Minggu, 26 Oktober 2014

Batas

Kami menyadari ada tembok batas itu
Tetapi kami sama sama berusaha untuk menyamarkan batas itu
Setidaknya hanya untuk beberapa waktu
Membuat kami terbuai akan batas yang selalu kami coba hiraukan

Ingin beranjak,
Namun malah terjebak
Saling berjauhan
Namun mencoba saling menatap

Sesaat akan berlalu
Namun sesaat kemudian akan tergoda kembali seperti dahulu
Kami tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi
Tetapi kami sama sama mencoba menikmati

Menikmati batas yang kian meninggi
Dalam diam namun sama sama meratapi

Senin, 01 September 2014

Masa Lalu Itu Milik Kita

Terima kasih pernah mengisi kekosongan hatiku
Terima kasih pernah hadir di hidupku
Terima kasih pernah mewarnai mimpi indahku
Terima kasih pernah menjadi bagian dari cerita cintaku
Terima kasih pernah ada disisiku
Terima kasih pernah memberikan cinta dan kasih sayang yg kau punya untukku
Terima kasih pernah menari-nari di pikirkanku
Terima kasih pernah menjadi bayang dalam langkahku
Terima kasih pernah menemani malam-malamku
Terima kasih pernah menjadi bagian dalam angan masa depanku
Terima kasih pernah membangun mimpi bersamaku
Terima kasih pernah mengukir luka di hatiku
Terima kasih pernah menjadi alasan untukku tersenyum, menangis, bahkan kecewa padamu
Terima kasih pernah berkorban untuk hatiku
Terima kasih pernah datang dan pergi sesukamu
Terima kasih pernah menjadi alasanku utk jatuh cinta berkali-kali padamu
Terima kasih pernah mengacaukan hariku karena menunggumu
Terima kasih karena slalu membuatku menunggu
Terima kasih pernah membuat aku dan kamu menjadi KITA

Terima kasih atas segala kenangan indah dan berarti untukku, yang terkadang masih sering kau ukir sampai saat ini :)

Senin, 16 Juni 2014

apa kabar kita? :")

Perhatian kecil itu ternyata masih ampuh membuatku mengulum senyum

Dan hatiku membuncah bahagia.

Hai, apa kabar?

Mungkin kata itu hanyalah suatu awalan saja, yang tanpa kita tahu, dari 1 kalimat itu bisa muncul ribuan kalimat kalimat berikutnya.

Entah angin apa yang membawamu kembali padaku, sebenarnya haruskah ku abaikan atau perlu kuperjuangkan lagi?

Namun kenyataan sama sama menghantam kita dengan kerasnya, seolah membangunkan kita dari angan yang telah lama pudar sebenarnya.

Kau dan aku tlah memilih jalan berbeda.

Kemudian ada seseorang disana yang menunggu kita.

Haruskah kita meninggalkannya untuk tetap bersama?

Pasti akan banyak yang terluka bila kita melakukannya.

Tetapi haruskah kita korbankan lagi perasaan itu yang mulai membara?

Mungkin akan lebih baik jika kau menghilang selamanya.

Kita bisa menjalani hidup masing-masing tanpa harus kembali terjerumus pada hati yang tlah lama diingkari.

Mungkin akan lebih baik.

Tidak seperti sekarang.

Kehadiranmu perlahan mengacaukan kembali perasaanku.

Entah kau merasakan hal yang sama atau tidak.

Namun perasaan rindu yang telah lama tersimpan, kini menguak kembali, menyesakkan.

Rasa ingin terus bersama, saling memberi kabar, perhatian kecil itu, bahkan perasaan takut kehilangan lagi muncul begitu saja.

Namun perlu kusadari.

Butuh waktu.

Dan semua tak lagi sama.

Kita telah memilih jalan yang berbeda.

Pergilah dariku.

Jemput masa depanmu.

Dan aku akan menjemput pula masa depanku.

Mungkin tanpa ada lagi kata KITA.


Senin, 09 Juni 2014

Masa Itu

Hari hari cepat berganti

Tanpa terasa pendewasaan diri pun cepat terjadi


Mereka yang telah pergi

Emtah mengapa satu per satu hadir kembali

Meski hanya seulas senyum

Atau menyapa sambil lalu

Entah untuk menanyakan kabarku

Atau memiliki maksud tertentu


Sudahlah

Aku tak peduli semua itu


Yang harus ku pedulikan ialah rasaku

Jauh jauh telah ku pendam

Namun seiring berjalannya waktu

Lalu mereka hadir lagi dihidupku

Semuanya terasa mudah untuk memunculkan lagi rasaku


Tak bisa ku pungkiri

Senyum ini terlukis lagi


Walau mereka mungkin tak pedulikan itu

Namun dalam diam aku merindukan masa lalu


Kamis, 29 Mei 2014

kamu pilih yang mana? dicintai atau mencintai?

"She never smiled again since last years".

Pernyataan itulah yang dilontarkan Adin kepada Dion mengenai sahabatnya yang terus menerus mengurung diri. Menjauhkan dirinya dari kebahagiaan. Menutup cahaya di matanya dengan segala kepedihan

Bianca. Satu-satunya sahabat Adin untuk saat ini dan mungkin untuk selamanya.

Bianca. Gadis cantik yang bisa dibilang telah memiliki segalanya, namun hanya kurang beruntung dalam hal percintaan.

Bianca mudah sekali jatuh cinta, hal inilah yang sering membuatnya terluka. Namun Bian pintar menata diri sebelumnya. Setelah patah hati, 1 sampai 2 bulan kemudian dia akan bangkit kembali. Namun beda kali ini. Dalam 3 tahun terakhir, kisah cintanya sangat menyayat hati.

Bian pernah menjalin hubungan yang cukup lama dengan salah satu lelaki yang sangat mencintainya. Namun dengan alasan yang tak Bian mengerti, lelaki itu memutuskan untuk mengakhiri hubungan dengannya. Padahal Bian yakin, lelaki itu sangat mencintainya. Dan butuh waktu bagi Bian untuk menghapus kenangan bersamanya.

Satu tahun kemudian, Bian bertemu lagi dengan seorang lelaki yang bisa dibilang Bian jatuh cinta lebih dulu dengannya. Dengan menjadi secret admirer, akhirnya singkat cerita lelaki itu bisa bersamanya. Namun Bian merasa bahwa lelaki itu tidak sungguh-sungguh mencintainya. Perlakuannya sangat berbeda dengan lelaki yang pernah mencintainya dulu. Sejak saat itu Bian menanamkan dalam benaknya, bahwa dicintai lebih baik daripada mencintai.

Setengah terluka Bian bertahan, berharap lelaki itu bisa menjadi apa yang dia harapkan sebagai kekasihnya, namun lama-kelamaan Bian gerah. Akhirnya Bian memutuskan untuk mengakhiri hubungannya.

Bian merasa sangat kecewa kepada dirinya, mengapa ia bisa mudah jatuh cinta kepada seseorang dan tidak memikirkan konsekuensinya jika ia mencintai, maka cepat atau lambat dia akan merasa tersakiti.

Berulang kali Bian melakukan kesalahan itu, namun ia tak pernah jera untuk mencintai lagi.

Tiba saatnya Bian bertemu dengan Ziano.

Bian dan Zian bisa dibilang sama-sama jatuh cinta pada pandangan pertama. Hubungan mereka berjalan dengan baik. Bian telah merasa menemukan seseorang yang tepat untuk dirinya. Begitupun Zian. Zian sangat mencintai Bian. Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk menjalin hubungan ke arah yang lebih serius.

Semenjak itu Bian berbeda. Bian menjadi lebih bahagia, hari-harinya dipenuhi tawa canda, mimpi-mimpi untuk bahagia bersama Zian semakin indah dibangun di benak Bian. Zian selalu menghujani Bian dengan kata cinta, dengan segala ketulusan kasih sayangnya, dengan segala kesungguhan hatinya, Zian akan melakukan apapun demi kebahagiaan Bian. Perhatian yang diberikan Zian telah mencuri hati Bian seutuhnya, sehingga sulit bagi Bian untuk berpaling dari Zian. Zian adalah sesosok pria tampan dan memiliki sikap yang merupakan sosok pria idaman wanita. Bian sangat beruntung meimiliki Zian. Begitupun Zian, memiliki gadis cantik dan pintar yang begitu menyayanginya.

Namun beberapa bulan kemudian Zian berbeda. Ia berubah. Dan Bian tidak tahu apa sebabnya. Lalu Zian menghilang. Menghilang entah kemana. Bian sudah mencarinya kemana-mana, menghubungi siapapun yang mengenal Zian, namun jawaban mereka sama. Mereka tidak mengetahui keberadaan Zian. Ziano bagai hilang ditelan bumi. Namun Zian tidak pernah hilang dari hati Bian. Bian nyaris gila melalui hari-harinya tanpa Zian. Adin selalu berusaha mengembalikan senyuman Bianca kembali, namun Adin tak pernah berhasil.

Bian berbeda. Bian menutup dirinya. Kehilangan Zian benar-benar membuat Bian terpuruk. Bian hanya bisa mengingat hari bahagianya bersama Zian. Saat itu dia bisa tersenyum. Namun pada saat kepedihan itu terasa lagi, dia bisa menangis dalam senyumannya, kemudian kepedihan langsung menyelimuti binar matanya yang dulu cerah. Bian mengurung dirinya dalam 2 minggu terakhir, dia merasa tidak ada lagi gunanya melakukan sesuatu, apalagi mencintai. Mengingat betapa seringnya ia di khianati seorang pria. Sebenarnya Bian ingin bangkit, namun hatinya serasa mati. Ia ingin menumpahkan kepedihannya, namun lidahnya terasa kelu. Dia ingin menulis, namun tangannya terasa kaku. Padahal di dalam kepala mungilnya telah tergantung ribuan kata-kata yang siap dituliskan. Namun Bian merasa terlalu lelah, hingga ia mengabaikan kata-kata yang mungkin akan sedikit meringankan beban dihatinya.

Akhirnya muncul Dion, rekan kerja Adin yang sudah lama memendam perasaan kepada Bian sejak Bian berpacaran pada masa sekolahnya dulu. Iya, Dion. Dion adalah pemerhati Bianca. Secret admirer. Dan dia mampu memendam perasaannya hingga saat ini, belasan tahun lamanya, hingga ia yakin inilah saatnya untuk mengakhiri cinta terpendamnya kepada Bian.

Sejak Dion muncul untuk membangkitkan kembali Bianca yang dulu, Bian mulai tersentuh dan menyerah pada kata "mencintai". Dia memutuskan kembali untuk dicintai seseorang daripada ia harus bersusah payah mencintai seseorang. Toh kebahagiaan itu akan muncul dengan sendirinya dengan sikap-sikap kecil yang dilakukan untuk oleh orang yang bisa mencintainya. Akhirnya perlahan Bian mulai membuka diri untuk Dion. Bian merasa mungkin Dion adalah pelabuhan terakhirnya, karena dengan setia Dion menunggu Bian selama belasan tahun dan memendam rasa sakit ketika melihat Bian bahagia dengan lelaki yang dicintainya dahulu dan Dion ikut terluka saat Bian dicampakkan begitu saja oleh lelaki yang setengah mati dicintai Bian.

Bianca telah kembali.

Ia mampu menjalani harinya seperti sedia kala.

Hingga pada akhirnya Zian datang kembali ke kehidupan Bian 2 tahun berikutnya, setelah Dion mampu merenggut hati Bian dari Ziano.

Bian pun tak memungkiri perasaan untuk Zian masih ia simpan jauh didalam lubuk hatinya yang telah lama ia kubur. Namun Bian tak akan membiarkan Zian merenggut perasaannya kembali. Karena Bian telah memilih untuk terus dicintai. Bukan selalu menicntai secara sepihak.


Minggu, 23 Februari 2014

Teruntuk mereka, Bunda.. Ayah..



Bunda, Ayah..
Semakin hari usiamu semakin bertambah
Semakin pula kau jalani hidup ini dengan tabah
Walau luka hati menjadi semakin parah

Bunda, Ayah..
Badanmu tak lagi sekekar dulu
Ototmu tak lagi sekuat dulu
Langkahmu tak lagi setegap dulu
Tenagamu tak lagi sebesar dulu
Penglihatanmu tak lagi setajam dulu
Pendengaranmu tak lagi sebaik dulu
Kulitmu tak lagi sehalus dulu
Genggamanmu tak lagi seerat dulu
Wajahmu tak lagi serupawan dulu
Rambutmu tak lagi sehitam dulu
Ucapanmu tak lagi sekeras dulu

Guratan di wajahmu
Kian hari semakin jelas
Menjalani cobaan hidup yang keras
Setiap saat keringat kau peras
Karena peluhmu semakin deras

Beribu masalah datang silih berganti
Tapi kau tetap terima dengan sepenuh hati
Walau batin terasa begitu perih
Namun kau anggap ini kisah yang berarti

Kau selalu tersenyum didepan anak-anakmu
Walau tangis kau tahan didalam hatimu
Tak pernah sekalipun kau tunjukkan rasa letih itu
Selalu saja kau simpan dalam-dalam dihatimu

Hingga tiba saatnya,

Selalu saja kau dikecewakan oleh anak-anakmu
Tetapi akan selalu ada maaf untuk anakmu
Walau sebenarnya dirimu hancur
Karena semakin terasa harapanmu semu

Jalan kehidupan yang pahit
Panas yang mampu membakar kulit
Sesekali pernah kau tunjukkan walau sedikit
Karena hati yang telah terlampau sakit

Rabu, 19 Februari 2014

MASA KECIL KAMI


Seketika terbesit dalam ingatan
Belasan tahun yang lalu
Kala canda tawa masih bertakhta di benak kami
Wajah polos penuh suka cita
Tangis nakal seorang bocah
Meski hanya karena sebuah hal sederhana bagi orang dewasa

Keceriaan yang menyelimuti dunia kami
Kemarahan yang sering mucul tanpa bisa kami kendalikan
Kemudian air mata yang mengiringi rasa di hati kami yang saat itu kecewa
Terluka

Dekap hangat orang-orang tersayang di sekeliling kami
Walau terkadang terselip nasihat yang justru membuat kami menangis sejadi-jadi
Namun hanya seketika
Setelah itu dunia kami berwarna lagi
Kami bahagia

Riang tawa kami bagai warna pelangi
Ocehan yang dapat mengganggu mereka, tetapi dapat memuaskan hati kami
Rengekan manja agar mendapat perhatian dari orang-orang di sekeliling kami
Bermain kesana kemari tanpa beban di punggung kami

Bebas berlari sekencang angin tanpa pedulikan larangan mereka
Kemudian kami terjatuh dan terluka
Tetapi setelah itu kami tak kenal rasa takut dan kembali ceria
Kami bermain dengan segala sesuatu yang kami suka
Semua hal itu menggoreskan cerita yang indah pada masa kecil kami

Berkhayal akan sebuah kehidupan di masa depan
Seolah berlagak menjadi orang dewasa
Menurut kami itu indah

Tetapi sekarang, setelah kami dewasa
Kami menyadari bahwa khayalan masa kecil kami tak seindah kenyataan
Dewasa berarti masalah kami bertambah dewasa
Masalah kami semakin besar
Sama seperti postur tubuh kami yang akan menua
Dewasa berarti akan semakin banyak rintangan dan cobaan

Ingin rasanya mengulang kembali masa kecil kami
Masa yang hanya dimiliki oleh kami
Masa indah kala kami mengenangnya kini
Dimana canda tawa, suka duka, serta kepolosan masih menjadi milik kami

Walaupun masa itu kini telah berlalu
Telah usang termakan waktu
Masa itu akan tetap menjadi milik kami
Selamanya

Selasa, 11 Februari 2014

Masih Kamu

Nyaris 2 tahun berlalu..

Malam ini sosok itu hadir lagi di mimpiku. Esok aku akan datangi tempat yang punya banyak cerita tentang kita. Jalan yang sarat akan kisah kita. Setiap kali ku melawati ruas jalan itu, tempat itu, selalu teringat akan dirimu.

"Vidaaaaa!!! Ayo bangun! Katanya kamu mau pergi ke sekolah?". Bunda membangunkanku dengan susah payah, tetapi aku masih terlelap, tak ingin terusik kicauan pagi bunda. Aku masih ingin menyelami mimpiku.

"Vidaaaa... Ya ampun ini anak susah banget sih dibanguninnya."

Aku tetap tidak menghiraukan kicauan itu. Walaupun sejak bunda membangunkanku beberapa menit yang lalu, mimpiku telah lenyap seketika. Kesal aku jadinya. Bunda menghancurkan sedikit kebahagiaan yang menyapaku semalaman ini. Dengan rasa sesal aku pun membuka mataku.

"Bunda apaan sih? Gatau yah kalo Vida lagi mimpi indaaaaaah banget.." ocehku pada bunda.

"Ah bunda ga peduli, yang pasti kamu harus bangun sekarang. Cepet mandi Vid, bunda udah siapin sarapan dibawah."

"Iya iya Vida mandi nih." dengan langkah gontai ku arahkan kakiku menuju kamar mandi.

Saat perjalanan menuju sekolah, aku masih terus melamunkan mimpi semalam. Dimana sosok itu sangat jelas, kebahagiaan yang kurasa juga terlukis sempurna, debar jantung itu pun masih sama. Sama seperti saat aku bersamanya, dulu..

Dalam mimpi itu, aku bertemu lagi denganmu, kau menyapaku, tersenyum padaku, bahkan kau bertanya lagi tentang hubungan kita. Kau ingin kembali, kau terus menghubungiku, kau memintaku meninggalkannya. Semua terasa nyata. Dan entah mengapa aku merasa bahagia walau harus ada yang tersakiti.

