Berapa kali
kamu harus merasakan kehilangan? Coba hitung, berapa usiamu sekarang? Sudah berapa
banyak rasa kehilangan yang ‘notabenenya’ menyakitkan yang sudah kamu rasakan? Kamu
lalui dengan susah payah.
Tidakkah kehilangan
itu menyentakkan kesadaranmu? Baik kehilangan yang mendadak maupun kehilangan
dengan rencana. Kehilangan dalam arti banyak hal.
Bukankah kamu
harus menyadari satu hal dari satu kata ‘kehilangan’? apa kamu bisa mendeskripsikannya?
Akhir-akhir
ini, aku mulai merunut rasa kehilangan itu. Rasa kehilangan yang pernah
mendera. Kehilangan yang seringkali mondar-mandir dalam kehidupanku selama 23
tahun. Dari kehilangan, aku semakin yakin bahwa sebenarnya kita itu miskin. Bahkan
bisa dibilang fakir. Mengapa demikian? Karena sejatinya di dunia ini kita tidak
pernah sekalipun dibiarkan ‘memiliki’ sesuatu. Sesuatu yang bersifat duniawi
tentunya.
Semua yang
ada di dunia ini, bumi beserta isinya, termasuk bagian terkecil dalam tubuh
kita adalah milik-Nya. Bukan milik kita. Jadi bagaimana bisa kamu mengatakan
bahwa “itu milikku”, “ini milikku”, dan yang lebih parah “dia milikku”???
Suatu
ketika, sekitar 2 bulan yang lalu aku memiliki teman baru yang cukup
menyenangkan diajak berdiskusi. Ia adalah seorang ayah ber-anak 1. Pembawaannya
yang bijak, sederhana, dan masih berjiwa muda membuatku semakin akrab dari hari
ke hari dengannya. Kami sering menghabiskan waktu di sela-sela jam kerja yang
tak begitu padat. Kami membicarakan banyak hal. Aku bertanya banyak hal. Dia pun
bercerita banyak hal. Bisa dibilang, dalam waktu kurang lebih 1 bulan kami
saling mengenal, kami sudah seperti seorang kawan yang berteman tahunan.
Singkat cerita,
pada satu waktu ia mengutarakan keluh kesahnya mengenai tekanan yang ia hadapi
di tempat kerja. Dia bilang, “Dalam waktu dekat, saya berencana untuk resign
dari tempat ini.”
Tentunya aku cukup terkejut. Karena selama ini aku
memperhatikan sikapnya seolah tidak ada suatu hal yang cukup mengkhawatirkan
dalam pekerjaannya sehari-hari. “Lha, serius mas? Emangnya kenapa?” tanyaku
polos. Tanpa ku sadari mulai tumbuh rasa ‘takut kehilangan’ dalam hatiku.
Bagiamana
aku tidak merasa kehilangan, toh selama ini, dari awal aku datang ke tempat
ini, dia membantuku dalam banyak hal untuk memudahkan pekerjaanku.
“Keputusan
saya sudah bulat, mungkin 1 bulan dari sekarang.” Lanjutnya.
“Emang surat
resignnya udah ada? Emang mau kerja dimana mas kalau keluar dari sini?” tanyaku
sambil sedikit meledek untuk mencairkan suasana yang tiba-tiba terasa mencekam.
“Ya.. kita
liat aja nanti. Rezeki datangnya kan dari mana saja. Gak perlu khawatir.” Jawabnya
dengan santai tanpa mengurangi kebijaksanaannya.
“Katanya
istri mas lagi hamil anak kedua. Nanti gimana kalau gak kerja mas?” tanyaku
penuh selidik.
“Alhamdulillah
kalau untuk kerjaan sampingan sih ada.” Jawabnya.
Singkat cerita
1 bulan berlalu sudah. Suatu pagi aku bertemu dengannya. “Mas, gajadi resign?”
tanyaku sambil tertawa.
“Jadi lah,
liat aja nanti.” Jawabnya sambil senyum-senyum. Senyum licik penuh kemenangan.
Dua hari
kemudian. Saat itu aku seorang diri berada di ruangan tempatku bekerja. Lalu ada
telepon masuk darinya. “Disana ada siapa?” tanyanya dari sambungan telepon. “Aku
sendiri mas. Kenapa?” tanyaku polos. “Yaudah saya kesana ya.”
Tak seperti
biasanya dia harus meminta izin dulu untuk masuk ke ruanganku yang dihuni oleh
3 orang. Seorang staf administrasi, aku, dan Direktur Operasional.
