Rabu, 23 September 2015

Diam

Banyak untaian kata yang hanya bergelantung pasrah di pita suara. Meminta untuk diucapkan, namun bibir tak mampu mengejanya. Ribuan kalimat tersusun rapi di dalam kepala, siap untuk diungkapkan. Lagi-lagi mulut hanya bisa terdiam. Gejolak di dalam dada penuh amarah perlu dilampiaskan. Tapi tubuh tak mampu berbuat apa-apa. 

Diam, diam, dan diam
Sampai kapan akan tetap terdiam?

Bersenandung lirih dalam diam
Menangis dalam diam
Memberontak dalam diam
Berceloteh dalam diam
Tertawa dalam diam
Marah  dalam diam
Sakit dalam diam

Lalu apa yang akan berubah jika hanya diam?

Hanya bisa berdoa dan berharap
Lagi-lagi dalam diam

Akhirnya, cukup air mata yang menggenang di pelupuk mata, siap untuk dijatuhkan

Baru dilmulai lagi?

Sepertinya permainan baru saja dimulai. Bukannya sudah usai. Dikira cukup sampai disitu saja, ternyata masih ada lanjutannya. Dikira semuanya membaik seperti sedia kala. Tapi ternyata semakin buruk saja. Perasaan seolah tak lagi ada harganya, berulang kali dipermainkan begitu saja. Janji manis yang pernah terucap sampai mulut berbusa, tapi ternyata tak berarti apa-apa.

Iya, memang belum waktunya. Jika memang belum waktunya, seharusnya tak perlu ada permulaan hingga tak perlu menyelesaikannya suatu ketika. Jika sudah dimulai, bukankah harus segera diselesaikan. Bila tak mau diselesaikan, cukup tau saja, siapa anda sebenarnya.

Topeng yang menjelma menjadi manusia idaman, perlahan mulai menampakkan wajah aslinya. Walau bisa berubah sewaktu-waktu begitu saja. 

Menjadi idaman atau di benci selamanya? Tergantung darimana kau menyikapinya.

Sayap-sayap Patah

Sebuah sayap tercipta dengan bentuk yang indah nan sempurna, satu persatu di patahkan tiap helainya. Jatuh berguguran, terlupa dan diabaikan begitu saja. Namun ia masih nampak indah, karena tiap helai yang hilang, tak seberapa harganya. Masih ada ribuan helai yang mampu membuatnya terlihat memukau. 

Lambat laun, sayap itu mulai menampakkan kosongnya bagian helai didalamnya yang sudah menghilang. Tapi ternyata perlahan-lahan tumbuh sehelai demi sehelai lagi untuk menutupi kekosongan yang tercipta. Sayap itu hampir rusak, tapi ada yang memperbaikinya. 

Ternyata, waktu tak selalu menguntungkan baginya, ada saatnya helaian itu kembali berguguran. Kini helaian baru belum menunjukkan keberadaannya. 

Semakin hari, sayap itu terlihat semakin lemah, kusam, dan tak lagi indah. Selalu saja ada tangan jahil yang merebut paksa helaian miliknya kemudian tak ada kesadaran untuk mengembalikannya.

Mampukah sayap itu bertahan lebih lama lagi? Sudah terlalu banyak ia merelakan patahan sayapnya terbuang begitu saja tanpa ada ultimatum apapun darinya untuk seseorang yang selalu mematahkan sayapnya.

"Hanya bisa berdoa, semoga suatu hari nanti sayap itu kan kembali menjadi sayap yang utuh tanpa ada lagi luka yang tersisa."

