Kamis, 10 Desember 2015

Kemunafikan telah merajarela di sekitar. Mereka telah berani bermain-main dengan perasaan. Tutur kata yang begitu manis, ditunjang dengan 'penampilannya' yang 'agamis' seolah mampu membuat siapapun terpukau.

Padahal mereka tak tahu saja, pengingkarannya tak sesuai dengan ucapan kebaikannya. Mereka dibodohi? Bisa jadi.

Persoalan hati tiada yang tahu, namun dalam titik ini, ia mampu menggoreskan kekecewaan yang begitu dalam. Sehingga aku memandangnya saja enggan. Ketidaksesuaian antara ucapan dan perbuatannya cukup membuatku berlari menjauh. Takut lebih parah terluka olehnya.

Aku masih ingat, dia yang bilang cinta itu tak perlu diumbar. Sejatinya seorang wanita sebaiknya menundukkan pandangan. Tapi apa yang dia lakukan sekarang? Akankah telah luntur ilmu yang dia sebarkan?

Hanya dia dan Tuhan yang tahu..

Goresan lukamu, cukup perih sayang. Sang muslimah yang menjadi idaman, tapi kini tak lagi kujadikan panutan. Terimakasih atas luka yang kau berikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Skenario Terindah

Bukankah pertanyaanmu terjawab lebih cepat dari dugaanmu? Harus kau sadari, bahwa rencana-Nya jauh lebih baik dari apa yang kau renca...