Tuan.. siapakah dirimu sebenarnya?
-30 Mei 2015, Balai Sidang Universitas Indonesia-
Aku Memang Terlanjur Mencintaimu
Dan Tak Pernah Ku Sesali Itu
Seluruh Jiwa Telah Ku Serahkan
Menggenggam Janji Setiaku
Kumohon Jangan Jadikan Semua Ini
Alasan Kau Menyakitiku
Meskipun Cintamu Tak Hanya Untukku
Tapi Cobalah Sejenak Mengerti
Bila Rasaku Ini Rasamu
Sanggupkah Engkau Menahan Sakitnya
Terkhianati Cinta Yang Kau Jaga
Coba Bayangkan Kembali
Betapa Hancurnya Hati Ini Kasih
Semua Telah Terjadi
Tak seharusnya
Kau berpaling dariku
Disaat kuharus jauh darimu
Karena aku masih mencintaimu
Dan yakin diriku hanyalah untukmu
Apa yang kurasakan tak seperti kenyataan
Berbagi cinta selain dirimu
Mungkinkah kembali
Segala rasa yang t'lah hilang
Walau hati kecilmu masih mencintaiku
Tak ingin ku bertahan, meski kadang mendendam
Akankah kau bahagia bila cinta tak ada untuk dirimu lagi
Entah semua berawal dari mana,
Hari itu saya mulai memahami
Walau pemahaman ini akan kalah dengan riset-riset yang telah dilakukan ilmuwan diluar sana.
Tapi setidaknya, cukup untuk membuat saya mengerti.
Laki-laki
Ya,
Untuk sebagian perempuan, mungkin mereka sangat diidolakan, didambakan, bahkan diistimewakan?
Hm siapa sangka..
Tapi bagi saya,
Terlebih untuk saat ini,
Sepertinya nanti dulu deh
Laki-laki
Mereka harus melewati beberapa kualifikasi yang telah saya buat, untuk bisa kembali merebut hati.
Hati saya tentunya hehe
Ah..
Makhluk yang satu ini entah mengapa, dari beberapa cerita teman hingga saya mengalami sendiri,
Mereka semua terasa....
Hm, begitu jahat?
Entahlah
Mereka tak berperasaan?
Sebagian besar menurut pengalaman
Laki-laki
Dekat dengan teman wanitanya?
Tidak.
Bahkan bisa dibilang terlalu dekat.
Terlebih disaat ia memiliki seorang kekasih? Apa ini dinamakan laki-laki?
Menyeramkan.. Hii -_-
Laki-laki
Ketika ditanya soal arti "kedekatan" mereka dengan teman wanitanya, yang kami anggap (wanita) tidak wajar jika hanya sebatas teman,
Jawabannya sudah bisa terduga.
Hanya teman.
Teman cerita.
Nyaman.
Tidak ada apa-apa.
Hanya kagum.
Tidak ada maksud tertentu.
Hanya main-main.
Tidak ada perhatian khusus, sama seperti perlakuan ke yang lain.
Pure, hanya teman, tidak lebih.
Benarkaaaah? Itulah yang ada dibenak para wanita. Ah, andai mereka tahu..
Hei kau adam,
Apakah kau sadar?
Semua berawal dari teman untuk berlanjut ke jenjang selanjutnya.
Bisakah kau pastikan kau hanya teman selamanya dengan embel-embel kata kagum, nyaman, dan tidak memiliki perasaan yang lebih dari itu?
Entah dimana otak kalian.
Kalian kira kami bodoh?
Kami tak sebodoh itu untuk menanggapi lelucon ini haha
Selalu begitu?
Kebanyakan,
Jawaban pembelaan mereka seperti itu dari beberapa teman lelaki yang mengutarakan hal tersebut ketika dimintai "keterangan" lebih lanjut mengenai perasaannya terhadap "teman" wanitanya.
Suit suiw.. Cielah..
Sampai pada suatu saat,
Saya merasa jengah mendengar jawaban manis dari mulut mereka.
Sangat muak!
Entahlah,
Mereka bilang
Kagum dan cinta itu berbeda.
Kagum menggunakan hati,
Tapi cinta, menggunakan hati dan pikiran.
Lalu,
Kalian para wanita, begitu mudahnya percaya?
Jawabannya, iya!
Sangat disayangkan.
Saya juga heran, mengapa kita mudah sekali tertipu mulut manis mereka ckck
Dengan obralan janji yang memabukkan,
Namun sayangnya, diutarakan ke ribuan wanita didekatnya.
Hanya untuk menarik perhatian.
Mencari mangsa.
"Lalu siapa lagi berikutnya?"
Sekali lagi,
Ini hanya pandangan saya. Tolong digaris bawahi hehe *peace*
Memang jelas sekali perbedaan antara laki-laki dan wanita yang telah digariskan sang pencipta.
Perbedaan yang sebetulnya sangat sempurna, begitu indah.
Mereka diciptakan bukankah untuk saling melengkapi, mengisi satu sama lain?
Tentu.
Tetapi, kita sebagai wanita, yang selalu mendahulukan perasaan dibandingkan dengan laki-laki yang selalu mengutamakan pikiran,
Jangan sampai perasaan kita justru membawa kita dalam kehancuran
Sebenarnya,
Boleh lah sesekali, kita tidak hanya mengandalkan perasaan kita yang begitu hebat, tapi kita juga harus memadupadankan dengan akal sehat.
Setuju?
Harus dong!
Kenapa?
Agar kita tidak terus dibodohi oleh laki-laki yang tidak bertanggung jawab.
Menyakiti hati wanita sesukanya,
Meninggalkan wanita ketika ia bosan,
Kemudian dengan semangat membara kembali mencari "mangsa"
Hati-hati girls !
Walaupun tidak semua laki-laki seburuk itu,
Namun tetap saja, kita harus selalu waspada agar tidak begitu mudahnya percaya dengan makhluk yang namanya laki-laki.
Dan yang pasti untuk menjaga hati dari hal yang namanya "patah hati"
Tahukan bagaimana rasanya?
Yap. Sulit diungkapkan walaupun dengan kata-kata sekalipun.
Hanya kita dan Tuhan lah yang jelas tahu bagaimana rasanya "patah hati", terlebih karena "disakiti". Hm..?
Ya ampun.. Sedih kalo diceritain mah hehe
Tapi rasanya, zaman sekarang cukup sulit untuk dicintai oleh laki-laki yang baik akhlak dan perangainya.
Laki-laki idaman sepanjang zaman.
Kita hanya berpikir seorang seperti itu hanya ada di cerita zaman dahulu kala, dongeng, novel, drama romantis, bahkan yang sedang booming sekarang "drama korea".
Sepertinya lelaki seperti mereka tidak ada di dunia nyata.
Begitulah anggapan para wanita sekarang ini. Benarkah?
Tetapi girls,
Yakinlah,
Bahwa suatu hari nanti pasti tiba waktunya,
Dimana ada seorang laki-laki yang mencintaimu sepenuh hatinya, yang telah dituliskan oleh takdir untuk menghabiskan waktu bersamamu, tanpa terbesit dibenaknya untuk menyakitimu.
Bersama orang yang pantas untukmu, dan kau pantas bersanding dengannya.
Uuhhh so sweeet :")
Hari ini,
Hari yang mungkin terasa berat untuk kau lalui,
Percayalah, hari ini hanya batu sandungan bagimu untuk menuju jalan kebahagiaan yang telah ditakdirkan oleh sang maha kuasa.
Bagaikan kerikil kecil di jalan bebatuan, sepele bukan?
Hanya kita yang memandangnya teramat berlebihan hingga kita merasa hanya kita yang menderita, merasa bahwa ujian ini sangat sulit untuk dilalui.
Harusnya kita sadar, diluar sana, masih banyak orang-orang yang justru mempunyai masalah yang jauh lebih besar dari yang kita alami.
Lalu mengapa kita harus berkecil hati? Merasa kita yang paling menyedihkan didunia ini.
Toh mereka saja diluar sana bisa setegar karang, mengapa kita harus selemah ini?
Percaya kan akan hari itu?
Hari dimana kebahagiaan menghampirimu dengan janji yang abadi.
Tidak hanya obralan janji manis semu yang mudah berlalu.
Insya allah :)
Maka dari itu,
Hindarilah dirimu dari hal-hal yang akan menyakitimu, jangan semudah itu menelan janji manis para lelaki. Percaya ia akan setia padamu, berjanji ia akan menikahimu. Menjadikanmu satu-satunya.
Benarkah? Haha
Buktikan boys !
Berani datangi ayah kami? Hehe
Sekali lagi, jangan semudah itu.
Mereka harus melalui berbagai macam tahapan untuk membuktikan perkataan mereka padamu girls.
Apa benar ucapan itu hanya dilontarkan untukmu?
Atau ia lontarkan ke ribuan wanita diluar sana?
Dan menjadikanmu "cadangannya".
Siapa yang tahu?
Jangan sampai deh.
Belajarlah dari pengalaman girls.
Masa mau jatuh dilubang yang sama untuk kedua kali, ups.. mungkin kesekian kalinya? Hehe
Mari saling memantaskan diri!!
Semoga Allah S.W.T selalu membimbing kita tetap istiqomah kepada-Nya. Amin ^_^
Pernahkah kau menyayangi sesuatu dengan segenap perasaanmu?
Merelakan hatimu hanya untuk dimiliki olehnya, dipenuhi khayalan bersamanya.
Walaupun sesekali pernah kau biarkan hatimu menjauh darinya hanya demi mengingat sesuatu yang lain, yang mungkin lebih mampu untuk menenangkanmu, saat itu, hanya sementara waktu.
Kau seharusnya lega karena telah lepas darinya, namun kau justru menemukan dirimu mencintainya. Benarkah?
Semoga tidak.
Mana mungkin kau bisa mencintai sesuatu yang bahkan tidak bisa membalas perasaanmu.
Yang bahkan terlalu asyik dengan dunianya hingga rela mengabaikanmu begitu saja.
Yang dengan mudahnya berpaling darimu terlebih saat kau tidak bersamanya, disampingnya.
Pantaskah kau mencintainya?
Aku rasa sedikitpun tidak.
Padahal kau tahu,
Sedikit saja kau menyinggung tentangnya, kau dapat pecah berkeping-keping setiap saat.
Karena balasan yang telah dia berikan padamu, yang sungguh menyakitkan.
Tak termaafkan? Bisa jadi.
Namun hari itu, kau terlalu percaya diri.
Terlalu memberanikan diri untuk menemuinya.
Sesuatu yang jelas berulang kali telah menghancurkanmu tanpa ampun.
Hingga kau berjanji dalam hati,
"Ini yang terakhir, setelah itu kita bisa melanjutkan hidup kita masing-masing tanpa harus saling ketergantungan seperti sebelumnya. Aku janji."
Walaupun tak bisa kau pungkiri,
Keheningan akan membalut kebersamaan kalian saat itu, yang terasa begitu tajam.
Menyakiti kalian berdua dengan berlarinya setiap detik hingga menjelma menit.
Sayatan demi sayatan yang mengambang di udara membelah jiwa kalian hingga serpihan.
Cinta sungguh tak pernah mudah, namun haruskah cinta menuai luka?
Sehingga lagi-lagi kau hanya mampu berucap dalam hati, memperparah keheningan yang telah tercipta.
Sedikitpun tak punya nyali untuk membuka mulut, berbicara dengannya, menjelaskan perasaanmu padanya.
Kau hanya berbisik dalam hati :
"Jangan,
Jangan mendekat.
Ya.
Cukup disitu,
Berhenti disitu.
Kita hanya perlu saling tatap.
Ah tidak,
Jika kau mau itupun.
Kau hanya perlu menatap.
Dari jauh, tentu saja.
Aku?
Maaf ternyata aku tidak bisa, bahkan untuk sedetikpun bertatap.
Apa aku terlalu kekanak-kanakan?
Ah.. siapa peduli.
Suatu hari nanti,
Aku harap, jangan seperti ini.
Jangan pernah lagi.
Apa kau mengerti?
Sudah terlalu banyak hati yang kau sakiti.
Biarlah aku yang merasakan untuk terakhir kali.
Kau,
Cukup memandangiku dari jauh.
Tanpa harus ku tahu.
Sekali lagi jika kau mau.
Maaf, jangankan untuk saling bertatapan.
Memandang dalam diampun, aku terlalu takut.
Aku selalu membohongi perasaanku.
Aku membangun dinding pertahanan hatiku yang tangguh.
Untuk tidak mengingatmu.
Apalagi memandangmu.
Tolong,
Jangan pernah lagi kau sentuh aku.
Terutama sentuh hatiku.
Sekali sentuhan, aku akan hancur.
Terlalu rapuh.
Ku harap kau bisa mengerti.
Aku rasa kau cukup pandai untuk memahami
Situasi yang cukup sulit kini.
Entah sampai kapan,
Andai segera berlalu."
Kemudian kalian sama-sama melangkah pergi,
Sama-sama menjauh.
Menikmati setiap jengkal kerinduan yang mungkin mulai terasa.
Demi melindungi hati dari luka yang lebih dalam.
Hingga waktu dapat menyembuhkannya.
Suatu hari nanti..
Hei kamu,
Iya kamu.
