Rabu, 06 Desember 2017

Pertentangan




Memang benar apa kata mereka, mencintai itu rumit. Aku mengalaminya sendiri. Katanya, aku terlalu lama menetap pada sesuatu yang dianggap sulit. Apa bisa dibilang mustahil? Tapi, bagi Tuhan tidak pernah ada yang mustahil bukan? Katanya, aku hanya butuh seseorang yang mencintai. Maka dengan begitu, aku bisa bahagia. Katanya, aku butuh seseorang yang bisa membuatku tertawa setiap hari. Bukan yang selalu membuatku sesak menangis pada saat mulai terbaring. 

Mereka bilang, dicintai itu anugerah. Mengapa aku terlalu menutup diri dari mereka? Katanya, aku harus membuka mata dan hati segera. Atau bersiap diri pada kenyataan pahit, kemudian terluka. Penantianku belum tentu berujung bahagia. Namun hatiku seakan enggan beranjak kemana-mana. Terlalu nyaman atau terlalu takut mengambil keputusan? Diam tidak selamanya menguntungkan. Itulah yang mereka katakan. Jika aku tak sanggup bersuara juga, maka aku harus mundur perlahan tanpa harap. Hatiku sesungguhnya memang tak realistis. Tapi keyakinanku berkata, “Tunggulah sebentar lagi.”

Mereka bertanya, “Apa yang kau lihat darinya?”
Aku diam.
“Lalu apa yang membuatmu menunggu sebegitu lama?”
Aku diam.
“Jadi apa kamu punya alasan untuk memilihnya?”
Aku diam.

Tentangmu, sugguh tak terdeskripsikan. Terlalu banyak. Terlalu membuatku terkesan. Hingga ketika mereka bertanya, aku seolah tak tahu apa-apa. Masih menerka-nerka. Meskipun kenyataannya aku memang tak tahu apa-apa. Tapi, hatiku punya jawabannya. Dan lidahku terlalu kelu untuk menggambarkannya. Jadi, bagaimana mereka bisa mengerti dan membenarkan keputusan ini?

Tak apa, sepertinya perasaan ini memang tak butuh pembenaran. Hanya  butuh sedikit kesabaran. Meski tak terdefinisikan, penantianku semoga tak lagi panjang. Denganmu atau dengan seseorang lain yang menggantikan.

Rabu, 27 September 2017

Bunga Tidur




Jangankan dalam nyata
Alam mimpi pun menghadirkan wajahmu bias
Terbentur kehadirannya yang tanpa diminta ikut serta
Berganti-ganti tak jelas
Membingungkan
Sulit menghadirkan peran tunggal
Meski hanya untuk mempercantik bunga tidur semalam
Tak tahu apakah cara kerja otakku yang berantakan
Atau memang keutuhan hadirmu meski hanya sekadar bayang tak diizinkan
Meskipun tetap ada rasa membuncah
Tetap saja aku tak puas
Kau dan dia nyaris datang bersamaan kemarin malam
Begitupun terbawa hingga ku terlelap dengan senyum menawan

Rabu, 09 Agustus 2017

Lawan Kata



Mengapa aku harus menangis
Padahal kita belum tertawa

Mengapa aku harus menyelesaikannya
Padahal kita belum memulainya

Mengapa aku harus berhenti
Padahal kita belum berjalan

Mengapa aku harus menyerah
Padahal kita belum berjuang

Mengapa aku harus melepaskan
Padahal kita belum saling menggenggam

Mengapa aku harus terbangun
Padahal kita belum punya mimpi

Rabu, 02 Agustus 2017

Bungkam


Jika ku tanya,
“Kamu apa kabar?”
Bukankah dirimu selalu bungkam?

Jika ku coba acuh,
Bukankah kau mencoba bersikukuh?
Kemudian suasana menjadi canggung

Jika ku bersikap angkuh
Tapi kau justru buatku ragu
Sampai kapan kau coba tarik ulur?

Kamu kembali diam
Dalam waktu yang tak bisa ku tentukan

Kamu kemana?
Tak lagi ku beranikan diri bertanya, “Apa kabar?”

Namun kau harus tau,
Aku menunggu sapaanmu
Saat dirimu mungkin mulai merasa rindu
Atau butuh?

Tak apa,
Asalkan kau dan aku kembali berselimut rona merah jambu
Malu untuk memulai kata, “Ayo bertemu, aku rindu!”

Tapi nyatanya,
Kita sama-sama menunggu
Tanpa berani untuk memulai terlebih dahulu

Kamis, 27 Juli 2017

Jatuh Pada Tulisanmu

Bagaimana bisa semudah ini aku jatuh cinta pada seseorang melalui tulisannya. Hanya tulisannya. 

Sedangkan Dia menunjukkan kekuasaan dan kasih sayang-Nya yang tak berbatas dan masih sering membuatku lalai?? Ya, Tuhan lagi-lagi aku khilaf dalam hal perasaan.

Aku tahu penulis ini sekitar 3 tahun yang lalu. Seorang teman pernah bercerita, “Kamu tahu dia juga?” celetuknya saat kami sedang membahas tentang penulis yang kami kagumi. Saat itu kami sedang bertiga di dalam kamar yang cukup pengap dihuni oleh 3 orang.

“Tahu lah, tulisannya bagus loh. Aku selalu ikutin perkembangan blognya.” Jawab si A.

Aku yang sama sekali tidak mengenalnya, jadi penasaran. “Emang dia siapa sih? Terkenal ya? Kok aku baru dengar namanya.” Tanyaku polos.

“Ih dia itu gebetan aku tau, temen sekolah dulu. Sekarang jadi keren gitu. Hahaha makin ganteng pula.” Si B mulai nyerocos dengan mata berbinar-binar.

“Coba mana blognya, aku mau baca tulisannya. Sebagus apa sih? Sampai kalian terpesona gitu.” Ternyata mereka sukses membuatku penasaran setengah mati.

“Kamu harus baca pokoknya. Aku aja yang gak suka baca, setelah baca tulisannya, makin jatuh cinta.” Kata si B ber-api-api. “Eh tapi jangan deh, kamu gausah baca. Nanti kamu ikutan naksir, aku makin banyak saingannya deh.” Lanjut si B dengan wajah di cemberut-cemberutkan.

“Udah buruan buka blognya, kamu pasti suka deh.” Kali ini si A memberiku dukungan dan segera menuliskan nama blog penulis ‘yang katanya keren itu’ di ponselku.

Tak sabar, aku segera mengklik link tersebut.

Satu demi satu tulisan yang sudah ia publish aku baca sampai tuntas. Rasanya penasaran ini seperti tak berkesudahan. Membaca tulisannya seolah menjadi candu. Hingga aku tiba di akhir tulisannya dengan rasa kecewa.

Waktu itu, blognya terbilang masih baru. Karena ku dengar dia belum lama ini baru tertarik dalam dunia sastra. Jadi maklum, kalau aku bisa menuntaskan tulisan di blognya hanya dengan waktu 15 menit.

Sampai akhirnya tiba pada saat ini, saat aku tiba-tiba ingin menuliskannya di sela-sela waktu sengganggku.

Terlintas namanya begitu saja. Langsung ku buka blognya yang sudah sangat lama tak ku sentuh.
Dan ternyata.. dia sudah menerbitkan satu buku. 

Tulisan yang ia posting juga sudah cukup banyak. Lagi-lagi semua isi dan pesan tersiratnya menghanyutkanku. 

Ah, mengapa aku rasanya begitu mudah jatuh cinta dengan pesona sastranya. Dan tentunya, aku semakin dibuat penasaran oleh sosoknya, karena setiap foto yang menampakkan wajahnya dibuat blur atau di tutup dengan sesuatu.

Sayangnya, ketika aku membaca karyanya, mengingatkanku pada seseorang yang tak jauh berbeda dengan genre tulisannya. Seseorang itu, kamu.

Jumat, 14 Juli 2017

Penantian Hampa


Lelah, terlampau sudah. Terhempas ia dengan kerasnya. Terbentur kenyataan yang jauh dari kenyataannya.  Iya, selama ini ia sibuk berekspektasi. Hingga lupa bahwa ia hidup di dunia nyata, bukan di negeri dongeng yang penuh dengan mimpi indah. Ia mimpi buruk malam ini. Tak terasa air matanya pun mengalir membasahi bantalnya. 

Sakit. Itulah yang ia rasakan. Kejadian di mimpinya begitu terasa nyata. Seseorang yang ia tunggu selama belasan tahun, memilih bersanding dengan wanita lain yang beruntung itu. Ia cukup terkejut ketika undangan berbau harum itu sampai ke tangannya. Tubuhnya bergetar, air matanya tumpah, hatinya mencelos. Ia tahu, kini ia sudah kalah. Melihat senyum pujaan hatinya dan wanita itu yang begitu sumringah, membuat jantungnya seperti ditusuk-tusuk. Ia merasa seperti di tampar bolak-balik, memaksanya untuk segera sadar. 

Dengan peluh yang deras, ia terbangun dari tidurnya malam ini. Matanya berair. Ia tahu, baru saja ia bermimpi. Tapi mengapa rasanya seperti nyata? Ia merasakan sakitnya hingga terbangun dari lelapnya. Apa ini sebuah pertanda? Sebuah isyarat dari TuhanNya. Jawaban dari doa dan segala keraguannya. Bertahankah atau lepaskan saja? 11 tahun bukan waktu yang sebentar bukan untuk mengambil sebuah keputusan dan meyakinkan perasaan.

Ingatannya kembali melambung pada sekelumit kisah yang sedikit demi sedikit ia dan lelaki itu bangun. Meski lambat jalan ceritanya, namun berkesan begitu mendalam. Lalu apa artinya selama ini? Kebersamaan dan pertemuan-pertemuan singkat itu akankah jadi tak berarti? Tawa dan kecanggungan yang seringkali mendominasi, apakah hanya sekadar pembelajaran dan sisa kenangan yang akan terlipat rapi. Tanpa pernah kemana-mana dan takkan menjadi nyata segala angannya.

Sudah. Ia merasa harus di cukupkan penantian ini. Toh ia yakin, jika memang lelaki itu untuknya, cepat atau lambat segera kan menghampirinya dengan komitmen yang diakui oleh negara dan agama. Lalu apalagi yang perlu ia risaukan? Sekali lagi, ia harus mengubur dalam-dalam perasaannya itu dan terus menunggu saat yang tepat tiba. Akankah lelaki itu atau lelaki lainnya?

Jumat, 23 Juni 2017

Kepergian Ramadhan

Apa kamu juga menghitungnya? Detik-detik menjelang kepergiannya (lagi). Tidakkah kamu khawatir, akankah bisa kembali berjumpa dengannya? Tidakkah kamu takut akan kehilangan momen ini suatu hari nanti? Pada tahun berikutnya ketika dia datang kembali? Masihkah Rabb-Mu memberi kesempatan untuk kembali bersua dengannya?

Tentu kau tidak akan pernah bisa menjawabnya bukan?

Mari bebenah diri, sebelum ia benar-benar meninggalkan kita ataupun kita yang meninggalkannya. Entah siapa yang lebih dulu pergi. Yang pasti, aku, kamu, dan kita semua yang terlalu mencintainya pasti akan dirundung rindu. Rindu yang membuncah kelak 11 bulan kemudian. Saat ia kembali pulang menghampiri kita.

Berilah salam perpisahan terbaikmu dengan cara mengantarkan pribadimu menjadi lebih baik lagi, mengambil setiap hikmah yang terkandung pada setiap detik helaan nafasmu. Jangan siakan jantungmu yang masih berdetak itu dengan mengabaikan kehadirannya. Bulan Ramadhan yang selalu istimewa di hati orang-orang yang selalu menanti kehadirannya. 

Selamat jalan Ramadhan 1438 H, semoga kita kembali dipertemukan.


Rabu, 21 Juni 2017

Sebuah Kehilangan

Berapa kali kamu harus merasakan kehilangan? Coba hitung, berapa usiamu sekarang? Sudah berapa banyak rasa kehilangan yang ‘notabenenya’ menyakitkan yang sudah kamu rasakan? Kamu lalui dengan susah payah.

Tidakkah kehilangan itu menyentakkan kesadaranmu? Baik kehilangan yang mendadak maupun kehilangan dengan rencana. Kehilangan dalam arti banyak hal.

Bukankah kamu harus menyadari satu hal dari satu kata ‘kehilangan’? apa kamu bisa mendeskripsikannya?

Akhir-akhir ini, aku mulai merunut rasa kehilangan itu. Rasa kehilangan yang pernah mendera. Kehilangan yang seringkali mondar-mandir dalam kehidupanku selama 23 tahun. Dari kehilangan, aku semakin yakin bahwa sebenarnya kita itu miskin. Bahkan bisa dibilang fakir. Mengapa demikian? Karena sejatinya di dunia ini kita tidak pernah sekalipun dibiarkan ‘memiliki’ sesuatu. Sesuatu yang bersifat duniawi tentunya. 

Semua yang ada di dunia ini, bumi beserta isinya, termasuk bagian terkecil dalam tubuh kita adalah milik-Nya. Bukan milik kita. Jadi bagaimana bisa kamu mengatakan bahwa “itu milikku”, “ini milikku”, dan yang lebih parah “dia milikku”???

Suatu ketika, sekitar 2 bulan yang lalu aku memiliki teman baru yang cukup menyenangkan diajak berdiskusi. Ia adalah seorang ayah ber-anak 1. Pembawaannya yang bijak, sederhana, dan masih berjiwa muda membuatku semakin akrab dari hari ke hari dengannya. Kami sering menghabiskan waktu di sela-sela jam kerja yang tak begitu padat. Kami membicarakan banyak hal. Aku bertanya banyak hal. Dia pun bercerita banyak hal. Bisa dibilang, dalam waktu kurang lebih 1 bulan kami saling mengenal, kami sudah seperti seorang kawan yang berteman tahunan.

Singkat cerita, pada satu waktu ia mengutarakan keluh kesahnya mengenai tekanan yang ia hadapi di tempat kerja. Dia bilang, “Dalam waktu dekat, saya berencana untuk resign dari tempat ini.” 

Tentunya aku cukup terkejut. Karena selama ini aku memperhatikan sikapnya seolah tidak ada suatu hal yang cukup mengkhawatirkan dalam pekerjaannya sehari-hari. “Lha, serius mas? Emangnya kenapa?” tanyaku polos. Tanpa ku sadari mulai tumbuh rasa ‘takut kehilangan’ dalam hatiku. 

Bagiamana aku tidak merasa kehilangan, toh selama ini, dari awal aku datang ke tempat ini, dia membantuku dalam banyak hal untuk memudahkan pekerjaanku.


“Keputusan saya sudah bulat, mungkin 1 bulan dari sekarang.” Lanjutnya.


“Emang surat resignnya udah ada? Emang mau kerja dimana mas kalau keluar dari sini?” tanyaku sambil sedikit meledek untuk mencairkan suasana yang tiba-tiba terasa mencekam.


“Ya.. kita liat aja nanti. Rezeki datangnya kan dari mana saja. Gak perlu khawatir.” Jawabnya dengan santai tanpa mengurangi kebijaksanaannya.


“Katanya istri mas lagi hamil anak kedua. Nanti gimana kalau gak kerja mas?” tanyaku penuh selidik.


“Alhamdulillah kalau untuk kerjaan sampingan sih ada.” Jawabnya.


Singkat cerita 1 bulan berlalu sudah. Suatu pagi aku bertemu dengannya. “Mas, gajadi resign?” tanyaku sambil tertawa.


“Jadi lah, liat aja nanti.” Jawabnya sambil senyum-senyum. Senyum licik penuh kemenangan.


Dua hari kemudian. Saat itu aku seorang diri berada di ruangan tempatku bekerja. Lalu ada telepon masuk darinya. “Disana ada siapa?” tanyanya dari sambungan telepon. “Aku sendiri mas. Kenapa?” tanyaku polos. “Yaudah saya kesana ya.”


Tak seperti biasanya dia harus meminta izin dulu untuk masuk ke ruanganku yang dihuni oleh 3 orang. Seorang staf administrasi, aku, dan Direktur Operasional.


Selang beberapa menit kemudian ia masuk ruanganku dengan wajah yang sulit ditebak. Ia langsung mondar-mandir mencari sesuatu, kemudian meletakkan sebuah tas besar di ruang Direksi, lalu menghampiri meja kerjaku. 


“Saya titip surat ini ya, bilang dari saya. Saya taro di meja Direktur dan Admin, semua berkas sudah saya serahkan dan rapihkan. Kamu jangan pulang dulu. Salam buat mereka.” Katanya dalam intonasi bicara yang cepat. Semua kejadian barusan masih dicerna pelan-pelan oleh otakku. Aku sempat diam beberapa menit sampai akhirnya ku buka suara.


“Mas, jadi resign? Hari ini? Sekarang?”


Dia hanya mengangguk dan tersenyum.


“Saya pamit ya, maaf kalau banyak salah.” Ucapnya sambil menyodorkan tangannya padaku untuk bersalaman.


Aku masih coba menjernihkan pikiran agar mudah merespon apa yang dia bicarakan.


“Kok kayak gini caranya? Gak pamit dulu?”


“Saya udah buat surat, disitu saya jelasin semua. Yaudah saya pamit ya.”


“Eh tunggu dulu..” sergahku yang masih tak terima dengan keputusannya yang mendadak ini. 

“Udah pamit sama siapa aja?” tanyaku penuh selidik.


“Cuma sama kamu aja.”


“Loh kok gitu? Kenapa cuma sama aku? Kenapa gak pamit sama yang lain?”


“Gak apa-apa, saya gak mau ramai aja.” Jawabnya masih sambil tersenyum.


Tanpa kusadari, mataku mulai membendung air mata yang berusaha ku tahan.


“Ih mas, ini seriusan? Nanti aku yang di interogasi sama mereka semua dong?” protesku sambil bersungut.


“Engga kok, saya pamit ya.” 


Tak sengaja ku perhatikan perubahan dari raut wajahnya. Matanya mulai berkaca-kaca, mukanya berubah menjadi sedih.

Perpisahan sederhana ini cukup mengejutkanku. Ia keluar dari ruanganku meninggalkan banyak pesan yang masih sulit ku terjemahkan. Hatiku berkecamuk karena harus kehilangan seorang teman sekaligus kakak laki-laki yang baru saja ku temukan di tempat baru ini.

Hari itu, semenjak keputusannya untuk meninggalkan kantor. Aku menyadari banyak hal. Tentang sebuah kehilangan yang juga ku alami tepat setelah 1 bulan aku bekerja di tempat ini.

Tanpa ba-bi-bu terlebih dahulu, seorang ibu beranak 1 yang setiap kali keluar ruangan mengajakku beli camilan, yang setiap siang hari menawariku makanan yang dibawanya, yang setiap pagi datang dengan senyuman tulusnya tiba-tiba suatu sore melambaikan tangan padaku di gerbang pintu masuk kantor.


“Saya pamit ya.” Katanya.


Aku pun segera membalas lambaian tangannya dengan senyum ketulusan. “Hati-hati bu.” Kataku waktu itu.  Aku pikir dia pamit untuk pulang karena memang saat itu saatnya jam pulang kerja. 

Kemudian dia hanya tersenyum penuh anggukan sambil terus melambaikan tangan padaku. Saat itu, aku masih belum menyadari sesuatu yang aneh.


Sampai keesokan harinya, ketika ku dapati ia tak masuk kantor dan kutanya pada beberapa temanku, jawaban mereka cukup mengagetkanku. “Kan kemarin hari terakhirnya disini.” Jawab mereka santai yang memang sedari awal kurang menyukai si ibu. Aku cuma bisa terdiam mendengar jawaban mereka yang terdengar bahagia.


Berapa kali lagi aku harus merasa kehilangan di tempat ini? Pikirku saat ini.

Dari kejadian sederhana itu, aku menelusuri kembali segala kehilangan itu. Kehilangan yang menyakitkan karena harus berada di dunia yang berbeda dengan seseorang yang kita cinta, kehilangan yang harus memisahkan dua orang sahabat bahkan lebih, hanya karena berbeda kota, atau kehilangan benda berharga yang terlalu berlebihan kita sayangi. 

Bukankah memang semua itu bukan milik kita?

Kembali ku ulang, bahwa kita hanya memiliki iman dan taqwa sebenarnya. Selebihnya, hanya titipan yang Maha Kuasa untuk kita renungkan dalam setiap detiknya.

Senin, 29 Mei 2017

Bentuk Kepulangan Ramadhan

Ramadhan kali ini, terasa berbeda. Selalu. Ramadhan selalu menyimpan kisah ribuan makna. Setiap tahunnya, pasti ada yang spesial.

Begitupun tahun ini, 1438 H. Tahun 2017. Selama 23 tahun aku bernafas di muka bumi, kali ini rasa ingin tahuku ternyata semakin menjadi. Kadang, aku merasa sangat terlambat. Tapi ku ingat lagi sebuah pepatah, "Bukankah tidak pernah ada kata terlambat dalam sebuah pembelajaran? Apalagi pembelajaran kehidupan." Seolah aku semakin haus akan ilmu. Ilmu agama. Buku-buku pembangun jiwa kubiarkan bertumpuk di kamar, menunggu waktu untuk ku lahap dalam waktu dekat. Aku merasa ingin lebih dan terus belajar lagi mengenai ilmu yang masih dangkal ku miliki. Mengenai agamaku, Rahmatan Lil Alamin. Agama Islam. Ramadhan kali ini, aku meyakinkan diri untuk segera memfokuskan diriku agar lebih banyak mendengar, mencerna, dan menganalisis segala kejadian yang ada di sekelilingku. Tak pernah luput dari benakku, selalu mengharap ridho dan kasih sayang-Nya. Dalam segala bentuk aktivitas yang ku kerjakan.

Hari ini, puasa baru memasuki hari ke-3. Hari pertama dan kedua ku habiskan waktu dengan banyak membaca. Membaca apa saja. Terutama Al-Quran. Selain itu, ada buku lain yang menggugah perhatian sekaligus menguras perasaanku. Kisah tentang sahabat Rasulullah. Sang Khalifah. Amirul Mukminin. Menyelami kalimat demi kalimat yang disusun dalam sebuah novel memberikan gambaran perjuangan yang penuh haru. Aku begitu menikmatinya, seringkali terenyuh dan semakin diliputi rindu.

Hari ini, aku menyaksikan begitu banyak bentuk ‘kepulangan’. Mushola yang setiap hari ku datangi, biasanya sepi. Tapi, Ramadhan membuat mushola yang biasanya hening dan sepi menjadi lebih hangat. Aku bertemu banyak orang. Orang-orang yang dalam kesehariannya (dalam pandanganku, semoga pandanganku salah) begitu cuek dengan seruan-Mu ya Rabb. Aku melihat mereka ramai-ramai membasuh anggota tubuhnya. Mendengar seseorang melantunkan ayat suci-Mu. Melihat seseorang yang biasanya begitu tak peduli, bahkan pada hari Jumat sekalipun, sekarang berkopiah. Alhamdulillah.

