Minggu, 31 Mei 2015

Pertemuan Kita

Hai tuan,

Hari ini adalah hari pertama kita bertemu. Ah mungkin kau tidak menyadarinya, tapi sejak aku tiba di tempat itu, mataku langsung tertuju padamu. Kamu yang sedang berdiri dengan gagahnya di ambang pintu, menerima para undangan yang menghadiri acara tersebut. Saat itu aku hanya sekedar melirikmu, tak pernah terpikir melakukan lebih dari itu. Tetapi, saat aku berdiri dibalik pintu dan memanggil temanku, justru kau yang menjawab panggilanku. Mata kita sempat bertemu, hingga aku bersemu malu. Kau bilang “Iya, ada apa mbak?” dengan wajah bingung aku hanya bisa menjawab “Oh.. bukan mas, saya sedang berbicara dengan teman saya.” Seketika kita sama-sama merasa malu.

Semua berlalu begitu saja, waktu mengalir begitu cepat. Namun kau sungguh mencuri perhatianku sekali lagi dengan mondar-mandir disana, iya aku melihatmu dengan jelas dari kejauhan. Kau terlihat sangat tampan. Iya kau terlihat tampan. Kau juga keren. Ah apa yang sedang aku pikirkan? Kau berlagak seperti seorang intel, dengan mengenakan jas hitammu dan headset di telinga kirimu, sungguh kau mampu membuatku menoleh bahkan menatapmu berkali-kali. Tak sedikit pun merasa bosan.

Tak lama kemudian kau masuk ke dalam ruangan dan oh tidak jarak kita begitu dekat, kau terus berlalu lalang di samping kananku, kau terlihat sangat sibuk. Tapi kau tetap terlihat keren sekali lagi hehe. Tapi wajahmu? Ah iya, wajahmu sangat mirip dengannya, mantan kekasihku yang dulu, cinta pertamaku. Ya ampun kalian begitu mirip. Mengapa ini bisa terjadi? Tiba-tiba jantungku berdegup semakin kencang. Wajahmu, senyummu, hidungmu, matamu, warna kulitmu, sikapmu.. ah kau begitu mirip dengannya hingga akhirnya aku sulit menentukan ini perasaan jatuh cinta atau aku hanya teringat masa laluku. Entahlah yang penting aku merasa sangat bahagia saat itu. Kau sedikit mampu mengurangi rasa rinduku pada cinta pertamaku yang hingga kini aku belum pernah lagi bertemu dengannya, hampir 4 tahun telah berlalu.

Saat ini kau duduk di sebelah kananku, dua baris didepanku, tepat pada arah jam 2. Kau menyendiri. Wajahmu begitu datar, polos, begitu angkuh, tapi kau sangat menarik hatiku tuan. Bukannya memperhatikan apa yang sedang narasumber paparkan, aku malah sibuk memperhatikan gerak-gerikmu. Kau sangat sangat mirip dengannya. Ah seandainya saja aku bisa mengenalmu lebih jauh. Saat ini aku hanya bisa memandangimu dari jauh, dari samping belakangmu. Begitu menyedihkan bukan? Aku sedikitpun tak punya nyali untuk menatap matamu bahkan saat kau tepat didepanku kini, berdiri disampingku. Aku begitu payah. Aku hanya bisa tersenyum dalam hati dan membuat pipi ini merona merah dengan hanya melirikmu.

Tuan.. siapakah dirimu sebenarnya?

Aku tidak pernah mengenalmu, begitu pula denganmu sedikitpun mungkin tak memperhatikanku. Aku tidak tahu siapa namamu, dari mana asalmu. Namun aku ingin tetap mengagumimu dari jauh, meringankan sedikit kerinduan dan mungkin hingga beberapa hari ke depan wajahmu masih terbayang tuan. Bolehkah aku?

Aku sangat berharap suatu hari nanti kita bisa bertemu lagi pada waktu yang tepat sehingga kita dapat saling mengenal satu sama lain. 

Pertemuan pertama ini, sangat berarti bagiku entah mengapa. Dengan mudahnya hatiku terpagut olehmu tuan. Terimakasih atas kehadiranmu hari ini tuan, dihidupku. Pertemuan pertama ini, sangat mirip saat aku juga pertama kali bertemu dengan cinta pertamaku. Semoga kisah ini akan menjadi lebih manis suatu hari nanti.


-30 Mei 2015, Balai Sidang Universitas Indonesia-


Rabu, 27 Mei 2015

Perlu kau renungkan, teman


Angkat kepalamu,

Bukan berarti kau angkuh

Namun menunjukkan pada dunia bahwa kau percaya diri

Bukan wanita yang harus diinjak harga dirinya


Angkat kepalamu,

Sekali lagi bukan berarti kau angkuh

Karena keberadaanmu jelas lebih terpandang

Dibanding orang lain yang dengan sengaja merebut kebahagiaan sesamanya


Percuma kau tersenyum manis saat menyapa

Tapi kau coba menusuk dari belakang

Wajah berkedok keluguan

Namun hati begitu kejam


Apalah artinya semua itu, teman


Ingat,

Kau bisa berdiri diatas kakimu sendiri

Tanpa harus merebut atau membuat orang lain terluka

Mencari bahagiamu sendiri dengan caramu

Cara yang lebih terhormat


Hidupmu bukan untuk mengusik apalagi mencampuri urusan orang lain

Namun kau harus membuat hidupmu lebih berarti dengan berjuang untuk mendapatkan apa yang kau cari

Sekali lagi bukan merebut apalagi menjatuhkan harga diri

Tapi kau akan meraihnya dengan cara terpuji

Janganlah sekali-kali kau merebut apalagi mengambil kebahagiaan orang lain

Karena suatu hari nanti kau harus siap menerima segala ganjaran


Wanita baik akan disandingkan dengan lelaki baik

Pun sebaliknya


Kita lihat saja, seperti apa balasan yang akan mereka terima

Teruntuk mereka yang secara paksa 'merebut' dengan cara yang licik

Teruntuk mereka yang dengan mudahnya 'mempermainkan' perasaan dengan sebuah pengkhianatan


Maaf, bila menurut kalian ini jahat

Tapi perlu kalian sadari, bahwa kalian lebih pantas dibilang jahat

Semoga kami yang terkhianati akan diberi kelapangan hati

Dan mereka yang berkhianat akan dibukakan mata hati


Sabtu, 23 Mei 2015

Setia? Perlu dipertimbangkan kembali..

Setia pada satu nama?

Sepertinya untuk beberapa waktu ke depan ia tidak akan melakukannya lagi, kecuali ia bertemu dengan seseorang yang benar-benar serius menjalani hubungan dengannya. Mungkin ia bisa kembali mempertimbangkan prinsipnya itu. Tentunya bukan dengan pertimbangan yang mudah, ia akan mempertimbangkan baik buruknya sehingga mampu menggoyahkan bahkan meruntuhkan prinsipnya.

Ia pernah setia pada satu nama, namun yang ia dapat hanya sebuah pengkhiantan balasan dari kesetiaannya. Cukup lama ia bertahan setelah berulang kali tersakiti hingga akhirnya kini ia merasa lelah membiarkan hatinya terluka, mungkin akan terluka lebih parah jika ia tidak menghentikannya detik ini juga.

Selama ini ia selalu mengabaikan beberapa orang yang mencoba mendekatinya, meraih hatinya, bahkan memintanya untuk menjadi kekasihnya hanya karena setia pada satu nama. Satu nama yang selalu ada dihatinya, dipikirannya, bahkan dilangkahnya. Sedikitpun tak pernah terpikir olehnya untuk mengkhianati satu nama itu walaupun godaan tiada henti untuk berpaling dari satu nama yang selalu mengisi hari-harinya. 

Tetapi semua berbeda ketika satu nama dihatinya berlalu dengan sebuah pengkhianatan yang sampai detik ini masih belum bisa ia terima sehingga ia memutuskan untuk membiarkan siapapun yang mendekatinya tak lagi terabaikan. Ia memastikan itu. Ia akan bersikap sebaik mungkin untuk “berteman” dengan orang-orang itu yang hanya sekedar mengisi hari-harinya, bukan hatinya. Tentu. Tidak semudah itu ia membiarkan orang lain mencuri hatinya. Ia hanya membuka hatinya saja, belum tentu orang tersebut bisa terperangkap. Ia salah satu seorang wanita yang mudah jatuh cinta namun tak mudah melupakan cinta. Maka dari itu, hanya orang-orang tertentu yang bisa mendapatkan cintanya.

Satu, dua, tiga, ah.. terlalu banyak sepertinya saat ini laki-laki yang mencoba mendekatinya, risih, pasti. Ini bukanlah dirinya. Ia adalah seorang yang tertutup, karena banyak, banyak sekali laki-laki yang menyerah padanya untuk sekedar mendapat senyuman darinya. Tapi sekarang? Apa yang dia lakukan? Apa yang terjadi pada dirinya? Bahkan sekarang ia seolah tak segan untuk tersenyum bahkan menanggapi obrolan santai dengan beberapa teman laki-lakinya yang perlahan mencoba mencuri hatinya. Tak segan menerima ajakan mereka untuk pergi kemanapun yang ia mau. Begitu mudahnya terbuai akan rayuan mereka. Ia sadar akan hal itu. Ia ingin menghentikannya segera, namun ia sudah terlalu muak untuk setia pada satu nama, saat ini. 

Ah.. perjalanan masih panjang, itu yang ada di benaknya saat menanggapi teman-temannya. Ia merasa perlu banyak mendapatkan pengalaman agar tak lagi jatuh sebelum ia bertemu dengan pemilik tulang rusuknya, ia berharap suatu saat nanti ia bisa menghabiskan waktunya bersama orang yang tepat tentunya dengan cinta sepenuh jiwa. Akan tiba waktunya, mungkin bukan untuk saat ini. Ia mencoba menikmatinya, walau hatinya selalu mengingkarinya karena dihatinya masih saja terukir satu nama, sekalipun satu nama itu mungin sudah tak lagi menghiraukan perasaannya.

Cukuplah sudah, ia tak ingin lagi membahas ataupun mengingat satu nama itu. Satu nama yang selalu membuat hatinya serasa diremas kala ia mendengarnya, satu nama yang selalu membuat ia menangis kala ia mengingatnya, satu nama yang telah mengkhianatinya dan kini perlahan pergi dari hidupnya.


Rabu, 20 Mei 2015

Pertama. Kedua. Ketiga?

- Cinta Pertama -

Pernahkah kau merasa dicintai oleh seseorang?

Kemudian kau mengabaikannya setelah kau memilih dan memperjuangkannya

Hanya karena sebuah alasan kau tak ingin menyakitinya

Padahal ia menjadikanmu satu-satunya

Bahkan kau memintanya untuk pergi saja

Sedangkan ia sedikitpun enggan melangkah

Lalu ia berjanji akan bahagia setelah melihat kau bahagia

Walau tidak bersama, kamu tetap prioritasnya



Perhatian, kasih sayang, pengorbanan juga perjuangannya

Tulus ia berikan hanya untuk kau seorang

Terpikir untuk berpaling pun tidak

Di hatinya hanya kau yang dipuja

Tapi kau melepaskannya begitu saja

Hingga pada akhirnya kau menyadari cintanya

Namun ia telah menghilang

Kau tak bisa berbuat apa-apa



Saat itu kondisi kalian berdua sama-sama terluka

Cinta pertama yang membuat putus asa

Namun jarak mempersulit segalanya

Hingga kalian berdua perlahan menyerah

Walau masih saling memendam cinta dalam diam

Akhirnya dibiarkan berlalu begitu saja



Tiba saat ia melihatmu bahagia, ia menunaikan janjinya untuk meraih pula bahagianya



Singkat cerita, kalian kembali merajut cinta, kali ini dengan pilihan yang berbeda

Yang dirasa mampu untuk menyembuhkan luka cinta pertama

Sehingga kalian hanya bisa saling mendoakan

Tanpa harus jalan beriringan





- Cinta Kedua -

Pernahkah kau merasa mencintai seseorang?

Kau telah siap untuk kembali mencintai seseorang

Semua terasa indah saat kau telah mampu bangkit dari kisah masa‎ lalu yang membutakan segalanya

Kau memutuskan untuk mampu mencintainya dengan segala kelemahannya

Kau merasa ia pun merasakan hal yang sama

Sehingga untuk beberapa waktu kau sempat menjalin cinta dengannya



Tapi semakin lama ia semakin membuat jarak

Sehingga kau tak mampu lagi menggapainya

Perlahan berlalu begitu saja

Berkhianat seenaknya

Berpaling dengan mudahnya

Tanpa peduli sakit yang kau rasa

Mengabaikan waktu yang telah dihabiskan bersama

Seolah tak berarti apapun di matanya

Yang ia pikirkan hanya bahagianya

Kamu bukan prioritasnya

Katanya, ia tak ingin membuatmu lebih terluka



Padahal kau sudah berusaha tak jatuh pada lubang yang sama

Namun kali ini ia justru membuatmu terjerembap lebih dalam

Hingga mampu membuat kau sedikitpun enggan mengingatnya





» Perbedaan Diantara Keduanya «

Untuk yang kedua kalinya kau merasa kehilangan..



