Rabu, 16 September 2015

Kepalsuan

Sulit jika harus menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang di rasa sesungguhnya. Terkadang hanya seulas senyum yang mampu diberikan agar pertanyaan-pertanyaan itu bisa dihiraukan. Berkata seolah baik-baik saja, namun nyatanya begitu banyak problema.

Memang tak banyak yang tau, bahwa senyum ini palsu. Masih bisa tertawa bersama, binar mata seolah bahagia. Namun sebenarnya dalam hati mengingkarinya, karena sudah terlalu banyak luka.

Terlalu banyak yang mencampuri, seolah peduli, tapi nyatanya hanya keusilan mulut belaka yang berujung sok menggurui.

Pada akhirnya, mulut ini akan tetap membisu. Namun hati dan pikiran melayang jauh entah kemana. Terbuai akan segala keluh kesah yang tanpa ampun menguasai.

Kenyataan yang terjadi, hanya jari jemari yang berbicara melalui tulisan membahasakan kisah yang menari-nari dalam kepala agar sedikit beban bisa dihilangkan walau seujung kuku saja, serta air mata yang bergulir menetes dikala berada dalam peraduan-Nya.

Setidaknya, Dia bisa mengerti tanpa harus penjelasan panjang lebar.

Ya, hanya itulah yang bisa dilakukan untuk mempersiapkan senyum di esok hari. Agar mereka tau, semua baik-baik saja. Aku baik-baik saja. 

Hingga akhirnya mereka bilang, "Kau selalu terlihat ceria." Mereka pun yakin, aku bahagia. Padahal kenyataan tak begitu adanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Skenario Terindah

Bukankah pertanyaanmu terjawab lebih cepat dari dugaanmu? Harus kau sadari, bahwa rencana-Nya jauh lebih baik dari apa yang kau renca...