Seketika terbesit dalam ingatan
Belasan tahun yang lalu
Kala canda tawa masih bertakhta di benak kami
Wajah polos penuh suka cita
Tangis nakal seorang bocah
Meski hanya karena sebuah hal sederhana bagi orang dewasa
Keceriaan yang menyelimuti dunia kami
Kemarahan yang sering mucul tanpa bisa kami kendalikan
Kemudian air mata yang mengiringi rasa di hati kami yang
saat itu kecewa
Terluka
Dekap hangat orang-orang tersayang di sekeliling kami
Walau terkadang terselip nasihat yang justru membuat kami
menangis sejadi-jadi
Namun hanya seketika
Setelah itu dunia kami berwarna lagi
Kami bahagia
Riang tawa kami bagai warna pelangi
Ocehan yang dapat mengganggu mereka, tetapi dapat
memuaskan hati kami
Rengekan manja agar mendapat perhatian dari orang-orang
di sekeliling kami
Bermain kesana kemari tanpa beban di punggung kami
Bebas berlari sekencang angin tanpa pedulikan larangan
mereka
Kemudian kami terjatuh dan terluka
Tetapi setelah itu kami tak kenal rasa takut dan kembali
ceria
Kami bermain dengan segala sesuatu yang kami suka
Semua hal itu menggoreskan cerita yang indah pada masa
kecil kami
Berkhayal akan sebuah kehidupan di masa depan
Seolah berlagak menjadi orang dewasa
Menurut kami itu indah
Tetapi sekarang, setelah kami dewasa
Kami menyadari bahwa khayalan masa kecil kami tak seindah
kenyataan
Dewasa berarti masalah kami bertambah dewasa
Masalah kami semakin besar
Sama seperti postur tubuh kami yang akan menua
Dewasa berarti akan semakin banyak rintangan dan cobaan
Ingin rasanya mengulang kembali masa kecil kami
Masa yang hanya dimiliki oleh kami
Masa indah kala kami mengenangnya kini
Dimana canda tawa, suka duka, serta kepolosan masih
menjadi milik kami
Walaupun masa itu kini telah berlalu
Telah usang termakan waktu
Masa itu akan tetap menjadi milik kami
Selamanya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar