Jumat, 23 September 2016

Di Ambang Batas

Di ambang batas rindu
Ku tantang ia tak tahu malu
Sudah ku coba berdamai pada waktu
Jawabnya sedari dulu, "Kau harus menunggu."

Sedang dirimu? Sudah terlalu jauh
Aksaraku tak sampai hati menyusup dalam rongga dadamu
Ku rasa kau sulit mengeja makna diksiku
Paragraf yang ku susun tak bermakna khusus untukmu

Sepuluh tahun berlalu
Goresan kenangan bagai angin lalu
Mungkin bagimu
Tidak untukku


Sabtu, 06 Agustus 2016

Perlahan ku langkahkan kaki menuju satu pintu yang sebenarnya tak istimewa. Tapi mungkin isinya bisa berdampak luar biasa. Ku siapkan hati dengan sejuta cemas yang menggelora. Sampai tiba ujung sepatuku di depan muka ruang yang mengharuskanku masuk kedalamnya. 

Ketika tubuh ini seluruhnya sudah berada di ruangan itu, waktu terasa berhenti berputar. Semua seolah membeku begitu saja. Aku pun harus kembali menguatkan hati dan menikmati segala arus yang membuaiku dari berbagai arah. Begitu menjanjikan rupanya. Hingga membuatku lupa, masa depan sebenarnya ditentukan setelah ku langkahkan kembali kakiku menjauh dari ruang yang cukup mengukir banyak kenangan.

(segelintir kisah mahasiswi tingkat akhir saat pertama kali menemui dosen pembimbing)
Tak berbeda jauh dari apa yang ku khayalkan
Imajinasi liarku seolah menjadi nyata
Meski tak langsung kau tunjukkan
Tapi yang kau tulis sudah cukup mewakilkan

Hanya aku dan Tuhan yang paham
Semoga kau berkenan
Beberapa harapku kini tak hanya sekedar angan
Apakah lagi-lagi hanya sebuah kebetulan?
Aku rasa tidak

Aku sudah banyak belajar
Bahwa sebenarnya tak ada yang namanya kebetulan
Semua sudah dirancang sedemikian rupa
Lagi-lagi aku hanya bisa tercengang
Pada sebuah takdir yang telah digoreskan

Jumat, 20 Mei 2016

Ketika..

Hangat. Ketika ku putuskan tuk kesekian kalinya membuka album kenangan yang tersisa. Sedikit memang, tapi banyak kisahnya, panjang perjalanannya. Begitu berkesan. Hal sederhana bisa kau ubah menjadi luar biasa dengan cara yang mempesona. 

Jika ku ingat lagi, terakhir pertemuan sekitar 3 bulan lalu, banyak membungkus memori yang sedikitpun tak luput dari ingatan. Rindu. Sudah pasti iya. Tapi aku takut keliru. Itu saja. 

Keliru mengartikan tatap mata yang mendalam. Keliru membahasakan makna tersirat yang kau lontarkan. Keliru menikmati perasaan yang semestinya tak ada.

Kadang kau terasa amat dekat. Begitu sebaliknya. Seringkali kau terasa sangat jauh dari jangkauan. Kau memang dekat, karena ada dalam kenangan. Tapi sesungguhnya ragamu tak tergapai walau sekedar bayang.

Jika ku resapi, kita memang berada pada jalan yang sama. Namun sepertinya tujuanmu berbeda. Tentu tak bisa ku paksakan. Sekarang kita hanya berjalan bersisian. Tanpa menoleh, tanpa saling pandang. Terucap satu huruf pun tidak. Karena tak berani ada yang memulai.

Tak menutup kemungkinan suatu hari kita kan saling menggenggam, karena jalan yang dituju tak lagi bercabang, bermuara pada satu titik yang sama. Suka tidak suka kita kan melangkah sambil berbincang, terikat pada janji yang mungkin tak bisa dilanggar. Melalui hari baru dalam sebuah perjalanan. Merangkai sejuta kisah yang belum tercatat dalam sejarah. Meraih bahagia bersama.

Tak menutup kemungkinan pula kita menemukan jalan bercabang. Sama-sama jatuh hati pada pilihan berbeda. Tak lagi bersisian, tapi bahagia tak bersama. Lalu bertemu kembali suatu hari seketika. Kau menggenggam tangannya, aku berada dalam peluknya. Lalu kita saling sapa layaknya teman yang lama tak jumpa.

Ketika cinta dan takdir sudah angkat bicara, tentu kita tak bisa berbuat apa-apa. Cukup menikmati dan mensyukuri pilihan-Nya. Karena sesungguhnya, kita tidak pernah tahu kita di tempatkan pada jalan yang mana dan seperti apa kondisinya. Jadi, jangan pernah tebak jalan cerita-Nya.

Senin, 16 Mei 2016

Aku baru saja memahami satu hal, apabila kamu sudah mampu tersenyum jika mengingatnya, apabila kamu sudah mampu mengenang semua masa yang dilalui bersamanya, apabila kamu sudah mampu merespon "hai apa kabar?" seolah bertemu teman lama, apabila kamu sudah mampu menatap segala kebahagiaan yang telah dimilikinya, itu tandanya kamu sudah mampu berdamai dengan masa lalu yang pernah membuatmu terluka. Sesederhana itu rasanya. Hanya saja waktu yang seolah enggan bergerak cepat bahkan terasa sangat lamban hingga pernah membuat hati agak tersiksa. Tetapi tenang saja, masa itu terlewati sudah. Kamu juga berhak bahagia kan?

Insya Allah..


Sabtu, 16 April 2016

Bukan dengan tatap mata apalagi bicara
Hanya tulisan yang mampu menjadi perantara komunikasi kita
Tanpa harus merasa malu, tanpa harus merasa canggung nyatanya
Walaupun rasanya masih ada aja sekat didalamnya

Memang, hanya tulisan yang membuat kita menjadi lebih terbuka
Hanya tulisan yang membuat kita menjadi lebih dekat
Hingga kita bisa lupa kalau waktu sudah larut malam

Lewat syair, percakapan, hingga pengalaman
Kita tuangkan secara gamblang
Tak peduli bagaimana tanggapan orang
Hanya kita, tak butuh pengertian yang lainnya

Sabtu, 09 April 2016

Meski lambat dan terseok-seok, aku sudah berlari sejauh ini. Jauh dari pusaran yang selalu siap menenggelamkan dan kembali menyiksa batin. Tak mampu lagi untuk dibawa berputar-putar dalam arus yang rumit. Kemudian tersesat pada jalan yang tak pernah ku mengerti.

