Minggu, 26 April 2015

Di kala awan mulai menghitam, pertanda cahaya matahari mulai redup, dengan seiring berjalannya waktu hatipun mulai terasa lirih beriringan dengan malam tiba. Hati ini seolah tak memiliki cahaya lagi. Mungkin di kala pagi hingga siang hari, tipuan senyum masih bisa membentengi rapuhnya hati, tapi di kala malam tipuan itu tak bermakna lagi, yang ada air mata terurai tanpa diminta jatuh membasahi.

Sekuat apapun menahan jatuhnya air mata, tetap saja hati terasa diremas sehingga terasa begitu perih. Itukah yang membuat sakit?

Jemari tak kunjung usai menuliskan gejolak di hati. Menuangkan perasaan lewat tulisan, hanya itu yang dapat memulihkan diri hingga terlelap terbawa mimpi, saat disadari hari sudah menjelang pagi. Hilanglah sakitnya hati semalam tadi. Begitu seterusnya? Terjadi berulang kali hingga pada saatnya ada cahaya lain yang dapat memulihkan hati ini lagi. Tapi tidak tahu kapan semuanya akan pulih seperti dulu lagi. Rasanya sulit untuk bangkit dari kekecewaan yang bartubi-tubi. Enggan untuk memulai memperbaiki hati, karena takut mengalami hal yang sama sekali lagi. Tertipu oleh rasa nyaman yang tidak selalu berarti memiliki. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Skenario Terindah

Bukankah pertanyaanmu terjawab lebih cepat dari dugaanmu? Harus kau sadari, bahwa rencana-Nya jauh lebih baik dari apa yang kau renca...