Ketika aku mengadu dimarahi oleh ibu, kau yang menghiburku
Ketika aku merengek meminta sesuatu, kau yang mengabulkan inginku
Ketika aku marah karena sesuatu, kau yang menenangkanku
Ketika aku tersakiti, kau yang paling kecewa
Ketika aku terjatuh, kau yang paling terluka
Ketika aku tertawa, kau yang paling bahagia
Dalam diam aku mengamatimu, Ayah
Gadis kecilmu yang mulai beranjak dewasa
Kini menyadari bahwa dirimu juga semakin menua
Rambutmu kian memutih, wajah tampanmu memudar seiring waktu bergulir
Kau telah berubah menjadi sosok yang tegas dan berwibawa
Semakin ku kagumi, Ayah
Terkadang tesirat kekhawatiran dalam petuahmu
Tergambar kekecewaan di wajahmu
Terlihat kesedihan di binar matamu
Tapi selalu kau coba tutupi dengan ketegaranmu di depan kami
Kau hanya menginginkan kebahagiaan kami
Tak peduli seberapa sulitnya rintangan yang harus kau lalui
Aku tahu,
Matamu tak lagi setajam dahulu, langkahmu tak lagi secepat dahulu
Tubuhmu tak lagi setegap dahulu, ototmu tak lagi sekuat dahulu
Tapi kau selalu bersikap baik-baik saja di depan kami
Tak ingin membuat kami bersedih
Kau bagaikan batu karang yang selalu kokoh berdiri
Ayah,
Aku hanya bisa berharap selalu menjadi kebanggaanmu
Walaupun tiada berarti dengan pengorbananmu
Setidaknya izinkan aku membuatmu bahagia dengan caraku
Ayah,
Perlahan namun pasti kan ku wujudkan mimpimu yang tak terwujud
Beriringan dengan mimpiku yang ku bangun
Sehingga keinginanmu kan ku capai disusul dengan kesuksesanku
Jangan pernah bosan mendoakan gadis kecilmu yang beranjak dewasa, Ayah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar