Rabu, 28 Maret 2018

Skenario Terindah






Bukankah pertanyaanmu terjawab lebih cepat dari dugaanmu? Harus kau sadari, bahwa rencana-Nya jauh lebih baik dari apa yang kau rencanakan. Di saat kau hampir tiba di penghujung penantian yang kau putuskan, di saat kau ragu untuk mengambil sebuah keputusan besar, tapi Dia dengan senang hati menjawab pertanyaanmu tanpa suara.


Meski hatimu tercabik, meski penantianmu berakhir, bukankah ini jawaban terbaik? Aku tahu, belasan tahunmu tak berakhir manis, tak seperti yang selama ini kau impikan, tapi sekali lagi harus kau sadari, bahwa ini memang jalan terbaik dari-Nya untukmu dan dirinya.

Biarkan ia bahagia dengan pilihannya dan kau akan bahagia dengan pilihan-Nya. Biarlah wanita itu yang kelak akan mendampingi sisa hidupnnya dan biarkan hatimu menerima siapapun yang kelak akan mengetuk pintu hati dan pintu rumahmu. Pelabuhan terakhirmu.

Bukankah ketetapan dan skenario-Nya paling terindah? Bersabarlah hati.


Rabu, 06 Desember 2017

Pertentangan




Memang benar apa kata mereka, mencintai itu rumit. Aku mengalaminya sendiri. Katanya, aku terlalu lama menetap pada sesuatu yang dianggap sulit. Apa bisa dibilang mustahil? Tapi, bagi Tuhan tidak pernah ada yang mustahil bukan? Katanya, aku hanya butuh seseorang yang mencintai. Maka dengan begitu, aku bisa bahagia. Katanya, aku butuh seseorang yang bisa membuatku tertawa setiap hari. Bukan yang selalu membuatku sesak menangis pada saat mulai terbaring. 

Mereka bilang, dicintai itu anugerah. Mengapa aku terlalu menutup diri dari mereka? Katanya, aku harus membuka mata dan hati segera. Atau bersiap diri pada kenyataan pahit, kemudian terluka. Penantianku belum tentu berujung bahagia. Namun hatiku seakan enggan beranjak kemana-mana. Terlalu nyaman atau terlalu takut mengambil keputusan? Diam tidak selamanya menguntungkan. Itulah yang mereka katakan. Jika aku tak sanggup bersuara juga, maka aku harus mundur perlahan tanpa harap. Hatiku sesungguhnya memang tak realistis. Tapi keyakinanku berkata, “Tunggulah sebentar lagi.”

Mereka bertanya, “Apa yang kau lihat darinya?”
Aku diam.
“Lalu apa yang membuatmu menunggu sebegitu lama?”
Aku diam.
“Jadi apa kamu punya alasan untuk memilihnya?”
Aku diam.

Tentangmu, sugguh tak terdeskripsikan. Terlalu banyak. Terlalu membuatku terkesan. Hingga ketika mereka bertanya, aku seolah tak tahu apa-apa. Masih menerka-nerka. Meskipun kenyataannya aku memang tak tahu apa-apa. Tapi, hatiku punya jawabannya. Dan lidahku terlalu kelu untuk menggambarkannya. Jadi, bagaimana mereka bisa mengerti dan membenarkan keputusan ini?

Tak apa, sepertinya perasaan ini memang tak butuh pembenaran. Hanya  butuh sedikit kesabaran. Meski tak terdefinisikan, penantianku semoga tak lagi panjang. Denganmu atau dengan seseorang lain yang menggantikan.

Rabu, 27 September 2017

Bunga Tidur




Jangankan dalam nyata
Alam mimpi pun menghadirkan wajahmu bias
Terbentur kehadirannya yang tanpa diminta ikut serta
Berganti-ganti tak jelas
Membingungkan
Sulit menghadirkan peran tunggal
Meski hanya untuk mempercantik bunga tidur semalam
Tak tahu apakah cara kerja otakku yang berantakan
Atau memang keutuhan hadirmu meski hanya sekadar bayang tak diizinkan
Meskipun tetap ada rasa membuncah
Tetap saja aku tak puas
Kau dan dia nyaris datang bersamaan kemarin malam
Begitupun terbawa hingga ku terlelap dengan senyum menawan

Rabu, 09 Agustus 2017

Lawan Kata



Mengapa aku harus menangis
Padahal kita belum tertawa

Mengapa aku harus menyelesaikannya
Padahal kita belum memulainya

Mengapa aku harus berhenti
Padahal kita belum berjalan

Mengapa aku harus menyerah
Padahal kita belum berjuang

Mengapa aku harus melepaskan
Padahal kita belum saling menggenggam

Mengapa aku harus terbangun
Padahal kita belum punya mimpi

Rabu, 02 Agustus 2017

Bungkam


Jika ku tanya,
“Kamu apa kabar?”
Bukankah dirimu selalu bungkam?

Jika ku coba acuh,
Bukankah kau mencoba bersikukuh?
Kemudian suasana menjadi canggung

Jika ku bersikap angkuh
Tapi kau justru buatku ragu
Sampai kapan kau coba tarik ulur?

Kamu kembali diam
Dalam waktu yang tak bisa ku tentukan

Kamu kemana?
Tak lagi ku beranikan diri bertanya, “Apa kabar?”

Namun kau harus tau,
Aku menunggu sapaanmu
Saat dirimu mungkin mulai merasa rindu
Atau butuh?

Tak apa,
Asalkan kau dan aku kembali berselimut rona merah jambu
Malu untuk memulai kata, “Ayo bertemu, aku rindu!”

Tapi nyatanya,
Kita sama-sama menunggu
Tanpa berani untuk memulai terlebih dahulu

Kamis, 27 Juli 2017

Jatuh Pada Tulisanmu

Bagaimana bisa semudah ini aku jatuh cinta pada seseorang melalui tulisannya. Hanya tulisannya. 

Sedangkan Dia menunjukkan kekuasaan dan kasih sayang-Nya yang tak berbatas dan masih sering membuatku lalai?? Ya, Tuhan lagi-lagi aku khilaf dalam hal perasaan.

Aku tahu penulis ini sekitar 3 tahun yang lalu. Seorang teman pernah bercerita, “Kamu tahu dia juga?” celetuknya saat kami sedang membahas tentang penulis yang kami kagumi. Saat itu kami sedang bertiga di dalam kamar yang cukup pengap dihuni oleh 3 orang.

“Tahu lah, tulisannya bagus loh. Aku selalu ikutin perkembangan blognya.” Jawab si A.

Aku yang sama sekali tidak mengenalnya, jadi penasaran. “Emang dia siapa sih? Terkenal ya? Kok aku baru dengar namanya.” Tanyaku polos.

“Ih dia itu gebetan aku tau, temen sekolah dulu. Sekarang jadi keren gitu. Hahaha makin ganteng pula.” Si B mulai nyerocos dengan mata berbinar-binar.

“Coba mana blognya, aku mau baca tulisannya. Sebagus apa sih? Sampai kalian terpesona gitu.” Ternyata mereka sukses membuatku penasaran setengah mati.

“Kamu harus baca pokoknya. Aku aja yang gak suka baca, setelah baca tulisannya, makin jatuh cinta.” Kata si B ber-api-api. “Eh tapi jangan deh, kamu gausah baca. Nanti kamu ikutan naksir, aku makin banyak saingannya deh.” Lanjut si B dengan wajah di cemberut-cemberutkan.

“Udah buruan buka blognya, kamu pasti suka deh.” Kali ini si A memberiku dukungan dan segera menuliskan nama blog penulis ‘yang katanya keren itu’ di ponselku.

Tak sabar, aku segera mengklik link tersebut.

Satu demi satu tulisan yang sudah ia publish aku baca sampai tuntas. Rasanya penasaran ini seperti tak berkesudahan. Membaca tulisannya seolah menjadi candu. Hingga aku tiba di akhir tulisannya dengan rasa kecewa.