Selang beberapa
menit kemudian ia masuk ruanganku dengan wajah yang sulit ditebak. Ia langsung
mondar-mandir mencari sesuatu, kemudian meletakkan sebuah tas besar di ruang
Direksi, lalu menghampiri meja kerjaku.
“Saya titip
surat ini ya, bilang dari saya. Saya taro di meja Direktur dan Admin, semua
berkas sudah saya serahkan dan rapihkan. Kamu jangan pulang dulu. Salam buat
mereka.” Katanya dalam intonasi bicara yang cepat. Semua kejadian barusan masih
dicerna pelan-pelan oleh otakku. Aku sempat diam beberapa menit sampai akhirnya
ku buka suara.
“Mas, jadi
resign? Hari ini? Sekarang?”
Dia hanya
mengangguk dan tersenyum.
“Saya pamit
ya, maaf kalau banyak salah.” Ucapnya sambil menyodorkan tangannya padaku untuk
bersalaman.
Aku masih
coba menjernihkan pikiran agar mudah merespon apa yang dia bicarakan.
“Kok kayak
gini caranya? Gak pamit dulu?”
“Saya udah
buat surat, disitu saya jelasin semua. Yaudah saya pamit ya.”
“Eh tunggu
dulu..” sergahku yang masih tak terima dengan keputusannya yang mendadak ini.
“Udah
pamit sama siapa aja?” tanyaku penuh selidik.
“Cuma sama
kamu aja.”
“Loh kok
gitu? Kenapa cuma sama aku? Kenapa gak pamit sama yang lain?”
“Gak
apa-apa, saya gak mau ramai aja.” Jawabnya masih sambil tersenyum.
Tanpa kusadari,
mataku mulai membendung air mata yang berusaha ku tahan.
“Ih mas,
ini seriusan? Nanti aku yang di interogasi sama mereka semua dong?” protesku
sambil bersungut.
“Engga kok,
saya pamit ya.”
Tak sengaja
ku perhatikan perubahan dari raut wajahnya. Matanya mulai berkaca-kaca, mukanya
berubah menjadi sedih.
Perpisahan sederhana
ini cukup mengejutkanku. Ia keluar dari ruanganku meninggalkan banyak pesan
yang masih sulit ku terjemahkan. Hatiku berkecamuk karena harus kehilangan
seorang teman sekaligus kakak laki-laki yang baru saja ku temukan di tempat
baru ini.
Hari itu,
semenjak keputusannya untuk meninggalkan kantor. Aku menyadari banyak hal. Tentang
sebuah kehilangan yang juga ku alami tepat setelah 1 bulan aku bekerja di
tempat ini.
Tanpa ba-bi-bu
terlebih dahulu, seorang ibu beranak 1 yang setiap kali keluar ruangan
mengajakku beli camilan, yang setiap siang hari menawariku makanan yang
dibawanya, yang setiap pagi datang dengan senyuman tulusnya tiba-tiba suatu
sore melambaikan tangan padaku di gerbang pintu masuk kantor.
“Saya pamit
ya.” Katanya.
Aku pun
segera membalas lambaian tangannya dengan senyum ketulusan. “Hati-hati bu.” Kataku
waktu itu. Aku pikir dia pamit untuk
pulang karena memang saat itu saatnya jam pulang kerja.
Kemudian dia hanya
tersenyum penuh anggukan sambil terus melambaikan tangan padaku. Saat itu, aku
masih belum menyadari sesuatu yang aneh.
Sampai keesokan
harinya, ketika ku dapati ia tak masuk kantor dan kutanya pada beberapa
temanku, jawaban mereka cukup mengagetkanku. “Kan kemarin hari terakhirnya
disini.” Jawab mereka santai yang memang sedari awal kurang menyukai si ibu. Aku
cuma bisa terdiam mendengar jawaban mereka yang terdengar bahagia.
Berapa kali
lagi aku harus merasa kehilangan di tempat ini? Pikirku saat ini.
Dari kejadian
sederhana itu, aku menelusuri kembali segala kehilangan itu. Kehilangan yang
menyakitkan karena harus berada di dunia yang berbeda dengan seseorang yang kita
cinta, kehilangan yang harus memisahkan dua orang sahabat bahkan lebih, hanya
karena berbeda kota, atau kehilangan benda berharga yang terlalu berlebihan
kita sayangi.
Bukankah memang semua itu bukan milik kita?
Kembali ku
ulang, bahwa kita hanya memiliki iman dan taqwa sebenarnya. Selebihnya, hanya
titipan yang Maha Kuasa untuk kita renungkan dalam setiap detiknya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar