Pernahkah kau menyayangi sesuatu dengan segenap perasaanmu?
Merelakan hatimu hanya untuk dimiliki olehnya, dipenuhi khayalan bersamanya.
Walaupun sesekali pernah kau biarkan hatimu menjauh darinya hanya demi mengingat sesuatu yang lain, yang mungkin lebih mampu untuk menenangkanmu, saat itu, hanya sementara waktu.
Kau seharusnya lega karena telah lepas darinya, namun kau justru menemukan dirimu mencintainya. Benarkah?
Semoga tidak.
Mana mungkin kau bisa mencintai sesuatu yang bahkan tidak bisa membalas perasaanmu.
Yang bahkan terlalu asyik dengan dunianya hingga rela mengabaikanmu begitu saja.
Yang dengan mudahnya berpaling darimu terlebih saat kau tidak bersamanya, disampingnya.
Pantaskah kau mencintainya?
Aku rasa sedikitpun tidak.
Padahal kau tahu,
Sedikit saja kau menyinggung tentangnya, kau dapat pecah berkeping-keping setiap saat.
Karena balasan yang telah dia berikan padamu, yang sungguh menyakitkan.
Tak termaafkan? Bisa jadi.
Namun hari itu, kau terlalu percaya diri.
Terlalu memberanikan diri untuk menemuinya.
Sesuatu yang jelas berulang kali telah menghancurkanmu tanpa ampun.
Hingga kau berjanji dalam hati,
"Ini yang terakhir, setelah itu kita bisa melanjutkan hidup kita masing-masing tanpa harus saling ketergantungan seperti sebelumnya. Aku janji."
Walaupun tak bisa kau pungkiri,
Keheningan akan membalut kebersamaan kalian saat itu, yang terasa begitu tajam.
Menyakiti kalian berdua dengan berlarinya setiap detik hingga menjelma menit.
Sayatan demi sayatan yang mengambang di udara membelah jiwa kalian hingga serpihan.
Cinta sungguh tak pernah mudah, namun haruskah cinta menuai luka?
Sehingga lagi-lagi kau hanya mampu berucap dalam hati, memperparah keheningan yang telah tercipta.
Sedikitpun tak punya nyali untuk membuka mulut, berbicara dengannya, menjelaskan perasaanmu padanya.
Kau hanya berbisik dalam hati :
"Jangan,
Jangan mendekat.
Ya.
Cukup disitu,
Berhenti disitu.
Kita hanya perlu saling tatap.
Ah tidak,
Jika kau mau itupun.
Kau hanya perlu menatap.
Dari jauh, tentu saja.
Aku?
Maaf ternyata aku tidak bisa, bahkan untuk sedetikpun bertatap.
Apa aku terlalu kekanak-kanakan?
Ah.. siapa peduli.
Suatu hari nanti,
Aku harap, jangan seperti ini.
Jangan pernah lagi.
Apa kau mengerti?
Sudah terlalu banyak hati yang kau sakiti.
Biarlah aku yang merasakan untuk terakhir kali.
Kau,
Cukup memandangiku dari jauh.
Tanpa harus ku tahu.
Sekali lagi jika kau mau.
Maaf, jangankan untuk saling bertatapan.
Memandang dalam diampun, aku terlalu takut.
Aku selalu membohongi perasaanku.
Aku membangun dinding pertahanan hatiku yang tangguh.
Untuk tidak mengingatmu.
Apalagi memandangmu.
Tolong,
Jangan pernah lagi kau sentuh aku.
Terutama sentuh hatiku.
Sekali sentuhan, aku akan hancur.
Terlalu rapuh.
Ku harap kau bisa mengerti.
Aku rasa kau cukup pandai untuk memahami
Situasi yang cukup sulit kini.
Entah sampai kapan,
Andai segera berlalu."
Kemudian kalian sama-sama melangkah pergi,
Sama-sama menjauh.
Menikmati setiap jengkal kerinduan yang mungkin mulai terasa.
Demi melindungi hati dari luka yang lebih dalam.
Hingga waktu dapat menyembuhkannya.
Suatu hari nanti..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar