Kamis, 24 Desember 2015

Selembar Kertasku

Kau ingat?
Aku pernah memberikan selembar kertas putih padamu lengkap bersama tintanya.

Awalnya mungkin kau tampak ragu menerimanya. Takut tak bisa membuat kertas itu menjadi lebih berwarna dan indah. Namun aku tak bosan meyakinkanmu bahwa kamu bisa melakukannya untukku.

Akhirnya dengan sebuah ketulusan, kau terima dan ku percayakan kertas beserta tinta itu padamu.

Waktu mulai bergulir, tanganmu mengukir indah cerita disertai gambar dan warna yang begitu memukau. Begitu indah. Nyaris sempurna. Aku jadi terkesima.

Terus dan terus, tak henti kau berkarya, membuatnya menjadi begitu berharga sampai tak ternilai harganya.

Tetapi waktu tak selamanya membisu. Kertas itu mulai lusuh, karena terus menerus kau gunakan untuk merangkai sebuah kisah cinta tiada jemu. 

Aku merasa was was, takut kau mulai jenuh melukis sebuah cerita, hingga akhirnya nanti kau mengabaikannya, merusaknya, bahkan membuangnya.

Ketakutanku terbukti.

Kertas itu hampir rusak. Warna indah pun sudah tak nampak. Karya sudah tak jelas jalan ceritanya. Gerakan tanganmu mulai melemah. Wajahmu tampak lelah. Hatimu sudah tak karuan. Gambar itu berubah menjadi warna kelam. 

Aku kecewa, berusaha meyakinkanmu mampu membuatnya kembali indah. Tapi percuma.

Kau meremasnya, melemparnya, menginjaknya. Kau sudah jengah. Lalu kau ingin membuangnya?

Bagaimana ini? Aku tak tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Benar saja. Kau membuangnya jauh-jauh dari hidupmu. Tak ingin lagi mengusiknya. Kau langkahkan kakimu menjauh. Kau sudah menyerah dengan kertasku.

Kau mulai mencari kertas putih lain dan menyiapkan warna baru. Siap untuk memulai kisah baru. Tanpa kertas itu, kertas yang pernah aku berikan padamu.

Kertas putih yang kini ada di tanganmu, itu bukan punyaku. Tapi miliknya.

Asal kau tahu, hatiku diibaratkan kertas putih itu, yang dulu pernah ku beri untukmu..

Jumat, 18 Desember 2015

Pertemuan Singkat

Tuhan memang sengaja mempertemukan kita
Semua yang terjadi adalah salah satu dari ribuan rencananya
Meskipun terkadang masih saja terasa tak sempurna
Karena manusia diliputi rasa haus akan pesona

Tuhan memang pernah membiarkan kita bersama
Karena syaitan juga banyak ikut andil didalamnya
Tak henti menggoda untuk melanggar perintah-Nya

Tuhan memang sempat menempatkan kita pada jalan yang sama
Namun bukan berarti itu adalah takdir cinta dari-Nya
Karena selama perjalanan itu kita bisa saling mengenal siapa diri kita sebenarnya
Belum tentu merasa cocok keduanya

Tuhan selalu mempertemukan kita dengan seorang yang tak terduga
Baik yang memberikan bahagia maupun yang menyisakan luka

Tuhan selalu membuat pilihan untuk kita
Tetap tinggal namun terluka
Ataukah menghindar demi bahagia
Bertahan untuk selamanya
Ataukah hanya singgah untuk sesaat

Kamis, 10 Desember 2015

Kemunafikan telah merajarela di sekitar. Mereka telah berani bermain-main dengan perasaan. Tutur kata yang begitu manis, ditunjang dengan 'penampilannya' yang 'agamis' seolah mampu membuat siapapun terpukau.

Padahal mereka tak tahu saja, pengingkarannya tak sesuai dengan ucapan kebaikannya. Mereka dibodohi? Bisa jadi.

Persoalan hati tiada yang tahu, namun dalam titik ini, ia mampu menggoreskan kekecewaan yang begitu dalam. Sehingga aku memandangnya saja enggan. Ketidaksesuaian antara ucapan dan perbuatannya cukup membuatku berlari menjauh. Takut lebih parah terluka olehnya.

Aku masih ingat, dia yang bilang cinta itu tak perlu diumbar. Sejatinya seorang wanita sebaiknya menundukkan pandangan. Tapi apa yang dia lakukan sekarang? Akankah telah luntur ilmu yang dia sebarkan?

Hanya dia dan Tuhan yang tahu..

Goresan lukamu, cukup perih sayang. Sang muslimah yang menjadi idaman, tapi kini tak lagi kujadikan panutan. Terimakasih atas luka yang kau berikan.

Rabu, 02 Desember 2015

Ayah Terhebatku

Semoga saja suatu hari nanti
Aku kan menemui seseorang yang setidaknya mampu mengurangi rasa rinduku padamu jika kau tak lagi mampu berada disisiku

Lelaki yang mampu melindungiku seperti kau
Lelaki yang mampu menjagaku seperti kau
Lelaki yang mampu membimbingku seperti kau

Tapi,
Apa ada lelaki hebat seperti itu, Ayah?

Aku yakin,
Takkan ada lelaki manapun yang sanggup menggantikanmu
Sekalipun pada saatnya nanti ia berstatus sebagai imamku
Karena hanya kau satu, Ayah terhebatku

Tak jarang ku lihat kau duduk termenung dalam diam
Dilingkupi kegundahan yang tak kunjung padam
Terlalu banyak beban pikiran

Sebagai tulang punggung keluarga,
Kau bertanggung jawab atas segala kesejahteraan
Dengan peluh yang menetes di pelipismu
Kau kumpulkan sisa tenaga untuk menghidupi anak istrimu

Dengan perjuanganmu yang takkan terbalas sampai kapanpun
Masih saja anak-anakmu sempat menyakiti dan melukai hatimu

Apa aku selalu mengecewakanmu, Ayah?

Andai saja,
Masih tersisa lelaki di luar sana yang memiliki kesabaran sepertimu
Pilihkan ia menjadi imamku

Skenario Terindah

Bukankah pertanyaanmu terjawab lebih cepat dari dugaanmu? Harus kau sadari, bahwa rencana-Nya jauh lebih baik dari apa yang kau renca...