Jumat, 25 Maret 2016

Untuk bisa berdamai dengan masa lalu itu kau juga harus menerima semua kenangan itu. Meletakkannya di bagian terpenting, memberikannya singgasana dan mahkota dalam hatimu. Karena bukankah itu semua kenangan yang paling indah, bukan? Paling berkesan, paling membahagiakan. “Ah, kau pasti bertanya jika dia memang kenangan yang paling indah, mengapa kau selalu pilu mengenangnya?"

Mengapa? Karena kau tak pernah mau menerima kenyataan yang ada. Kau selalu menolaknya. Seketika. Tak pernah memberikan celah kepada hati untuk berpikir dari sisi yang lain. Kau membunuh setiap penjelasan. Tidak sekarang, kau membunuh penjelasan itu esok pagi. Tidak esok pagi, kau bunuh penjelasan itu minggu depan, atau waktu-waktu yang akan datang.

“Masalahnya, penerimaan itu bukan sesuatu yang mudah. Banyak sekali orang-orang di dunia ini yang selalu berpura-pura. Berpura-pura menerima tapi hatinya berdusta."

Sayang aku tak bisa mengajarkan cara agar hatimu bisa menerima. Hanya pemilik semesta alam yang bisa dengan mudah mengubah hati. Di luar itu, kita semua harus berlatih untuk belajar menerima. 

Apakah itu sulit? Tidak. Itu mudah. Tapi kau memang tak pernah memulainya. Dan kau terjebak justru dalam segala penyesalan. Tidak boleh, urusan ini tak boleh melibatkan walau sehelai sesal.


Kutipan Novel Tere Liye - Sang Penandai

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Skenario Terindah

Bukankah pertanyaanmu terjawab lebih cepat dari dugaanmu? Harus kau sadari, bahwa rencana-Nya jauh lebih baik dari apa yang kau renca...