Senin, 04 Januari 2016

Selain Ibu, Kau Juga Malaikatku Ayah

Ketika aku mengadu dimarahi oleh ibu, kau yang menghiburku
Ketika aku merengek meminta sesuatu, kau yang mengabulkan inginku
Ketika aku marah karena sesuatu, kau yang menenangkanku

Ketika aku tersakiti, kau yang paling kecewa
Ketika aku terjatuh, kau yang paling terluka
Ketika aku tertawa, kau yang paling bahagia

Dalam diam aku mengamatimu, Ayah
Gadis kecilmu yang mulai beranjak dewasa
Kini menyadari bahwa dirimu juga semakin menua

Rambutmu kian memutih, wajah tampanmu memudar seiring waktu bergulir
Kau telah berubah menjadi sosok yang tegas dan berwibawa
Semakin ku kagumi, Ayah

Terkadang tesirat kekhawatiran dalam petuahmu
Tergambar kekecewaan di wajahmu
Terlihat kesedihan di binar matamu

Tapi selalu kau coba tutupi dengan ketegaranmu di depan kami
Kau hanya menginginkan kebahagiaan kami
Tak peduli seberapa sulitnya rintangan yang harus kau lalui

Aku tahu,
Matamu tak lagi setajam dahulu, langkahmu tak lagi secepat dahulu
Tubuhmu tak lagi setegap dahulu, ototmu tak lagi sekuat dahulu

Tapi kau selalu bersikap baik-baik saja di depan kami
Tak ingin membuat kami bersedih
Kau bagaikan batu karang yang selalu kokoh berdiri

Ayah,
Aku hanya bisa berharap selalu menjadi kebanggaanmu
Walaupun tiada berarti dengan pengorbananmu
Setidaknya izinkan aku membuatmu bahagia dengan caraku

Ayah,
Perlahan namun pasti kan ku wujudkan mimpimu yang tak terwujud
Beriringan dengan mimpiku yang ku bangun
Sehingga keinginanmu kan ku capai disusul dengan kesuksesanku

Jangan pernah bosan mendoakan gadis kecilmu yang beranjak dewasa, Ayah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Skenario Terindah

Bukankah pertanyaanmu terjawab lebih cepat dari dugaanmu? Harus kau sadari, bahwa rencana-Nya jauh lebih baik dari apa yang kau renca...