Jumat, 26 Februari 2016

Spasi

Seindah apa pun huruf terukir, dapatkah ia bermakna apabila tak ada jeda? 

Dapatkah ia dimengerti jika tak ada spasi?

Bukankah kita baru bisa bergerak jika ada jarak? Dan saling menyayang bila 
ada ruang? 

Kasih sayang akan membawa dua orang semakin berdekatan, tapi ia tak ingin mencekik, jadi ulurlah tali itu.

Napas akan melega dengan sepasang paru-paru yang tak dibagi.

Darah mengalir deras dengan jantung yang tidak dipakai dua kali.

Jiwa tidaklah dibelah, tapi bersua dengan jiwa lain yang searah.

Jadi jangan lumpuhkan aku dengan mengatasnamakan kasih sayang. 

Mari berkelana dengan rapat tapi tak dibebat.

Janganlah saling membendung apabila tak ingin tersandung.

Pegang tanganku, tapi jangan terlalu erat, karena aku ingin seiring dan bukan 
digiring.

- Dee, Filosofi Kopi -

Kamis, 25 Februari 2016

Surat yang tak Pernah Sampai

Suratmu itu tidak akan pernah terkirim, karena sebenarnya kamu hanya ingin berbicara pada dirimu sendiri. Kamu ingin berdiskusi dengan angin, dengan wangi sebelas tangkai sedap malam yang kamu beli dan tukang bunga berwajah memelas, dengan nyamuk-nyamuk yang cari makan, dengan malam, dengan detik jam... tentang dia. 

Dia, yang tidak pernah kamu mengerti. Dia, racun yang membunuhmu perlahan. Dia, yang kamu reka dan kamu cipta.

Sebelah darimu menginginkan agar dia datang membencimu hingga muak, dia mendekati gila, menertawakan segala kebodohannya, kekhilafannya untuk sampai jatuh hati padamu, menyesalkan magis yang hadir naluriah setiap kali kalian berjumpa. 

Akan kamu kirimkan lagi tiket bioskop, bon resroran, semua tulisannya-dari mulai nota sebaris sampai doa berbait-bait. 

Dan beceklah pipinya karena geli, karena asap dan abu dari benda-benda yang ia hanguskan, bukti-bukti bahwa kalian pernah saling tergila-gila, berterbangan masuk ke matanya. 

Semoga ia pergi dan tak pernah menoleh lagi. Hidupmu, hidupnya, pasti akan lebih mudah.

Tapi, sebelah dari kamu menginginkan agar dia datang, menjemputmu, mengamini kalian, dan untuk kesekian kali, jatuh hati lagi, segila-gilanya, sampai batas gila dan waras pupus dalam kesadaran murni akan Cinta.

Kemudian mendamparkan dirilah kalian di sebuah alam tak dikenal untuk membaca ulang semua kalimat, mengenang setiap inci perjalanan, perjuangan, dan ketabahan hati. 

Betapa sebelah darimu percaya bahwa setetes air mata pun akan terhitung, tak ada yang mengalir mubazir, segalanya pasti bermuara di satu samudra tak terbatas, lautan merdeka yang bersanding sejajar dengan cakrawala dan itulah tujuan kalian. 

Kalau saja hidup tidak ber-evolusi, kalau saja sebuah momen dapat selamanya menjadi fosil tanpa terganggu, kalau saja kekuatan kosmik mampu stagnan di satu titik, maka tanpa ragu kamu akan memilih satu detik bersamanya untuk diabadikan. Cukup satu.

Satu detik yang segenap keberadaannya dipersembahkan untuk bersamamu, dan bukan dengan ribuan hal lain yang menanti untuk dilirik pada detik berikutnya. Betapa kamu rela membatu untuk itu. 

Tapi, hidup ini cair. Semesta ini bergerak. Realitas berubah. Seluruh simpul dari kesadaran kita berkembang mekar. Hidup akan mengikis apa saja yang memilih diam, memaksa kita untuk mengikuti arus agungnya yang jujur tetapi penuh rahasia. Kamu, tidak terkecuali. 

Kamu takut. Kamu takut karena ingin jujur. Dan kejujuran menyudutkanmu untuk mengakui kamu mulai ragu. Dialah bagian terbesar dalam hidupmu, tapi kamu cemas. Kata “sejarah” mulai menggantung hati-hati di atas sana. 

Sejarah kalian. Konsep itu menakutkan sekali. Sejarah memiliki tampuk istimewa dalam hidup manusia, tapi tidak lagi melekat utuh pada realitas. Sejarah seperti awan yang tampak padat berisi tapi ketika di sentuh menjadi embun yang rapuh.

Skenario perjalanan kalian mengharuskanmu untuk sering menyejarahkannya, merekamnya, lalu memainkannya ulang di kepalamu sebagai Sang Kekasih Impian, Sang Tujuan, Sang Inspirasi bagi segala mahakarya yang termuntahkan ke dunia. 

Sementara dalam setiap detik yang berjalan, kalian seperti musafir yang tersesat di padang. Berjalan dengan kompas masing-masing, tanpa ada usaha saling mencocokkan. Sesekali kalian bertemu, berusaha saling toleransi atas nama Cinta dan Perjuangan yang Tidak Boleh Sia-sia. 

Kamu sudah membayar mahal untuk perjalanan ini. Kamu pertaruhkan segalanya demi apa yang kamu rasa benar. Dan mencintainya menjadi kebenaran tertinggimu. 

Lama baru kamu menyadari bahwa Pengalaman merupakan bagian tak terpisahkan dari hubungan yang diikat oleh seutas perasaan mutual. Lama bagi kamu untuk berani menoleh ke belakang, menghitung, berapa banyakkah pengalaman nyata yang kalian alami bersama? 

Sebuah hubungan yang dibiarkan tumbuh tanpa keteraturan akan menjadi hantu yang tidak menjejak bumi, dan alasan cinta yang tadinya diagungkan bisa berubah menjadi utang moral, investasi waktu, perasaan, serta perdagangan kalkulatif antara dua pihak.

Cinta butuh dipelihara. Bahwa di dalam sepak-terjangnya yang serba mengejutkan, cinta ternyata masih butuh mekanisme agar mampu bertahan.

Cinta jangan selalu ditempatkan sebagai iming-iming besar, atau seperti ranjau yang tahu-tahu meledakkan-mu-entah kapan dan kenapa.

Cinta yang sudah dipilih sebaiknya diikutkan di setiap langkah kaki, merekatkan jemari, dan berjalanlah kalian bergandengan. Karena cinta adalah mengalami. Cinta tidak hanya pikiran dan kenangan. 

Lebih besar, cinta adalah dia dan kamu. Interaksi. Perkembangan dua manusia yang terpantau agar tetap harmonis. Karena cinta pun hidup dan bukan cuma maskot untuk disembah sujud. Kamu ingin berhenti memencet tombol tunda. Kamu ingin berhenti menyumbat denyut alami hidup dan membiarkannya bergulir tanpa beban. Dan kamu tahu. itulah yang tidak bisa dia berikan kini.

Hingga akhirnya... 

Di meja itu, kamu dikelilingi tulisan tangannya yang tersisa (kamu baru sadar betapa tidak adilnya ini semua. Kenapa harus kamu yang kebagian tugas dokumentasi dan arsip, sehingga cuma kamulah yang tersiksa?). 

Jangan heran kalau kamu menangis sejadi-jadinya.

Dia, yang tidak pernah menyimpan gambar rupamu, pasti tidak tahu apa rasanya menatap lekat-lekat satu sosok, membayangkan rasa sentuh dari helai rambut yang polos tanpa busa pengeras, rasa hangat uap tubuh yang kamu hafal betul temperaturnya. Dan kamu hanya bisa berbagi kesedihan itu, ketidakrelaan itu, kelemahan itu, dengan wangi bunga yang melangu, dengan nyamuk-nyamuk yang putus asa, dengan malam yang pasrah digusur pagi, dengan detik jam dinding yang gagu karena habis daya. 

Sampai pada halaman kedua suratmu, kamu yakin dia akan paham, atau setidaknya setengah memahami, betapa sulitnya perpisahan yang dilakukan sendirian. 

Tidak ada sepasang mata lain yang mampu meyakinkanmu bahwa ini memang sudah usai. Tidak ada kata, peluk, cium, atau langkah kaki beranjak pergi, yang mampu menjadi penanda dramatis bahwa sebuah akhir telah diputuskan bersama.

Atau sebaliknya, tidak ada sergahan yang membuatmu berubah pikiran, tidak ada kata “jangan” yang mungkin, apabila diucapkan dan ditindakkan dengan tepat, akan membuatmu menghambur kembali dan tak mau pergi lagi. Kamu pun tersadar, itulah perpisahan paling sepi yang pernah kamu alami.

Ketika surat itu tiba di titiknya yang terakhir, masih akan ada sejumput kamu yang bertengger tak mau pergi dari perbatasan usai dan tidak usai. Bagian dari dirimu yang merasa paling bertanggung jawab atas semua yang sudah kalian bayarkan bersama demi mengalami perjalanan hati sedahsyat itu. 

Dirimu yang mini, tapi keras kepala, memilih untuk tidak ikut pergi bersama yang lain, menetap untuk terus menemani sejarah.

Dan karena waktu semakin larut, tenagamu pun sudah menyurut, maka kamu akan membiarkan si kecil itu bertahan semaunya. Mungkin, suatu saat, apabila sekelumit dirimu itu mulai kesepian dan bosan, ia akan bertetiak-teriak ingin pulang. Dan kamu akan menjemputnya, lalu membiarkan sejarah membentengi dirinya dengan tembok tebal yang tak lagi bisa ditembus.

Atau mungkin, ketika sebuah keajaiban mampu menguak kekeruhan ini, jadilah ia semacam mercusuar, kompas, Bintang Selatan, yang menunjukkan jalan pulang bagi hatimu untuk, akhirnya, menemuiku. 

Aku, yang merasakan apa yang kau rasakan. Yang mendamba untuk mengalami. Aku, yang telah menuliskan surat-surat cinta padamu. Surat-surat yang tak pernah sampai.

- Dee, Filosofi Kopi -

Senin, 22 Februari 2016

Menyesal

Tertawa sambil lalu
Menangis tanpa ada yang tahu
Entah mengapa rasanya begitu melelahkan

Dibawa melayang, kemudian dihempaskan
Ribuan kali tanpa memakai perasaan
Didominasi hanya semata karena keegoan

Berandai-andai tanpa henti
Dikecewakan ribuan kali
Begitu saja rutinitas yang kau lakukan
Dikala sebuah perasaan kau jadikan sebuah permainan

Berlaku manis, terucap janji yang membuat teriris
Tutur kata begitu memikat, dihadapkan pada sebuah fakta yang menyakitkan

Benar saja keraguan awalku untuk berada di sisimu
Kini telah terjawab semua oleh waktu

Pemulihan

Dengan suara bergetar
Dengan langkah kaki gemetar
Kekecewaan jelas terpancar

Di tampar ribuan kali
Oleh kenyataan yang menyesakkan hati
Tak jua membuatnya pergi

Ia masih kokoh berdiri
Entah masih terlampau percaya diri
Atau meminta dirobohkan lagi

Sebenarnya hatinya sudah tak mampu
Raganya pun sudah butuh dirangkul
Namun jalan pikirannya yang membuatnya ragu

Terkadang, ia merasa ingin kembali pada masa kecil
Walau ia tahu, itu takkan mungkin

Melihat mereka berlarian
Berceloteh riang
Bersenandung senang
Bagaikan hidup tiada beban

Anak-anak kecil selalu terlihat ceria
Meskipun diselingi tangis air mata
Tak seperti orang dewasa
Melulu diliputi beban dan kekecewaan