Namun disini tentu banyak perbedaan, sangat bertolak belakang antara cinta pertama dan cinta kedua

Karena kau dihadapkan pada dua kondisi berbeda dengan orang yang berbeda pula

Menyakitkan namun memberi banyak pelajaran

Keduanya saling melengkapi, hingga salah satu mengecewakan tapi kau masih bisa tersenyum karena satu yang lain pernah membahagiakan



Mereka seolah tak bisa terpisahkan



Ada hitam ada putih

Ada baik ada buruk

Ada langit ada bumi



Dan masih banyak lagi..



Kau pernah memiliki keduanya,

Merasakan perbedaan yang begitu kontras

Menikmati setiap detiknya

Hingga kau masih tetap merasa bahagia

Walau sekarang kau harus mengikhlaskan



Keduanya berperan penting dalam sebuah kisah percintaan yang singkat namun berkesan

Hampir 2 tahun lamanya keduanya bertahan

Walau pada akhirnya berujung dengan merelakan



Sehingga dari secuil kisah itu kau bisa pahami artinya dicintai dan mencintai

Mengerti artinya meninggalkan dan ditinggalkan

Tahu artinya kesetiaan dan pengkhianatan



Akhirnya kau bisa membedakan mana yang harus dipertahankan dan dilepaskan

Sebuah perasaan yang suci, yang hanya dirasakan untuk orang-orang pilihan



Tentunya orang pilihan itu ialah sang cinta pertama

Untuk saat ini ia masih menjadi juara

Seperti sebelum ataupun sesudah ada cinta kedua

Seolah sejauh apapun hatimu pergi, ia akan tetap kembali pada cinta pertamanya

Entah apa yang mampu membuatnya begitu, sampai detik ini tak ada yang mampu mendeskripsikannya





- Cinta Ketiga -

Pernahkah kau merasa dicintai dan mencintai seseorang?

Itulah sebuah harapan terindah dalam sebuah kisah cinta anak manusia



Lalu bagaimana kisah cinta ketiga?

Akankah berujung dengan kebahagiaan?

Atau kau harus kembali terluka dengan cara yang berbeda?

Memaksa untuk menanti cinta berikutnya?



Andai bisa kembali memiliki keduanya, namun hanya terdapat dalam 1 jiwa saja, bukan lagi 2 jiwa yang berbeda seperti sebelumnya

Semoga saja..



Biar waktu yang mengungkapkannya

Untuk akhir cinta yang bahagia


Selasa, 19 Mei 2015

Lirik : Bila Rasaku Ini Rasamu by Kerispatih

Mungkin suaraku tak merdu untuk didengar, tapi aku harap lirik lagu ini bisa sedikit menyampaikan perasaanku..

Aku Memang Terlanjur Mencintaimu
Dan Tak Pernah Ku Sesali Itu
Seluruh Jiwa Telah Ku Serahkan
Menggenggam Janji Setiaku

Kumohon Jangan Jadikan Semua Ini
Alasan Kau Menyakitiku
Meskipun Cintamu Tak Hanya Untukku
Tapi Cobalah Sejenak Mengerti

Bila Rasaku Ini Rasamu
Sanggupkah Engkau Menahan Sakitnya
Terkhianati Cinta Yang Kau Jaga

Coba Bayangkan Kembali
Betapa Hancurnya Hati Ini Kasih
Semua Telah Terjadi


Lirik : Mendendam by Marcell

Salah satu, dari sekian banyak lagu yang mungkin tepat digambarkan untuk saat ini

Tak seharusnya
Kau berpaling dariku
Disaat kuharus jauh darimu

Karena aku masih mencintaimu 
Dan yakin diriku hanyalah untukmu

Apa yang kurasakan tak seperti kenyataan
Berbagi cinta selain dirimu

Mungkinkah kembali
Segala rasa yang t'lah hilang
Walau hati kecilmu masih mencintaiku
Tak ingin ku bertahan, meski kadang mendendam
Akankah kau bahagia bila cinta tak ada untuk dirimu lagi


Manisnya Kejujuran

Jangan bangga, bila terus bersembunyi dibalik pengingkaran

Seberapa lama mampu kau pendam kebenaran itu?
Lalu membiarkan orang lain menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi
Menyelimutinya dengan segala dugaan yang bermotif
Terlarut dalam kenyataan yang sebenarnya masuk akal

Seberapa lama mampu kau pendam perasaan itu?
Lalu membiarkan orang lain berlalu dengan sendirinya
Namun tetap hanya kau yang tau bagaimana rasanya
Menyedihkan bukan?

Ungkapkan !
Apabila itu bisa memperbaiki segalanya

Mengapa tidak?
Bukankah berdiam diri semakin memperparah keadaan?

Beranikan dirimu, jangan jadikan dirimu sebagai seorang pengecut

Sepahit apapun sebuah kejujuran,
Percayalah, rasanya akan lebih manis dari sebuah kedustaan :)

Masa Putih Abu

Kala itu
Masa putih abu

Cinta itu membuat pipi bersemu
Dibuai asmara untuk bersatu

Kala itu
Masa putih abu

Emosi begitu menggebu
Semua penuh rasa haru

Kala itu
Masa putih abu
Kini telah berlalu

Kau yg tlah menjauh
Namun seolah tetap membayangi hidupku
Tetap berdiri disampingku
Namun tiada sosokmu

Semua yang terkait denganmu
Masih melekat indah di hari-hariku
Terpatri jelas dihatiku
Membuat masa itu ingin ku kenang selalu

Ingin kembali ke masa itu

Masa yg membuat kita bersatu
Masa yg terasa begitu syahdu
Namun di masa itu pula kita saling menjauh
Membebaskan diri untuk mengukir cerita baru

Masa putih abu
Aku mengenalmu

Masa putih abu
Aku memilikimu

Masa putih abu
Bersamamu

Walaupun Harus Terluka

Bohong

Iya,
Aku membohongi perasaanku
Menutupinya dengan sempurna
Seolah semuanya baik baik saja

Menyembunyikan sedih ditengah tawaku
Menyembunyikan luka dibalik tegarku
Menyembunyikan sepi dalam bahagiaku

Untuk apa?
Haruskah ku jawab?

Untuk menyenangkanmu tentunya

Tak pernah kau tahu seberapa sakitnya hati ini
Bahkan sedikitpun tak kau pedulikan
Tak berarti dimatamu

Aku hanyalah sedikit coretan di hidupmu
Mungkin sedikit memberi warna dihidupmu

Lalu kamu?
Kamu terlalu banyak mendominasi hariku
Kamu terlalu banyak melukiskan kenangan di hidupku

Sungguh tak adil

Dengan mengingatmu saja cukup membuatku terasa teriris
Tapi apalah daya, aku merindukanmu
Kamu?
Sudah bahagia dengan dunia barumu

Sejahat apapun dirimu, aku masih bisa merasakan rindu?
Terkadang aku miris menertawakan diriku
Begitu bodohnya menangisi seorang sepertimu
Namun terkadang aku sedih meratapi diriku
Mengapa aku bisa jatuh cinta padamu dulu

Ah itu masa lalu,
Bahkan taukah kau?
Sedikit banyak aku sudah bisa melupakan kenangan kita
Betapa bahagianya diriku
Walaupun terasa ada kekosongan dihati

Apa kau masih ingat?
Kenangan kita saat masih bersama
Saat cinta masih bergelora
Yang kini perlahan padam

Mungkin aku akan selalu ingat setiap detailnya
Tapi sudah ku kubur dalam-dalam sekarang
Jadi jangan salahkan aku bila butuh waktu yang lama untuk mengingat kembali kenangan itu

Kita memang dipertemukan karena sebuah alasan
Dan kini kita juga dipisahkan karena sebuah alasan
Apapun alasan itu, aku yakin itulah yang terbaik
Walau harus merasakan kehilangan yang menyakitkan

Aku selalu berdoa untuk kebahagiaanmu
Dan berdoa untuk keteguhan hatiku melihatmu bahagia dengan pilihanmu
Aku juga akan mencoba kembali mencari bahagiaku yang sudah dibuat berserakan olehmu
Sekali lagi, terimakasih

Jatuh Cinta Lagi?

Sebenarnya luka ini belum begitu kering
Hati ini jg masih terlalu rapuh
Namun otakku memerintahkan untuk segera kembali membuka hati

Haruskah ku turuti permintaannya?

Jujur, aku belum siap
Aku terlalu takut
Tuk jatuh cinta lagi yang kesekian kali

Banyak yang coba menyentuh hatiku
Mengisi hariku
Mengubah duka menjadi candaku
Mengukir senyum dibibirku

Aku tak bisa mengabaikannya
Aku pun tak bisa menolak
Hatiku membutuhkan penyembuh luka lagi

Namun di lain sisi aku merasa lelah,
Lelah harus mengulangnya kembali dari awal
Lelah untuk memulai kembali kisah yang baru
Beradaptasi dengan seseorang yang baru ku kenal
Belum tentu aku bisa menerima mereka seutuhnya bukan?
Bahkan ada rasa takut kembali merasakan sesuatu yang menyakitkan

Bukan cinta yang membutakan segalanya,
Justru rasa sakitku yang mampu membutakan segalanya

Mengapa?

Karena ingin segera ku tunjukkan padanya bahwa aku bisa tanpanya
Ingin ku buktikan padanya bahwa aku bisa berpaling darinya
Secepat yang ia lakukan padaku
Dengan mudahnya mencintai yang lain bahkan saat ia masih bersamaku

Egoku yang semakin menjulang
Untuk membalas segala perbuatannya
Walau ku sadari, kecil kemungkinan untuk berhasil
Karena hati ini masih sering diliputi segala hal tentangnya
Walau harus merasakan lagi perihnya luka
Namun aku ingin terus mencoba

Tetapi, bukan berarti aku justru mempermainkan hati orang lain demi egoku semata

Seiring berjalannya waktu,
Aku menunggu seseorang yang mampu menaklukan kerasnya hatiku
Meluluhlantakkan egoku
Bahkan menyembuhkan lukaku

Seseorang yang tulus mencintaiku

Kata Ibuku

Suatu hari, ibuku pernah berkata :
"Kembalikan keceriaanmu, kau lebih baik pergi darinya. Lepaskan. Jangan berlarut-larut dalam masalah ini. Cepat cari pengganti. Ada 1 hal yang harus kau pelajari dalam kejadian ini, jangan mudah percaya pada seseorang yang baru kau kenal. Namun, jika ada seseorang yang mencintaimu, jangan pernah kau sia-siakan sekalipun kau belum bisa untuk mencintainya. Karena cinta akan datang dengan sendirinya seiring berjalannya waktu. Cinta akan datang karena terbiasa. Jika kalian terus mengahabiskan waktu bersama, tidak mungkin tidak ada benih-benih cinta yang tumbuh. Cinta itu sebuah proses. Karena terkadang, kau tidak selalu dihadapkan pada sesuatu yang kamu cintai, tapi kamu harus belajar mencintai sesuatu yang ada dihadapanmu. Bukan berarti lelah mencari, tapi itulah jalan terbaik dari-Nya."

Bunga Tidur

Suatu ketika, aku bermimpi.
Bukan lagi mimpi buruk yang biasa kualami saat dia tiba-tiba muncul dalam alam bawah sadarku, menyeruak pada kenangan pahit yang pernah tercipta, kemudian kembali dilukiskan dengan jelas dalam mimpiku.

Kali ini dia hadir sebagai mimpi yang cukup indah setelah sekian lama kehadirannya sungguh menyiksa, baik nyata maupun angan.

Dalam mimpi itu ia berkata :
"Kamu kurusan, sama kaya aku. Aku merasa berat badanku juga menurun. Apa kamu begitu tersiksa sampai badanmu semakin kurus seperti ini? Apa itu karenaku? Aku merindukanmu, aku merindukan kita yang dulu. Saat ini aku bahagia karena kembali duduk berhadapan denganmu. Kembali melihat senyummu yang telah lama sempat pudar. Coba kau baca tulisan ini."

Tertulis jelas disana kalimat :
"Kamu cemburu? Aku juga cemburu melihat kedekatanmu dengannya. Aku masih sayang kamu."

Walau dalam mimpi, masih jelas terasa pengkhianatan yang telah ia lakukan, namun tetap mampu membuatku tersenyum padanya.

Seketika aku terbangun. 
Itulah mimpi terindah setelah 2 bulan lamanya ia hadir sebagai mimpi burukku. 
Entah apa itu artinya, namun mimpi itu cukup mempengaruhi hariku saat itu.

Sebuah Penantian

Terkadang lika-liku percintaan begitu menggelikan

Di kala bermain-main dengan perasaan, ketika kehilangan begitu terasa penyesalan karena telah mengabaikan

Di kala sungguh-sungguh dengan perasaan, harus mengalami kehilangan karena pengkhianatan

Lalu harus pilih yang mana?
Penyesalan atau pengkhianatan?
Sama halnya dalam memilih dicintai atau mencintai?

Bila waktunya tiba nanti, kau tidak perlu lagi untuk memilih.
Karena kau tidak akan merasakan yang namanya penyesalan apalagi pengkhianatan.
Ketika seseorang telah memilihmu untuk dijadikan pendamping hidupnya karena kalian akan saling memiliki dan tentunya saling mencintai :)

Jujur, aku tak sabar menanti hari itu..

1 bulan lalu..

1 bulan telah berlalu. Semenjak perpisahan itu. Setelah perdebatan panjang. Akhirnya kita bisa melewatinya. Sulit. Pasti. Tapi nyatanya sudah berlalu bukan? Semua akan kembali baik-baik saja. Walau prosesnya cukup melelahkan. Meski diliputi senyum, tangis, murka, serta rindu, setidaknya kita bisa menikmatinya. Merasakan setiap jengkal perasaan yang mungkin asing bagi kita. Ini adalah sebuah proses. Proses menuju kedewasaan. Proses untuk meraih cinta sejati. Sabar. Tidak akan lama lagi. Janganlah keputusasaanmu mengacaukan segalanya. Janganlah kepatahatianmu mematikan hati. Tetaplah seperti dulu. Kau dan aku yang dikenali. Tersenyumlah sedikit, walau itu bukan lagi untukku. Toh aku yang 1 bulan lalu sempat menangis didepanmu, sekarang sudah kembali tersenyum seperti dulu? Aku yakin kamu bisa. Jangan hinggapi perasaan yang pernah kita kagumi dengan sarat kebencian. Yaa aku tau ini tak mudah. Tapi cobalah kita sama-sama saling mempelajari. Kau tak pernah tau kan sesulit apa hari-hariku selama 1 bulan itu? Membiasakan diri dengan rutinitas baru tanpa ada lagi "kamu". Mengenang luka yang mengoyak. Meneteskan air mata lagi dan lagi. Rasanya terseok sudah langkahku. Namun aku sadar, aku harus bangkit. Jalan hidupku masih panjang. Masih banyak kebahagiaan yang menantiku disana. 

Meski kita tak lagi bersama, bisakah kita saling membahagiakan? Bisakah kau hapus kenangan buruk yang telah kau ciptakan untukku? Sehingga aku hanya bisa mengingat kenangan manis bersamamu. Tanpa lagi harus merasa terluka disaat mengingatmu. Ah seandainya kamu tahu dan membaca sedikit tulisan ini, mengingat kita sudah tak pernah saling bicara seperti tak saling mengenal semenjak hari itu, 1 bulan yang lalu.

Jumat, 15 Mei 2015

Makhluk itu bernama Laki-laki

Entah semua berawal dari mana,

Hari itu saya mulai memahami

Walau pemahaman ini akan kalah dengan riset-riset yang telah dilakukan ilmuwan diluar sana.

Tapi setidaknya, cukup untuk membuat saya mengerti.

 

Laki-laki

 

Ya,

Untuk sebagian perempuan, mungkin mereka sangat diidolakan, didambakan, bahkan diistimewakan?

 

Hm siapa sangka..

 

Tapi bagi saya,

Terlebih untuk saat ini,

Sepertinya nanti dulu deh

 

Laki-laki

 

Mereka harus melewati beberapa kualifikasi yang telah saya buat, untuk bisa kembali merebut hati.

Hati saya tentunya hehe

 

Ah..

Makhluk yang satu ini entah mengapa, dari beberapa cerita teman hingga saya mengalami sendiri,

Mereka semua terasa....

Hm, begitu jahat?

Entahlah

 

Mereka tak berperasaan?

Sebagian besar menurut pengalaman

 

Laki-laki

 

Dekat dengan teman wanitanya?

Tidak.

Bahkan bisa dibilang terlalu dekat.

 

Terlebih disaat ia memiliki seorang kekasih? Apa ini dinamakan laki-laki?

Menyeramkan.. Hii -_-

 

Laki-laki

 

Ketika ditanya soal arti "kedekatan" mereka dengan teman wanitanya, yang kami anggap (wanita) tidak wajar jika hanya sebatas teman,

Jawabannya sudah bisa terduga.

 

Hanya teman.

 

Teman cerita.

 

Nyaman.

 

Tidak ada apa-apa.

 

Hanya kagum.

 

Tidak ada maksud tertentu.

 

Hanya main-main.

 

Tidak ada perhatian khusus, sama seperti perlakuan ke yang lain.

 

Pure, hanya teman, tidak lebih.

 

Benarkaaaah? Itulah yang ada dibenak para wanita. Ah, andai mereka tahu..

 

Hei kau adam,

Apakah kau sadar?

Semua berawal dari teman untuk berlanjut ke jenjang selanjutnya.

Bisakah kau pastikan kau hanya teman selamanya dengan embel-embel kata kagum, nyaman, dan tidak memiliki perasaan yang lebih dari itu?

Entah dimana otak kalian.

Kalian kira kami bodoh?

 

Kami tak sebodoh itu untuk menanggapi lelucon ini haha

 

Selalu begitu?

 

Kebanyakan,

Jawaban pembelaan mereka seperti itu dari beberapa teman lelaki yang mengutarakan hal tersebut ketika dimintai "keterangan" lebih lanjut mengenai perasaannya terhadap "teman" wanitanya.

Suit suiw.. Cielah..

 

Sampai pada suatu saat,

Saya merasa jengah mendengar jawaban manis dari mulut mereka.

Sangat muak!

 

Entahlah,

Mereka bilang

Kagum dan cinta itu berbeda.

Kagum menggunakan hati,

Tapi cinta, menggunakan hati dan pikiran.

 

Lalu,

Kalian para wanita, begitu mudahnya percaya?

 

Jawabannya, iya!

 

Sangat disayangkan.

 

Saya juga heran, mengapa kita mudah sekali tertipu mulut manis mereka ckck

 

Dengan obralan janji yang memabukkan,

Namun sayangnya, diutarakan ke ribuan wanita didekatnya.

Hanya untuk menarik perhatian.

Mencari mangsa.

"Lalu siapa lagi berikutnya?"

 

Sekali lagi,

Ini hanya pandangan saya. Tolong digaris bawahi hehe *peace*

 

Memang jelas sekali perbedaan antara laki-laki dan wanita yang telah digariskan sang pencipta.

 

Perbedaan yang sebetulnya sangat sempurna, begitu indah.

 

Mereka diciptakan bukankah untuk saling melengkapi, mengisi satu sama lain?

 

Tentu.

 

Tetapi, kita sebagai wanita, yang selalu mendahulukan perasaan dibandingkan dengan laki-laki yang selalu mengutamakan pikiran,

Jangan sampai perasaan kita justru membawa kita dalam kehancuran

 

Sebenarnya,

Boleh lah sesekali, kita tidak hanya mengandalkan perasaan kita yang begitu hebat, tapi kita juga harus memadupadankan dengan akal sehat.

 

Setuju?

Harus dong!

 

Kenapa?

 

Agar kita tidak terus dibodohi oleh laki-laki yang tidak bertanggung jawab.

 

Menyakiti hati wanita sesukanya,

Meninggalkan wanita ketika ia bosan,

Kemudian dengan semangat membara kembali mencari "mangsa"

 

Hati-hati girls !

 

Walaupun tidak semua laki-laki seburuk itu,

Namun tetap saja, kita harus selalu waspada agar tidak begitu mudahnya percaya dengan makhluk yang namanya laki-laki.

Dan yang pasti untuk menjaga hati dari hal yang namanya "patah hati"

 

Tahukan bagaimana rasanya?

 

Yap. Sulit diungkapkan walaupun dengan kata-kata sekalipun.

Hanya kita dan Tuhan lah yang jelas tahu bagaimana rasanya "patah hati", terlebih karena "disakiti". Hm..?

 

Ya ampun.. Sedih kalo diceritain mah hehe

 

Tapi rasanya, zaman sekarang cukup sulit untuk dicintai oleh laki-laki yang baik akhlak dan perangainya.

Laki-laki idaman sepanjang zaman.

 

Kita hanya berpikir seorang seperti itu hanya ada di cerita zaman dahulu kala, dongeng, novel, drama romantis, bahkan yang sedang booming sekarang "drama korea".

 

Sepertinya lelaki seperti mereka tidak ada di dunia nyata.

Begitulah anggapan para wanita sekarang ini. Benarkah?

 

Tetapi girls,

Yakinlah,

Bahwa suatu hari nanti pasti tiba waktunya,

Dimana ada seorang laki-laki yang mencintaimu sepenuh hatinya, yang telah dituliskan oleh takdir untuk menghabiskan waktu bersamamu, tanpa terbesit dibenaknya untuk menyakitimu.

Bersama orang yang pantas untukmu, dan kau pantas bersanding dengannya.

Uuhhh so sweeet :")
 

Hari ini,

Hari yang mungkin terasa berat untuk kau lalui,

 

Percayalah, hari ini hanya batu sandungan bagimu untuk menuju jalan kebahagiaan yang telah ditakdirkan oleh sang maha kuasa.

 

Bagaikan kerikil kecil di jalan bebatuan, sepele bukan?

 

Hanya kita yang memandangnya teramat berlebihan hingga kita merasa hanya kita yang menderita, merasa bahwa ujian ini sangat sulit untuk dilalui.

 

Harusnya kita sadar, diluar sana, masih banyak orang-orang yang justru mempunyai masalah yang jauh lebih besar dari yang kita alami.

 

Lalu mengapa kita harus berkecil hati? Merasa kita yang paling menyedihkan didunia ini.

Toh mereka saja diluar sana bisa setegar karang, mengapa kita harus selemah ini?

 

Percaya kan akan hari itu?

Hari dimana kebahagiaan menghampirimu dengan janji yang abadi.

Tidak hanya obralan janji manis semu yang mudah berlalu.

 

Insya allah :)

 

Maka dari itu,

Hindarilah dirimu dari hal-hal yang akan menyakitimu, jangan semudah itu menelan janji manis para lelaki. Percaya ia akan setia padamu, berjanji ia akan menikahimu. Menjadikanmu satu-satunya.

Benarkah? Haha

 

Buktikan boys !

Berani datangi ayah kami? Hehe

 

Sekali lagi, jangan semudah itu.

Mereka harus melalui berbagai macam tahapan untuk membuktikan perkataan mereka padamu girls.

 

Apa benar ucapan itu hanya dilontarkan untukmu?

Atau ia lontarkan ke ribuan wanita diluar sana?

Dan menjadikanmu "cadangannya".

Siapa yang tahu?

 

Jangan sampai deh.

 

Belajarlah dari pengalaman girls.

Masa mau jatuh dilubang yang sama untuk kedua kali, ups.. mungkin kesekian kalinya? Hehe

 

Mari saling memantaskan diri!!

Semoga Allah S.W.T selalu membimbing kita tetap istiqomah kepada-Nya. Amin ^_^

Rabu, 13 Mei 2015

Pengkhianatan Terindah

Pernahkah kau menyayangi sesuatu dengan segenap perasaanmu?
Merelakan hatimu hanya untuk dimiliki olehnya, dipenuhi khayalan bersamanya.
Walaupun sesekali pernah kau biarkan hatimu menjauh darinya hanya demi mengingat sesuatu yang lain, yang mungkin lebih mampu untuk menenangkanmu, saat itu, hanya sementara waktu.

Kau seharusnya lega karena telah lepas darinya, namun kau justru menemukan dirimu mencintainya. Benarkah?

Semoga tidak.

Mana mungkin kau bisa mencintai sesuatu yang bahkan tidak bisa membalas perasaanmu.
Yang bahkan terlalu asyik dengan dunianya hingga rela mengabaikanmu begitu saja.
Yang dengan mudahnya berpaling darimu terlebih saat kau tidak bersamanya, disampingnya.

Pantaskah kau mencintainya?

Aku rasa sedikitpun tidak.

Padahal kau tahu,
Sedikit saja kau menyinggung tentangnya, kau dapat pecah berkeping-keping setiap saat.
Karena balasan yang telah dia berikan padamu, yang sungguh menyakitkan.

Tak termaafkan? Bisa jadi.

Namun hari itu, kau terlalu percaya diri.
Terlalu memberanikan diri untuk menemuinya.
Sesuatu yang jelas berulang kali telah menghancurkanmu tanpa ampun.

Hingga kau berjanji dalam hati,
"Ini yang terakhir, setelah itu kita bisa melanjutkan hidup kita masing-masing tanpa harus saling ketergantungan seperti sebelumnya. Aku janji."

Walaupun tak bisa kau pungkiri,
Keheningan akan membalut kebersamaan kalian saat itu, yang terasa begitu tajam.
Menyakiti kalian berdua dengan berlarinya setiap detik hingga menjelma menit.
Sayatan demi sayatan yang mengambang di udara membelah jiwa kalian hingga serpihan.

Cinta sungguh tak pernah mudah, namun haruskah cinta menuai luka?

Sehingga lagi-lagi kau hanya mampu berucap dalam hati, memperparah keheningan yang telah tercipta.
Sedikitpun tak punya nyali untuk membuka mulut, berbicara dengannya, menjelaskan perasaanmu padanya.

Kau hanya berbisik dalam hati :

     "Jangan,
      Jangan mendekat.

      Ya.
      Cukup disitu,
      Berhenti disitu.

      Kita hanya perlu saling tatap.

      Ah tidak,
      Jika kau mau itupun.

      Kau hanya perlu menatap.
      Dari jauh, tentu saja.

      Aku?
      Maaf ternyata aku tidak bisa, bahkan untuk sedetikpun bertatap.
      Apa aku terlalu kekanak-kanakan?
      Ah.. siapa peduli.

      Suatu hari nanti,
      Aku harap, jangan seperti ini.
      Jangan pernah lagi.

      Apa kau mengerti?

      Sudah terlalu banyak hati yang kau sakiti.
      Biarlah aku yang merasakan untuk terakhir kali.

      Kau,
      Cukup memandangiku dari jauh.
      Tanpa harus ku tahu.

      Sekali lagi jika kau mau.

      Maaf, jangankan untuk saling bertatapan.
      Memandang dalam diampun, aku terlalu takut.

      Aku selalu membohongi perasaanku.
      Aku membangun dinding pertahanan hatiku yang tangguh.
      Untuk tidak mengingatmu.
      Apalagi memandangmu.

      Tolong,
      Jangan pernah lagi kau sentuh aku.
      Terutama sentuh hatiku.
      Sekali sentuhan, aku akan hancur.

      Terlalu rapuh.

      Ku harap kau bisa mengerti.
      Aku rasa kau cukup pandai untuk memahami
      Situasi yang cukup sulit kini.

      Entah sampai kapan,
      Andai segera berlalu."

Kemudian kalian sama-sama melangkah pergi,
Sama-sama menjauh.
Menikmati setiap jengkal kerinduan yang mungkin mulai terasa.
Demi melindungi hati dari luka yang lebih dalam.
Hingga waktu dapat menyembuhkannya.

Suatu hari nanti..

Minggu, 10 Mei 2015

Teruntuk kamu

Hei kamu,
Iya kamu.

Kamu yang merasa terpanggil,
Kamu yang membaca tulisan ini.

Tidak semua kamu sebenarnya,
Hanya untuk kamu seorang.

Yah semoga tulisan ini bisa terbaca olehmu.

Aku tidak tahu apa yang ada dibenakku saat menulis ini,
Tetapi aku ingin menuliskannya.
Jadi bagaimana? Hehe

Aku sudah mendengar semuanya,
Aku sudah melihat semuanya,
Aku sudah mengetahui semuanya.

Ya,
Semua yang terjadi antara kau dan dirinya.
Disaat kita masih bersama,
Benarkah kau merasakan suatu perasaan yang lebih padanya?
Lebih dari sekedar teman?

Apa aku terlambat?
Ya,
Aku memang terlambat mengetahui semuanya.
Terlebih aku tahu disaat kita sudah tak lagi bersama.

Apalah daya..

Aku hanya ingin tahu,
Seberapa pentingnya diriku yang pernah melalui hari bersamamu?
Terbilang cukup lama kita menghabiskan waktu bersama

Tetapi setelah aku mengetahui semuanya,
Aku merasa..

Tak berarti.

Ya,
Sepertinya itu kata yang tepat.
Bahkan terselip saja dihatimu mungkinkah?

Ah kau seolah tak menganggapnya.

Ada namaku saja tidak,
Kau sebutkan di depan mereka saja tidak.

Lalu artinya?

Ah entahlah, terlalu banyak pertanyaan yang bergelayut pasrah di kepalaku.
Entah bisa aku tanyakan padamu atau tidak.

Tetap menjadi misteri?

Perlakuan itu,
Iya yang seperti itu.
Aku rasa kamu paham.

Kita tidak pernah melakukannya kan?

Tetapi bersamanya,
Seseorang yang baru kau kenal,
Seseorang yang baru membuatmu nyaman,
Seseorang yang baru mengambil hatimu,
Kau berikan kepadanya.

Sedih?
Iya.
Tapi aku besyukur,
Karena aku tidak melewati hal itu bersama orang salah sepertimu.
Seseorang yang telah berkhianat

Tetapi, timbul pertanyaan selanjutnya.
Apakah selama ini, kau hanya memanfaatkanku?

Hanya kau dan Tuhan yang tahu,

Aku menunggu karma menghampirimu,
Kemudian aku akan tersenyum untukmu.

Ingat itu !

Cinta Monyet

Mungkin benar apa kata orang,
Dulu cinta yang kita bina hanya cinta monyet
Cinta yg terlalu kekanak-kanakan
Hingga semuanya kita lalui dengan penuh permainan
Namun seolah meyakinkan

Dulu,
Kita yang masih lugu
Kita yang masih polos
Dua remaja yang sedang dimabuk asmara
Sehingga semua janji kita ikat seerat mungkin dihati
Semua angan dan khayal kita lambungkan tinggi demi kebahagiaan kita nanti
Ketika semua berujung bahagia

Hari demi hari kita lalui liku percintaan remaja
Menciptakan pengalaman baru yg sebetulnya sama-sama kita nikmati
Mewarnai hari-hari dengan cinta yang pada saat itu anugerah luar biasa buat kita

Namun pada suatu hari,
Keegoan itu muncul
Keegoan itu merusak segalanya
Merusak segala jalan yang telah kita bangun
Hingga enggan rasanya untuk memperbaiki kembali
Akhirnya kita sama-sama harus memilih jalan yang berbeda
Kembali membangun tujuan masing-masing
Tanpa ada kata bersama

Namun di sela perjalanan itu,
Kita merasa saling merindukan
Mencoba saling menemukan
Ingin mengulang, namun tak ingin berbalik arah
Semuanya telah berbeda

Lagi-lagi keegoan itu menghancurkan sgalanya

Hingga kini penyesalan yang begitu terasa

Untukku..

Perih,
Karena semua janji itu telah teriingkari
Angan itu telah terkubur dalam entah kemana
Dan hatiku sangat membutuhkanmu

Entah kemana perginya
Semuanya telah kau bawa jauh dariku
Hingga kini terasa semakin sulit tuk menggapaimu kembali

Sering aku menyerah
Sering pula aku mencobanya
Membawa hatimu kembali
Namun tak lagi hati itu untukku
Tak lagi seperti dulu

Mungkinkah kau merasakan hal yang sama?

Kemana perginya senyum itu?
Entahlah, yang pasti senyum itu untuk sementara waktu dibiarkan pudar. Hanya untuk menikmati kesedihan yang datang tanpa diminta.

Kemana perginya binar mata itu?
Entahlah, yang pasti mata itu untuk sementara waktu dibiarkan menitikkan air mata. Hanya untuk menunjukkan kepedihan yang sedang dirasa.

Kemana perginya sapa hangat itu?
Entahlah, yang pasti untuk sementara waktu kehangatan itu berubah menjadi suatu sikap yang dingin karena keadaan yang mengharuskan.

Kemana perginya keceriaan itu?
Entahlah, yang pasti untuk sementara waktu keceriaan itu dibiarkan menghilang. Hanya untuk melintasi kemurungan sesaat.

Kemana perginya kepercayaan itu?
Entahlah, yang pasti ketika kau telah percaya terhadap sesuatu, kemudian kepercayaan itu dinodai oleh pengkhianatan. Selamanya tidak akan lagi muncul alasan untuk memberikan kepercayaan kembali seperti sedia kala.

