Rabu, 16 September 2015

Sekilas Cerita Cinta Masa​ Remaja

Semua berawal dari ekstrakulikuler di sekolah kita, PMR tingkat SMP.

Sabtu pertama, ketika aku sudah memutuskan mendaftarkan diri mengikuti eskul itu, kita dipertemukan begitu saja. Saat itu kau satu tahun lebih tua dariku. Sedangkan aku hanyalah siswi baru yang sangat awam dengan suasana seperti ini. 

Aku mengamatimu dari kejauhan, sedikit terkagum karena sifat pendiammu. Tapi untuk tahu namamu saja aku tak tahu bagaimana.  Malu sudah pasti, tak mungkin bukan terang-terangan aku berkenalan denganmu? Memang aku siapa. Hanya gadis cilik yang baru masuk sekolah menengah pertama. Sabtu pertama, berakhir begitu saja.

Setiap minggu, aku tak sabar untuk berjumpa denganmu di setiap hari sabtu. Walaupun kau tergolong pemalu dan tidak eksis seperti kakak pembina lainnya, kau masih tetap mampu mencuri perhatianku. Dan pada hari itu, tanpa sengaja aku tahu namamu. Mendengar seorang guru meminta bantuanmu dan ia begitu saja memanggilmu. Dari situlah aku tahu siapa namamu.

Tahun terakhir masa jabatanmu, kita yang tergabung dalam satu organisasi pergi ke sebuah tempat di Perkebunan Teh untuk melakukan kegiatan LDK. Pada saat pengumuman pendamping kelompok, aku dikejutkan dengan kamu yang berdiri di depan barisan kelompokku. Mungkinkah kau menjadi pendamping kelompokku? Ah aku masih tak percaya pada awalnya. Tapi ternyata waktu berkata "iya". Kau yang bertanggung jawab atas kelompokku. Sungguh kebetulan yang luar biasa bukan?

Pagi sampai sore, dengan puluhan cerita yang tak ada habisnya aku catat dalam memoriku terajut sempurna dan begitu indah. Mulai dari sifat kaku dan pemalu kamu, lalu saat kamu menyuapi minuman dan makanan aneh ke dalam mulutku, senyuman darimu, hingga wajah khawatirmu jika ada anggota kelompokku yang terpisah. Kau terlihat begitu lucu, juga angkuh.

Tapi tetap saja, kau masih tidak mengenalku bukan? Jawabannya sudah pasti "iya".

Hingga akhirnya, setiap hari setelah itu, aku hanya bisa mencuri pandang jika lewat didepan kelasmu, sengaja lewat didepan kamu saat waktu istirahat di kantin sekolah, atau membantu guru untuk mengantarkan absensi ke kelasmu. Semuanya kulakukan hanya untuk melihatmu saja. Aku tau, aku tak bisa berharap lebih dari itu.

Waktu terus begulir dan kamu telah berada di sekolah menengah atas saat itu. Satu tahun sudah, kita hampir tak bertemu. Pertemuan hanya terjadi saat kau sepulang sekolah mampir ke sekolahku hanya untuk bertegur sapa pada guru dan petugas sekolah. Semua semakin terasa tak mungkin bagiku. Tapi hanya satu harapanku saat itu, aku hanya ingin kita kembali berada di sekolah yang sama suatu hari nanti.

Hari itu pun tiba, kita kembali di pertemukan pada sekolah yang sama. Saat itu kamu sudah kelas 2 SMA. Lagi-lagi aku hanyalah seorang murid baru yang segan dengan seorang senior.

Namun, entah bagaimana ceritanya, kita dipertemukan dalam sebuah akun media sosial dan saling bertegur sapa. Berkenalan dan saling bertukar cerita. Dari mulai seminggu hanya sekali sampai setiap hari kita komunikasi. Walaupun hanya lewat chatting media sosial. Tapi sudah cukup menyenangkan bagiku.

Lambat laun, perhatian itu mulai kau tunjukkan padaku, walaupun kita tak pernah berinteraksi langsung, tetap saja kehangatan selalu membalutku.

Aku ingat, saat ada bazar sekolah menjelang Ramadhan tiba yang merupakan tradisi sekolah kita, aku bertugas menjaga stand kelas dengan menjual aneka minuman dingin. Karena teriknya matahari, terlalu banyak pula stand kelas yang menjual minuman dingin dengan berbagai varian rasa dan masing-masing mampu menarik perhatian peminatnya. Karena ketatnya persaingan, hingga akhir acara, masih banyak sisa minuman di stand kelasku dan juga stand kelasmu. Apa? Kamu juga menjual minuman yang sama? Dan apa yang terjadi saat itu?

Kau dan teman-temanmu berjalan menuju stand kami sambil menjajakkan minuman dingin jualanmu. Sontak membuatku sulit bernapas dan siulan dari dua belah pihak semakin menjadi, kelasmu dan kelasku. Padahal aku saja tak yakin kalau kau mengenalku walau kita setiap hari chatting hingga larut.

Perlahan aku berjalan mundur, untuk menghindari interaksi langsung denganmu, walaupun aku sebenarnya mau, tapi aku terlalu diliputi rasa malu. Sekilas kulihat wajahmu tampak ragu dan juga malu, tapi langkah kakimu seolah meyakinkanmu dan semakin dekat jaraknya denganku. 

Hingga akhirnya kau menemuiku dan menawarkan langsung minuman itu. Mau tak mau, dengan wajah seolah tak malu, aku juga tak segan menawarkan minumanku untukmu. Perdebatan kecil sambil bercanda pun terjadi, sorakan sana sini makin memperkeruh suasana hati. Jantung ini rasanya sudah tak terkontrol lagi. Beginikah rasanya? Ah sudahlah, aku pikir kau juga tak tahu siapa aku. 

Akhirnya, setelah kesepakatan terjadi kita bertukar minuman itu dan sama-sama membayarnya. Aku membeli minuman yang kau tawarkan dan kau membeli minuman yang aku jajakan. Rasa bahagia pun terasa sangat kental diantara kita. Hm.. Mungkin untukku saja. Kamu tidak merasakan hal yang sama sepertinya. Kemudian, selesailah cerita siang hari itu.

Malam harinya, kau menghubungiku dan kau menceritakan kembali kejadian tadi siang bersamaku. Ternyata kamu mengenalku dan memang sengaja menawarkan minuman itu padaku, hanya untuk tahu reaksiku. Perasaan dihati makin tak terkira rasanya, campur aduk menjadi satu. Pantas saja, teman-temanmu begitu antusias menyoraki tingkah kita. Ternyata mereka sudah tahu mengenai kedekatan kita lewat sosial media.

Hingga pada akhirnya, kita berdua membuat janji bertemu untuk sebuah "tabel periodik kimia" yang aku pesan minta tolong dibelikan olehmu saat kau pergi ke toko buku sehari lalu dengan embel-embel kau meminta nomor teleponku lebih dulu. Katamu, biar lebih mudah menghubungiku.

Aku masih ingat, kita bertemu saat jam istirahat sekitar pukul 12.00 sebelum sholat zuhur di depan laboratorium kimia tepatnya di kursi melingkar. Inilah pertemuan pribadi untuk kita pertama kalinya.

Tanpa diduga, dari kejauhan terdengar sorak sorai dan siulan dari kelasmu yang berada tepat dibelakangmu dan juga dari kelasku yang tepat berada dibelakangku karena ternyata mereka sama-sama mengamati gerak gerik dan sikap salah tingkah sejak awal kita bertemu. Posisi kelas kita yang bersebrangan, semakin membuat antusias teman-teman semakin menggebu. Hingga mampu membuat wajah kita sama-sama merona malu saat itu.

Singkat cerita, semakin hari, semuanya terasa sangat menyenangkan bagiku. Aku sangat menikmati menjalin komunikasi denganmu yang semakin lama semakin kompleks intensitas dan topik pembicaraannya.

Hingga pada suatu malam, tepatnya malam minggu sekitar pukul 22.45 kau mengucapkan sebuah kata yang sangat aku tunggu. Kau bilang, kata tersebut adalah kata yang pertama kalinya kau ucapkan kepada seorang wanita selama seumur hidupmu dan wanita pertama itu adalah aku. 

Aku rasa aku mimpi saat itu. Tapi ternyata semua nyata tanpa rekayasa. Kau bersungguh-sungguh mengatakannya. Di penghujung malam hari itu, akupun memutuskan menjawab "iya" atas permintaanmu.

Semua berjalan indah dan terasa luar biasa bagiku. Setiap hari kau selalu menulis cerita baru dalam sebuah perjalanan cintaku dan cintamu. Walau masih diliputi rasa malu-malu, namun perasaan itu tak bisa kita seperti anggap angin lalu. Walaupun kita masih berseragam putih abu, namun gelora cinta itu jelas tampak di mata siapapun.

Hingga tak terasa sudah 2 tahun berlalu dan kita harus terpisah oleh jarak dan waktu yang kita pikir tak mampu menjalani semua itu. Kau harus melanjutkan studimu, sedangkan aku harus siap kapanpun jika perlu menetap di kota lain untuk melanjutkan studiku juga. Kita hanya harus menyiapkan diri berada di kota yang berbeda untuk tetap menjalin suatu hubungan. Tapi ternyata ego masing-masing memutuskan untuk berpisah.

Setelah pertengkaran dan air mata di pinggir danau sore itu, kita memutuskan tak bisa lagi bersama melalui jalan itu. Kita memutuskan menjalani kehidupan masing-masing dengan kisah baru. 

Beberapa tahun berlalu, kita hanya berkomunikasi jika perlu dan saling bertukar kabar jika rindu. Tiada lagi rasa memiliki itu, yang ada hanya rasa pilu. Diiringi janji yang semakin pudar termakan waktu, ternyata kita mampu dan masih menjaga pertemanan itu hingga kini atau nanti saat kita tak lagi mampu. Bisakah?

Saat ini, hampir satu tahun aku tak tahu sedikitpun kabar dari dirimu. Kau seolah hilang di telan waktu. Tak tau lagi harus kemana mencarimu.

Namun ada satu hal yang mampu menguatkanku hingga detik ini, "Sedikit saja mengulas kisah bersamamu, mampu membuatku jatuh cinta berkali-kali padamu dan setidaknya mampu sedikit mengurangi rasa rindu walau kau tak lagi ada disisiku."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Skenario Terindah

Bukankah pertanyaanmu terjawab lebih cepat dari dugaanmu? Harus kau sadari, bahwa rencana-Nya jauh lebih baik dari apa yang kau renca...