Rabu, 21 Juni 2017

Sebuah Kehilangan

Berapa kali kamu harus merasakan kehilangan? Coba hitung, berapa usiamu sekarang? Sudah berapa banyak rasa kehilangan yang ‘notabenenya’ menyakitkan yang sudah kamu rasakan? Kamu lalui dengan susah payah.

Tidakkah kehilangan itu menyentakkan kesadaranmu? Baik kehilangan yang mendadak maupun kehilangan dengan rencana. Kehilangan dalam arti banyak hal.

Bukankah kamu harus menyadari satu hal dari satu kata ‘kehilangan’? apa kamu bisa mendeskripsikannya?

Akhir-akhir ini, aku mulai merunut rasa kehilangan itu. Rasa kehilangan yang pernah mendera. Kehilangan yang seringkali mondar-mandir dalam kehidupanku selama 23 tahun. Dari kehilangan, aku semakin yakin bahwa sebenarnya kita itu miskin. Bahkan bisa dibilang fakir. Mengapa demikian? Karena sejatinya di dunia ini kita tidak pernah sekalipun dibiarkan ‘memiliki’ sesuatu. Sesuatu yang bersifat duniawi tentunya. 

Semua yang ada di dunia ini, bumi beserta isinya, termasuk bagian terkecil dalam tubuh kita adalah milik-Nya. Bukan milik kita. Jadi bagaimana bisa kamu mengatakan bahwa “itu milikku”, “ini milikku”, dan yang lebih parah “dia milikku”???

Suatu ketika, sekitar 2 bulan yang lalu aku memiliki teman baru yang cukup menyenangkan diajak berdiskusi. Ia adalah seorang ayah ber-anak 1. Pembawaannya yang bijak, sederhana, dan masih berjiwa muda membuatku semakin akrab dari hari ke hari dengannya. Kami sering menghabiskan waktu di sela-sela jam kerja yang tak begitu padat. Kami membicarakan banyak hal. Aku bertanya banyak hal. Dia pun bercerita banyak hal. Bisa dibilang, dalam waktu kurang lebih 1 bulan kami saling mengenal, kami sudah seperti seorang kawan yang berteman tahunan.

Singkat cerita, pada satu waktu ia mengutarakan keluh kesahnya mengenai tekanan yang ia hadapi di tempat kerja. Dia bilang, “Dalam waktu dekat, saya berencana untuk resign dari tempat ini.” 

Tentunya aku cukup terkejut. Karena selama ini aku memperhatikan sikapnya seolah tidak ada suatu hal yang cukup mengkhawatirkan dalam pekerjaannya sehari-hari. “Lha, serius mas? Emangnya kenapa?” tanyaku polos. Tanpa ku sadari mulai tumbuh rasa ‘takut kehilangan’ dalam hatiku. 

Bagiamana aku tidak merasa kehilangan, toh selama ini, dari awal aku datang ke tempat ini, dia membantuku dalam banyak hal untuk memudahkan pekerjaanku.


“Keputusan saya sudah bulat, mungkin 1 bulan dari sekarang.” Lanjutnya.


“Emang surat resignnya udah ada? Emang mau kerja dimana mas kalau keluar dari sini?” tanyaku sambil sedikit meledek untuk mencairkan suasana yang tiba-tiba terasa mencekam.


“Ya.. kita liat aja nanti. Rezeki datangnya kan dari mana saja. Gak perlu khawatir.” Jawabnya dengan santai tanpa mengurangi kebijaksanaannya.


“Katanya istri mas lagi hamil anak kedua. Nanti gimana kalau gak kerja mas?” tanyaku penuh selidik.


“Alhamdulillah kalau untuk kerjaan sampingan sih ada.” Jawabnya.


Singkat cerita 1 bulan berlalu sudah. Suatu pagi aku bertemu dengannya. “Mas, gajadi resign?” tanyaku sambil tertawa.


“Jadi lah, liat aja nanti.” Jawabnya sambil senyum-senyum. Senyum licik penuh kemenangan.


Dua hari kemudian. Saat itu aku seorang diri berada di ruangan tempatku bekerja. Lalu ada telepon masuk darinya. “Disana ada siapa?” tanyanya dari sambungan telepon. “Aku sendiri mas. Kenapa?” tanyaku polos. “Yaudah saya kesana ya.”


Tak seperti biasanya dia harus meminta izin dulu untuk masuk ke ruanganku yang dihuni oleh 3 orang. Seorang staf administrasi, aku, dan Direktur Operasional.


