Selasa, 29 Maret 2016

Singkat. Padat. Jelas. Begitulah isi percakapan darinya. Dingin? Sudah pasti iya. Mengingat sudah ada satpam pengganti yang selalu mengawasinya. Tertawa mengingatnya. Tapi miris menyadarinya. Tak apa. Ia masih mengingat hari spesial itu, sudah bahagia rasanya. Padahal sudah hampir 5 tahun berlalu rupanya. Masih sempat baginya untuk sekedar menuliskan 18 kata yang mampu membuat pipi jadi merona. Kata yang sudah ditunggu dari jauh hari sebelumnya. Dari setahun sebelumnya, tepat pada hari yang sama, menunggu ucapan berikutnya. Bahkan 21 jam sebelumnya pun membuat hati jadi semakin harap-harap cemas. 

Apa dia masih mengingatnya? Jikalau ingat, apa ia masih mampu untuk menyampaikannya? 

Pada akhirnya yang ditunggu datang juga. Tepat pukul 21.18 malam. Saling bertukar kabar? Mungkin tak sempat baginya. Namun diakhir percakapannya, ia bilang, bahwa ia baik-baik saja. Cukup sampai disitu, aku tak memperpanjang percakapan. Mengerti bahwa ia ingin segera menuntaskannya.



(Tapi satu hal yang terus terngiang dari ucapan seseorang padaku "..Karena menjadi yang pertama sudah hal biasa. Yang terakhir lah yang paling ditunggu kehadirannya." Begitu katanya).

Dan kau membuktikannya? Aku masih tak tahu jawabnya. Walau nyatanya, kau memang pernah hadir menjadi yang pertama, tapi kali ini kau datang di penghujung penantian. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, semenjak kau tak lagi menempati posisi pertama.

Sabtu, 26 Maret 2016

Ada jutaan orang di dunia ini yang setiap hari mengalami kejadian sepertimu. 

Menemukan cinta pertama yang menggelora, menemukan cinta sejati mereka. Sayang hanya satu dari seribu yang benar-benar bisa mewujudkan semua mimpi cinta pertama yang hebat itu. 

Sisanya? Ada yang bisa keluar dari jebakan perasaan itu secara baik-baik karena pemilik semesta alam sedang berbaik hati, ada yang berpura-pura bisa mengikhlaskannya pergi.

Mereka berpura-pura mengatakan kepada semua orang kalau dia telah berhasil melupakannya. Pura-pura berlapang dada melepaskannya, tetapi apa yang terjadi saat dia tahu sang kekasih pujaan telah bertunangan atau menikah dengan orang lain? Sakit. Hati mereka berdengking sakit. Saat mereka tak sengaja dipertemukan lagi, hati mereka juga sakit. Sakit sekali. 

Karena mereka berpura-pura. Mereka tak pernah bisa berdamai dengan masa lalunya, tak bisa tersenyum mengenang semuanya. Dia tentu bisa melanjutkan kehidupan senormal orang lain, namun mereka tidak akan pernah bisa berdamai, masa lalu itu terus menelikungnya.

Berpura-pura melupakan.

Tapi ada yang lebih mengenaskan lagi, yaitu orang-orang yang tidak bisa keluar dari situasi tersebut dan tidak juga bisa pula berpura-pura menerima meneruskan hidup. Mereka benar-benar orang-orang yang berubah jalan hidupnya. Berubah. 

Mereka mungkin jauh lelah meninggalkan cinta pertama itu, tapi mereka masih mengingatnya. Satu kali mengingat satu keluhan, satu kali mengenang satu harapan, satu kali membenak satu penyesatan.

Penyesalan. Mereka menyesali jalan hidupnya. Dan itu terus terjadi, tak peduli meski kau sudah menikah dengan seseorang, tak peduli meski kau sudah menemukan kekasih hati yang baru. 

Kenangan itu benar-benar mengubah jalan hidupmu. Kau memang ada di satu titik kisah yang berlebihan.

- Tere Liye, Sang Penandai -

Jumat, 25 Maret 2016

Jika ditanya apa tujuanku dalam menulis, maka aku akan jawab "Untuk mendeskripsikan suasana hati."

Jika ditanya apakah itu salah satu tujuanku dalam cita-cita, maka akan aku jawab "Iya, tentu saja."

Jika ditanya apa yang aku bayangkan jika impian itu terwujud, maka aku akan menjawab "Berterimakasih padamu salah satunya, karena kau juga ikut andil dalam terwujudnya cita-citaku."

Jika ditanya apa tujuan hidupku, maka aku akan menjawab "Bolehkah kau kujadikan salah satu tujuan hidupku?"

Apakah sudah terjawab pertanyaanmu, Tuan? Semoga saja.
Untuk bisa berdamai dengan masa lalu itu kau juga harus menerima semua kenangan itu. Meletakkannya di bagian terpenting, memberikannya singgasana dan mahkota dalam hatimu. Karena bukankah itu semua kenangan yang paling indah, bukan? Paling berkesan, paling membahagiakan. “Ah, kau pasti bertanya jika dia memang kenangan yang paling indah, mengapa kau selalu pilu mengenangnya?"

Mengapa? Karena kau tak pernah mau menerima kenyataan yang ada. Kau selalu menolaknya. Seketika. Tak pernah memberikan celah kepada hati untuk berpikir dari sisi yang lain. Kau membunuh setiap penjelasan. Tidak sekarang, kau membunuh penjelasan itu esok pagi. Tidak esok pagi, kau bunuh penjelasan itu minggu depan, atau waktu-waktu yang akan datang.

“Masalahnya, penerimaan itu bukan sesuatu yang mudah. Banyak sekali orang-orang di dunia ini yang selalu berpura-pura. Berpura-pura menerima tapi hatinya berdusta."

Sayang aku tak bisa mengajarkan cara agar hatimu bisa menerima. Hanya pemilik semesta alam yang bisa dengan mudah mengubah hati. Di luar itu, kita semua harus berlatih untuk belajar menerima. 

Apakah itu sulit? Tidak. Itu mudah. Tapi kau memang tak pernah memulainya. Dan kau terjebak justru dalam segala penyesalan. Tidak boleh, urusan ini tak boleh melibatkan walau sehelai sesal.


Kutipan Novel Tere Liye - Sang Penandai

Senin, 21 Maret 2016

Sama halnya dengan aku jatuh hati pada Musik. Sastra. Seni. Tanah lembab. Guguran daun. Laut. Lembayung. Senja. Langit. Hujan.

Tanpa syarat.

Mereka terlihat begitu memukau tanpa banyak tuntutan.

Tak terkecuali kamu, Tuan (menyamarkan nama seseorang yang rimanya sama)

Kamis, 17 Maret 2016

Sekedar Teringat

Jarak jauh terpisah
Dipisahkan oleh puluhan batas wilayah
Kau di kota pelajar, sedang aku di kota metropolitan

Komunikasi juga terbatas
Tapi rangkaian kata tak punah
Meskipun dipendam dalam diam
Sedikitpun rasa kagum tak pudar

Teringat pada perhatian tersembunyi yang lebih berkesan dibanding perhatian yang sengaja diumbar

Teringat pada senyum yang terkulum dalam diam tapi lebih manis dibanding senyum lebar penuh dusta

Teringat pada sosok yang mengagumkan sekaligus penuh kejutan

Teringat pada janji yang tak pernah terucap namun meyakinkan

Sebuah Perjalanan

Jika salah satu impianmu bisa melakukan perjalanan bersama orang yang kau cintai
Bagaimana jika salah satu impianku juga menjadi teman dalam sebuah perjalanan seseorang yang ku cintai?

Kemanapun langkah kakimu, sejauh apapun jejak yang kan kau tapaki
Aku bersedia untuk selalu mendampingi

Sesulit dan seterjal apapun perjalanan itu
Asalkan denganmu, akan ku lalui

Walau hanya sekedar untuk menikmati secangkir teh hangat, menunggu senja dihamparan ilalang atau menikmati matahari terbit di pesisir pantai

Aku ingin menikmati proses itu denganmu tanpa langkah gontai

Aku ingin membuktikan ceritamu yang berkesan itu menjadi nyata
Ketika kita mampu tanpa henti mengucap kata syukur atas ciptaan dan segala anugerah yang Dia berikan

Tentang alam, tentang perjalanan, dan tentang sebuah perjuangan
Resapi dan kita akan terbuai perasaan yang mendebarkan
Menyenangkan bukan?

Jumat, 11 Maret 2016

Cuaca

Membicarakan cuaca. Cuaca bagi kami adalah metafora. Menanyakan cuaca menjadi ungkapan yang digunakan saat masing-masing pihak menyimpan hal lain yang gentar diutarakan. 

“Bagaimana cuacamu?”

“Aku biru.”

“Aku kelabu.”

Keangkuhan memecah jalan kami, kendati cuaca menalikannya. Kebisuan menjebak kami dalam permainan dugaan, lingkaran rebak-menebak, agar yang tersirat tetap tak tersurat. 

“Bagaimana cuacamu?”

“Aku cerah, sama sekali tidak berawan, kamu?”

“Bersih dan terang. Tak ada awan.”

Batinku meringis karena berbohong. Batinnya tergugu karena telah dibohongi. Namun kesatuan diri kami telah memutuskan demikian: menampilkan cerah yang tak sejati karena awan mendung tak pantas jadi pajangan. 

Cuaca demi cuaca melalui kami, dan kebenaran akan semakin dipojokkan. Sampai akhirnya nanti, badai meletus dan menyisakan kejujuran yang bersinar. Entah menghangatkan atau menghanguskan.

- Dee -

Skenario Terindah

Bukankah pertanyaanmu terjawab lebih cepat dari dugaanmu? Harus kau sadari, bahwa rencana-Nya jauh lebih baik dari apa yang kau renca...