Senin, 25 Januari 2016

3 Serangkai

Tiga serangkai. Begitulah kami menyebutnya dulu. Alasannya sederhana, kemanapun mereka selalu bertiga. Mereka kami juluki si X, si Y, dan si Z. 

Tiga orang lelaki ini selalu bersaing dalam hal apapun, tapi sportif. Itulah yang semakin mengakrabkan mereka. 

Dari dulu sampai sekarang, sedikitpun tak ada yang berubah, mereka masih saja berebut perhatian, saling menunjukkan kepedulian, dan berlomba untuk mencoba lebih dekat. Tentunya dengan cara mereka masing-masing yang unik dan berkarakter. 

Aku suka tertawa sendiri jika mengingatnya. Terlalu kekanak-kanakan sebenarnya, tapi mereka mampu membuat pipi menjadi merona. 

Begini salah satu contohnya dari pertemuan kemarin. 

Ketika kami membuat janji sebuah pertemuan, tapi aku tak tahu dimana lokasinya, mereka awalnya bungkam. Tak sabar aku menunggu respon dari mereka.

Akhirnya, sebut saja D, ia buka suara dan berjanji menungguku di tempat A untuk menjadi seorang penunjuk jalan. Setelah aku menyetujuinya, barulah 3 serangkai meresponnya tak mau kalah.

X: Ditunggu di tempat B, nanti kedalamnya diantar atau dijemput juga boleh.

Menurutku, tempat itu terlalu jauh. Tapi cukup membuatku senang akan responnya.

Y: Ditunggu di tempat C, jam 10. Nanti kita sama-sama ke tkp.

Menurutku, pilihan Y adalah lokasi terdekat dari rumah. Jadi kurang lebih aku menyetujuinya, walau sedikit terpaksa.

Z: Jemput aku dirumah, lalu aku kan tunjukkan jalan. Tempatnya tak jauh dari rumahku.

Satupun dari kami tak ada yang meresponnya.



Hal lainnya, setelah ada insiden rajukan untuk segera pulang, inilah respon yang mereka berikan padaku beberapa saat kemudian.

X: Ayo pulang sekarang, nanti semakin malam.

Y: Pulangnya ditemenin aja ya 

Lalu mereka berdua saling berpandangan, seolah terjadi pembicaraan dalam tatapan mereka yang tak pernah bisa kuartikan. Seperti biasa, X selalu memberikan celah untuk Y agar selangkah lebih maju darinya. Walaupun harapku tak seperti itu. Tak lama kemudian mereka memandang Z secara bergantian.

Z: Sorry, cemburu gak ada dalam kamus gue.




Itu hanya sebagian kecil tingkah laku mereka yang membuat mereka meninggalkan kesan. 

Kata-kata spontan yang meluncur dari mulut mereka serta gelagat tebar pesonanya, membuat mereka menjadi salah satu bagian penting kenangan terindah di bangku sekolah hingga sekarang, ketika kami sama-sama sudah mulai tumbuh menjadi pribadi yang lebih dewasa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Skenario Terindah

Bukankah pertanyaanmu terjawab lebih cepat dari dugaanmu? Harus kau sadari, bahwa rencana-Nya jauh lebih baik dari apa yang kau renca...