Kau bilang,
"Pendekatan memang menjadi masa yang paling indah.
Mengapa?
Karena pada masa itu hal-hal baik akan muncul pada dua orang yang sedang dimabuk cinta
Ketika kau berhasil mendapatkannya, katakan saja 'pacaran', berarti kau satu langkah menjadi lebih dekat darinya. Setelah itu muncul sebuah kenikmatan yang membuat 'sepasang kekasih' menjadi lebih terbuka atas dasar keinginannya sendiri. Hal ini bisa saja disebabkan karena rasa nyaman yang mulai tercipta.
Bertahun-tahun berikutnya sebuah hubungan terjalin, pasti ada sebuah pertengkaran baik sederhana maupun dianggap luar biasa. Hal ini dikarenakan terlalu banyak harapan yang tak sejalan dengan kenyataan.
Percuma saja menjanjikan banyak hal jika tanpa ada ikatan jelas. Jika sudah seperti ini, siapa yang mau bertanggung jawab? Karena dari awalnya sudah salah, maka sampai kapanpun akan salah.
Jika kamu tak bisa menjanjikan apa-apa, jangan sekali-kali berlagak 'menjalin sebuah hubungan dengan seseorang' seolah ada ikatan jelas diantara kalian. Padahal kalian cuma sekedar 'berpacaran'.
Jika kamu memang serius padanya, datangi orang tuanya, bukan memberinya ribuan janji yang kau pikir bisa kau tepati semua. Karena sesungguhnya cinta itu akan datang dengan sendirinya setelah menikah, tak perlu menjalin hubungan (dalam bentuk apapun) sebelumnya.
Jika kau bersedia menerima kekurangannya, berarti kau telah menerima dia apa adanya. Maka tidak akan timbul permasalahan sepele yang membuang waktu percuma."
Kau bilang, taaruf adalah hal yang seharusnya dilakukan. Tapi jangan kira tanpa persiapan.
Kau bilang, orang tua zaman sekarang terlalu saklek dengan sebuah prinsip 'saya sudah bersusah payah membahagiakan anak perempuan saya, lalu Anda mau membuatnya sengsara?'
Maka dari itu dapat disimpulkan, seolah-olah orang tua zaman sekarang membebani seorang 'calon' untuk anak perempuannya dengan istilah 'mapan'.
Kau bilang, setidaknya seorang laki-laki harus sedikit berupaya lebih giat untuk menyandang status mapan terlebih dahulu sebelum memutuskan memilih calon pendamping hidupnya.
Jika secara lahir dan batin sudah siap, baik proses taaruf maupun tidak, siap dilakukan.
Memang, beberapa bulan terakhir sempat terpikir kembali untuk menjalin sebuah hubungan, bahkan lebih dari itu, terpikir untuk menikah, punya anak, punya rumah. Terkadang iri melihat sepasang kekasih, ingin rasanya ada juga yang menemani. Tapi segera diurungkan niat itu, dilampiaskan dengan menulis, berpetualang, dan menyibukkan diri dengan hal positif lainnya. Karena sekarang memang belum saatnya.
"Kurang lebih begitulah persiapan yang sedang kulakukan sekarang, pastinya tidak untuk sekarang, tapi untuk nanti di masa depan. Hari ini adalah kehidupan sekarang yang kita persiapkan untuk masa depan" Katamu.
Lagi-lagi aku hanya bisa mengelus dada, terpana pada sebuah percakapan barusan yang membuatku semakin mengaguminya sambil terus bergumam dalam hati 'bolehkah dia saja orangnya?'
(obrolan singkat didalam sebuah mobil antara laki-laki yang mencoba membuka pikiran seorang perempuan, dibawah temaram diiringi hingar bingar kendaraan sebelum mengucapkan salam 'sampai jumpa di waktu berikutnya')