Hari ini adalah hari pertama kita bertemu. Ah mungkin kau tidak menyadarinya, tapi sejak aku tiba di tempat itu, mataku langsung tertuju padamu. Kamu yang sedang berdiri dengan gagahnya di ambang pintu, menerima para undangan yang menghadiri acara tersebut. Saat itu aku hanya sekedar melirikmu, tak pernah terpikir melakukan lebih dari itu. Tetapi, saat aku berdiri dibalik pintu dan memanggil temanku, justru kau yang menjawab panggilanku. Mata kita sempat bertemu, hingga aku bersemu malu. Kau bilang “Iya, ada apa mbak?” dengan wajah bingung aku hanya bisa menjawab “Oh.. bukan mas, saya sedang berbicara dengan teman saya.” Seketika kita sama-sama merasa malu.
Semua berlalu begitu saja, waktu mengalir begitu cepat. Namun kau sungguh mencuri perhatianku sekali lagi dengan mondar-mandir disana, iya aku melihatmu dengan jelas dari kejauhan. Kau terlihat sangat tampan. Iya kau terlihat tampan. Kau juga keren. Ah apa yang sedang aku pikirkan? Kau berlagak seperti seorang intel, dengan mengenakan jas hitammu dan headset di telinga kirimu, sungguh kau mampu membuatku menoleh bahkan menatapmu berkali-kali. Tak sedikit pun merasa bosan.
Tak lama kemudian kau masuk ke dalam ruangan dan oh tidak jarak kita begitu dekat, kau terus berlalu lalang di samping kananku, kau terlihat sangat sibuk. Tapi kau tetap terlihat keren sekali lagi hehe. Tapi wajahmu? Ah iya, wajahmu sangat mirip dengannya, mantan kekasihku yang dulu, cinta pertamaku. Ya ampun kalian begitu mirip. Mengapa ini bisa terjadi? Tiba-tiba jantungku berdegup semakin kencang. Wajahmu, senyummu, hidungmu, matamu, warna kulitmu, sikapmu.. ah kau begitu mirip dengannya hingga akhirnya aku sulit menentukan ini perasaan jatuh cinta atau aku hanya teringat masa laluku. Entahlah yang penting aku merasa sangat bahagia saat itu. Kau sedikit mampu mengurangi rasa rinduku pada cinta pertamaku yang hingga kini aku belum pernah lagi bertemu dengannya, hampir 4 tahun telah berlalu.
Saat ini kau duduk di sebelah kananku, dua baris didepanku, tepat pada arah jam 2. Kau menyendiri. Wajahmu begitu datar, polos, begitu angkuh, tapi kau sangat menarik hatiku tuan. Bukannya memperhatikan apa yang sedang narasumber paparkan, aku malah sibuk memperhatikan gerak-gerikmu. Kau sangat sangat mirip dengannya. Ah seandainya saja aku bisa mengenalmu lebih jauh. Saat ini aku hanya bisa memandangimu dari jauh, dari samping belakangmu. Begitu menyedihkan bukan? Aku sedikitpun tak punya nyali untuk menatap matamu bahkan saat kau tepat didepanku kini, berdiri disampingku. Aku begitu payah. Aku hanya bisa tersenyum dalam hati dan membuat pipi ini merona merah dengan hanya melirikmu.
Tuan.. siapakah dirimu sebenarnya?
Aku tidak pernah mengenalmu, begitu pula denganmu sedikitpun mungkin tak memperhatikanku. Aku tidak tahu siapa namamu, dari mana asalmu. Namun aku ingin tetap mengagumimu dari jauh, meringankan sedikit kerinduan dan mungkin hingga beberapa hari ke depan wajahmu masih terbayang tuan. Bolehkah aku?
Aku sangat berharap suatu hari nanti kita bisa bertemu lagi pada waktu yang tepat sehingga kita dapat saling mengenal satu sama lain.
Pertemuan pertama ini, sangat berarti bagiku entah mengapa. Dengan mudahnya hatiku terpagut olehmu tuan. Terimakasih atas kehadiranmu hari ini tuan, dihidupku. Pertemuan pertama ini, sangat mirip saat aku juga pertama kali bertemu dengan cinta pertamaku. Semoga kisah ini akan menjadi lebih manis suatu hari nanti.
-30 Mei 2015, Balai Sidang Universitas Indonesia-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar