Kau ingat?
Aku pernah memberikan selembar kertas putih padamu lengkap bersama tintanya.
Awalnya mungkin kau tampak ragu menerimanya. Takut tak bisa membuat kertas itu menjadi lebih berwarna dan indah. Namun aku tak bosan meyakinkanmu bahwa kamu bisa melakukannya untukku.
Akhirnya dengan sebuah ketulusan, kau terima dan ku percayakan kertas beserta tinta itu padamu.
Waktu mulai bergulir, tanganmu mengukir indah cerita disertai gambar dan warna yang begitu memukau. Begitu indah. Nyaris sempurna. Aku jadi terkesima.
Terus dan terus, tak henti kau berkarya, membuatnya menjadi begitu berharga sampai tak ternilai harganya.
Tetapi waktu tak selamanya membisu. Kertas itu mulai lusuh, karena terus menerus kau gunakan untuk merangkai sebuah kisah cinta tiada jemu.
Aku merasa was was, takut kau mulai jenuh melukis sebuah cerita, hingga akhirnya nanti kau mengabaikannya, merusaknya, bahkan membuangnya.
Ketakutanku terbukti.
Kertas itu hampir rusak. Warna indah pun sudah tak nampak. Karya sudah tak jelas jalan ceritanya. Gerakan tanganmu mulai melemah. Wajahmu tampak lelah. Hatimu sudah tak karuan. Gambar itu berubah menjadi warna kelam.
Aku kecewa, berusaha meyakinkanmu mampu membuatnya kembali indah. Tapi percuma.
Kau meremasnya, melemparnya, menginjaknya. Kau sudah jengah. Lalu kau ingin membuangnya?
Bagaimana ini? Aku tak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Benar saja. Kau membuangnya jauh-jauh dari hidupmu. Tak ingin lagi mengusiknya. Kau langkahkan kakimu menjauh. Kau sudah menyerah dengan kertasku.
Kau mulai mencari kertas putih lain dan menyiapkan warna baru. Siap untuk memulai kisah baru. Tanpa kertas itu, kertas yang pernah aku berikan padamu.
Kertas putih yang kini ada di tanganmu, itu bukan punyaku. Tapi miliknya.
Asal kau tahu, hatiku diibaratkan kertas putih itu, yang dulu pernah ku beri untukmu..