Kemana perginya kesetiaan itu?
Entahlah, disaat kesetiaanmu tak dihargai, bukankah sebaiknya kau menjauh? Meninggalkannya dalam kebohongan yang selama ini selalu dirajut olehnya.

Kemana perginya rasa sayang itu?
Entahlah, yang pasti kau takkan bertahan menyayangi apa yang seharusnya tidak kamu sayangi. Maka dari itu, hilangkanlah. Untuk menghindari rasa sakit yang lebih dari ini.

Kemana perginya janji manis itu?
Entahlah, janji itu semuanya semu. Untuk apa kau ingat janji itu? Anggap saja tidak pernah ada. Bukankah lebih baik?

Semuanya terjadi karena sebuah alasan,
Ketika semua yang terbaik yang telah kau berikan terabaikan, biarlah, ikhlaskanlah. Suatu saat nanti, pasti ada sebuah balasan yang setimpal. Percayalah, senyumanmu, binar matamu, sapa hangatmu, keceriaanmu, kepercayaanmu, kesetiaanmu, rasa sayangmu, bahkan janji itu akan disampaikan pada orang yang tepat.

Seseorang yang tidak akan membiarkanmu menangis apalagi terluka. Seseorang yang tidak akan mengkhianatimu apalagi meninggalkanmu. Seseorang yang tidak akan mengabaikanmu, yang selalu berada disisimu. Akan tiba saatnya, seseorang yang takkan pergi darimu karena ada orang lain yang lebih baik darimu, melainkan kamu yang terbaik baginya. Tiada yang lain.

Berserahlah.. sesungguhnya Allah takkan membiarkan hambaNya melalui ujian yang tidak mampu dilaluinya.

Bersabarlah.. sesuatu yang indah telah menantimu disana.

Sabtu, 09 Mei 2015

Suatu hari, seorang teman pernah berkata pada saya..

"Untuk apa kamu menangisi satu orang yang pergi meninggalkanmu dengan alasan dia sudah tidak menyayangimu. Hey sadar! Masih banyak yang menyayangimu, jadi atas dasar apa kau menangisi satu orang yang pergi sedangkan diluar sana masih banyak orang lain yang ingin melihat kau bahagia".

Seseorang teman juga pernah memaksa saya menangis, meluapkan apa yg saya rasa. Namun saya jawab "Sulit. Saya tidak bisa" lalu ia berkata, "Ceritakanlah semua, mungkin saya bisa membantu". Kemudian saya menjawab lagi "Lidah ini kelu untuk membahas semua tentangnya". Lalu ia berkata, "Baiklah kau curahkan saja semua kepada sang Maha membolak-balikkan hati manusia. Itu cara yg lebih ampuh untuk mengurangi beban di langkahmu".

Selanjutnya ia bilang, "Saat kita diberi cobaan atau ujian dari Allah, Allah cuma mau kita bersabar. Jika kita bisa sabar, maka kita akan lulus dari ujian itu, lalu akan ada hal indah yang menanti kita di depan sana".

Tidak hanya itu, ia juga berkata "Sedih itu manusiawi. Tapi bagaimana cara kita menghadapinya. Sedih atau bahagia itu pilihan. Saat kita sedih tapi kita tidak berusaha untuk bahagia ya itu pilihan diri sendiri, begitu juga orang yang sedih tapi berusaha untuk bahagia. Karena hidup itu tak selamanya sedih dan tak selamanya bahagia".

Percakapan terakhir yang ia katakan pada saya di malam itu adalah "Saat kita merasa kehilangan, maka Allah akan menggantikannya dengan yang lebih lebih baik lagi. Ini jalan terbaik dari Allah, karena Allah tidak membiarkanmu berlama-lama bersama orang yang salah. Biarlah ia menikmati rasa penyesalannya suatu hari nanti karenamemilih meninggalkanmu demi orang lain yang baru saja membuatnya lebih nyaman. Ingat, rasa sakitnya itu hanya sebentar dan hal itu merupakan proses untuk menuju kedewasaan dan kesuksesanmu di masa depan".

Setelah itu, saya kembali menitikkan air mata. Saya menangis. Tetapi saya menangis bahagia.


Selasa, 05 Mei 2015

bagaimana rasanya?

Bagaimana rasanya, ketika kau berusaha menjaga apa yang kau miliki, namun direbut paksa oleh orang lain? Tanpa izin, apalagi permisi. Dirampas dengan begitu kasarnya hingga menimbulkan luka yang tak terhingga. Akhirnya mengharuskan kau untuk membiarkannya pergi begitu saja. Dari hidupmu. 

Bagaimana rasanya, ketika kau berusaha mempertahankan semua keadaan tetap di tempat semula, seolah semua baik-baik saja, namun otak memberontak mengatakan bahwa semua ini salah walaupun hati selalu berusaha menutupi itu. Apa yang akan kau lakukan? Ikuti logika atau kata hatimu?

Bagaimana rasanya, ketika kau berusaha mencintai sesuatu, sesulit apapun perjalanannya, sesakit apapun rasanya, kau mencoba tetap bertahan. Namun akhirnya terabaikan.

Bagaimana rasanya, ketika kau berusaha melepaskan, namun bayang dan perasaan yang pernah ada terus melekat. Apa yang akan kau lakukan?

Bagaimana rasanya, ketika kau berusaha mengabaikan bahkan sedetikpun tentangnya, namun ia selalu ada di benak dan pikiranmu. Menghantuimu dalam waktu yang mungkin akan berjalan terasa lambat. Menyiksamu dengan rasa kehilangan namun menyakitkan apabila tetap dipertahankan. Haruskah kau menghindarinya untuk sementara waktu?


Bagaimana rasanya, ketika kau berusaha mengacuhkan senyum dan suaranya yang terus menggema di relung hati, serta kisah kebersamaan kalian, yang apabila hal itu terjadi akan semakin membuatmu sulit melangkah ke depan. Apakah kau akan tetap diam ditempat bersama bayangannya? Mengabadikannya di hatimu? Bahkan telah banyak luka yang telah diberikan untukmu? 

Bagaimana rasanya, ketika kau berusaha untuk tetap tegar, tetap tersenyum, seolah terlihat bahagia didepan orang banyak. Padahal hatimu mengingkarinya. Apakah kau akan menunjukan perasaanmu yang sesungguhnya pada mereka semua?

Masihkah kau sanggup mempertahankannya, bahkan dihatimu sendiri untuk tetap memberi ruang baginya?

Biarlah waktu yang menjawab

Skenario Terindah

Bukankah pertanyaanmu terjawab lebih cepat dari dugaanmu? Harus kau sadari, bahwa rencana-Nya jauh lebih baik dari apa yang kau renca...