Perjalanannya memang masih panjang
Masih banyak hal baru yang lebih menantang

Tapi detik ini ia hanya butuh istirahat sebentar
Sesaat masih tak mampu melanjutkan perjalanan terjal

Ia hanya ingin mencoba mengembalikan senyumannya
Mengembalikan keceriaannya
Mengembalikan hati yang kosong seutuhnya
Suci tak tersentuh rasa kecewa
Ia hanya butuh waktu

Waktu untuk kembali merajut asanya
Waktu untuk kembali memulihkan jiwanya
Waktu untuk kembali menikmati kebahagiaannya

Ia harus menjauh dari sumber kekecewaannya
Ia harus berlari meninggalkan sang pemain cinta
Ia harus menghilang dari sumber sakit hatinya

Tersenyum sebisanya
Menangis sewajarnya
Tertatih dalam diamnya

Karena seseorang yang telah menyia-nyiakan kesetiaannya
Karena seseorang yang telah memporakporandakan hatinya

Terdiam

Tangisku sudah tak terdengar
Suaraku sudah menjadi sebuah bisikan
Lidahku hampir kelu berucap kekecewaan

Menatapmu dari kejauhan
Tak baik juga rupanya
Harusnya aku berlari saja sejak ratusan hari silam
Tak perlu berdiri tegak seolah tegar

Beginilah jadinya
Kau hanya menghampiri dikala kesepian
Berlalu bagai angin dikala senang

Kau selalu datang tanpa diundang
Kau juga pergi begitu tiba-tiba

Sungguh melelahkan permainanmu, Tuan
Aku hanya bisa terpaku, terdiam
Menahan perih jutaan panah yang tiada henti kau hujam
Hatiku telah mati rasa sekarang

Rabu, 17 Februari 2016

Sebenarnya kita hanya perlu menghadirkan Tuhan, keimanan, kedewasaan, kepercayaan, dan kesetiaan. Tak perlu menghadirkan orang ketiga bukan? Karena memang sama sekali tak dibutuhkan. Tapi bagaimana jika syaitan? Tentu kita tak bisa mencegah kehadirannya. Apa ia bisa disebut orang ketiga juga, Tuan?

Senin, 08 Februari 2016

Masih Soal Jarak

Dia memutuskan kembali ke kota pelajar hari ini. Kereta api semakin kan menjauhkan jarakmu dengannya petang ini. Dia akan kembali melanjutkan tugasnya sebagai mahasiswa tingkat akhir di universitas ternama itu. 

Malam itu, kau cukup terkejut ketika ia katakan akan segera kembali ke kota itu. Kau pikir dia masih bisa menetap disini lebih lama lagi. Sebentar saja. Sekiranya masih bisa kembali menghabiskan hari bersama-sama lagi. Tapi ternyata waktu telah berlalu begitu cepat. Tak terasa mereka harus kembali terpisahkan dalam jarak dan waktu yang semakin melebar. Entah sampai kapan.

Lalu kapan waktu kan mengizinkan mereka tuk membuat janji demi sekedar menghabiskan waktu di akhir pekan?
Lalu kapan ia kembali?

Ia hanya terdiam..
Tapi kau selalu menanti

Jumat, 05 Februari 2016

Satu kata darimu. Membuatku tercengang. Dua kata darimu. Membuatku terdiam. Tiga kata darimu. Membuatku bungkam. Belasan kata darimu. Membuatku berpikir panjang. Puluhan kata darimu. Membuatku berbinar.

Mendeskripsikan kehidupan dalam diam, namun tercermin dalam tulisan. Salah satu caraku menikmati sebuah perasaan, menanti hadirmu dalam sebuah permainan kata yang menakjubkan.

Skenario Terindah

Bukankah pertanyaanmu terjawab lebih cepat dari dugaanmu? Harus kau sadari, bahwa rencana-Nya jauh lebih baik dari apa yang kau renca...