Memang
benar apa kata mereka, mencintai itu rumit. Aku mengalaminya sendiri. Katanya,
aku terlalu lama menetap pada sesuatu yang dianggap sulit. Apa bisa dibilang
mustahil? Tapi, bagi Tuhan tidak pernah ada yang mustahil bukan? Katanya, aku hanya
butuh seseorang yang mencintai. Maka dengan begitu, aku bisa bahagia. Katanya,
aku butuh seseorang yang bisa membuatku tertawa setiap hari. Bukan yang selalu
membuatku sesak menangis pada saat mulai terbaring.
Mereka bilang, dicintai itu
anugerah. Mengapa aku terlalu menutup diri dari mereka? Katanya, aku harus
membuka mata dan hati segera. Atau bersiap diri pada kenyataan pahit, kemudian
terluka. Penantianku belum tentu berujung bahagia. Namun hatiku seakan enggan
beranjak kemana-mana. Terlalu nyaman atau terlalu takut mengambil keputusan?
Diam tidak selamanya menguntungkan. Itulah yang mereka katakan. Jika aku tak
sanggup bersuara juga, maka aku harus mundur perlahan tanpa harap. Hatiku
sesungguhnya memang tak realistis. Tapi keyakinanku berkata, “Tunggulah
sebentar lagi.”
Mereka
bertanya, “Apa yang kau lihat darinya?”
Aku diam.
“Lalu apa
yang membuatmu menunggu sebegitu lama?”
Aku diam.
“Jadi apa
kamu punya alasan untuk memilihnya?”
Aku diam.
Tentangmu,
sugguh tak terdeskripsikan. Terlalu banyak. Terlalu membuatku terkesan. Hingga
ketika mereka bertanya, aku seolah tak tahu apa-apa. Masih menerka-nerka.
Meskipun kenyataannya aku memang tak tahu apa-apa. Tapi, hatiku punya
jawabannya. Dan lidahku terlalu kelu untuk menggambarkannya. Jadi, bagaimana mereka
bisa mengerti dan membenarkan keputusan ini?
Tak apa,
sepertinya perasaan ini memang tak butuh pembenaran. Hanya butuh sedikit kesabaran. Meski tak
terdefinisikan, penantianku semoga tak lagi panjang. Denganmu atau dengan
seseorang lain yang menggantikan.
