Rabu, 06 Desember 2017

Pertentangan




Memang benar apa kata mereka, mencintai itu rumit. Aku mengalaminya sendiri. Katanya, aku terlalu lama menetap pada sesuatu yang dianggap sulit. Apa bisa dibilang mustahil? Tapi, bagi Tuhan tidak pernah ada yang mustahil bukan? Katanya, aku hanya butuh seseorang yang mencintai. Maka dengan begitu, aku bisa bahagia. Katanya, aku butuh seseorang yang bisa membuatku tertawa setiap hari. Bukan yang selalu membuatku sesak menangis pada saat mulai terbaring. 

Mereka bilang, dicintai itu anugerah. Mengapa aku terlalu menutup diri dari mereka? Katanya, aku harus membuka mata dan hati segera. Atau bersiap diri pada kenyataan pahit, kemudian terluka. Penantianku belum tentu berujung bahagia. Namun hatiku seakan enggan beranjak kemana-mana. Terlalu nyaman atau terlalu takut mengambil keputusan? Diam tidak selamanya menguntungkan. Itulah yang mereka katakan. Jika aku tak sanggup bersuara juga, maka aku harus mundur perlahan tanpa harap. Hatiku sesungguhnya memang tak realistis. Tapi keyakinanku berkata, “Tunggulah sebentar lagi.”

Mereka bertanya, “Apa yang kau lihat darinya?”
Aku diam.
“Lalu apa yang membuatmu menunggu sebegitu lama?”
Aku diam.
“Jadi apa kamu punya alasan untuk memilihnya?”
Aku diam.

Tentangmu, sugguh tak terdeskripsikan. Terlalu banyak. Terlalu membuatku terkesan. Hingga ketika mereka bertanya, aku seolah tak tahu apa-apa. Masih menerka-nerka. Meskipun kenyataannya aku memang tak tahu apa-apa. Tapi, hatiku punya jawabannya. Dan lidahku terlalu kelu untuk menggambarkannya. Jadi, bagaimana mereka bisa mengerti dan membenarkan keputusan ini?

Tak apa, sepertinya perasaan ini memang tak butuh pembenaran. Hanya  butuh sedikit kesabaran. Meski tak terdefinisikan, penantianku semoga tak lagi panjang. Denganmu atau dengan seseorang lain yang menggantikan.

Skenario Terindah

Bukankah pertanyaanmu terjawab lebih cepat dari dugaanmu? Harus kau sadari, bahwa rencana-Nya jauh lebih baik dari apa yang kau renca...