Dia.

Iya dia.

Aku telah bersamanya kini, dan kau hadir kembali. Selama ini kemana saja dirimu? Disaat aku terengah-engah sendiri untuk menghapus semua tentang dirimu. Saat dia telah mampu mengisi kekosongan hatiku, kau hadir lagi dengan cinta yang masih sama untukku. Bukankah hal itu sangat menyiksaku? Haruskah kutinggalkan dia demi dirimu yang dahulu memutuskan hubungan denganku?

"Vid? Vid? Lo ngelamunin apa sih? Ajak gue dong hahaha" ledekan Tara sontak membuyarkan lamunanku.

"Eh dari kapan lo disini?" tanyaku pada Tara.

"Daritadi. Heh buruan cerita ada apaan? Vian nunggu lo di kantin tuh. Eh tapi cerita dulu ya sebelum nyamperin Vian."

"Eh Faris ga ada Tar? Dia ga dateng Tar? Dia diundang kan Tar?."

Aku masih mengharapkan sosok itu muncul lagi di depanku. Hari ini ada acara Pentas Seni di sekolahku. Faris yang telah memutuskan pindah ke Bandung beberapa tahun silam juga turut diundang. Hari ini hari yang paling ku nantikan, berharap Faris bisa meluangkan waktunya untuk datang, dan setidaknya bisa bertemu lagi denganku walau hanya sebentar saja.

"What? Faris? Masih zaman Vid nanyain Faris? Please ya Vid, Vian nungguin lo tuh disana, sedangkan lo masih ngelamunin Faris? Ya ampun Vid segitu berartinya Faris buat lo? Ini udah nyaris 2 tahun lebih Vid, lo masih belum move on? Terus kenapa lo terima Vian kalo dipikiran lo masih Faris Faris Faris."

Tara selalu begitu. Setiap kusebut nama Faris, bakat menjadi penceramahnya mucul seketika.

" Tar, calm down please. Gue galau dia lagi baru-baru ini Tar. Ini semua juga karena Vian ga begitu peduli sama keadaan gue Tar. Beda banget sama Faris yang sayangnya setengah mati sama gue, perhatiannya ga pernah berkurang, terus selalu ngeluangin waktu buat gue. Coba Vian Tar? Dia belum serius kaya yang dulu Faris lakuin buat gue Tar. Sumpah gue kangen Faris Tar." tanpa terasa mataku berkaca-kaca mencurahkan isi hatiku yang sesungguhnya selama ini kepada Tara.

"Vid lo serius Vian kaya gitu? Terus kalo ada Faris sekarang, apa yang bakal lo lakuin?"

"Iya Vian kaya gitu Tar. Lo gatau kan? Seberapa sabarnya gue selama ini ngejalanin hubungan sama dia. Tapi dia seolah gamau lepas dari gue. Kalo ada Faris, gue bakal samperin dia, gue mau mengurangi rasa rindu gue selama 2 tahun ini, gue lost contact sama dia, gue mau minta contactnya lagi. Pokoknya gue mau menjalin hubungan baik sama dia. Walaupun kita gabisa balik kaya dulu, setidaknya kita masih berteman baik Tar."

Acara Pentas Seni hampir selesai. Namun aku tidak juga melihat sosok itu. Kesana kemari mataku mencari kehadirannya. Namun tak juga ku tangkap bayangan itu. Dengan penuh rasa kecewa ku pendam amarah yang menguasaiku. Aku berharap kesempatan ini datang sekarang. Namun ternyata Faris tidak ada. Faris tidak datang. Dan beribu pertanyaan bergelayut pasrah di benakku. Lagi-lagi harus kusimpan kerinduanku.

Untuk Faris :

Kisah yang terukir begitu singkat

Waktu yang berlalu terasa begitu cepat

Luka yang tercipta begitu menyayat

Cinta yang pernah ada telah kandas

Janji yang terucap telah teringkar

Kenangan yang kau buat masih membekas

Cahaya kerinduan masih tergambar

Sosok dirimu tak pernah usang

Selalu terpendar kala ku dibalut kerinduan

Aku selalu berdoa Tuhan mempertemukan kita di waktu yang tepat

(Dikutip dari kisah salah seorang teman)


Skenario Terindah

Bukankah pertanyaanmu terjawab lebih cepat dari dugaanmu? Harus kau sadari, bahwa rencana-Nya jauh lebih baik dari apa yang kau renca...