Ramadhan
kali ini, terasa berbeda. Selalu. Ramadhan selalu menyimpan kisah ribuan makna.
Setiap tahunnya, pasti ada yang spesial.
Begitupun tahun
ini, 1438 H. Tahun 2017. Selama 23 tahun aku bernafas di muka bumi, kali ini rasa ingin tahuku ternyata semakin menjadi. Kadang, aku merasa sangat terlambat. Tapi ku ingat lagi sebuah pepatah, "Bukankah tidak pernah ada kata terlambat dalam sebuah pembelajaran? Apalagi pembelajaran kehidupan."
Seolah aku semakin haus akan ilmu. Ilmu agama. Buku-buku pembangun jiwa kubiarkan bertumpuk di kamar, menunggu waktu untuk ku lahap dalam waktu dekat. Aku merasa ingin lebih dan terus belajar lagi mengenai ilmu yang masih dangkal ku miliki. Mengenai agamaku, Rahmatan Lil Alamin. Agama Islam. Ramadhan kali ini, aku meyakinkan diri untuk segera memfokuskan diriku agar lebih banyak
mendengar, mencerna, dan menganalisis segala kejadian yang ada di sekelilingku.
Tak pernah luput dari benakku, selalu mengharap ridho dan kasih sayang-Nya. Dalam
segala bentuk aktivitas yang ku kerjakan.
Hari ini,
puasa baru memasuki hari ke-3. Hari pertama dan kedua ku habiskan waktu dengan
banyak membaca. Membaca apa saja. Terutama Al-Quran. Selain itu, ada buku lain
yang menggugah perhatian sekaligus menguras perasaanku. Kisah tentang sahabat
Rasulullah. Sang Khalifah. Amirul Mukminin. Menyelami kalimat demi kalimat yang
disusun dalam sebuah novel memberikan gambaran perjuangan yang penuh haru. Aku begitu
menikmatinya, seringkali terenyuh dan semakin diliputi rindu.
Hari ini,
aku menyaksikan begitu banyak bentuk ‘kepulangan’. Mushola yang setiap hari ku
datangi, biasanya sepi. Tapi, Ramadhan membuat mushola yang biasanya hening dan
sepi menjadi lebih hangat. Aku bertemu banyak orang. Orang-orang yang dalam
kesehariannya (dalam pandanganku, semoga pandanganku salah) begitu cuek dengan
seruan-Mu ya Rabb. Aku melihat mereka ramai-ramai membasuh anggota tubuhnya. Mendengar seseorang melantunkan ayat suci-Mu. Melihat
seseorang yang biasanya begitu tak peduli, bahkan pada hari Jumat sekalipun,
sekarang berkopiah. Alhamdulillah.
Aku berbaik
sangka, mungkin hari-hari kemarin, kami datang pada waktu yang berbeda, maka
aku tak sempat berpapasan dengan mereka. Tapi hari ini, aku rasanya bahagia
dengan pemandangan yang jarang ku lihat. Selesai menunaikan kewajibanku, ku
putuskan singgah sebentar pada ‘camp’ tempatku dan teman-teman biasa melepas
penat saat jam makan siang ataupun suntuk dengan pekerjaan. Dan yang ku dengar
saat itu dari beberapa orang disana, “Yuk, sholat.” Sesungguhnya, kalimat ini
agak jarang ku dengar dari mereka. Tapi berbeda dengan hari ini. Alhamdulillah.
Bentuk kepulangan
lainnya ku dapati saat beberapa hari sebelum Ramadhan benar-benar tiba. Aku
melihat gerbang pemakaman di penuhi antrian kendaraan bermotor. Baik yang butut
sampai yang paling mahal sekalipun. Ramadhan kembali menyambungkan tali
silaturahmi yang secara harafiah sempat terputus (kecuali dengan doa). Mereka berjejal
menyambangi orang terkasih. Ziarah.
Tak perlu
jauh-jauh mengamati lingkungan sekitarku, aku pun merasa demikian. Ramadhan juga
mampu membimbingku untuk lebih memahami apa itu arti kata ‘pulang’. Dan rasa rindu
semakin membalutku dalam ketidakberdayaan yang hakiki, kecuali atas rahmat-Mu.
