Selasa, 11 Februari 2014

Masih Kamu

Nyaris 2 tahun berlalu..

Malam ini sosok itu hadir lagi di mimpiku. Esok aku akan datangi tempat yang punya banyak cerita tentang kita. Jalan yang sarat akan kisah kita. Setiap kali ku melawati ruas jalan itu, tempat itu, selalu teringat akan dirimu.

"Vidaaaaa!!! Ayo bangun! Katanya kamu mau pergi ke sekolah?". Bunda membangunkanku dengan susah payah, tetapi aku masih terlelap, tak ingin terusik kicauan pagi bunda. Aku masih ingin menyelami mimpiku.

"Vidaaaa... Ya ampun ini anak susah banget sih dibanguninnya."

Aku tetap tidak menghiraukan kicauan itu. Walaupun sejak bunda membangunkanku beberapa menit yang lalu, mimpiku telah lenyap seketika. Kesal aku jadinya. Bunda menghancurkan sedikit kebahagiaan yang menyapaku semalaman ini. Dengan rasa sesal aku pun membuka mataku.

"Bunda apaan sih? Gatau yah kalo Vida lagi mimpi indaaaaaah banget.." ocehku pada bunda.

"Ah bunda ga peduli, yang pasti kamu harus bangun sekarang. Cepet mandi Vid, bunda udah siapin sarapan dibawah."

"Iya iya Vida mandi nih." dengan langkah gontai ku arahkan kakiku menuju kamar mandi.

Saat perjalanan menuju sekolah, aku masih terus melamunkan mimpi semalam. Dimana sosok itu sangat jelas, kebahagiaan yang kurasa juga terlukis sempurna, debar jantung itu pun masih sama. Sama seperti saat aku bersamanya, dulu..

Dalam mimpi itu, aku bertemu lagi denganmu, kau menyapaku, tersenyum padaku, bahkan kau bertanya lagi tentang hubungan kita. Kau ingin kembali, kau terus menghubungiku, kau memintaku meninggalkannya. Semua terasa nyata. Dan entah mengapa aku merasa bahagia walau harus ada yang tersakiti.

Dia.

Iya dia.

Aku telah bersamanya kini, dan kau hadir kembali. Selama ini kemana saja dirimu? Disaat aku terengah-engah sendiri untuk menghapus semua tentang dirimu. Saat dia telah mampu mengisi kekosongan hatiku, kau hadir lagi dengan cinta yang masih sama untukku. Bukankah hal itu sangat menyiksaku? Haruskah kutinggalkan dia demi dirimu yang dahulu memutuskan hubungan denganku?

"Vid? Vid? Lo ngelamunin apa sih? Ajak gue dong hahaha" ledekan Tara sontak membuyarkan lamunanku.

"Eh dari kapan lo disini?" tanyaku pada Tara.

"Daritadi. Heh buruan cerita ada apaan? Vian nunggu lo di kantin tuh. Eh tapi cerita dulu ya sebelum nyamperin Vian."

"Eh Faris ga ada Tar? Dia ga dateng Tar? Dia diundang kan Tar?."

Aku masih mengharapkan sosok itu muncul lagi di depanku. Hari ini ada acara Pentas Seni di sekolahku. Faris yang telah memutuskan pindah ke Bandung beberapa tahun silam juga turut diundang. Hari ini hari yang paling ku nantikan, berharap Faris bisa meluangkan waktunya untuk datang, dan setidaknya bisa bertemu lagi denganku walau hanya sebentar saja.

"What? Faris? Masih zaman Vid nanyain Faris? Please ya Vid, Vian nungguin lo tuh disana, sedangkan lo masih ngelamunin Faris? Ya ampun Vid segitu berartinya Faris buat lo? Ini udah nyaris 2 tahun lebih Vid, lo masih belum move on? Terus kenapa lo terima Vian kalo dipikiran lo masih Faris Faris Faris."

Tara selalu begitu. Setiap kusebut nama Faris, bakat menjadi penceramahnya mucul seketika.

" Tar, calm down please. Gue galau dia lagi baru-baru ini Tar. Ini semua juga karena Vian ga begitu peduli sama keadaan gue Tar. Beda banget sama Faris yang sayangnya setengah mati sama gue, perhatiannya ga pernah berkurang, terus selalu ngeluangin waktu buat gue. Coba Vian Tar? Dia belum serius kaya yang dulu Faris lakuin buat gue Tar. Sumpah gue kangen Faris Tar." tanpa terasa mataku berkaca-kaca mencurahkan isi hatiku yang sesungguhnya selama ini kepada Tara.

"Vid lo serius Vian kaya gitu? Terus kalo ada Faris sekarang, apa yang bakal lo lakuin?"

"Iya Vian kaya gitu Tar. Lo gatau kan? Seberapa sabarnya gue selama ini ngejalanin hubungan sama dia. Tapi dia seolah gamau lepas dari gue. Kalo ada Faris, gue bakal samperin dia, gue mau mengurangi rasa rindu gue selama 2 tahun ini, gue lost contact sama dia, gue mau minta contactnya lagi. Pokoknya gue mau menjalin hubungan baik sama dia. Walaupun kita gabisa balik kaya dulu, setidaknya kita masih berteman baik Tar."

Acara Pentas Seni hampir selesai. Namun aku tidak juga melihat sosok itu. Kesana kemari mataku mencari kehadirannya. Namun tak juga ku tangkap bayangan itu. Dengan penuh rasa kecewa ku pendam amarah yang menguasaiku. Aku berharap kesempatan ini datang sekarang. Namun ternyata Faris tidak ada. Faris tidak datang. Dan beribu pertanyaan bergelayut pasrah di benakku. Lagi-lagi harus kusimpan kerinduanku.

Untuk Faris :

Kisah yang terukir begitu singkat

Waktu yang berlalu terasa begitu cepat

Luka yang tercipta begitu menyayat

Cinta yang pernah ada telah kandas

Janji yang terucap telah teringkar

Kenangan yang kau buat masih membekas

Cahaya kerinduan masih tergambar

Sosok dirimu tak pernah usang

Selalu terpendar kala ku dibalut kerinduan

Aku selalu berdoa Tuhan mempertemukan kita di waktu yang tepat

(Dikutip dari kisah salah seorang teman)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Skenario Terindah

Bukankah pertanyaanmu terjawab lebih cepat dari dugaanmu? Harus kau sadari, bahwa rencana-Nya jauh lebih baik dari apa yang kau renca...