Selang beberapa menit kemudian ia masuk ruanganku dengan wajah yang sulit ditebak. Ia langsung mondar-mandir mencari sesuatu, kemudian meletakkan sebuah tas besar di ruang Direksi, lalu menghampiri meja kerjaku. 


“Saya titip surat ini ya, bilang dari saya. Saya taro di meja Direktur dan Admin, semua berkas sudah saya serahkan dan rapihkan. Kamu jangan pulang dulu. Salam buat mereka.” Katanya dalam intonasi bicara yang cepat. Semua kejadian barusan masih dicerna pelan-pelan oleh otakku. Aku sempat diam beberapa menit sampai akhirnya ku buka suara.


“Mas, jadi resign? Hari ini? Sekarang?”


Dia hanya mengangguk dan tersenyum.


“Saya pamit ya, maaf kalau banyak salah.” Ucapnya sambil menyodorkan tangannya padaku untuk bersalaman.


Aku masih coba menjernihkan pikiran agar mudah merespon apa yang dia bicarakan.


“Kok kayak gini caranya? Gak pamit dulu?”


“Saya udah buat surat, disitu saya jelasin semua. Yaudah saya pamit ya.”


“Eh tunggu dulu..” sergahku yang masih tak terima dengan keputusannya yang mendadak ini. 

“Udah pamit sama siapa aja?” tanyaku penuh selidik.


“Cuma sama kamu aja.”


“Loh kok gitu? Kenapa cuma sama aku? Kenapa gak pamit sama yang lain?”


“Gak apa-apa, saya gak mau ramai aja.” Jawabnya masih sambil tersenyum.


Tanpa kusadari, mataku mulai membendung air mata yang berusaha ku tahan.


“Ih mas, ini seriusan? Nanti aku yang di interogasi sama mereka semua dong?” protesku sambil bersungut.


“Engga kok, saya pamit ya.” 


Tak sengaja ku perhatikan perubahan dari raut wajahnya. Matanya mulai berkaca-kaca, mukanya berubah menjadi sedih.

Perpisahan sederhana ini cukup mengejutkanku. Ia keluar dari ruanganku meninggalkan banyak pesan yang masih sulit ku terjemahkan. Hatiku berkecamuk karena harus kehilangan seorang teman sekaligus kakak laki-laki yang baru saja ku temukan di tempat baru ini.

Hari itu, semenjak keputusannya untuk meninggalkan kantor. Aku menyadari banyak hal. Tentang sebuah kehilangan yang juga ku alami tepat setelah 1 bulan aku bekerja di tempat ini.

Tanpa ba-bi-bu terlebih dahulu, seorang ibu beranak 1 yang setiap kali keluar ruangan mengajakku beli camilan, yang setiap siang hari menawariku makanan yang dibawanya, yang setiap pagi datang dengan senyuman tulusnya tiba-tiba suatu sore melambaikan tangan padaku di gerbang pintu masuk kantor.


“Saya pamit ya.” Katanya.


Aku pun segera membalas lambaian tangannya dengan senyum ketulusan. “Hati-hati bu.” Kataku waktu itu.  Aku pikir dia pamit untuk pulang karena memang saat itu saatnya jam pulang kerja. 

Kemudian dia hanya tersenyum penuh anggukan sambil terus melambaikan tangan padaku. Saat itu, aku masih belum menyadari sesuatu yang aneh.


Sampai keesokan harinya, ketika ku dapati ia tak masuk kantor dan kutanya pada beberapa temanku, jawaban mereka cukup mengagetkanku. “Kan kemarin hari terakhirnya disini.” Jawab mereka santai yang memang sedari awal kurang menyukai si ibu. Aku cuma bisa terdiam mendengar jawaban mereka yang terdengar bahagia.


Berapa kali lagi aku harus merasa kehilangan di tempat ini? Pikirku saat ini.

Dari kejadian sederhana itu, aku menelusuri kembali segala kehilangan itu. Kehilangan yang menyakitkan karena harus berada di dunia yang berbeda dengan seseorang yang kita cinta, kehilangan yang harus memisahkan dua orang sahabat bahkan lebih, hanya karena berbeda kota, atau kehilangan benda berharga yang terlalu berlebihan kita sayangi. 

Bukankah memang semua itu bukan milik kita?

Kembali ku ulang, bahwa kita hanya memiliki iman dan taqwa sebenarnya. Selebihnya, hanya titipan yang Maha Kuasa untuk kita renungkan dalam setiap detiknya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Skenario Terindah

Bukankah pertanyaanmu terjawab lebih cepat dari dugaanmu? Harus kau sadari, bahwa rencana-Nya jauh lebih baik dari apa yang kau renca...