Senin, 29 Mei 2017

Bentuk Kepulangan Ramadhan

Ramadhan kali ini, terasa berbeda. Selalu. Ramadhan selalu menyimpan kisah ribuan makna. Setiap tahunnya, pasti ada yang spesial.

Begitupun tahun ini, 1438 H. Tahun 2017. Selama 23 tahun aku bernafas di muka bumi, kali ini rasa ingin tahuku ternyata semakin menjadi. Kadang, aku merasa sangat terlambat. Tapi ku ingat lagi sebuah pepatah, "Bukankah tidak pernah ada kata terlambat dalam sebuah pembelajaran? Apalagi pembelajaran kehidupan." Seolah aku semakin haus akan ilmu. Ilmu agama. Buku-buku pembangun jiwa kubiarkan bertumpuk di kamar, menunggu waktu untuk ku lahap dalam waktu dekat. Aku merasa ingin lebih dan terus belajar lagi mengenai ilmu yang masih dangkal ku miliki. Mengenai agamaku, Rahmatan Lil Alamin. Agama Islam. Ramadhan kali ini, aku meyakinkan diri untuk segera memfokuskan diriku agar lebih banyak mendengar, mencerna, dan menganalisis segala kejadian yang ada di sekelilingku. Tak pernah luput dari benakku, selalu mengharap ridho dan kasih sayang-Nya. Dalam segala bentuk aktivitas yang ku kerjakan.

Hari ini, puasa baru memasuki hari ke-3. Hari pertama dan kedua ku habiskan waktu dengan banyak membaca. Membaca apa saja. Terutama Al-Quran. Selain itu, ada buku lain yang menggugah perhatian sekaligus menguras perasaanku. Kisah tentang sahabat Rasulullah. Sang Khalifah. Amirul Mukminin. Menyelami kalimat demi kalimat yang disusun dalam sebuah novel memberikan gambaran perjuangan yang penuh haru. Aku begitu menikmatinya, seringkali terenyuh dan semakin diliputi rindu.

Hari ini, aku menyaksikan begitu banyak bentuk ‘kepulangan’. Mushola yang setiap hari ku datangi, biasanya sepi. Tapi, Ramadhan membuat mushola yang biasanya hening dan sepi menjadi lebih hangat. Aku bertemu banyak orang. Orang-orang yang dalam kesehariannya (dalam pandanganku, semoga pandanganku salah) begitu cuek dengan seruan-Mu ya Rabb. Aku melihat mereka ramai-ramai membasuh anggota tubuhnya. Mendengar seseorang melantunkan ayat suci-Mu. Melihat seseorang yang biasanya begitu tak peduli, bahkan pada hari Jumat sekalipun, sekarang berkopiah. Alhamdulillah.

Aku berbaik sangka, mungkin hari-hari kemarin, kami datang pada waktu yang berbeda, maka aku tak sempat berpapasan dengan mereka. Tapi hari ini, aku rasanya bahagia dengan pemandangan yang jarang ku lihat. Selesai menunaikan kewajibanku, ku putuskan singgah sebentar pada ‘camp’ tempatku dan teman-teman biasa melepas penat saat jam makan siang ataupun suntuk dengan pekerjaan. Dan yang ku dengar saat itu dari beberapa orang disana, “Yuk, sholat.” Sesungguhnya, kalimat ini agak jarang ku dengar dari mereka. Tapi berbeda dengan hari ini. Alhamdulillah.

Bentuk kepulangan lainnya ku dapati saat beberapa hari sebelum Ramadhan benar-benar tiba. Aku melihat gerbang pemakaman di penuhi antrian kendaraan bermotor. Baik yang butut sampai yang paling mahal sekalipun. Ramadhan kembali menyambungkan tali silaturahmi yang secara harafiah sempat terputus (kecuali dengan doa). Mereka berjejal menyambangi orang terkasih. Ziarah. 

Tak perlu jauh-jauh mengamati lingkungan sekitarku, aku pun merasa demikian. Ramadhan juga mampu membimbingku untuk lebih memahami apa itu arti kata ‘pulang’. Dan rasa rindu semakin membalutku dalam ketidakberdayaan yang hakiki, kecuali atas rahmat-Mu.

Jumat, 26 Mei 2017

Sebuah Pertanyaan


Bukan tentang siapa yang lebih dulu, tapi siapa yang lebih pantas. Bukan tentang apa yang kau suka, tapi tentang yang Dia ridhoi. Bukan tentang mengapa ia selalu ada dalam bayangmu, tapi tentang ia yang setia mendoakanmu.

Sekali, dua kali, bahkan berulang kali. Butuh berapa lama perasaanmu tumbuh kemudian di pangkas habis. Selanjutnya tumbuh lagi, kemudian dipangkas lagi. Sampai kapan? Kamu tak pernah tahu jawabnya bukan? Karena sebenarnya banyak pertanyaan-pertanyaan yang tidak ada jawabannya. Bukan tidak ada, mungkin lebih tepat tidak perlu dijawab. Karena lambat laun, dengan seiring berjalannya waktu pertanyaan itu akan terjawab dengan sendirinya, tanpa harus kamu tanya, tanpa harus kamu cari tahu jawabannya.


Memang benar, setiap pertemuan pasti berujung perpisahan. Sudah mutlak. Tapi kenapa kamu masih terus mengharap pertemuan itu terjadi? Sedang kamu sudah tau jawabannya. Jadi, ada juga pertanyaan yang tanpa harus kamu tanya, sudah tersedia jawabnya dengan gamblang.

Perihal dia yang datang dan pergi sesuka hati, biarkan saja. Toh jika memang ia ditakdirkan bersanding denganmu, selama apapun kamu menunggu, sejauh apapun dia menjauh, suatu hari akan datang mengetuk pintu rumahmu didampingi orang tua tercinta. Bukankah Dia sudah mengatur segalanya sedemikian rupa dengan begitu sempurna? Kamu saja yang tidak sabar bukan? Tunggulah.. Percayalah.. tiada kesabaran yang sia-sia.

Sederhana saja, jika bukan dia yang kau mau, mungkin dengan dia yang Tuhan atur.


Skenario Terindah

Bukankah pertanyaanmu terjawab lebih cepat dari dugaanmu? Harus kau sadari, bahwa rencana-Nya jauh lebih baik dari apa yang kau renca...