Jumat, 14 Juli 2017

Penantian Hampa


Lelah, terlampau sudah. Terhempas ia dengan kerasnya. Terbentur kenyataan yang jauh dari kenyataannya.  Iya, selama ini ia sibuk berekspektasi. Hingga lupa bahwa ia hidup di dunia nyata, bukan di negeri dongeng yang penuh dengan mimpi indah. Ia mimpi buruk malam ini. Tak terasa air matanya pun mengalir membasahi bantalnya. 

Sakit. Itulah yang ia rasakan. Kejadian di mimpinya begitu terasa nyata. Seseorang yang ia tunggu selama belasan tahun, memilih bersanding dengan wanita lain yang beruntung itu. Ia cukup terkejut ketika undangan berbau harum itu sampai ke tangannya. Tubuhnya bergetar, air matanya tumpah, hatinya mencelos. Ia tahu, kini ia sudah kalah. Melihat senyum pujaan hatinya dan wanita itu yang begitu sumringah, membuat jantungnya seperti ditusuk-tusuk. Ia merasa seperti di tampar bolak-balik, memaksanya untuk segera sadar. 

Dengan peluh yang deras, ia terbangun dari tidurnya malam ini. Matanya berair. Ia tahu, baru saja ia bermimpi. Tapi mengapa rasanya seperti nyata? Ia merasakan sakitnya hingga terbangun dari lelapnya. Apa ini sebuah pertanda? Sebuah isyarat dari TuhanNya. Jawaban dari doa dan segala keraguannya. Bertahankah atau lepaskan saja? 11 tahun bukan waktu yang sebentar bukan untuk mengambil sebuah keputusan dan meyakinkan perasaan.

Ingatannya kembali melambung pada sekelumit kisah yang sedikit demi sedikit ia dan lelaki itu bangun. Meski lambat jalan ceritanya, namun berkesan begitu mendalam. Lalu apa artinya selama ini? Kebersamaan dan pertemuan-pertemuan singkat itu akankah jadi tak berarti? Tawa dan kecanggungan yang seringkali mendominasi, apakah hanya sekadar pembelajaran dan sisa kenangan yang akan terlipat rapi. Tanpa pernah kemana-mana dan takkan menjadi nyata segala angannya.

Sudah. Ia merasa harus di cukupkan penantian ini. Toh ia yakin, jika memang lelaki itu untuknya, cepat atau lambat segera kan menghampirinya dengan komitmen yang diakui oleh negara dan agama. Lalu apalagi yang perlu ia risaukan? Sekali lagi, ia harus mengubur dalam-dalam perasaannya itu dan terus menunggu saat yang tepat tiba. Akankah lelaki itu atau lelaki lainnya?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Skenario Terindah

Bukankah pertanyaanmu terjawab lebih cepat dari dugaanmu? Harus kau sadari, bahwa rencana-Nya jauh lebih baik dari apa yang kau renca...