Minggu, 25 Oktober 2015

Pertemuan Berharga

Rindu yang sudah menumpuk ini, akhirnya dilabuhkan juga 

Hampir 4 tahun sudah, semenjak perpisahan hari itu

Aku sudah lupa tepatnya kapan
Yang pasti disaat ia memutuskan untuk melanjutkan studi jauh ke negeri orang
Aku sudah tak pernah lagi bertemu dengannya

Tangis dan haru menjadi satu pada hari perpisahan itu
Aku masih ingat wajah sendunya dan mata sembabnya saat ia berpamitan kepada kami

Semuanya serba tiba-tiba

Ia sengaja merahasiakan kepergiannya hanya takut membuat kami bersedih

Benar saja dugaannya 

Kami saling berpelukan untuk melepas tangis karena sebuah perpisahan

Mengapa kami harus dipisahkan terlalu cepat? 

Bagaimana tidak,
Tiga tahun bersamanya, menimba ilmu dengannya, mendengar lantunan indah yang terucap dari bibirnya, menerima nasihat shalihahnya, paras cantiknya, termotivasi darinya

Tapi pada hari itu kami harus kehilangannya, memang sementara
Hanya saja ruang dan jarak kami yang terlalu jauh rasanya
Ia akan pergi ke Turki

Setelah hari itu,
Kami hanya sesekali bertukar kabar melalui dunia maya
Hanya untuk mengurangi kerinduan
Walaupun tak banyak berkurang

Aku jadi teringat pertemuan pertama kami di Masjid Asy-Syifa

Hari itu adalah penentuan dan penetapan kakak mentor untuk siswa/i baru
Pandangan pertamaku saja, aku sudah dibuat jatuh hati olehnya
Siapapun yang memandangnya, pasti akan merasakan hal yang sama

Keanggunannya, tutur katanya, kecantikannya, suara merdunya saat melantunkan ayat suci Al-quran
Ah.. Aku sangat mengaguminya
Jelas dalam hati aku meng-amin-kan ia menjadi kakak mentor kami selama tiga tahun ke depan

Alhamdulillah harapku terkabul,
Ia terpilih menjadi mentor kami

Rasa bahagia dan segan meliputi kami
Saat harus berhadapan dengan seorang mentor yang menjadi idaman semua siswi di sekolah itu

Jangankan siswi, aku yakin semua ikhwan juga mengidolakannya

Ah betapa beruntungnya kami,
Didampingi oleh seorang mentor yang tepat dan luar biasa memiliki cantik paras dan hati
Jalan takdir mempertemukan kami untuk saling mengajarkan dan berbagi

Hampir 3 tahun berada di sekolah itu, telah banyak merubah cara berpikirku tentang Islam
Ilmuku semakin bertambah dan luas serta haus rasa ingin tahu yang begitu besar
Apalagi jika setiap hari sabtu saat mentoring dengannya
Dalam seminggu, aku sangat menantikan hari itu

Apapun kami bahas, apapun yang meragukan, aku pertanyakan 
Ia berperan sebagai guru sekaligus kakak yang setia merangkul kami

Dengan sabar ia menjelaskan
Tanpa lelah ia memotivasi
Hingga ia mampu sedikit demi sedikit membimbing kami untuk berhijrah

Saat kami melakukan kesalahan.. 

Ketika ia tahu aku memiliki seorang 'pacar'
Bukannya menegur, ia malah semakin antusias membimbingku untuk berhijrah
Dengan cara yang begitu halus tentunya
Hingga gamang aku dibuatnya

Ingin mengikuti jejaknya,
Tapi aku sulit untuk melepaskan seseorang yang saat itu berstatus sebagai kekasihku

Lagi-lagi ia hanya tersenyum, tanpa sedikitpun tampak amarah kekecewaan di wajahnya
Hanya saja sorot matanya mengatakan "Silahkan kau habiskan waktumu dengan seseorang yang belum tentu menjadi jodohmu"

Ia tak banyak ikut campur dalam pilihan hidupku
Namun ia mampu meluluhkan hati siapapun dengan caranya yang anggun untuk merubah sesuatu

Hijrah sikap, cinta, dan hati 

Tanpa ada paksaan apalagi dengan misi licik yang terkesan mengusik

Karena lebih ampuh tuk lembutkan hati bukan menjadi keraskan hati

Baginya harus dilakukan bertahap dan terintegerasi
Perlahan tapi pasti

Pujiannya selalu membuat hati siapapun terenyuh mendengarnya
Ia tak pernah sekalipun marah
Ia selalu menyembunyikan amarahnya dibalik senyumnya
Ia tak pernah menitikkan air mata ketika kecewa
Ia selalu menyembunyikan tangisannya dibalik kacamata tebalnya

Tanpa bosan ia menasihati dan mengoreksi kesalahan kami dengan tutur kata yang halus tapi menyentuh

Kami mampu membuat iri para siswi lainnya
Terbukti dengan begitu banyak yang ingin bergabung pada kelompok kami
Tapi semua hanya angan belaka
Mereka tidak ditakdirkan untuk bersama

Kemarin, 24 Oktober 2015 adalah hari pernikahannya


Di usia yang tergolong cukup muda, 22 tahun tepatnya
Ia mampu membuat siapapun mengelus dada karena iri

Keistiqomahan dan keteguhan prinsipnya untuk memperbaiki serta menjaga diri, mampu membimbingnya menjadi salah satu wanita shalihah yang beruntung di dunia dan membuat ratusan mata memandang mengaguminya

Dari jauh aku melihatnya berdiri di singgasana pelaminan bak bidadari surga
Tak sabar ingin berlari memeluknya
Melepas jutaan rindu yang sudah terpendam cukup lama

Aura kebahagiaan terpancar jelas di wajahnya
Betapa beruntungnya lelaki yang ada disampingnya

Tiga tahun tak mendengar kabar darinya, kemarin aku hadir pada acara pernikahannya sebagai salah satu undangan yang dinantikan kehadirannya

Haru bercampur bahagia
Jodoh tiada bisa yang menduga

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Skenario Terindah

Bukankah pertanyaanmu terjawab lebih cepat dari dugaanmu? Harus kau sadari, bahwa rencana-Nya jauh lebih baik dari apa yang kau renca...