Selasa, 30 Juni 2015

Terlalu banyak rahasia yang tersimpan di antara kita
Terasa lelah untuk memendam semuanya
Namun tak kuasa apabila mengetahui kebenarannya

Mencoba saling tersenyum
Walau terselip perih di hati
Mencoba saling menatap
Walau tersimpan air mata yang kan membasahi

Terlalu sakit untuk di simpan
Terlalu sulit untuk di ucap

Mencoba membentengi diri
Namun tak kuasa menahan terpaan yang silih berganti

Ingin menggapai terasa sulit
Melepaskan begitu sakit

Terpaku pada suatu hal yang tak pasti
Hingga kini menyiksa diri
Pergilah menjauh

Jika kau kan kembali berlalu
Hampiri tujuanmu
Tinggalkan aku
Perlahan

Kau,
Jangan terus datang
Jika kan segera menghilang

Selasa, 23 Juni 2015

Maaf..

Tak peduli sekeras apa kau memaksa kembali masuk ke dalam hati. Tak peduli sehebat apa kau mencoba merayu. Tak peduli semanis apa perlakuanmu padaku. Aku akan tetap berdiri disini. Bertahan pada keputusan yang pada awalnya sulit untuk ku lalui. Bertahan pada keputusan yang menurutmu adalah jalan terbaik. Bahkan saat itu kau sendiri yang bilang bahwa semuanya tak lagi sama. Sejak saat itu, aku memberanikan diri untuk menjauh, sangat jauh. Agar mudah bagiku melalui hari lagi tanpamu, sama seperti saat belum pernah mengenalmu. Lalu, sekarang mengapa kau hadir kembali? Menyesal?

Maaf, tak semudah itu kau miliki kembali hatiku yang sudah terlanjur tak tersisa untukmu.

Senin, 22 Juni 2015

Sebaiknya,
Jangan pernah datang jika akan menghilang

Sebaiknya,
Jangan pernah berjumpa jika akan berpisah

Sebaiknya,
Jangan pernah ada sapa jika akan terabaikan

Sebaiknya,
Jangan pernah menyentuh jika akan menjatuhkan

Sebaiknya,
Jangan menggenggam jika akan melepaskan

Sebaiknya,
Jangan beri perhatian jika hanya dijadikan pelarian

Sebaiknya,
Jangan memberi harapan jika semuanya angan

Sebaiknya,
Jangan menggoda jika tak dijadikan satu-satunya

Sebaiknya,
Jangan pernah berjanji jika akan mengingkari

Sebaiknya,
Jangan pernah tersenyum jika tak bisa termiliki

Sebaiknya,
Jangan menoreh luka jika tak mampu mengobati

Silahkan pergi dan jangan pernah kembali
Semuanya sudah begitu menyakitkan
Sehingga enggan untuk kembali
Biarlah tetap menjadi kenangan


Pertama kalinya, merasakan perasaan yang tidak seharusnya menjadi begitu menyiksa. Dari awal, sudah banyak pertanda yang seolah tak mengizinkan. Namun terabaikan begitu saja karena gelora asmara yang menggebu sempurna. Biasanya tak sampai serumit dan sesakit ini. Kali ini mampu memberatkan desah nafas dan memenuhi kepala hingga terasa membingungkan. Terlalu takut untuk memulai atau terlalu takut meninggalkan? Sampai saat ini belum terjawab. Kenangan indah muncul sebagai penggairah untuk tetap bertahan namun seiring hadirnya kenangan itu, muncul ingatan kurang menyenangkan yang membuat ingin segera berlari menjauh. Berkali-kali terucap dalam hati, bahwa semua tak nyata, tak boleh terpedaya, namun tetap tergoda. Siapa yang bodoh sebenarnya? Aku yang bertahan atau kau yang meninggalkan? Setiap kali dibawa terbang melayang, pada akhirnya harus terjerembap pada jurang kenyataan yang menyakitkan. Berulang kali. Namun seolah tak berpengaruh pada perasaan yang masih tersisa, tak masuk di akal. Semua masih terasa samar, salah paham belaka atau memang ada sebuah rencana. Tak tahu harus bersikap bagaimana, beranjak atau diam di tempat?


Jumat, 19 Juni 2015

Sebuah Permainan

Ingat,

Ini hanya sebuah permainan

Abaikan saja

Jangan goyah

Tetap kuatkan pertahanan



Ingat,

Luka yang pernah ditorehkan

Senyum yang selalu ditebarkan

Perhatian yang selalu diumbar

Cinta yang selalu ditanamkan

Bukan untuk dirimu seorang



Ingat,

Kau tau persis permainan ini

Kau pernah terbuai akan tipu dayanya

Kemudian dihempaskan begitu saja

Kali ini pun sama

Sedikitpun kau merasa terlena

Maka kau harus siap berduka



Ingat,

Semua ini tak nyata

Dia memperlakukanmu semanis itu

Sama seperti ia memperlakukan wanita lain



Ingat,

Hatinya tak hanya tertuju padamu

Dijadikan tujuan? Belum tentu



Ingat,

Kau tak boleh menyerah

Kau harus mempertahankan kebahagiaanmu tanpanya

Tak perlu kembali apalagi mengulang



Ingat,

Kau hanya tempat persinggahan

Ia hanya mengunjungimu di kala bosan



Ingat,

Kau selalu berusaha ada untuknya

Tapi apa pernah ia ada untukmu disaat kau membutuhkannya?

Jawabnya tidak



Ingat,

Kau tak boleh lagi terpedaya olehnya

Sebab pada akhirnya kau yang akan terluka

Mungkin akan tersingkir pula bila waktunya tiba



Silahkan kau ikuti alurnya, namun jangan sampai terseret arusnya

Biarkan ia merasakan kesenangan sesaatnya

Kemudian kau akan saksikan duka yang begitu pedih menghampirinya

Tentu kau akan tersenyum bahagia pada akhirnya

Belum tentu dengannya



Permainan ini,

Kau sudah tau jalan ceritanya

Bahkan akhir kisahnya


Biarlah Seperti Ini

Kenangan itu menguap begitu saja
Entah terbawa angin atau terhapus hujan
Semuanya berlalu
Namun perasaan masih mampu membuat terhanyut

Seketika
Semua berbeda
Setelah disadari
Sudah terlalu jauh kini

Mencoba melupakan
Walau tak hilang di ingatan
Mencoba menyembuhkan
Walau tak hilang goresannya

Saat ini
Yang perlu disadari ialah batasan itu

Setelah sama-sama saling menjauh dari tembok penghalang itu
Rasanya tak perlu untuk kembali maju tuk meruntuhkan pertahanan itu

Kita hanya perlu berjalan mundur atau berbalik arah
Tak perlu lagi menatap tembok itu
Tinggalkan, lalu lupakan
Biarlah tetap seperti ini

Agar tak lagi terlalu banyak luka
Agar tak lagi terlalu banyak duka
Agar tak lagi terlalu banyak asa

Biarlah semua mengalir indah
Tanpa ada harapan yang menjanjikan
Sehingga tiada lagi rasa kecewa
Mempermudah langkah kaki kita
Tuk tetap berjalan bersisian
Tanpa lagi harus menggenggam


Senin, 15 Juni 2015

Seketika Saja


Perlahan hadir,
Tersenyum,
Kemudian sapa hangat,
Akhirnya tatapan mata saling bertemu

Mencoba meraba kembali
Mengais kenangan lama yang sudah terkubur mati

Tidak,
Semua ini semu
Jangan mudah tertipu
Seharusnya tidak boleh terjadi

Telah dihindari sedari dulu
Tapi kini tak bisa lagi di pungkiri

Yakinlah,
Semuanya akan terulang

Apa tak takut?
Hei, tapi apa yang sedang kau lakukan?

Kau ingin kembali menyiksa?

Sudah cukup rasanya,
Tak ingin mengulang
Namun sempat terbesit rasa bersalah,
Melihatnya menyendiri,
Terkesan terpuruk?
Kacau

Oh benarkah?
Keadaannya separah itu?

Sebenarnya semua adalah sebuah balasan untuknya
Aku merasa bahagia tanpanya,
Tapi munafik bila mengabaikannya
Sayangnya, perasaan ini tak lagi sama
Semuanya telah sirna
Tak bisa kembali seperti sedia kala

Senyum ini sudah tersungging setelah kepergiannya
Hati ini terasa ringan setelah jejaknya perlahan pudar
Jiwa ini mulai begitu tenang tanpa hadirnya
Hidup ini begitu tentram tanpa mengkhawatirkannya

Tapi seketika,
Ia kembali mengacaukannya
Membuatku sedikit goyah
Cukup terguncang
Namun mencoba tetap bertahan
Agar tak lagi terbuai angan belaka


Bermunajat

Mengungkit lagi
Diungkit lagi
Terungkit lagi

Susah payah dikubur
Dengan mudahnya dibangkitkan

Mengapa baru sekarang?
Kemarin kemana saja?

Mengapa mengusik kembali?
Padahal hati sudah begitu damai

Tak mengerti apa arti dari semua ini

Masih terlihat samar,
Terkadang mengharukan
Terkadang memilukan

Mungkin rasa kecewa mampu membunuh semuanya
Tapi bukankah cinta dapat mengalahkan segalanya?
Apabila secuil kecewa saja mampu melunturkan
Maka tak pantas disebut cinta

Tapi,
Perasaan aneh ini..
Masih belum terdefinisikan

Bukankah cinta selalu menemukan jalannya sendiri?
Sesulit dan seterjal apapun itu?

Lalu apalagi yang perlu dipertimbangkan?
Bukankah seharusnya dinikmati setiap detiknya?

Bisa jadi menjadi keputusan terbaik
Atau mungkin sebaliknya

Jangan lupa,
Cinta akan selalu kembali pulang
Sejauh apapun ia melangkah
Proses pendewasaan yang begitu rumit

Kecewa sudah,
Bahkan sangat kecewa

Namun perasaan tidak begitu saja hilang bukan?

Ingin marah
Sudah

Ingin menangis
Sudah

Ingin tertawa
Sudah

Lalu apalagi sekarang?

Mari bermunajat kepada sang pemilik hati


Mana Mungkin

Mana mungkin kau memberikan hatimu pada seseorang yang bahkan sedikitpun tak memberikan hatinya untukmu?

Mana mungkin kau menginginkan seseorang yang bahkan tidak menginginkanmu?

Mana mungkin kau mencintai seseorang yang mungkin belum siap mencintaimu

Mana mungkin kau menaruh harap pada seseorang yang mungkin tidak mengharapkanmu?

Mana mungkin kau menjadikan seseorang sebagai tujuan jika ia hanya menjadikanmu sebatas tempat persinggahan?


Andai Saja

Aku sudah memaafkanmu sebenarnya, tapi sepertinya kamu belum menyadari itu. Aku anggap kejadian itu khilafmu. Bisakah kau bersikap biasa seperti dulu? Walaupun hati ini terlalu rapuh untuk kembali menerima kehadiranmu, tetapi rasanya sangat disayangkan jika waktu kebersamaan yang telah lama kita lalui, tercoreng begitu saja karena kehadirannya yang mungkin sesaat. Entahlah masih berlangsung atau tidak hubunganmu dengannya. Mungkin aku tidak akan peduli lagi soal itu.

Sebenarnya, bukan ini harapanku konsekuensi dari keputusan pahit itu. Tapi mengapa seolah hadirnya selalu menjadi perusak segalanya. Terkadang aku tak habis pikir. Bahkan saat menulis tulisan ini pun, rasa nyeri itu tak segan untuk hadir. Kenangan buruk itu, tak ragu untuk muncul.

Lagi-lagi, aku merasa perlu memperbaiki kembali. Tapi tidak tau bagaimana harus memulainya. Aku suka menertawakan diriku sendiri. Mengapa aku bisa seberani itu. Padahal dulu aku tidak punya nyali sedikitpun untuk memulai pembicaraan. Tapi sekarang? Ah apa mungkin karena pasifnya dirimu yang tak ingin memulai, atau memang kau tak pernah terbesit keinginan untuk memulai.

Lagi-lagi hati ini kembali bingung. Mengapa kau selalu menyusahkanku? Sedikit saja bisakah kau menyenangkan hatiku? Melegakan nafasku? Meringankan pikirku? Tak bisakah? Mengapa kau masih menghantui? Kenangan buruk itu selalu menyiksaku hingga saat ini. Aku ingin rasa rindu itu hadir untukmu, bukan benci yang semakin menggunung. Aku ingin kau hadir sebagai mimpi indahku, bukan mimpi buruk yang mengganggu.

Aku ingin kau bisa menghapus kenangan buruk itu. Andai saja kau mau melakukannya dengan sepenuh hati. Menghapus duka dan meninggalkan kenangan indah. Sehingga aku lupa bagaimana sakitnya terkhianati oleh seseorang yang kucintai. Buatlah hatiku seolah tak pernah merasakan sakit itu. Mampukah kau melakukannya?

Suatu hari nanti kau akan mengerti, bila kau merasakan apa yang kurasakan. Siapkah dirimu?


Mari Merenung Sejenak

Kisah romansa di ftv, sinetron, drama, novel sangat jauh berbeda dengan di dunia nyata. Disana sebuah kisah digambarkan semenarik mungkin, menyentuh hati, menguras emosi, dan akhirnya berakhir dengan happy ending, happily ever after, forever, ya pokoknya kebahagiaan yang sejenisnya. Seolah semua abadi. Membuat diri ini merasa terbuai hingga berangan berlebihan. Didapat dengan cara yang terlihat mudah namun berkesan.

Berbeda jauh sekali dengan dunia nyata guys! Come on. Jangan kamu menaruh harapan besar kisah cintamu akan seindah cerita fiktif tersebut, terpaku pada 1 orang yang pada akhirnya bisa kau miliki selamanya, dengan begitu mudah. Hidup tak sesederhana itu guys. Emosi, angan, suka, duka lebih bervariasi dan menarik dalam kehidupan nyata guys. Apa pernah kau renungkan?

Bukankah hidupmu jauh lebih indah? Lebih berwarna? Di novel, romansa, ftv, drama, itu hanya sebagian kecil dari sebuah kisah guys. Bagaimanapun, dunia nyata jauh lebih indah. Lalu sampai kapan kau akan hidup dengan angan-angan? Berharap sang pangeran berkuda putih menjemputmu. Berharap seorang pria yang mengaku hanya mencintaimu seorang, kemudian kisah cinta kalian berjalan dengan mulusnya.

Apa mungkin?

Mungkin saja. Namun hanya dalam khayalan.

Tidak mudah menunggu seseorang yang benar-benar memilihmu, menjadikanmu satu-satunya. Kemudian ia mendatangi ayahmu, meminta izin menikahimu. Come on guys, semua itu butuh proses panjang. Tak semudah yang orang-orang tuliskan dalam sebuah karya sastra atau drama.

Coba sekarang berapa usiamu?

Apa kau tahan dengan bualan cinta 1 orang yang belum tentu mencintaimu? Pasti tidak. Kita akan terus mencari seseorang yang memiliki kecocokan dengan kita, begitupun dirinya. Ia akan memilih kita sebagai kekasih satu-satunya setelah sebuah akad telah terucap. Itulah cinta yang sudah sang Ilahi tuliskan.

Tak mudah bukan?

Maka dari itu, mari kita nikmati setiap detiknya proses itu. Boleh berharap, namun jangan berlebihan. Karena kau bisa kecewa. Sesungguhnya sesuatu yang berlebihan, tiada baiknya. Jalani, ikhtiar, dan tetap istiqomah di jalannya :)


2 Minggu Berlalu

Hari ini tepat 2 minggu setelah pertemuan kita. Tidak ada yang berubah sebenarnya, tapi wajahmu tiba-tiba sering muncul begitu saja. Tanpa diminta. Sampai saat ini tiada perkembangan apapun. Kau masih menjadi rahasia bagiku, dan sedikitpun tidak mengurangi rasa penasaranku padamu. Namun aku tidak tau harus berbuat apalagi. Aku tak tau cara mencarimu, bahkan untuk mengenalmu sedikit lebih jauh dari kemarin, 2 minggu lalu. Padahal beberapa hari lalu, aku sempat berkunjung ke kampusmu, berharap bertemu lagi, namun ternyata belum saatnya. Yah.. Biarlah perasaan ini tetap tersimpan. Jika kita tidak akan bertemu lagi, kau bukanlah sesuatu yang penting untukku. Tapi jika suatu hari nanti kita bertemu lagi, aku berharap Tuhan memiliki rencana indah itu menghampiriku, menyapa kita :)


Terjawab Sudah

Setelah sekian lama ku simpan pertanyaan ini dalam diam. Dalam hati saja. Nyaris berputus asa mencari tau keberadaanmu, kabarmu, statusmu, akhirnya hari ini aku mendapat jawaban. Tanpa harus bertanya kesana kemari lagi. Tuhan mengisyaratkannya melalui mimpi, kemudian ia tunjukkan kepastian jawaban dari pertanyaan itu. Jawabannya adalah kau masih bersamanya. Dengan melihat foto profilmu yang sudah lama seolah tidak ada tanda kehidupan, pagi ini kau ubah. Foto kamu bersama wanita itu. Dengan senyum mengembang. Kalian terlihat bahagia. Walaupun aku tak lagi terkejut seperti dulu, saat pertama kali melihat foto itu. Aku sudah tak asing dengan foto profilmu itu.

Aku hanya bisa tersenyum miris. Aku pikir kau sudah sendiri, namun kau masih disisinya. Baiklah, aku tidak akan berharap lebih dari ini. Aku hanya bisa mendoakan kebahagiaanmu. Sama seperti yang kulakukan sedari dulu. Siapapun yang sedang bersamamu, pilihanmu, disampingmu, bahkan memiliki hatimu, ku harap dialah yang terbaik. Lebih baik dariku dan aku selalu berharap kau segera temukan bahagiamu walau bukan lagi aku yang menjadi alasanmu bahagia. Walaupun sebelum dia, akulah yang lebih dulu mampu memiliki hatimu. Inilah jalan yang harus kita lalui..

Jika suatu saat kau merindukanku, aku berharap rindu ini pun masih milikmu.

Jika suatu saat hatimu mencariku, aku berharap hati ini masih setia menunggumu.

Jika suatu saat kau kembali padaku, aku berharap diriku belum dimiliki siapapun. Semoga tiada lagi kata terlambat, seperti dulu :)

First Love Forever Love


Sebagai Seorang Teman


Setelah mampu menata hati

Anda datang kembali

Ingin memporakporandakan lagi?

Selalu begitu, datang dan pergi

Rasanya hati tak lagi bergeming

Tak mampu untuk menata kembali nanti

Semuanya masih terlalu dini

Baru saja pulih

Berteman baik, tak apa

Lebih dari itu, tak bisa

Etikat baik itu terjalin untuk mengencangkan kembali tali silaturahmi

Bukan berarti ingin memulai lagi

Butuh berpikir ribuan kali

Untuk menyerahkan hati lagi

Terlebih pada seorang mantan kekasih yang pernah mengkhianati

Sebagai seorang teman,

Biarlah senyum ini tersungging sebagai seorang teman

Biarlah hati ini menyayangi sebagai seorang teman

Biarlah mulut ini menyapa sebagai seorang teman

Tak bisa lagi ku pungkiri

Tak ingin kembali menuai luka yang sudah terlanjur pulih

Rencana Indah


Seseorang yang dulu sedikit pun tak menarik perhatian

Sekarang mampu membuat menoleh dua kali

Seseorang yang dulu tak pernah terlintas di pikiran

Sekarang menjadi yang selalu dipikirkan

Seseorang yang dulu terasa begitu jauh

Sekarang selalu berada pada jarak yang dekat

Seseorang yang dulu terlihat pantas menjadi seorang kakak

Sekarang terlihat pantas menjadi seorang pendamping

Seseorang yang dulu pernah terabaikan

Sekarang menjadi sebuah harapan

Seseorang yang dulu tak mampu membuat jantung berdebar

Sekarang mampu membuat pipi merona

Seseorang yang pernah pergi

Sekarang merangkak kembali

Tuhan selalu punya rencana indah untuk mewarnai hidup seseorang


Aku Sudah Tersenyum


Hai kamu, apa kabar? :)

Semoga kau selalu baik-baik saja.

Lalu, apa kabar dengan hatimu?

Apakah aku sudah tersingkir dari sana?

Semoga sudah,

Cepat atau lambat.

Kabarku disini sangat baik semenjak hari itu :)

Seharusnya kau bahagia

Perlu kau tahu, semoga kau percaya.

Aku sudah menepati janjiku.

Ingatkah kau pernah memintaku untuk tidak pernah menangis lagi untukmu?

Aku sudah melakukannya dengan baik.

Ikhlas kulakukan untukmu.

Walau rasanya masih pilu, namun tak kubiarkan lagi bulir air mata itu terjatuh

Terima kasih, telah menguatkan :)

Setelah hari itu, semoga tiada penyesalan dalam hidupmu.

Aku berangsur pulih, tapi kau terlihat memburuk.

Apakah hari ini kau sudah membaik?

Segeralah..

Aku ingin kita kembali tersenyum,

Saling sapa pada jalan yang bersebrangan

Kemudian melambaikan tangan di persimpangan

Disertai rona kebahagiaan tanpa ada penyesalan

Sehingga jika suatu hari kelak kita berjumpa,

Angan dan cita telah terajut sempurna tanpa lagi harus bersama


Rabu, 03 Juni 2015

Pendewasaan Diri

Kau membuatku lebih tegar

Kau membuatku lebih kuat

Kau membuatku lebih terbuka

Kau membuatku tersenyum lega

Kau membuatku mudah melupakan

Kau membuatku rela mengabaikan

Kau mengajarkanku arti kesetiaan

Sekaligus arti pengkhianatan

Kau telah mendewasakanku

Walau dengan cara yang tidak menyenangkan

Kau membuatku mengerti

Apa yang aku inginkan tak selalu dapat diwujudkan

Kau membuatku belajar arti kesabaran dan perjuangan

Setelah aku melaluinya dengan terseok,

Kini kau tunjukkan seberkas cahaya

Cahaya yang membawaku pada seorang yang lebih pantas berada disisiku

Setelah kau tunjukkan siapa yang tak pantas bersamaku

Kau ya rabb..

Sang maha pencipta

Yang memiliki seluruh semesta beserta isinya


Seketika Saja

Perlahan hadir,

Tersenyum,

Kemudian sapa hangat,

Akhirnya tatapan mata saling bertemu

Mencoba meraba kembali

Mengais kenangan lama yang sudah terkubur mati

Tidak,

Semua ini semu

Jangan mudah tertipu

Seharusnya tidak boleh terjadi

Telah dihindari sedari dulu

Tapi kini tak bisa lagi di pungkiri

Yakinlah,

Semuanya akan terulang

Apa tak takut?

Hei, tapi apa yang sedang kau lakukan?

Kau ingin kembali menyiksa?

Sudah cukup rasanya,

Tak ingin mengulang

Namun sempat terbesit rasa bersalah,

Melihatnya menyendiri,

Terkesan terpuruk?

Kacau

Oh benarkah?

Keadaannya separah itu?

Sebenarnya semua adalah sebuah balasan untuknya

Aku merasa bahagia tanpanya,

Tapi munafik bila mengabaikannya

Sayangnya, perasaan ini tak lagi sama

Semuanya telah sirna

Tak bisa kembali seperti sedia kala

Senyum ini sudah tersungging setelah kepergiannya

Hati ini terasa ringan setelah jejaknya perlahan pudar

Jiwa ini mulai begitu tenang tanpa hadirnya

Hidup ini begitu tentram tanpa mengkhawatirkannya

Tapi seketika

Ia kembali mengacaukannya

Membuatku sedikit goyah

Cukup terguncang

Namun mencoba tetap bertahan

Agar tak lagi terbuai angan belaka


Luka


Sebuah luka berawal dari kecerobohan

Tidak hati-hati

Akhirnya terluka

Namun,

Akan lebih menyakitkan apabila luka yang mulai mengering disentuh kembali

Sehingga membuatnya menjadi sedikit lembab

Sensitif pastinya

Sewaktu-waktu,

Luka yang mulai mengering

Bisa saja berdarah lagi

Meradang lagi

Entah karena tercabik di tempat yang sama

Atau tidak sengaja tersentuh walaupun sedikit saja

Perih

Begitu lama waktu untuk membalut kemudian memulihkan luka yang ditorehkan

Tapi dengan mudahnya kembali dicabik

Lalu dibiarkan mengalir darahnya

Ditinggalkan begitu saja

Sedikit luka pasti akan membekas selamanya

Walaupun tidak terlihat secara kasat mata

Namun pedihnya masih bisa dirasa


Lihatlah Dirimu

Coba kau lihat dirimu

Perlu aku bawakan cermin?

Oh betapa menyedihkannya dirimu



Sebegitu hancurkah hatimu?



Andai saja kau tahu,

Aku mengalaminya lebih dulu sebelum dirimu

Bahkan lebih parah dari itu

Sedikitpun tak ada kepedulianmu

Belas kasihan pun berlalu



Lihat sekarang,

Aku baik-baik saja bukan?

Aku sudah berhasil melewati masa sulit itu



Lalu kau?

Kau begitu kacau

Mengapa kau jadi begini?



Bukankah keputusan ini yang kau harapkan?



Tapi coba kau lihat sekarang,

Siapa yang lebih terlihat begitu menyesal?

Dirimu sepertinya



Cukup sudah kau siksa dirimu

Harus berapa lama kau mengasingkan dirimu?

Jalan hidupmu masih panjang

Aku hanya merasa kasihan padamu

Terlihat begitu terpuruk



Oh aku tidak menyangka,

Aku masih punya rasa kasihan padamu

Setelah apa yang kau lakukan padaku



Tapi aku yakin,

Kau pasti bisa melalui itu

Sama sepertiku dulu



Tapi apa kau saat ini dibayangi rasa bersalah?

Izinkan aku tertawa sepuasnya



Semua ini akibat ulahmu

Silahkan kau nikmati pedihnya perbuatanmu


Skenario Terindah

Bukankah pertanyaanmu terjawab lebih cepat dari dugaanmu? Harus kau sadari, bahwa rencana-Nya jauh lebih baik dari apa yang kau renca...