Minggu, 15 September 2013

Ketika.. saat cinta bersilangan


"Hari ini aku merasa bersyukur bisa menghabiskan waktu lebih bersamanya. Lebih lama didekatnya. Lebih lama menghirup aroma tubuhnya. Merasakan gelora rasa yang mencandukan. Lelah setelah hanpir seharian beraktivitas di luar rumah rasanya lenyap ketika jarak tubuhku denganya demikian dekat. Seakan-akan tak ada lagi yang perlu di risaukan didunia ini. Sebab berada disampingnya merupakan sebuah jaminan untuk hidup ratusan tahun lagi. Cinta itu menghidupkan."

"Kau telah menebarkan kelopak-kelopak kebahagiaan dalam palung-palung jiwaku. Kau telah menumpah selaksa warna dalam cawan kehidupanku. Warna yang hanya bisa ditangkap mereka yang merasakan manisnya anggur cinta. Kau juga telah menorehkan baris-baris puisi di dinding hatiku. Puisi yang hanya bisa dibaca mereka yang merindu kasih dan sayang."

"Cinta yang alami adalah cinta yang tidak berdasarkan keterpaksaan, tapi berdasarkan ketulusan cinta yang hadir begitu saja dan mencipta bahagia sepanjang waktu. Cinta yang alami itu bergelimang keindahan. Dan cinta yang alami itu akan abadi."

"Wajahnya seolah tertinggal dalam kelopak mata dan tak pernah tahu bagaimana cara mengembalikannya. Suaranya begitu sering menggema-gema dalam kepala. Gerak tubuhnya selalu mengusik pikiran, tetap membahagiakan. Ada gejolak rasa ingin bertemu lagi. Hadir harapan untuk lebih dekat padanya. Ingin lebih lama bersamanya. Ingin berbincang dengannya. Beginikah cinta?"

"Perasaan ini membuat palung hati merona-rona bahagia. Lalu, apakah salah memendam rasa seperti ini? Aku rasa tidak. Sebab, cinta tak pernah tahu tengah mendekap hati siapa. Cinta itu bagai api, tak pernah tau dia tengah membakar siapa. Cinta hanya bekerja dengan caranya yang mengagumkan dan tak pernah memberi tahu kita sebelumnya."

"MALAM INI, AKU MEMAHAMI SATU HAL, BAHWA CINTA BISA MENGACAUKANMU DALAM KECEPATAN TAK TERDUGA."

"Pertemuan malam kemarin dihadiri berbagai terpaan rasa. Ada canggung, malu, bahagia, dan lainnya yang jika bersatu seketika membuat tubuhku kaku. Beku. Lagi-lagi aku menikmatinya."

"Aku merindukannya lagi. Padahal aku dan dia belum terjerat dalam sebuah lingkaran yang mengharuskan gejolak rindu senantiasa membuncah di dada. Karena kerinduan tak pernah peduli pada apa dan siapa. Kerinduan bagai air yang mengalir, dan kerinduan terkadang lenyap setelah sampai pada muara bernama pertemuan. Bahkan, terkadang kerinduan pun masih membuncah dalam pertemuan itu. Cinta.. Kadang-kadang memiliki topeng yang bisa membuat siapapun tampak aneh."

"Sayup terdengar dalam ruang hatiku, segaris suara mengatakan: Beginikah caramu agar lebih lama bersamanya? Aku tersenyum. Entahlah.. Aku mengikuti sesuatu dalam diriku yang bergerak lembut menghanyutkan rasa ke ruang kebahagiaan."

"Sebab cinta akan berbicara. Suatu ketika."

"Dengan sepenuh hati, aku hirup aroma tubuhnya. Menggetarkan."

"Cinta pernah datang mengendap-endap dalam kehidupanku. Lalu, pada detak-detak yang tak aku ketahui sebelumnya, cinta menyergapku dengan sepasang sayapnya yang lembut bagai serpihan awan di langit. Awalnya, aku mengelak, cinta kian erat mendekapku. Melumpuhkanku. Membungkamku. Dan.. Menyihirku."

"Cinta tak pernah mengumumkan kedatangannya. Cinta begitu saja menyusup, mengelus-elus sesuatu yang lembut di liang hati. Memendar sekian lama, sampai akhirnya membaur bersama hati dalam bilangan waktu yang tak terkatakan. Cinta itu masih disini, di hati, sampai nanti, dan untuk selama-lamanya. Pada seorang pria yang telah membawaku menapaki cinta untuk pertama kalinya."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Skenario Terindah

Bukankah pertanyaanmu terjawab lebih cepat dari dugaanmu? Harus kau sadari, bahwa rencana-Nya jauh lebih baik dari apa yang kau renca...