Aku berbaik sangka, mungkin hari-hari kemarin, kami datang pada waktu yang berbeda, maka aku tak sempat berpapasan dengan mereka. Tapi hari ini, aku rasanya bahagia dengan pemandangan yang jarang ku lihat. Selesai menunaikan kewajibanku, ku putuskan singgah sebentar pada ‘camp’ tempatku dan teman-teman biasa melepas penat saat jam makan siang ataupun suntuk dengan pekerjaan. Dan yang ku dengar saat itu dari beberapa orang disana, “Yuk, sholat.” Sesungguhnya, kalimat ini agak jarang ku dengar dari mereka. Tapi berbeda dengan hari ini. Alhamdulillah.

Bentuk kepulangan lainnya ku dapati saat beberapa hari sebelum Ramadhan benar-benar tiba. Aku melihat gerbang pemakaman di penuhi antrian kendaraan bermotor. Baik yang butut sampai yang paling mahal sekalipun. Ramadhan kembali menyambungkan tali silaturahmi yang secara harafiah sempat terputus (kecuali dengan doa). Mereka berjejal menyambangi orang terkasih. Ziarah. 

Tak perlu jauh-jauh mengamati lingkungan sekitarku, aku pun merasa demikian. Ramadhan juga mampu membimbingku untuk lebih memahami apa itu arti kata ‘pulang’. Dan rasa rindu semakin membalutku dalam ketidakberdayaan yang hakiki, kecuali atas rahmat-Mu.

Jumat, 26 Mei 2017

Sebuah Pertanyaan


Bukan tentang siapa yang lebih dulu, tapi siapa yang lebih pantas. Bukan tentang apa yang kau suka, tapi tentang yang Dia ridhoi. Bukan tentang mengapa ia selalu ada dalam bayangmu, tapi tentang ia yang setia mendoakanmu.

Sekali, dua kali, bahkan berulang kali. Butuh berapa lama perasaanmu tumbuh kemudian di pangkas habis. Selanjutnya tumbuh lagi, kemudian dipangkas lagi. Sampai kapan? Kamu tak pernah tahu jawabnya bukan? Karena sebenarnya banyak pertanyaan-pertanyaan yang tidak ada jawabannya. Bukan tidak ada, mungkin lebih tepat tidak perlu dijawab. Karena lambat laun, dengan seiring berjalannya waktu pertanyaan itu akan terjawab dengan sendirinya, tanpa harus kamu tanya, tanpa harus kamu cari tahu jawabannya.


Memang benar, setiap pertemuan pasti berujung perpisahan. Sudah mutlak. Tapi kenapa kamu masih terus mengharap pertemuan itu terjadi? Sedang kamu sudah tau jawabannya. Jadi, ada juga pertanyaan yang tanpa harus kamu tanya, sudah tersedia jawabnya dengan gamblang.

Perihal dia yang datang dan pergi sesuka hati, biarkan saja. Toh jika memang ia ditakdirkan bersanding denganmu, selama apapun kamu menunggu, sejauh apapun dia menjauh, suatu hari akan datang mengetuk pintu rumahmu didampingi orang tua tercinta. Bukankah Dia sudah mengatur segalanya sedemikian rupa dengan begitu sempurna? Kamu saja yang tidak sabar bukan? Tunggulah.. Percayalah.. tiada kesabaran yang sia-sia.

Sederhana saja, jika bukan dia yang kau mau, mungkin dengan dia yang Tuhan atur.


Skenario Terindah

Bukankah pertanyaanmu terjawab lebih cepat dari dugaanmu? Harus kau sadari, bahwa rencana-Nya jauh lebih baik dari apa yang kau renca...