Rindu yang sudah menumpuk ini, akhirnya dilabuhkan juga
Hampir 4 tahun sudah, semenjak perpisahan hari itu
Aku sudah lupa tepatnya kapan
Yang pasti disaat ia memutuskan untuk melanjutkan studi jauh ke negeri orang
Aku sudah tak pernah lagi bertemu dengannya
Tangis dan haru menjadi satu pada hari perpisahan itu
Aku masih ingat wajah sendunya dan mata sembabnya saat ia berpamitan kepada kami
Semuanya serba tiba-tiba
Ia sengaja merahasiakan kepergiannya hanya takut membuat kami bersedih
Benar saja dugaannya
Kami saling berpelukan untuk melepas tangis karena sebuah perpisahan
Mengapa kami harus dipisahkan terlalu cepat?
Bagaimana tidak,
Tiga tahun bersamanya, menimba ilmu dengannya, mendengar lantunan indah yang terucap dari bibirnya, menerima nasihat shalihahnya, paras cantiknya, termotivasi darinya
Tapi pada hari itu kami harus kehilangannya, memang sementara
Hanya saja ruang dan jarak kami yang terlalu jauh rasanya
Ia akan pergi ke Turki
Setelah hari itu,
Kami hanya sesekali bertukar kabar melalui dunia maya
Hanya untuk mengurangi kerinduan
Walaupun tak banyak berkurang
Aku jadi teringat pertemuan pertama kami di Masjid Asy-Syifa
Hari itu adalah penentuan dan penetapan kakak mentor untuk siswa/i baru
Pandangan pertamaku saja, aku sudah dibuat jatuh hati olehnya
Siapapun yang memandangnya, pasti akan merasakan hal yang sama
Keanggunannya, tutur katanya, kecantikannya, suara merdunya saat melantunkan ayat suci Al-quran
Ah.. Aku sangat mengaguminya
Jelas dalam hati aku meng-amin-kan ia menjadi kakak mentor kami selama tiga tahun ke depan
Alhamdulillah harapku terkabul,
Ia terpilih menjadi mentor kami
Rasa bahagia dan segan meliputi kami
Saat harus berhadapan dengan seorang mentor yang menjadi idaman semua siswi di sekolah itu
Jangankan siswi, aku yakin semua ikhwan juga mengidolakannya
Ah betapa beruntungnya kami,
Didampingi oleh seorang mentor yang tepat dan luar biasa memiliki cantik paras dan hati
Jalan takdir mempertemukan kami untuk saling mengajarkan dan berbagi
Hampir 3 tahun berada di sekolah itu, telah banyak merubah cara berpikirku tentang Islam
Ilmuku semakin bertambah dan luas serta haus rasa ingin tahu yang begitu besar
Apalagi jika setiap hari sabtu saat mentoring dengannya
Dalam seminggu, aku sangat menantikan hari itu
Apapun kami bahas, apapun yang meragukan, aku pertanyakan
Ia berperan sebagai guru sekaligus kakak yang setia merangkul kami
Dengan sabar ia menjelaskan
Tanpa lelah ia memotivasi
Hingga ia mampu sedikit demi sedikit membimbing kami untuk berhijrah
Saat kami melakukan kesalahan..
Ketika ia tahu aku memiliki seorang 'pacar'
Bukannya menegur, ia malah semakin antusias membimbingku untuk berhijrah
Dengan cara yang begitu halus tentunya
Hingga gamang aku dibuatnya
Ingin mengikuti jejaknya,
Tapi aku sulit untuk melepaskan seseorang yang saat itu berstatus sebagai kekasihku
Lagi-lagi ia hanya tersenyum, tanpa sedikitpun tampak amarah kekecewaan di wajahnya
Hanya saja sorot matanya mengatakan "Silahkan kau habiskan waktumu dengan seseorang yang belum tentu menjadi jodohmu"
Ia tak banyak ikut campur dalam pilihan hidupku
Namun ia mampu meluluhkan hati siapapun dengan caranya yang anggun untuk merubah sesuatu
Hijrah sikap, cinta, dan hati
Tanpa ada paksaan apalagi dengan misi licik yang terkesan mengusik
Karena lebih ampuh tuk lembutkan hati bukan menjadi keraskan hati
Baginya harus dilakukan bertahap dan terintegerasi
Perlahan tapi pasti
Pujiannya selalu membuat hati siapapun terenyuh mendengarnya
Ia tak pernah sekalipun marah
Ia selalu menyembunyikan amarahnya dibalik senyumnya
Ia tak pernah menitikkan air mata ketika kecewa
Ia selalu menyembunyikan tangisannya dibalik kacamata tebalnya
Tanpa bosan ia menasihati dan mengoreksi kesalahan kami dengan tutur kata yang halus tapi menyentuh
Kami mampu membuat iri para siswi lainnya
Terbukti dengan begitu banyak yang ingin bergabung pada kelompok kami
Tapi semua hanya angan belaka
Mereka tidak ditakdirkan untuk bersama
Kemarin, 24 Oktober 2015 adalah hari pernikahannya
Di usia yang tergolong cukup muda, 22 tahun tepatnya
Ia mampu membuat siapapun mengelus dada karena iri
Keistiqomahan dan keteguhan prinsipnya untuk memperbaiki serta menjaga diri, mampu membimbingnya menjadi salah satu wanita shalihah yang beruntung di dunia dan membuat ratusan mata memandang mengaguminya
Dari jauh aku melihatnya berdiri di singgasana pelaminan bak bidadari surga
Tak sabar ingin berlari memeluknya
Melepas jutaan rindu yang sudah terpendam cukup lama
Aura kebahagiaan terpancar jelas di wajahnya
Betapa beruntungnya lelaki yang ada disampingnya
Tiga tahun tak mendengar kabar darinya, kemarin aku hadir pada acara pernikahannya sebagai salah satu undangan yang dinantikan kehadirannya
Haru bercampur bahagia
Jodoh tiada bisa yang menduga

Tidak ada komentar:
Posting Komentar