Kau selalu saja berusaha menyeretku kembali. Dipaksa menceburkan diri kemudian dimuntahkan lagi sesuka hati. Apa kamu masih punya nyali untuk menyakiti? Mungkin memang tak tahu diri.

Aku sudah tak menoleh barang sedikit. Tapi kau terus saja memanggil-manggil. Dengan nada perih seolah teriris melihatku pergi. Namun ketika ku coba kembali kau tertawa bagai iblis. Sungguh untuk kesekian kalinya aku tertipu pada lolongan lelaki bermulut manis.

Sekarang, aku telah sampai pada kenyataan yang tak henti menamparku bolak-balik. Jangan harap aku membalik badan untuk kembali tersenyum manis. Aku akan terus melangkah kedepan tanpa lagi pernah peduli.

Terkecuali...?

Ah tiada lagi. Aku dan segalanya sudah pergi. Ingat, kau tak usah mencari-cari.

Minggu, 03 April 2016

Sayang, Kamu Tak Pernah Tahu

Apa kamu tahu,
Aku harus melawan jutaan kenangan yang menghujam, saat aku kembali menginjakan kaki di tempat kelam.

Apa kamu tahu,
Aku harus memendam rasa sakit yang tercipta, saat kembali ke masa yang tertinggal.

Mungkin jarak yang akan menciptakan kerinduan.
Mungkin jarak yang akan menambah kedewasaan.
Mungkin jarak yang akan mengajarkan pengorbanan.
Mungkin jarak juga yang akan memupuskan semua harapan.

Selasa, 29 Maret 2016

Singkat. Padat. Jelas. Begitulah isi percakapan darinya. Dingin? Sudah pasti iya. Mengingat sudah ada satpam pengganti yang selalu mengawasinya. Tertawa mengingatnya. Tapi miris menyadarinya. Tak apa. Ia masih mengingat hari spesial itu, sudah bahagia rasanya. Padahal sudah hampir 5 tahun berlalu rupanya. Masih sempat baginya untuk sekedar menuliskan 18 kata yang mampu membuat pipi jadi merona. Kata yang sudah ditunggu dari jauh hari sebelumnya. Dari setahun sebelumnya, tepat pada hari yang sama, menunggu ucapan berikutnya. Bahkan 21 jam sebelumnya pun membuat hati jadi semakin harap-harap cemas. 

Apa dia masih mengingatnya? Jikalau ingat, apa ia masih mampu untuk menyampaikannya? 

Pada akhirnya yang ditunggu datang juga. Tepat pukul 21.18 malam. Saling bertukar kabar? Mungkin tak sempat baginya. Namun diakhir percakapannya, ia bilang, bahwa ia baik-baik saja. Cukup sampai disitu, aku tak memperpanjang percakapan. Mengerti bahwa ia ingin segera menuntaskannya.



(Tapi satu hal yang terus terngiang dari ucapan seseorang padaku "..Karena menjadi yang pertama sudah hal biasa. Yang terakhir lah yang paling ditunggu kehadirannya." Begitu katanya).

Dan kau membuktikannya? Aku masih tak tahu jawabnya. Walau nyatanya, kau memang pernah hadir menjadi yang pertama, tapi kali ini kau datang di penghujung penantian. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, semenjak kau tak lagi menempati posisi pertama.

Sabtu, 26 Maret 2016

Ada jutaan orang di dunia ini yang setiap hari mengalami kejadian sepertimu. 

Menemukan cinta pertama yang menggelora, menemukan cinta sejati mereka. Sayang hanya satu dari seribu yang benar-benar bisa mewujudkan semua mimpi cinta pertama yang hebat itu. 

Sisanya? Ada yang bisa keluar dari jebakan perasaan itu secara baik-baik karena pemilik semesta alam sedang berbaik hati, ada yang berpura-pura bisa mengikhlaskannya pergi.

Mereka berpura-pura mengatakan kepada semua orang kalau dia telah berhasil melupakannya. Pura-pura berlapang dada melepaskannya, tetapi apa yang terjadi saat dia tahu sang kekasih pujaan telah bertunangan atau menikah dengan orang lain? Sakit. Hati mereka berdengking sakit. Saat mereka tak sengaja dipertemukan lagi, hati mereka juga sakit. Sakit sekali. 

Karena mereka berpura-pura. Mereka tak pernah bisa berdamai dengan masa lalunya, tak bisa tersenyum mengenang semuanya. Dia tentu bisa melanjutkan kehidupan senormal orang lain, namun mereka tidak akan pernah bisa berdamai, masa lalu itu terus menelikungnya.

Berpura-pura melupakan.

Tapi ada yang lebih mengenaskan lagi, yaitu orang-orang yang tidak bisa keluar dari situasi tersebut dan tidak juga bisa pula berpura-pura menerima meneruskan hidup. Mereka benar-benar orang-orang yang berubah jalan hidupnya. Berubah. 

Mereka mungkin jauh lelah meninggalkan cinta pertama itu, tapi mereka masih mengingatnya. Satu kali mengingat satu keluhan, satu kali mengenang satu harapan, satu kali membenak satu penyesatan.

Penyesalan. Mereka menyesali jalan hidupnya. Dan itu terus terjadi, tak peduli meski kau sudah menikah dengan seseorang, tak peduli meski kau sudah menemukan kekasih hati yang baru. 

Kenangan itu benar-benar mengubah jalan hidupmu. Kau memang ada di satu titik kisah yang berlebihan.

- Tere Liye, Sang Penandai -

Jumat, 25 Maret 2016

Jika ditanya apa tujuanku dalam menulis, maka aku akan jawab "Untuk mendeskripsikan suasana hati."

Jika ditanya apakah itu salah satu tujuanku dalam cita-cita, maka akan aku jawab "Iya, tentu saja."

Jika ditanya apa yang aku bayangkan jika impian itu terwujud, maka aku akan menjawab "Berterimakasih padamu salah satunya, karena kau juga ikut andil dalam terwujudnya cita-citaku."

Jika ditanya apa tujuan hidupku, maka aku akan menjawab "Bolehkah kau kujadikan salah satu tujuan hidupku?"

Apakah sudah terjawab pertanyaanmu, Tuan? Semoga saja.
Untuk bisa berdamai dengan masa lalu itu kau juga harus menerima semua kenangan itu. Meletakkannya di bagian terpenting, memberikannya singgasana dan mahkota dalam hatimu. Karena bukankah itu semua kenangan yang paling indah, bukan? Paling berkesan, paling membahagiakan. “Ah, kau pasti bertanya jika dia memang kenangan yang paling indah, mengapa kau selalu pilu mengenangnya?"

Mengapa? Karena kau tak pernah mau menerima kenyataan yang ada. Kau selalu menolaknya. Seketika. Tak pernah memberikan celah kepada hati untuk berpikir dari sisi yang lain. Kau membunuh setiap penjelasan. Tidak sekarang, kau membunuh penjelasan itu esok pagi. Tidak esok pagi, kau bunuh penjelasan itu minggu depan, atau waktu-waktu yang akan datang.

“Masalahnya, penerimaan itu bukan sesuatu yang mudah. Banyak sekali orang-orang di dunia ini yang selalu berpura-pura. Berpura-pura menerima tapi hatinya berdusta."

Sayang aku tak bisa mengajarkan cara agar hatimu bisa menerima. Hanya pemilik semesta alam yang bisa dengan mudah mengubah hati. Di luar itu, kita semua harus berlatih untuk belajar menerima. 

Apakah itu sulit? Tidak. Itu mudah. Tapi kau memang tak pernah memulainya. Dan kau terjebak justru dalam segala penyesalan. Tidak boleh, urusan ini tak boleh melibatkan walau sehelai sesal.


Kutipan Novel Tere Liye - Sang Penandai

Senin, 21 Maret 2016

Sama halnya dengan aku jatuh hati pada Musik. Sastra. Seni. Tanah lembab. Guguran daun. Laut. Lembayung. Senja. Langit. Hujan.

Tanpa syarat.

Mereka terlihat begitu memukau tanpa banyak tuntutan.

Tak terkecuali kamu, Tuan (menyamarkan nama seseorang yang rimanya sama)

Kamis, 17 Maret 2016

Sekedar Teringat

Jarak jauh terpisah
Dipisahkan oleh puluhan batas wilayah
Kau di kota pelajar, sedang aku di kota metropolitan

Komunikasi juga terbatas
Tapi rangkaian kata tak punah
Meskipun dipendam dalam diam
Sedikitpun rasa kagum tak pudar

Teringat pada perhatian tersembunyi yang lebih berkesan dibanding perhatian yang sengaja diumbar

Teringat pada senyum yang terkulum dalam diam tapi lebih manis dibanding senyum lebar penuh dusta

Teringat pada sosok yang mengagumkan sekaligus penuh kejutan

Teringat pada janji yang tak pernah terucap namun meyakinkan

Sebuah Perjalanan

Jika salah satu impianmu bisa melakukan perjalanan bersama orang yang kau cintai
Bagaimana jika salah satu impianku juga menjadi teman dalam sebuah perjalanan seseorang yang ku cintai?

Kemanapun langkah kakimu, sejauh apapun jejak yang kan kau tapaki
Aku bersedia untuk selalu mendampingi

Sesulit dan seterjal apapun perjalanan itu
Asalkan denganmu, akan ku lalui

Walau hanya sekedar untuk menikmati secangkir teh hangat, menunggu senja dihamparan ilalang atau menikmati matahari terbit di pesisir pantai

Aku ingin menikmati proses itu denganmu tanpa langkah gontai

Aku ingin membuktikan ceritamu yang berkesan itu menjadi nyata
Ketika kita mampu tanpa henti mengucap kata syukur atas ciptaan dan segala anugerah yang Dia berikan

Tentang alam, tentang perjalanan, dan tentang sebuah perjuangan
Resapi dan kita akan terbuai perasaan yang mendebarkan
Menyenangkan bukan?

Jumat, 11 Maret 2016

Cuaca

Membicarakan cuaca. Cuaca bagi kami adalah metafora. Menanyakan cuaca menjadi ungkapan yang digunakan saat masing-masing pihak menyimpan hal lain yang gentar diutarakan. 

“Bagaimana cuacamu?”

“Aku biru.”

“Aku kelabu.”

Keangkuhan memecah jalan kami, kendati cuaca menalikannya. Kebisuan menjebak kami dalam permainan dugaan, lingkaran rebak-menebak, agar yang tersirat tetap tak tersurat. 

“Bagaimana cuacamu?”

“Aku cerah, sama sekali tidak berawan, kamu?”

“Bersih dan terang. Tak ada awan.”

Batinku meringis karena berbohong. Batinnya tergugu karena telah dibohongi. Namun kesatuan diri kami telah memutuskan demikian: menampilkan cerah yang tak sejati karena awan mendung tak pantas jadi pajangan. 

Cuaca demi cuaca melalui kami, dan kebenaran akan semakin dipojokkan. Sampai akhirnya nanti, badai meletus dan menyisakan kejujuran yang bersinar. Entah menghangatkan atau menghanguskan.

- Dee -

Jumat, 26 Februari 2016

Spasi

Seindah apa pun huruf terukir, dapatkah ia bermakna apabila tak ada jeda? 

Dapatkah ia dimengerti jika tak ada spasi?

Bukankah kita baru bisa bergerak jika ada jarak? Dan saling menyayang bila 
ada ruang? 

Kasih sayang akan membawa dua orang semakin berdekatan, tapi ia tak ingin mencekik, jadi ulurlah tali itu.

Napas akan melega dengan sepasang paru-paru yang tak dibagi.

Darah mengalir deras dengan jantung yang tidak dipakai dua kali.

Jiwa tidaklah dibelah, tapi bersua dengan jiwa lain yang searah.

Jadi jangan lumpuhkan aku dengan mengatasnamakan kasih sayang. 

Mari berkelana dengan rapat tapi tak dibebat.

Janganlah saling membendung apabila tak ingin tersandung.

Pegang tanganku, tapi jangan terlalu erat, karena aku ingin seiring dan bukan 
digiring.

- Dee, Filosofi Kopi -

Kamis, 25 Februari 2016

Surat yang tak Pernah Sampai

Suratmu itu tidak akan pernah terkirim, karena sebenarnya kamu hanya ingin berbicara pada dirimu sendiri. Kamu ingin berdiskusi dengan angin, dengan wangi sebelas tangkai sedap malam yang kamu beli dan tukang bunga berwajah memelas, dengan nyamuk-nyamuk yang cari makan, dengan malam, dengan detik jam... tentang dia. 

Dia, yang tidak pernah kamu mengerti. Dia, racun yang membunuhmu perlahan. Dia, yang kamu reka dan kamu cipta.

Sebelah darimu menginginkan agar dia datang membencimu hingga muak, dia mendekati gila, menertawakan segala kebodohannya, kekhilafannya untuk sampai jatuh hati padamu, menyesalkan magis yang hadir naluriah setiap kali kalian berjumpa. 

Akan kamu kirimkan lagi tiket bioskop, bon resroran, semua tulisannya-dari mulai nota sebaris sampai doa berbait-bait. 

Dan beceklah pipinya karena geli, karena asap dan abu dari benda-benda yang ia hanguskan, bukti-bukti bahwa kalian pernah saling tergila-gila, berterbangan masuk ke matanya. 

Semoga ia pergi dan tak pernah menoleh lagi. Hidupmu, hidupnya, pasti akan lebih mudah.

Tapi, sebelah dari kamu menginginkan agar dia datang, menjemputmu, mengamini kalian, dan untuk kesekian kali, jatuh hati lagi, segila-gilanya, sampai batas gila dan waras pupus dalam kesadaran murni akan Cinta.

Kemudian mendamparkan dirilah kalian di sebuah alam tak dikenal untuk membaca ulang semua kalimat, mengenang setiap inci perjalanan, perjuangan, dan ketabahan hati. 

Betapa sebelah darimu percaya bahwa setetes air mata pun akan terhitung, tak ada yang mengalir mubazir, segalanya pasti bermuara di satu samudra tak terbatas, lautan merdeka yang bersanding sejajar dengan cakrawala dan itulah tujuan kalian. 

Kalau saja hidup tidak ber-evolusi, kalau saja sebuah momen dapat selamanya menjadi fosil tanpa terganggu, kalau saja kekuatan kosmik mampu stagnan di satu titik, maka tanpa ragu kamu akan memilih satu detik bersamanya untuk diabadikan. Cukup satu.

Satu detik yang segenap keberadaannya dipersembahkan untuk bersamamu, dan bukan dengan ribuan hal lain yang menanti untuk dilirik pada detik berikutnya. Betapa kamu rela membatu untuk itu. 

Tapi, hidup ini cair. Semesta ini bergerak. Realitas berubah. Seluruh simpul dari kesadaran kita berkembang mekar. Hidup akan mengikis apa saja yang memilih diam, memaksa kita untuk mengikuti arus agungnya yang jujur tetapi penuh rahasia. Kamu, tidak terkecuali. 

Kamu takut. Kamu takut karena ingin jujur. Dan kejujuran menyudutkanmu untuk mengakui kamu mulai ragu. Dialah bagian terbesar dalam hidupmu, tapi kamu cemas. Kata “sejarah” mulai menggantung hati-hati di atas sana. 

Sejarah kalian. Konsep itu menakutkan sekali. Sejarah memiliki tampuk istimewa dalam hidup manusia, tapi tidak lagi melekat utuh pada realitas. Sejarah seperti awan yang tampak padat berisi tapi ketika di sentuh menjadi embun yang rapuh.

Skenario perjalanan kalian mengharuskanmu untuk sering menyejarahkannya, merekamnya, lalu memainkannya ulang di kepalamu sebagai Sang Kekasih Impian, Sang Tujuan, Sang Inspirasi bagi segala mahakarya yang termuntahkan ke dunia. 

Sementara dalam setiap detik yang berjalan, kalian seperti musafir yang tersesat di padang. Berjalan dengan kompas masing-masing, tanpa ada usaha saling mencocokkan. Sesekali kalian bertemu, berusaha saling toleransi atas nama Cinta dan Perjuangan yang Tidak Boleh Sia-sia. 

Kamu sudah membayar mahal untuk perjalanan ini. Kamu pertaruhkan segalanya demi apa yang kamu rasa benar. Dan mencintainya menjadi kebenaran tertinggimu. 

Lama baru kamu menyadari bahwa Pengalaman merupakan bagian tak terpisahkan dari hubungan yang diikat oleh seutas perasaan mutual. Lama bagi kamu untuk berani menoleh ke belakang, menghitung, berapa banyakkah pengalaman nyata yang kalian alami bersama? 

Sebuah hubungan yang dibiarkan tumbuh tanpa keteraturan akan menjadi hantu yang tidak menjejak bumi, dan alasan cinta yang tadinya diagungkan bisa berubah menjadi utang moral, investasi waktu, perasaan, serta perdagangan kalkulatif antara dua pihak.

Cinta butuh dipelihara. Bahwa di dalam sepak-terjangnya yang serba mengejutkan, cinta ternyata masih butuh mekanisme agar mampu bertahan.

Cinta jangan selalu ditempatkan sebagai iming-iming besar, atau seperti ranjau yang tahu-tahu meledakkan-mu-entah kapan dan kenapa.

Cinta yang sudah dipilih sebaiknya diikutkan di setiap langkah kaki, merekatkan jemari, dan berjalanlah kalian bergandengan. Karena cinta adalah mengalami. Cinta tidak hanya pikiran dan kenangan. 

Lebih besar, cinta adalah dia dan kamu. Interaksi. Perkembangan dua manusia yang terpantau agar tetap harmonis. Karena cinta pun hidup dan bukan cuma maskot untuk disembah sujud. Kamu ingin berhenti memencet tombol tunda. Kamu ingin berhenti menyumbat denyut alami hidup dan membiarkannya bergulir tanpa beban. Dan kamu tahu. itulah yang tidak bisa dia berikan kini.

Hingga akhirnya... 

Di meja itu, kamu dikelilingi tulisan tangannya yang tersisa (kamu baru sadar betapa tidak adilnya ini semua. Kenapa harus kamu yang kebagian tugas dokumentasi dan arsip, sehingga cuma kamulah yang tersiksa?). 

Jangan heran kalau kamu menangis sejadi-jadinya.

Dia, yang tidak pernah menyimpan gambar rupamu, pasti tidak tahu apa rasanya menatap lekat-lekat satu sosok, membayangkan rasa sentuh dari helai rambut yang polos tanpa busa pengeras, rasa hangat uap tubuh yang kamu hafal betul temperaturnya. Dan kamu hanya bisa berbagi kesedihan itu, ketidakrelaan itu, kelemahan itu, dengan wangi bunga yang melangu, dengan nyamuk-nyamuk yang putus asa, dengan malam yang pasrah digusur pagi, dengan detik jam dinding yang gagu karena habis daya. 

Sampai pada halaman kedua suratmu, kamu yakin dia akan paham, atau setidaknya setengah memahami, betapa sulitnya perpisahan yang dilakukan sendirian. 

Tidak ada sepasang mata lain yang mampu meyakinkanmu bahwa ini memang sudah usai. Tidak ada kata, peluk, cium, atau langkah kaki beranjak pergi, yang mampu menjadi penanda dramatis bahwa sebuah akhir telah diputuskan bersama.

Atau sebaliknya, tidak ada sergahan yang membuatmu berubah pikiran, tidak ada kata “jangan” yang mungkin, apabila diucapkan dan ditindakkan dengan tepat, akan membuatmu menghambur kembali dan tak mau pergi lagi. Kamu pun tersadar, itulah perpisahan paling sepi yang pernah kamu alami.

Ketika surat itu tiba di titiknya yang terakhir, masih akan ada sejumput kamu yang bertengger tak mau pergi dari perbatasan usai dan tidak usai. Bagian dari dirimu yang merasa paling bertanggung jawab atas semua yang sudah kalian bayarkan bersama demi mengalami perjalanan hati sedahsyat itu. 

Dirimu yang mini, tapi keras kepala, memilih untuk tidak ikut pergi bersama yang lain, menetap untuk terus menemani sejarah.

Dan karena waktu semakin larut, tenagamu pun sudah menyurut, maka kamu akan membiarkan si kecil itu bertahan semaunya. Mungkin, suatu saat, apabila sekelumit dirimu itu mulai kesepian dan bosan, ia akan bertetiak-teriak ingin pulang. Dan kamu akan menjemputnya, lalu membiarkan sejarah membentengi dirinya dengan tembok tebal yang tak lagi bisa ditembus.

Atau mungkin, ketika sebuah keajaiban mampu menguak kekeruhan ini, jadilah ia semacam mercusuar, kompas, Bintang Selatan, yang menunjukkan jalan pulang bagi hatimu untuk, akhirnya, menemuiku. 

Aku, yang merasakan apa yang kau rasakan. Yang mendamba untuk mengalami. Aku, yang telah menuliskan surat-surat cinta padamu. Surat-surat yang tak pernah sampai.

- Dee, Filosofi Kopi -

Senin, 22 Februari 2016

Menyesal

Tertawa sambil lalu
Menangis tanpa ada yang tahu
Entah mengapa rasanya begitu melelahkan

Dibawa melayang, kemudian dihempaskan
Ribuan kali tanpa memakai perasaan
Didominasi hanya semata karena keegoan

Berandai-andai tanpa henti
Dikecewakan ribuan kali
Begitu saja rutinitas yang kau lakukan
Dikala sebuah perasaan kau jadikan sebuah permainan

Berlaku manis, terucap janji yang membuat teriris
Tutur kata begitu memikat, dihadapkan pada sebuah fakta yang menyakitkan

Benar saja keraguan awalku untuk berada di sisimu
Kini telah terjawab semua oleh waktu

Pemulihan

Dengan suara bergetar
Dengan langkah kaki gemetar
Kekecewaan jelas terpancar

Di tampar ribuan kali
Oleh kenyataan yang menyesakkan hati
Tak jua membuatnya pergi

Ia masih kokoh berdiri
Entah masih terlampau percaya diri
Atau meminta dirobohkan lagi

Sebenarnya hatinya sudah tak mampu
Raganya pun sudah butuh dirangkul
Namun jalan pikirannya yang membuatnya ragu

Terkadang, ia merasa ingin kembali pada masa kecil
Walau ia tahu, itu takkan mungkin

Melihat mereka berlarian
Berceloteh riang
Bersenandung senang
Bagaikan hidup tiada beban

Anak-anak kecil selalu terlihat ceria
Meskipun diselingi tangis air mata
Tak seperti orang dewasa
Melulu diliputi beban dan kekecewaan

Perjalanannya memang masih panjang
Masih banyak hal baru yang lebih menantang

Tapi detik ini ia hanya butuh istirahat sebentar
Sesaat masih tak mampu melanjutkan perjalanan terjal

Ia hanya ingin mencoba mengembalikan senyumannya
Mengembalikan keceriaannya
Mengembalikan hati yang kosong seutuhnya
Suci tak tersentuh rasa kecewa
Ia hanya butuh waktu

Waktu untuk kembali merajut asanya
Waktu untuk kembali memulihkan jiwanya
Waktu untuk kembali menikmati kebahagiaannya

Ia harus menjauh dari sumber kekecewaannya
Ia harus berlari meninggalkan sang pemain cinta
Ia harus menghilang dari sumber sakit hatinya

Tersenyum sebisanya
Menangis sewajarnya
Tertatih dalam diamnya

Karena seseorang yang telah menyia-nyiakan kesetiaannya
Karena seseorang yang telah memporakporandakan hatinya

Terdiam

Tangisku sudah tak terdengar
Suaraku sudah menjadi sebuah bisikan
Lidahku hampir kelu berucap kekecewaan

Menatapmu dari kejauhan
Tak baik juga rupanya
Harusnya aku berlari saja sejak ratusan hari silam
Tak perlu berdiri tegak seolah tegar

Beginilah jadinya
Kau hanya menghampiri dikala kesepian
Berlalu bagai angin dikala senang

Kau selalu datang tanpa diundang
Kau juga pergi begitu tiba-tiba

Sungguh melelahkan permainanmu, Tuan
Aku hanya bisa terpaku, terdiam
Menahan perih jutaan panah yang tiada henti kau hujam
Hatiku telah mati rasa sekarang

Rabu, 17 Februari 2016

Sebenarnya kita hanya perlu menghadirkan Tuhan, keimanan, kedewasaan, kepercayaan, dan kesetiaan. Tak perlu menghadirkan orang ketiga bukan? Karena memang sama sekali tak dibutuhkan. Tapi bagaimana jika syaitan? Tentu kita tak bisa mencegah kehadirannya. Apa ia bisa disebut orang ketiga juga, Tuan?

Senin, 08 Februari 2016

Masih Soal Jarak

Dia memutuskan kembali ke kota pelajar hari ini. Kereta api semakin kan menjauhkan jarakmu dengannya petang ini. Dia akan kembali melanjutkan tugasnya sebagai mahasiswa tingkat akhir di universitas ternama itu. 

Malam itu, kau cukup terkejut ketika ia katakan akan segera kembali ke kota itu. Kau pikir dia masih bisa menetap disini lebih lama lagi. Sebentar saja. Sekiranya masih bisa kembali menghabiskan hari bersama-sama lagi. Tapi ternyata waktu telah berlalu begitu cepat. Tak terasa mereka harus kembali terpisahkan dalam jarak dan waktu yang semakin melebar. Entah sampai kapan.

Lalu kapan waktu kan mengizinkan mereka tuk membuat janji demi sekedar menghabiskan waktu di akhir pekan?
Lalu kapan ia kembali?

Ia hanya terdiam..
Tapi kau selalu menanti

Jumat, 05 Februari 2016

Satu kata darimu. Membuatku tercengang. Dua kata darimu. Membuatku terdiam. Tiga kata darimu. Membuatku bungkam. Belasan kata darimu. Membuatku berpikir panjang. Puluhan kata darimu. Membuatku berbinar.

Mendeskripsikan kehidupan dalam diam, namun tercermin dalam tulisan. Salah satu caraku menikmati sebuah perasaan, menanti hadirmu dalam sebuah permainan kata yang menakjubkan.

Sabtu, 30 Januari 2016

Siapkah Kau Tuk Jatuh Cinta Lagi?

"... Meski bibir ini tak berkata, bukan berarti ku tak merasa ada yang berbeda diantara kita. Dan tak mungkin ku melewatkanmu hanya karena diriku tak mampu untuk bicara bahwa aku inginkan kau ada dihidupku. Siapkah kau tuk jatuh cinta lagi?"

Dalam beberapa detik saja
Disaat kesunyian mendadak menyelimuti kita
Sayup sayup hanya terdengar irama sebait lagu tentang cinta

Tak sadar,
Kita mulai terlarut pada pembicaraan yang ternyata mampu membuat kita terdiam
Tenggelam dalam sebuah angan yang beriringan

Dari situ aku jadi terpikir sebentar
Tentang sebuah jalan menuju masa depan
Berangsur menemukan titik terang
Diikuti tanya yang beragam

Mungkin Tuhan sengaja mengirimmu tuk sekedar menghapus sedikit luka
Mungkin Tuhan sengaja hadirkanmu untuk buatku berdamai dengan masa kelam
Mungkin Tuhan sengaja memberikan perasaan ini tuk bahan pembelajaran
Mungkin Tuhan sengaja membawamu untukku agar terucap sebuah permohonan

Kita sama-sama tak perlu jawaban
Kita hanya sekedar menunggu pembuktian
Kita bersama atau mencari pelarian
Tentunya bahagia di penghujung penantian

Kamis, 28 Januari 2016

Jatuh Cinta

Aku jatuh cinta sejak pertemuan pertama itu

Aku jatuh cinta sejak memandang dibalik punggungmu

Aku jatuh cinta sejak melihat kau kayuh sepeda itu

Aku jatuh cinta sejak kau mainkan gitarmu

Aku jatuh cinta sejak kau geluti diksi puitismu

Aku jatuh cinta sejak menikmati sisa kenangan perjalananmu

Aku jatuh cinta sejak perhatian kecil yang sembunyi-sembunyi itu

Aku jatuh cinta sejak kau menunjukkan rasa gengsimu

Aku jatuh cinta sejak mengamati keangkuhanmu

Aku jatuh cinta sejak tatapan aneh orang-orang menghujammu

Aku jatuh cinta sejak memahami cara berpikirmu

Aku jatuh cinta
Semakin jatuh cinta dengan sang pemilik hati

Semenjak malam itu
Setelah kau mencoba menuntunku dalam kegelapan yang setahun terakhir melingkupiku

Kau mengingatkanku pada-Nya
Karena hanya kepada-Nya aku berharap

Rabu, 27 Januari 2016

Hanya Isyarat

".. Aku sampai di bagian bahwa aku telah jatuh cinta. Namun orang itu hanya dapat kugapai sebatas punggungnya saja. Seseorang yang hadir sekelebat bagai bintang jatuh yang lenyap keluar dari bingkai mata sebelum tangan ini sanggup mengejar. Seseorang yang hanya bisa kukirimi isyarat sehalus udara, langit, awan, atau hujan."


Ku coba semua, segala cara
Kau membelakangiku
Ku nikmati bayangmu
Itulah saja cara yang bisa
Untuk kumenghayatimu
Untuk mencintaimu


Sesaat dunia jadi tiada
Hanya diriku yang mengamatimu
Dan dirimu yang jauh di sana
Ku tak kan bisa lindungi hati
Jangan pernah kau tatapkan wajahmu
Bantulah aku semampumu

Rasakanlah..
Isyarat yang sanggup kau rasa tanpa perlu kau sentuh
Rasakanlah.. Harapan, impian, yang hidup hanya untuk sekejap
Rasakanlah.. Langit, hujan, detak, hangat nafasku


Rasakanlah..
Isyarat yang mampu kau tangkap tanpa perlu kuucap
Rasakanlah.. Air, udara, bulan, bintang, angin, malam, ruang, waktu, puisi


Itulah saja cara yang bisa
Untuk menghayatimu
Untuk mencintaimu

-Dee-

Cinta Dalam Ikhlas

Tak akan lupakanmu
Tapi kuharap bisa mengikhlaskan Cinta
Karena kuyakin rencanaNya lebih Indah
Jika berjodoh kita kan disatukanNya

Tak mau hapuskanmu
Tapi kurela melepasmu kepadaNya
Karena kuyakin pilihanNya yang terbaik
Jika tak bersatu, Allah kan pilihkan jodoh yang lebih baik

Aku mencintaimu
Tapi lebih mengharapkanNya
Aku merindukanmu dalam doa



Salah satu kutipan lirik lagu Cinta Dalam Ikhlas dalam Ost. Halaqah Cinta yang cukup menyentuh hati.

Senin, 25 Januari 2016

3 Serangkai

Tiga serangkai. Begitulah kami menyebutnya dulu. Alasannya sederhana, kemanapun mereka selalu bertiga. Mereka kami juluki si X, si Y, dan si Z. 

Tiga orang lelaki ini selalu bersaing dalam hal apapun, tapi sportif. Itulah yang semakin mengakrabkan mereka. 

Dari dulu sampai sekarang, sedikitpun tak ada yang berubah, mereka masih saja berebut perhatian, saling menunjukkan kepedulian, dan berlomba untuk mencoba lebih dekat. Tentunya dengan cara mereka masing-masing yang unik dan berkarakter. 

Aku suka tertawa sendiri jika mengingatnya. Terlalu kekanak-kanakan sebenarnya, tapi mereka mampu membuat pipi menjadi merona. 

Begini salah satu contohnya dari pertemuan kemarin. 

Ketika kami membuat janji sebuah pertemuan, tapi aku tak tahu dimana lokasinya, mereka awalnya bungkam. Tak sabar aku menunggu respon dari mereka.

Akhirnya, sebut saja D, ia buka suara dan berjanji menungguku di tempat A untuk menjadi seorang penunjuk jalan. Setelah aku menyetujuinya, barulah 3 serangkai meresponnya tak mau kalah.

X: Ditunggu di tempat B, nanti kedalamnya diantar atau dijemput juga boleh.

Menurutku, tempat itu terlalu jauh. Tapi cukup membuatku senang akan responnya.

Y: Ditunggu di tempat C, jam 10. Nanti kita sama-sama ke tkp.

Menurutku, pilihan Y adalah lokasi terdekat dari rumah. Jadi kurang lebih aku menyetujuinya, walau sedikit terpaksa.

Z: Jemput aku dirumah, lalu aku kan tunjukkan jalan. Tempatnya tak jauh dari rumahku.

Satupun dari kami tak ada yang meresponnya.



Hal lainnya, setelah ada insiden rajukan untuk segera pulang, inilah respon yang mereka berikan padaku beberapa saat kemudian.

X: Ayo pulang sekarang, nanti semakin malam.

Y: Pulangnya ditemenin aja ya 

Lalu mereka berdua saling berpandangan, seolah terjadi pembicaraan dalam tatapan mereka yang tak pernah bisa kuartikan. Seperti biasa, X selalu memberikan celah untuk Y agar selangkah lebih maju darinya. Walaupun harapku tak seperti itu. Tak lama kemudian mereka memandang Z secara bergantian.

Z: Sorry, cemburu gak ada dalam kamus gue.




Itu hanya sebagian kecil tingkah laku mereka yang membuat mereka meninggalkan kesan. 

Kata-kata spontan yang meluncur dari mulut mereka serta gelagat tebar pesonanya, membuat mereka menjadi salah satu bagian penting kenangan terindah di bangku sekolah hingga sekarang, ketika kami sama-sama sudah mulai tumbuh menjadi pribadi yang lebih dewasa.

Kita dan Hujan

Hujan selalu menyertai kita
Disaat kita menyepakati sebuah pertemuan
Tak tahu pertanda berkah atau musibah

Seburuk apapun cuacanya
Seberapa banyak halangannya
Toh kita tetap bertemu juga
Hanya sekedar melepas rindu semata

Begitu banyak rintangan dan godaan yang membuat kita ingin menyerah saja
Lagi-lagi niat itu diurungkan
Tak rela menyiakan waktu yang terasa berharga

Minggu, 24 Januari 2016

Obrolan Singkat Semalam

Kau bilang,

"Pendekatan memang menjadi masa yang paling indah.
Mengapa?
Karena pada masa itu hal-hal baik akan muncul pada dua orang yang sedang dimabuk cinta

Ketika kau berhasil mendapatkannya, katakan saja 'pacaran', berarti kau satu langkah menjadi lebih dekat darinya. Setelah itu muncul sebuah kenikmatan yang membuat 'sepasang kekasih' menjadi lebih terbuka atas dasar keinginannya sendiri. Hal ini bisa saja disebabkan karena rasa nyaman yang mulai tercipta.

Bertahun-tahun berikutnya sebuah hubungan terjalin, pasti ada sebuah pertengkaran baik sederhana maupun dianggap luar biasa. Hal ini dikarenakan terlalu banyak harapan yang tak sejalan dengan kenyataan.

Percuma saja menjanjikan banyak hal jika tanpa ada ikatan jelas. Jika sudah seperti ini, siapa yang mau bertanggung jawab? Karena dari awalnya sudah salah, maka sampai kapanpun akan salah.

Jika kamu tak bisa menjanjikan apa-apa, jangan sekali-kali berlagak 'menjalin sebuah hubungan dengan seseorang' seolah ada ikatan jelas diantara kalian. Padahal kalian cuma sekedar 'berpacaran'.

Jika kamu memang serius padanya, datangi orang tuanya, bukan memberinya ribuan janji yang kau pikir bisa kau tepati semua. Karena sesungguhnya cinta itu akan datang dengan sendirinya setelah menikah, tak perlu menjalin hubungan (dalam bentuk apapun) sebelumnya.

Jika kau bersedia menerima kekurangannya, berarti kau telah menerima dia apa adanya. Maka tidak akan timbul permasalahan sepele yang membuang waktu percuma."


Kau bilang, taaruf adalah hal yang seharusnya dilakukan. Tapi jangan kira tanpa persiapan.


Kau bilang, orang tua zaman sekarang terlalu saklek dengan sebuah prinsip 'saya sudah bersusah payah membahagiakan anak perempuan saya, lalu Anda mau membuatnya sengsara?'



Maka dari itu dapat disimpulkan, seolah-olah orang tua zaman sekarang membebani seorang 'calon' untuk anak perempuannya dengan istilah 'mapan'.