Takut

Terlalu takut sebenarnya
Sangat takut

Maju ke depan
Belum siap menghadapinya

Mundur ke belakang
Terjerembap pastinya

Didepan jalan lurus penuh liku
Dibelakang jurang yang dapat membunuh sewaktu-waktu

Diam di tempat?
Harus ada keputusan yang dibuat

Kiri kanan?
Hanya ada dinding yang tak mampu dicapai

Angin membisikan tuk segera lari
Tapi hujan memaksa tuk tetap tinggal

Kemudian mentari datang mencoba menghangatkan
Namun jika terlalu lama kau kan merasa kepanasan

Ingin terpejam saja,
Melanjutkan mimpi yang tertunda
Tapi ternyata mimpi itu selesai begitu saja

Jika malam terjaga,
Pikiran selalu melayang jauh kesana
Sampai saat ini pertanyaan itu belum terjawab semua
Hanya tersisa dugaan sementara
Memaksa untuk pergi
Kemudian memaksa untuk kembali
Terulang puluhan kali
Dengan beragam cerita sedih

Bodoh atau setia
Tak jauh bedanya
Dipermainkan tapi tetap bertahan

Seolah tegar
Padahal sudah hancur menjadi kepingan
Berharap tersadar di kemudian hari
Nyatanya terluka lagi

Yang dia tahu, semua baik-baik saja
Seperti biasanya
Tapi hati selalu mengingkarinya
Bahwa semua ini salah

Iya atau tidak sama sekali
Sama-sama bimbang

Entah apa yang mampu membuatnya bertahan
Cinta tak lagi seindah yang pernah dikenal sebelumnya

Kamis, 17 September 2015

Lagi dan lagi..

Padahal tak seberapa, tapi dianggap luar biasa. Hanya saja kamu tak menyadarinya, sakitnya tak seberapa dari apa yang pernah ia rasakan. Baru segitu saja, kamu sudah menggapnya masalah besar bukan? Luka serius yang terkesan tak ada obatnya. Andai saja kamu tau, seberapa parah luka yang pernah kau torehkan padanya, mungkin kau akan merasa malu jika terlambat menyadarinya. Saat ini yang bisa ia lakukan hanya diam. Menangis didalam senyumannya. Karena sekarang ia menyadari, lukanya sudah semakin parah. Karena kamu selalu menjatuhkannya ribuan kali, sekuat apapun ia berdiri. Seharusnya kau tak mengingkarinya.

Jadi, segitu saja kesabaranmu menghadapinya? Pernahkah kau berpikir seberapa besar kesabarannya untuk menerima berbagai macam ulahmu pada hatinya? Pernahkah kau hitung berapa kali kau membuatnya meneteskan air mata, menghapusnya, kemudian puluhan kali mengulanginya? Pernahkah sedikit saja kau pedulikan hatinya? 

Bisakah kau pertahankan senyumnya sedikit lebih lama, hingga ia pulih dari luka lamanya, dan bisa bangkit berdiri melanjutkan hidupnya, tanpa lagi ada luka yang tersisa?

Tak bisakah?
Kamu yang menyebabkan ia terluka, lalu sampai kapan kamu akan terus melukainya?

Lagi dan lagi

Tak bisa terbayangkan, jika kamu mengalami sakit yang pernah ia rasa. Baru segini saja, kau sudah bertingkah seenaknya.

Coba jika ada waktu, kamu renungkan. Siapa tahu masih ada sedikit maaf lagi yang tersisa di hatinya..

Semoga saja

Rabu, 16 September 2015

Kepalsuan

Sulit jika harus menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang di rasa sesungguhnya. Terkadang hanya seulas senyum yang mampu diberikan agar pertanyaan-pertanyaan itu bisa dihiraukan. Berkata seolah baik-baik saja, namun nyatanya begitu banyak problema.

Memang tak banyak yang tau, bahwa senyum ini palsu. Masih bisa tertawa bersama, binar mata seolah bahagia. Namun sebenarnya dalam hati mengingkarinya, karena sudah terlalu banyak luka.

Terlalu banyak yang mencampuri, seolah peduli, tapi nyatanya hanya keusilan mulut belaka yang berujung sok menggurui.

Pada akhirnya, mulut ini akan tetap membisu. Namun hati dan pikiran melayang jauh entah kemana. Terbuai akan segala keluh kesah yang tanpa ampun menguasai.

Kenyataan yang terjadi, hanya jari jemari yang berbicara melalui tulisan membahasakan kisah yang menari-nari dalam kepala agar sedikit beban bisa dihilangkan walau seujung kuku saja, serta air mata yang bergulir menetes dikala berada dalam peraduan-Nya.

Setidaknya, Dia bisa mengerti tanpa harus penjelasan panjang lebar.

Ya, hanya itulah yang bisa dilakukan untuk mempersiapkan senyum di esok hari. Agar mereka tau, semua baik-baik saja. Aku baik-baik saja. 

Hingga akhirnya mereka bilang, "Kau selalu terlihat ceria." Mereka pun yakin, aku bahagia. Padahal kenyataan tak begitu adanya.

Rindu

Hanya sebatas rindu
Tak lebih dari itu
Apa itu mengganggumu?

Apa kau kan segera hilang dan berlalu?
Apa aku yang memang sengaja membiarkanmu hilang dan berlalu?

Menjalani hari demi hari
Dengan tawa dan dipenuhi duka
Memang tak mudah

Lalu bagaimana cara membuatnya terkubur menjadi satu?
Bisakah menjadi musnah tak tersisa?
Atau mungkin akan tetap bersarang dalam kalbu
Hingga hanya waktu yang menyembuhkannya?

Membiasakan diri tak lagi saling bergantung
Tak semudah itu..

Tujuan

Rasanya enggan mengenal seseorang yang bersikap manis ke segala penjuru, tapi di segala penjuru itu tak satupun yang dipilihnya dijadikan tujuan. Baginya semua hanya permainan belaka, yang bisa ia tinggalkan di kala sudah bosan.

Rasanya lebih baik menunggu sedikit lebih lama, untuk menemukan seseorang yang sudah memiliki tujuan kemana akan dilangkahkan kakinya. Walau sikap manis ia tebar kemana-mana dan ditanamkan pada ribuan hati sekalipun. Bukankah lebih jelas siapa yang pada akhirnya akan menjadi pilihannya?

Kembali

Kehangatan itu, kembali menjalar pada semua unsur tubuhmu
Lahir dan batin

Di saat sesuatu yang kau miliki nyaris pergi dan menghilang, di saat itu pula sulit untuk kau kembali menggapainya, nyaris menyerah dan melepaskan..

Namun tanpa diduga, di saat itu pula mereka kembali, kembali memelukmu, memberikan kedamaian pada jiwamu

Perlahan-lahan, satu persatu, kau kembali memilikinya

Padahal kau sudah berputus asa mempertahankan ikatanmu,
Tapi ternyata mereka juga yang kembali menguatkannya

Hidup memang tak pernah bisa ditebak

Mereka kembali, kembali dalam pelukmu, selalu menghangatkanmu, memberi kebahagiaan untukmu
Seperti dulu

Kita

Awalnya, kita tak pernah saling kenal
Terpikir untuk dekat pun tidak
Setelah itu, hanya sebatas tahu saja
Tak ingin lebih pastinya

Tapi waktu berkata berbeda dari yang kita duga
Kita dipertemukan pada jalan yang sama
Sarat makna untuk terus beriringan

Sesaat, kita merasa nyaman
Sehingga berani berkomitmen untuk mencobanya
Kita bersama

Hari berlalu sangat cepat
Angin pun bertiup semakin kencang
Kita sudah setengah jalan

Tapi apa yang terjadi?
Kita sama sama goyah
Tak ingin lagi berada di jalur yang sama
Kita sudah berbeda

Entah siapa yang perlahan menghancurkannya
Aku, kau, atau dia?

Semua terasa asing bagi kita
Pada akhirnya kita putuskan menyerah

Saling menoreh luka
Sama-sama terjatuh pula
Kita hancur

Tapi hanya untuk beberapa saat saja

Kemudian kepingan itu sedikit demi sedikit kita coba singkirkan
Berharap semua yang pernah terjadi akan terlupa begitu saja

Tapi kita salah
Justru kepingan itu perlahan bersatu kembali untuk melanjutkan sebuah kisah
Dalam keadaan rusak parah penuh tambalan
Dipaksakan untuk terus kembali merajut cerita

Siapa yang sebenarnya egois dan terkesan memaksa?

Di satu sisi,
Kau seolah masih erat menggenggamku dan berkata jangan pergi
Di sisi lain,
Kau memaksaku angkat kaki

Dimanakah kita berada sekarang?
Aku masih tak mengerti

Sekilas Cerita Cinta Masa​ Remaja

Semua berawal dari ekstrakulikuler di sekolah kita, PMR tingkat SMP.

Sabtu pertama, ketika aku sudah memutuskan mendaftarkan diri mengikuti eskul itu, kita dipertemukan begitu saja. Saat itu kau satu tahun lebih tua dariku. Sedangkan aku hanyalah siswi baru yang sangat awam dengan suasana seperti ini. 

Aku mengamatimu dari kejauhan, sedikit terkagum karena sifat pendiammu. Tapi untuk tahu namamu saja aku tak tahu bagaimana.  Malu sudah pasti, tak mungkin bukan terang-terangan aku berkenalan denganmu? Memang aku siapa. Hanya gadis cilik yang baru masuk sekolah menengah pertama. Sabtu pertama, berakhir begitu saja.

Setiap minggu, aku tak sabar untuk berjumpa denganmu di setiap hari sabtu. Walaupun kau tergolong pemalu dan tidak eksis seperti kakak pembina lainnya, kau masih tetap mampu mencuri perhatianku. Dan pada hari itu, tanpa sengaja aku tahu namamu. Mendengar seorang guru meminta bantuanmu dan ia begitu saja memanggilmu. Dari situlah aku tahu siapa namamu.

Tahun terakhir masa jabatanmu, kita yang tergabung dalam satu organisasi pergi ke sebuah tempat di Perkebunan Teh untuk melakukan kegiatan LDK. Pada saat pengumuman pendamping kelompok, aku dikejutkan dengan kamu yang berdiri di depan barisan kelompokku. Mungkinkah kau menjadi pendamping kelompokku? Ah aku masih tak percaya pada awalnya. Tapi ternyata waktu berkata "iya". Kau yang bertanggung jawab atas kelompokku. Sungguh kebetulan yang luar biasa bukan?

Pagi sampai sore, dengan puluhan cerita yang tak ada habisnya aku catat dalam memoriku terajut sempurna dan begitu indah. Mulai dari sifat kaku dan pemalu kamu, lalu saat kamu menyuapi minuman dan makanan aneh ke dalam mulutku, senyuman darimu, hingga wajah khawatirmu jika ada anggota kelompokku yang terpisah. Kau terlihat begitu lucu, juga angkuh.

Tapi tetap saja, kau masih tidak mengenalku bukan? Jawabannya sudah pasti "iya".

Hingga akhirnya, setiap hari setelah itu, aku hanya bisa mencuri pandang jika lewat didepan kelasmu, sengaja lewat didepan kamu saat waktu istirahat di kantin sekolah, atau membantu guru untuk mengantarkan absensi ke kelasmu. Semuanya kulakukan hanya untuk melihatmu saja. Aku tau, aku tak bisa berharap lebih dari itu.

Waktu terus begulir dan kamu telah berada di sekolah menengah atas saat itu. Satu tahun sudah, kita hampir tak bertemu. Pertemuan hanya terjadi saat kau sepulang sekolah mampir ke sekolahku hanya untuk bertegur sapa pada guru dan petugas sekolah. Semua semakin terasa tak mungkin bagiku. Tapi hanya satu harapanku saat itu, aku hanya ingin kita kembali berada di sekolah yang sama suatu hari nanti.

Hari itu pun tiba, kita kembali di pertemukan pada sekolah yang sama. Saat itu kamu sudah kelas 2 SMA. Lagi-lagi aku hanyalah seorang murid baru yang segan dengan seorang senior.

Namun, entah bagaimana ceritanya, kita dipertemukan dalam sebuah akun media sosial dan saling bertegur sapa. Berkenalan dan saling bertukar cerita. Dari mulai seminggu hanya sekali sampai setiap hari kita komunikasi. Walaupun hanya lewat chatting media sosial. Tapi sudah cukup menyenangkan bagiku.

Lambat laun, perhatian itu mulai kau tunjukkan padaku, walaupun kita tak pernah berinteraksi langsung, tetap saja kehangatan selalu membalutku.

Aku ingat, saat ada bazar sekolah menjelang Ramadhan tiba yang merupakan tradisi sekolah kita, aku bertugas menjaga stand kelas dengan menjual aneka minuman dingin. Karena teriknya matahari, terlalu banyak pula stand kelas yang menjual minuman dingin dengan berbagai varian rasa dan masing-masing mampu menarik perhatian peminatnya. Karena ketatnya persaingan, hingga akhir acara, masih banyak sisa minuman di stand kelasku dan juga stand kelasmu. Apa? Kamu juga menjual minuman yang sama? Dan apa yang terjadi saat itu?

Kau dan teman-temanmu berjalan menuju stand kami sambil menjajakkan minuman dingin jualanmu. Sontak membuatku sulit bernapas dan siulan dari dua belah pihak semakin menjadi, kelasmu dan kelasku. Padahal aku saja tak yakin kalau kau mengenalku walau kita setiap hari chatting hingga larut.

Perlahan aku berjalan mundur, untuk menghindari interaksi langsung denganmu, walaupun aku sebenarnya mau, tapi aku terlalu diliputi rasa malu. Sekilas kulihat wajahmu tampak ragu dan juga malu, tapi langkah kakimu seolah meyakinkanmu dan semakin dekat jaraknya denganku. 

Hingga akhirnya kau menemuiku dan menawarkan langsung minuman itu. Mau tak mau, dengan wajah seolah tak malu, aku juga tak segan menawarkan minumanku untukmu. Perdebatan kecil sambil bercanda pun terjadi, sorakan sana sini makin memperkeruh suasana hati. Jantung ini rasanya sudah tak terkontrol lagi. Beginikah rasanya? Ah sudahlah, aku pikir kau juga tak tahu siapa aku. 

Akhirnya, setelah kesepakatan terjadi kita bertukar minuman itu dan sama-sama membayarnya. Aku membeli minuman yang kau tawarkan dan kau membeli minuman yang aku jajakan. Rasa bahagia pun terasa sangat kental diantara kita. Hm.. Mungkin untukku saja. Kamu tidak merasakan hal yang sama sepertinya. Kemudian, selesailah cerita siang hari itu.

Malam harinya, kau menghubungiku dan kau menceritakan kembali kejadian tadi siang bersamaku. Ternyata kamu mengenalku dan memang sengaja menawarkan minuman itu padaku, hanya untuk tahu reaksiku. Perasaan dihati makin tak terkira rasanya, campur aduk menjadi satu. Pantas saja, teman-temanmu begitu antusias menyoraki tingkah kita. Ternyata mereka sudah tahu mengenai kedekatan kita lewat sosial media.

Hingga pada akhirnya, kita berdua membuat janji bertemu untuk sebuah "tabel periodik kimia" yang aku pesan minta tolong dibelikan olehmu saat kau pergi ke toko buku sehari lalu dengan embel-embel kau meminta nomor teleponku lebih dulu. Katamu, biar lebih mudah menghubungiku.

Aku masih ingat, kita bertemu saat jam istirahat sekitar pukul 12.00 sebelum sholat zuhur di depan laboratorium kimia tepatnya di kursi melingkar. Inilah pertemuan pribadi untuk kita pertama kalinya.

Tanpa diduga, dari kejauhan terdengar sorak sorai dan siulan dari kelasmu yang berada tepat dibelakangmu dan juga dari kelasku yang tepat berada dibelakangku karena ternyata mereka sama-sama mengamati gerak gerik dan sikap salah tingkah sejak awal kita bertemu. Posisi kelas kita yang bersebrangan, semakin membuat antusias teman-teman semakin menggebu. Hingga mampu membuat wajah kita sama-sama merona malu saat itu.

Singkat cerita, semakin hari, semuanya terasa sangat menyenangkan bagiku. Aku sangat menikmati menjalin komunikasi denganmu yang semakin lama semakin kompleks intensitas dan topik pembicaraannya.

Hingga pada suatu malam, tepatnya malam minggu sekitar pukul 22.45 kau mengucapkan sebuah kata yang sangat aku tunggu. Kau bilang, kata tersebut adalah kata yang pertama kalinya kau ucapkan kepada seorang wanita selama seumur hidupmu dan wanita pertama itu adalah aku. 

Aku rasa aku mimpi saat itu. Tapi ternyata semua nyata tanpa rekayasa. Kau bersungguh-sungguh mengatakannya. Di penghujung malam hari itu, akupun memutuskan menjawab "iya" atas permintaanmu.

Semua berjalan indah dan terasa luar biasa bagiku. Setiap hari kau selalu menulis cerita baru dalam sebuah perjalanan cintaku dan cintamu. Walau masih diliputi rasa malu-malu, namun perasaan itu tak bisa kita seperti anggap angin lalu. Walaupun kita masih berseragam putih abu, namun gelora cinta itu jelas tampak di mata siapapun.

Hingga tak terasa sudah 2 tahun berlalu dan kita harus terpisah oleh jarak dan waktu yang kita pikir tak mampu menjalani semua itu. Kau harus melanjutkan studimu, sedangkan aku harus siap kapanpun jika perlu menetap di kota lain untuk melanjutkan studiku juga. Kita hanya harus menyiapkan diri berada di kota yang berbeda untuk tetap menjalin suatu hubungan. Tapi ternyata ego masing-masing memutuskan untuk berpisah.

Setelah pertengkaran dan air mata di pinggir danau sore itu, kita memutuskan tak bisa lagi bersama melalui jalan itu. Kita memutuskan menjalani kehidupan masing-masing dengan kisah baru. 

Beberapa tahun berlalu, kita hanya berkomunikasi jika perlu dan saling bertukar kabar jika rindu. Tiada lagi rasa memiliki itu, yang ada hanya rasa pilu. Diiringi janji yang semakin pudar termakan waktu, ternyata kita mampu dan masih menjaga pertemanan itu hingga kini atau nanti saat kita tak lagi mampu. Bisakah?

Saat ini, hampir satu tahun aku tak tahu sedikitpun kabar dari dirimu. Kau seolah hilang di telan waktu. Tak tau lagi harus kemana mencarimu.

Namun ada satu hal yang mampu menguatkanku hingga detik ini, "Sedikit saja mengulas kisah bersamamu, mampu membuatku jatuh cinta berkali-kali padamu dan setidaknya mampu sedikit mengurangi rasa rindu walau kau tak lagi ada disisiku."

Senin, 14 September 2015

Apabila

Kamu tau apa itu soda?
Kamu tau bagaimana rasanya soda?

Soda sebuah minuman yang sekilas tampak seperti air putih
Bening dan terlihat menyegarkan

Tapi setelah mampu memuaskan dahaga
Bagaimana rasanya?

Kamu tau sendiri jawabannya

Jika soda diibaratkan sebentuk perasaan
Perasaan yang diutarakan untuk seseorang
Seseorang yang pada awalnya terlihat biasa saja
Namun pada akhirnya perasaan itu berubah menjadi luar biasa

Bukankah sebuah perasaan bisa terasa begitu menyenangkan?
Walaupun hambar, tapi ada sensasi yang menggelitik pada akhirnya

Begitulah sebuah kisah cinta yang diawali rasa penasaran,
Bergulir dengan perasaan yang menakjubkan
Namun tak dapat di pungkiri, akan tiba rasa hambar
Dan akhirnya tersisa kenangan yang berwarna warni kelak

Jumat, 11 September 2015

September

Hai pemilik kenangan di bulan
September. Hari ini entah kenapa kembali terasa rasa rindu itu. Percakapan konyol, romantis sampai serius, kembali menari-nari dalam ingatanku.

Saat itu, 5 September 2009 dan aku tak tahu kapan jelasnya semua itu berakhir, sampai hari ini 11 September 2015, semua kenangan itu masih utuh. Tak tersentuh apalagi terusik. Tetap sama, indah dari dulu hingga sekarang.

Hanya dengan membaca sisa percakapan singkat yang tersisa di ponselku, mampu membuatku kembali diguyur kehangatan dan kerinduan yang teramat sangat.

Hai,
Aku tak tahu dimana keberadaanmu sekarang. Bahkan memiliki keberanian untuk menanyakan kabarmu saja tidak.

Hal yang bisa ku lakukan saat kembali merindukanmu hanyalah kembali mengulang yang entah untuk keberapa kali, membaca percakapan kita yang tersisa dan membuka kembali untaian tulisan indah yang pernah kau tuliskan untukku.

Mungkin sudah tak berarti lagi di matamu, tapi kamu salah satu seseorang yang selalu punya tempat teristimewa di hatiku.

Septemberku, aku sangat merindukanmu :)

Menjadi Pendengar

Tanpa ada pertanyaan
Apalagi jawaban

Diam,
Tapi sama-sama tahu

Mungkin dengan pandangan yang berbeda
Mungkin pula tersakiti salah satunya

Atau keduanya?

Meski telah terungkap, baru saja
Semua tak lagi mengejutkan
Iya, memang sepeti dicubit rasanya

Ah tapi tak apa
Bukannya dulu pernah sampai teriris hingga berdarah?

Tak perlu dijelaskan
Tak perlu mencari alasan

Aku tau semua
Tanpa dia duga

Ternyata,
Tak ada yang berubah
Maka untuk apa menerka?

Jawabannya jelas sudah
Bukan satu-satunya
Sama seperti masih bersama

Gadis Itu

Gadis berwajah lugu itu
Semua itu palsu
Diam diam pernah mencuri sesuatu darimu

Gadis bertutur kata nan manis itu
Semua itu palsu
Diam diam perkataannya pernah menusukmu

Sungguh, bagimu semuanya palsu

Gadis itu,
Pernah merebut sesuatu darimu
Gadis itu,
Sekali lagi mengoyak hatimu

Memaafkan tidaklah sulit,
Melupakan yang tak mudah

Mungkin hari ini kamu lupa bagaimana rasa itu,
Tapi suatu hari, jika ia nampak lagi didepanmu
Apa kamu bisa lupa bagaimana rasanya?

Semoga pabila saatnya nanti,
Dia akan merasakan perasaan yang sama
Seperti apa yang kamu rasa

Rasa sakit, yang tak kunjung sembuh

Rehat

Hilang dari peredaran,
Bukan berarti punah
Apalagi musnah

Hanya butuh ketenangan sesaat
Jauh dari hingar bingar
Menentramkan jiwa

Kesendirian tidak selalu identik dengan kesepian
Justru kesendirian sangat melatih kemandirian

Menghindari hiruk pikuk interaksi manusia
Tak selamanya terkesan buruk

Diam bukan berarti marah
Sendu bukan berati murung

Bersama tak selalu menguntungkan
Berpisah tak selalu memilukan

Perbedaan Keduanya

Dia pernah bilang,
"Andai saja kita bertemu lebih awal, pasti semua terasa semakin indah. Mengapa aku tidak mengenalmu sedari dulu?"

Kemudian, ia pergi dan waktu belum mengizinkan kita bersama. Tentu ada luka, namun meninggalkan bekas yang indah.

Lalu, hadirlah seseorang yang lain. Dan apa yang terjadi setelah ia juga pergi? Hanya umpatan dalam hati seorang wanita, karena tergurat jelas luka yang disayatkan olehnya.

Wanita itu hanya bisa bilang,
"Andai saja kita tak pernah bertemu sebelumnya, mungkin semuanya akan baik-baik saja. Tentu tak akan ada yang terluka."

Pilihan

Ada beberapa pilihan di sekitar
Tak tau harus berjalan ke arah yang mana
Tak tau harus memilih yang mana

Tak bisakah, Kau saja yang mendekatkannya untukku tanpa harus ku melangkah terlalu jauh?

Tak bisakah, Kau saja yang menunjukkan jalannya bila aku harus tetap melangkah?

Aku hanya takut salah,
Tentu tak tahu mana baik mana buruk

Aku hanya mulai terasa lelah,
Menentukan untuk berjalan ke arah mana

Akankah lelah kan berganti dengan semangat membara?

Semoga, suatu hari nanti

Batas

Masih tetap dalam persepsi masing-masing
Saling tenggelam menyelami pondasi pertahanan itu

Tapi kita masih tetap menyatu bukan?
Tak tau apa yang bisa menyatukan

Perbedaan persepi yang bertolak belakang
Bertahan pada argumen pribadi

Tapi kita bisa berdamai?

Padahal,
Tak tau siapa yang salah, siapa yang benar

Mengharu biru karena batas perbedaan sudah mampu dilalui
Namun dalam hati selalu bertanya,
Lalu kemana lagi kaki ini harus melangkah?

Membenarkan yang salah,
Menyalahkan yang benar

Itulah hebatnya manusia,
Sudah tau salah, tapi tetap bangga

Sebuah Ingatan

Ketika kamu kembali "teringat" pada suatu hal yang tidak menyenangkan, apapun itu tak ada yang bisa menghalangi munculnya sebuah ingatan. Bertubi-tubi, semua memberontak bagai ditarik paksa keluar dari tempat peraduannya. Dampaknya?
Hatimu lagi yang menjadi korban.

Mungkin sudah ratusan hari lalu kejadiannya. Lama tak tersentuh dan sengaja terabaikan. Tapi jika saatnya tiba, ketika ia tiba-tiba kembali "mengganggu", apa yang bisa kamu lakukan?

"Ingatan" itu tak mudah enyah dari kepalamu dan tak sungkan kembali mencabik hatimu. Tanpa permisi kembali mengacaukan bentenganmu.

Apa yang bisa kamu lakukan?

Menghapus? Tentu tidak bisa. Semuanya sudah terlanjur terjadi dan terpahat sempurna didalam hati. Membekas tanpa ampun dan sering meradang tanpa sebab.

Apa yang bisa kamu lakukan?

Menyesalinya? Percuma. Tak ada yang berubah. Semua telah berhasil merusak segalanya.

Lalu apa yang bisa kamu lakukan?

Sampai saat ini, sedikitpun ingatan itu tak pernah luput dari kepala. Setiap detail kejadian masih tergambar jelas tanpa ada bagian yang hilang.

Sebanyak apapun kau coba untuk mengembalikannya seperti semula. Bersih tanpa noda. Tetap saja, ingatan itu sudah terpatri sempurna didalam jiwa.

Selamat untukmu,
Untuk kalian?

Berhasil mengubah tawa menjadi duka. Berhasil membuat senjata dan menghancurkan seenaknya.

"Jangan pernah salahkan aku, bila semua tak akan pernah bisa kembali seperti sedia kala, sehebat apapun kau mencoba."

Sabtu, 05 September 2015

Kamu Yang Berbeda

Kamu yang ada didepanku
Kamu yang hadir memenuhi notifikasiku

Adalah kamu yang berbeda

Entah sudah berapa lama aku merasakan hal itu

Kamu yang ada didepanku
Selalu terasa asing bagiku
Dingin membeku
Bahkan aku ingin selalu bersikap acuh

Kamu yang memenuhi notifikasiku
Selalu mampu menghangatkanku
Dalam keadaan apapun itu
Jadi aku selalu menunggumu

Bagiku
Kamu itu semu

Skenario Terindah

Bukankah pertanyaanmu terjawab lebih cepat dari dugaanmu? Harus kau sadari, bahwa rencana-Nya jauh lebih baik dari apa yang kau renca...