Waktu itu, blognya terbilang masih baru. Karena ku dengar dia belum lama ini baru tertarik dalam dunia sastra. Jadi maklum, kalau aku bisa menuntaskan tulisan di blognya hanya dengan waktu 15 menit.

Sampai akhirnya tiba pada saat ini, saat aku tiba-tiba ingin menuliskannya di sela-sela waktu sengganggku.

Terlintas namanya begitu saja. Langsung ku buka blognya yang sudah sangat lama tak ku sentuh.
Dan ternyata.. dia sudah menerbitkan satu buku. 

Tulisan yang ia posting juga sudah cukup banyak. Lagi-lagi semua isi dan pesan tersiratnya menghanyutkanku. 

Ah, mengapa aku rasanya begitu mudah jatuh cinta dengan pesona sastranya. Dan tentunya, aku semakin dibuat penasaran oleh sosoknya, karena setiap foto yang menampakkan wajahnya dibuat blur atau di tutup dengan sesuatu.

Sayangnya, ketika aku membaca karyanya, mengingatkanku pada seseorang yang tak jauh berbeda dengan genre tulisannya. Seseorang itu, kamu.

Jumat, 14 Juli 2017

Penantian Hampa


Lelah, terlampau sudah. Terhempas ia dengan kerasnya. Terbentur kenyataan yang jauh dari kenyataannya.  Iya, selama ini ia sibuk berekspektasi. Hingga lupa bahwa ia hidup di dunia nyata, bukan di negeri dongeng yang penuh dengan mimpi indah. Ia mimpi buruk malam ini. Tak terasa air matanya pun mengalir membasahi bantalnya. 

Sakit. Itulah yang ia rasakan. Kejadian di mimpinya begitu terasa nyata. Seseorang yang ia tunggu selama belasan tahun, memilih bersanding dengan wanita lain yang beruntung itu. Ia cukup terkejut ketika undangan berbau harum itu sampai ke tangannya. Tubuhnya bergetar, air matanya tumpah, hatinya mencelos. Ia tahu, kini ia sudah kalah. Melihat senyum pujaan hatinya dan wanita itu yang begitu sumringah, membuat jantungnya seperti ditusuk-tusuk. Ia merasa seperti di tampar bolak-balik, memaksanya untuk segera sadar. 

Dengan peluh yang deras, ia terbangun dari tidurnya malam ini. Matanya berair. Ia tahu, baru saja ia bermimpi. Tapi mengapa rasanya seperti nyata? Ia merasakan sakitnya hingga terbangun dari lelapnya. Apa ini sebuah pertanda? Sebuah isyarat dari TuhanNya. Jawaban dari doa dan segala keraguannya. Bertahankah atau lepaskan saja? 11 tahun bukan waktu yang sebentar bukan untuk mengambil sebuah keputusan dan meyakinkan perasaan.

Ingatannya kembali melambung pada sekelumit kisah yang sedikit demi sedikit ia dan lelaki itu bangun. Meski lambat jalan ceritanya, namun berkesan begitu mendalam. Lalu apa artinya selama ini? Kebersamaan dan pertemuan-pertemuan singkat itu akankah jadi tak berarti? Tawa dan kecanggungan yang seringkali mendominasi, apakah hanya sekadar pembelajaran dan sisa kenangan yang akan terlipat rapi. Tanpa pernah kemana-mana dan takkan menjadi nyata segala angannya.

Sudah. Ia merasa harus di cukupkan penantian ini. Toh ia yakin, jika memang lelaki itu untuknya, cepat atau lambat segera kan menghampirinya dengan komitmen yang diakui oleh negara dan agama. Lalu apalagi yang perlu ia risaukan? Sekali lagi, ia harus mengubur dalam-dalam perasaannya itu dan terus menunggu saat yang tepat tiba. Akankah lelaki itu atau lelaki lainnya?

Skenario Terindah

Bukankah pertanyaanmu terjawab lebih cepat dari dugaanmu? Harus kau sadari, bahwa rencana-Nya jauh lebih baik dari apa yang kau renca...