Kamu yang merasa terpanggil,
Kamu yang membaca tulisan ini.
Tidak semua kamu sebenarnya,
Hanya untuk kamu seorang.
Yah semoga tulisan ini bisa terbaca olehmu.
Aku tidak tahu apa yang ada dibenakku saat menulis ini,
Tetapi aku ingin menuliskannya.
Jadi bagaimana? Hehe
Aku sudah mendengar semuanya,
Aku sudah melihat semuanya,
Aku sudah mengetahui semuanya.
Ya,
Semua yang terjadi antara kau dan dirinya.
Disaat kita masih bersama,
Benarkah kau merasakan suatu perasaan yang lebih padanya?
Lebih dari sekedar teman?
Apa aku terlambat?
Ya,
Aku memang terlambat mengetahui semuanya.
Terlebih aku tahu disaat kita sudah tak lagi bersama.
Apalah daya..
Aku hanya ingin tahu,
Seberapa pentingnya diriku yang pernah melalui hari bersamamu?
Terbilang cukup lama kita menghabiskan waktu bersama
Tetapi setelah aku mengetahui semuanya,
Aku merasa..
Tak berarti.
Ya,
Sepertinya itu kata yang tepat.
Bahkan terselip saja dihatimu mungkinkah?
Ah kau seolah tak menganggapnya.
Ada namaku saja tidak,
Kau sebutkan di depan mereka saja tidak.
Lalu artinya?
Ah entahlah, terlalu banyak pertanyaan yang bergelayut pasrah di kepalaku.
Entah bisa aku tanyakan padamu atau tidak.
Tetap menjadi misteri?
Perlakuan itu,
Iya yang seperti itu.
Aku rasa kamu paham.
Kita tidak pernah melakukannya kan?
Tetapi bersamanya,
Seseorang yang baru kau kenal,
Seseorang yang baru membuatmu nyaman,
Seseorang yang baru mengambil hatimu,
Kau berikan kepadanya.
Sedih?
Iya.
Tapi aku besyukur,
Karena aku tidak melewati hal itu bersama orang salah sepertimu.
Seseorang yang telah berkhianat
Tetapi, timbul pertanyaan selanjutnya.
Apakah selama ini, kau hanya memanfaatkanku?
Hanya kau dan Tuhan yang tahu,
Aku menunggu karma menghampirimu,
Kemudian aku akan tersenyum untukmu.
Ingat itu !
Mungkin benar apa kata orang,
Dulu cinta yang kita bina hanya cinta monyet
Cinta yg terlalu kekanak-kanakan
Hingga semuanya kita lalui dengan penuh permainan
Namun seolah meyakinkan
Dulu,
Kita yang masih lugu
Kita yang masih polos
Dua remaja yang sedang dimabuk asmara
Sehingga semua janji kita ikat seerat mungkin dihati
Semua angan dan khayal kita lambungkan tinggi demi kebahagiaan kita nanti
Ketika semua berujung bahagia
Hari demi hari kita lalui liku percintaan remaja
Menciptakan pengalaman baru yg sebetulnya sama-sama kita nikmati
Mewarnai hari-hari dengan cinta yang pada saat itu anugerah luar biasa buat kita
Namun pada suatu hari,
Keegoan itu muncul
Keegoan itu merusak segalanya
Merusak segala jalan yang telah kita bangun
Hingga enggan rasanya untuk memperbaiki kembali
Akhirnya kita sama-sama harus memilih jalan yang berbeda
Kembali membangun tujuan masing-masing
Tanpa ada kata bersama
Namun di sela perjalanan itu,
Kita merasa saling merindukan
Mencoba saling menemukan
Ingin mengulang, namun tak ingin berbalik arah
Semuanya telah berbeda
Lagi-lagi keegoan itu menghancurkan sgalanya
Hingga kini penyesalan yang begitu terasa
Untukku..
Perih,
Karena semua janji itu telah teriingkari
Angan itu telah terkubur dalam entah kemana
Dan hatiku sangat membutuhkanmu
Entah kemana perginya
Semuanya telah kau bawa jauh dariku
Hingga kini terasa semakin sulit tuk menggapaimu kembali
Sering aku menyerah
Sering pula aku mencobanya
Membawa hatimu kembali
Namun tak lagi hati itu untukku
Tak lagi seperti dulu
Mungkinkah kau merasakan hal yang sama?
Bukankah pertanyaanmu terjawab lebih cepat dari dugaanmu? Harus kau sadari, bahwa rencana-Nya jauh lebih baik dari apa yang kau renca...