Kau bilang, setidaknya seorang laki-laki harus sedikit berupaya lebih giat untuk menyandang status mapan terlebih dahulu sebelum memutuskan memilih calon pendamping hidupnya.


Jika secara lahir dan batin sudah siap, baik proses taaruf maupun tidak, siap dilakukan.

Memang, beberapa bulan terakhir sempat terpikir kembali untuk menjalin sebuah hubungan, bahkan lebih dari itu, terpikir untuk menikah, punya anak, punya rumah. Terkadang iri melihat sepasang kekasih, ingin rasanya ada juga yang menemani. Tapi segera diurungkan niat itu, dilampiaskan dengan menulis, berpetualang, dan menyibukkan diri dengan hal positif lainnya. Karena sekarang memang belum saatnya.

"Kurang lebih begitulah persiapan yang sedang kulakukan sekarang, pastinya tidak untuk sekarang, tapi untuk nanti di masa depan. Hari ini adalah kehidupan sekarang yang kita persiapkan untuk masa depan" Katamu.



Lagi-lagi aku hanya bisa mengelus dada, terpana pada sebuah percakapan barusan yang membuatku semakin mengaguminya sambil terus bergumam dalam hati 'bolehkah dia saja orangnya?'

(obrolan singkat didalam sebuah mobil antara laki-laki yang mencoba membuka pikiran seorang perempuan, dibawah temaram diiringi hingar bingar kendaraan sebelum mengucapkan salam 'sampai jumpa di waktu berikutnya')

Sisi lain, yang kurindukan

Terbangun dengan jutaan kenangan yang tersisa
Teringat beberapa jam lalu waktu berharga sudah berlalu begitu saja
Tercipta sebuah kenangan yang kan membekas indah

Terbangun dengan ribuan harap pada-Nya
Kembali merayu-Nya demi tuk kuatkan jiwa
Jalan terbaik yang bisa diambil adalah mengharap ridho-Nya

Terbangun dengan milyaran rasa yang membuncah
Terngiang satu persatu tiap kata yang keluar dari bibirnya
Menyejukkan hati bila diingat dalam setiap tarikan nafas

Kesimpulannya satu,

Aku hanya terlalu bahagia
Hingga tidurku menjadi tak berkualitas

Bagaimana dengan kau?

Pasti tertidur lelap
Hari ini begitu melelahkan, tapi berkesan bukan?

Kamis, 21 Januari 2016

Membeku, aku selalu rindu

Kamu masih seperti dulu
Membuat siapapun terperangah akan kata-kata kakumu
Sosok yang dingin seolah mampu membuat hati siapapun membeku

Tapi nyatanya, kau malah menghangatkanku

Sikap acuhmu,
Seolah aku dibiarkan sambil lalu
Tapi membuatku selalu rindu
Karena dibalik semua itu kau simpan perhatianmu yang terkadang buatku tersipu

Aku tahu, memang begitu caramu
Seperti itu ciri khasmu
Membuatku selalu tak sabar untuk bertemu

Mungkin orang lain terasa jenuh akan gaya bicaramu
Tapi aku selalu ingin membaca apalagi mendengar ocehan singkatmu
Seolah mampu membiusku setiap waktu

Hanya sebuah akun tumblr dan foto-foto jejak petualanganmu yang dapat mengurangi rasa rinduku
Persepsi dan spekulasi yang kau tuangkan dalam sebuah tulisan
Selalu ku tunggu, selalu tak sabar tenggelam dalam duniamu

Kamu..
Sosok kaku, acuh, yang bertubuh tinggi jangkung
Kesederhanaanmu selalu membuatku terpaku
Itulah yang membuatmu berkharisma sepanjang waktu

Bolehkah kusebut namamu?
Tentunya dalam doaku
Karena nyatanya sedari dulu kau masih dalam pikiranku

Semenjak 10 tahun lalu
Ketika kita masih lugu 
Saat kita masih duduk dibangku sekolah dulu

Kamu sosok yang sepertinya angkuh
Namun selalu mengesankanku
Membuatku berdecak kagum
Sejak pertemuan pertama itu

Senin, 04 Januari 2016

Selain Ibu, Kau Juga Malaikatku Ayah

Ketika aku mengadu dimarahi oleh ibu, kau yang menghiburku
Ketika aku merengek meminta sesuatu, kau yang mengabulkan inginku
Ketika aku marah karena sesuatu, kau yang menenangkanku

Ketika aku tersakiti, kau yang paling kecewa
Ketika aku terjatuh, kau yang paling terluka
Ketika aku tertawa, kau yang paling bahagia

Dalam diam aku mengamatimu, Ayah
Gadis kecilmu yang mulai beranjak dewasa
Kini menyadari bahwa dirimu juga semakin menua

Rambutmu kian memutih, wajah tampanmu memudar seiring waktu bergulir
Kau telah berubah menjadi sosok yang tegas dan berwibawa
Semakin ku kagumi, Ayah

Terkadang tesirat kekhawatiran dalam petuahmu
Tergambar kekecewaan di wajahmu
Terlihat kesedihan di binar matamu

Tapi selalu kau coba tutupi dengan ketegaranmu di depan kami
Kau hanya menginginkan kebahagiaan kami
Tak peduli seberapa sulitnya rintangan yang harus kau lalui

Aku tahu,
Matamu tak lagi setajam dahulu, langkahmu tak lagi secepat dahulu
Tubuhmu tak lagi setegap dahulu, ototmu tak lagi sekuat dahulu

Tapi kau selalu bersikap baik-baik saja di depan kami
Tak ingin membuat kami bersedih
Kau bagaikan batu karang yang selalu kokoh berdiri

Ayah,
Aku hanya bisa berharap selalu menjadi kebanggaanmu
Walaupun tiada berarti dengan pengorbananmu
Setidaknya izinkan aku membuatmu bahagia dengan caraku

Ayah,
Perlahan namun pasti kan ku wujudkan mimpimu yang tak terwujud
Beriringan dengan mimpiku yang ku bangun
Sehingga keinginanmu kan ku capai disusul dengan kesuksesanku

Jangan pernah bosan mendoakan gadis kecilmu yang beranjak dewasa, Ayah

Skenario Terindah

Bukankah pertanyaanmu terjawab lebih cepat dari dugaanmu? Harus kau sadari, bahwa rencana-Nya jauh lebih baik dari apa yang kau renca...