat dalam setiap tarikan nafas

Kesimpulannya satu,

Aku hanya terlalu bahagia
Hingga tidurku menjadi tak berkualitas

Bagaimana dengan kau?

Pasti tertidur lelap
Hari ini begitu melelahkan, tapi berkesan bukan?

Kamis, 21 Januari 2016

Membeku, aku selalu rindu

Kamu masih seperti dulu
Membuat siapapun terperangah akan kata-kata kakumu
Sosok yang dingin seolah mampu membuat hati siapapun membeku

Tapi nyatanya, kau malah menghangatkanku

Sikap acuhmu,
Seolah aku dibiarkan sambil lalu
Tapi membuatku selalu rindu
Karena dibalik semua itu kau simpan perhatianmu yang terkadang buatku tersipu

Aku tahu, memang begitu caramu
Seperti itu ciri khasmu
Membuatku selalu tak sabar untuk bertemu

Mungkin orang lain terasa jenuh akan gaya bicaramu
Tapi aku selalu ingin membaca apalagi mendengar ocehan singkatmu
Seolah mampu membiusku setiap waktu

Hanya sebuah akun tumblr dan foto-foto jejak petualanganmu yang dapat mengurangi rasa rinduku
Persepsi dan spekulasi yang kau tuangkan dalam sebuah tulisan
Selalu ku tunggu, selalu tak sabar tenggelam dalam duniamu

Kamu..
Sosok kaku, acuh, yang bertubuh tinggi jangkung
Kesederhanaanmu selalu membuatku terpaku
Itulah yang membuatmu berkharisma sepanjang waktu

Bolehkah kusebut namamu?
Tentunya dalam doaku
Karena nyatanya sedari dulu kau masih dalam pikiranku

Semenjak 10 tahun lalu
Ketika kita masih lugu 
Saat kita masih duduk dibangku sekolah dulu

Kamu sosok yang sepertinya angkuh
Namun selalu mengesankanku
Membuatku berdecak kagum
Sejak pertemuan pertama itu

Senin, 04 Januari 2016

Selain Ibu, Kau Juga Malaikatku Ayah

Ketika aku mengadu dimarahi oleh ibu, kau yang menghiburku
Ketika aku merengek meminta sesuatu, kau yang mengabulkan inginku
Ketika aku marah karena sesuatu, kau yang menenangkanku

Ketika aku tersakiti, kau yang paling kecewa
Ketika aku terjatuh, kau yang paling terluka
Ketika aku tertawa, kau yang paling bahagia

Dalam diam aku mengamatimu, Ayah
Gadis kecilmu yang mulai beranjak dewasa
Kini menyadari bahwa dirimu juga semakin menua

Rambutmu kian memutih, wajah tampanmu memudar seiring waktu bergulir
Kau telah berubah menjadi sosok yang tegas dan berwibawa
Semakin ku kagumi, Ayah

Terkadang tesirat kekhawatiran dalam petuahmu
Tergambar kekecewaan di wajahmu
Terlihat kesedihan di binar matamu

Tapi selalu kau coba tutupi dengan ketegaranmu di depan kami
Kau hanya menginginkan kebahagiaan kami
Tak peduli seberapa sulitnya rintangan yang harus kau lalui

Aku tahu,
Matamu tak lagi setajam dahulu, langkahmu tak lagi secepat dahulu
Tubuhmu tak lagi setegap dahulu, ototmu tak lagi sekuat dahulu

Tapi kau selalu bersikap baik-baik saja di depan kami
Tak ingin membuat kami bersedih
Kau bagaikan batu karang yang selalu kokoh berdiri

Ayah,
Aku hanya bisa berharap selalu menjadi kebanggaanmu
Walaupun tiada berarti dengan pengorbananmu
Setidaknya izinkan aku membuatmu bahagia dengan caraku

Ayah,
Perlahan namun pasti kan ku wujudkan mimpimu yang tak terwujud
Beriringan dengan mimpiku yang ku bangun
Sehingga keinginanmu kan ku capai disusul dengan kesuksesanku

Jangan pernah bosan mendoakan gadis kecilmu yang beranjak dewasa, Ayah

Skenario Terindah

Bukankah pertanyaanmu terjawab lebih cepat dari dugaanmu? Harus kau sadari, bahwa rencana-Nya jauh lebih baik dari apa yang kau renca...